Aku tercengang, melihat Pak Lurahnya ada dua. Padahal setahuku Pak Lurah gak punya sodara kembar. Lalu kalo bukan sodara lantas yang satunya siapa?
Botol ajaib tiba-tiba berputar-putar gak jelas lalu berhenti ke arah Pak Lurah yang duduk di sebelah Pak Modin. Aku dan Ki Mengkis saling memandang, jadi Pak Lurah yang ada di sebelah Pak Modin, yang jadi saksi pernikahanku gak lain dan gak bukan adalah ...
“Aku Pak Lurah asli. Kalian harus percaya!” Pak Lurah KW menatap kami dengan penuh keseriusan.
Ki Mengkis gak pake banyak omong, dia langsung membaca ajian dan bikin Pak Lurah gadungan menjerit kepanasan. Napas Pak Lurah KW terdengar keras lalu ia melotot memandang Ki Mengkis.
Pak Lurah KW tiba-tiba menyerang Ki Mengkis. Bikin Ki Mengkis jatuh telentang dengan jin yang berusaha mencekik ada diatas badannya.
Patty dan Mommy menjerit, Daddy di depan mereka, melindungi dua anggota keluarganya. Mas Martin dan Pak Modin berusaha menarik badan jin. Pak Lurah berusaha menarik badan Ki Mengkis biar terpisah dari jin itu.
“Honey, aku akan menjagamu.” Steve mau memelukku.
“Steve. Sinting kamu!” Aku mendorong Steve lalu mendekati Ki Mengkis.
Aku membaca ajian qulhu geni tapi belum selesai baca, jin itu melotot ke arahku. “Gak semudah itu, bocah!” geramnya.
Jin itu menepis pegangan Mas Martin dan Pak Modin, ia melompat keluar rumah dengan cukup cepat.
“Steve. Kita harus menangkapnya!” Aku berdiri dengan mengangkat jarik, mau keluar mengejar setan itu.
“Oke, Honey. Aku tak akan memaafkan jin yang sudah merusak hari pernikahanku.” Steve sengit, kayak dia bisa aja menangkap jin, hantu atau sebangsanya.
“Honey, kamu disini saja! Aku pasti bisa menangkapnya,” kata Steve.
Mas Martin memukul kepala belakang Steve, ia melirik saudaranya seolah lagi merendahkan Steve. “Aku yang akan mengatasinya,” kata Mas Martin.
“Kalian ini, kayak bisa aja. Dia jin, bukan maling kampung. Sudah-sudah. Aku harus cepat menangkapnya,” ujarku.
Aku mencari resleting rok di belakang pinggang, Steve mendelik waktu melihatku. “What you doing, Honey?” tanyanya horor.
Aku memicingkan mata sambil menurunkan rok. Steve yang awalnya kaget langsung bernapas lega saat tahu aku memakai legging hitam sepanjang lutut. “Kamu membuatku takut,” katanya.
Aku gak menjawab ucapan Steve, berlari keluar buat mencari jin yang kemampuannya cukup luar biasa. Sampai luar rumah, aku memandang kampung yang sudah gelap. Hanya halaman beberapa rumah tetangga yang agak terang karena ada lampu dop yang sengaja dipasang di luar rumah mereka.
Ki Mengkis melempar botol ajaib ke jalan. Botol itu berputar-putar lalu mulut botol menghadap ke arah kanan. Dimana beberapa rumah berjajar dengan lampu dop di depan pagar, berjajar hingga ke tempat yang sangat gelap. Dimana sawah luas ada disana sebelum masuk ke dalam hutan.
Aku berlari ke arah itu, bersama Ki Mengkis yang membawa botol ajaib. Sampai di tempat yang sangat gelap, dimana sawah terbentang luas hingga ke bayang-bayang gelap yang gak lain adalah bayangan pepohonan di hutan.
“Kira-kira kemana dia Ki?” Aku menoleh ke Ki Mengkis. Ternyata ada dua Ki Mengkis. Bikin aku kebingungan sama keduanya.
“Ki?” Kedua Ki Mengkis menoleh, memandangku sambil sama-sama tersenyum.
“Honey...” Steve datang di saat yang tepat. Aku memandang Steve lalu kembali memandang dua Ki Mengkis.
“Gimana ini Steve?” Aku bingung sama mereka ini.
Tiba-tiba Mas Martin datang, ia meninju satu Ki Mengkis hingga membuatnya terjengkang lalu meninju Ki Mengkis lainnya tapi Ki Mengkis yang ini melawan Mas Martin.
“Bocah edan!” Ki Mengkis marah, ia mengeluarkan jurus tenaga dalam. Sebuah cahaya bola kuning berada tangannya, ia melempar cahaya bola kuning itu ke arah Mas Martin.
“Hajar dia, Bunga!” Mas Martin menunjuk Ki Mengkis yang masih telentang di atas tanah.
Jadi Ki Mengkis yang telentang gak berdaya adalah Ki Mengkis palsu?
Aku kok jadi bloon begini sih, kok Mas Martin lebih pinter dariku. Walah, ini siapa yang bisa menangkap hantu siapa yang gak bisa.
“Honey...” Steve membangunkanku dari lamunan.
Huaa, edan bener dah, tadi Ki Mengkis ada dua dan sekarang Steve ada dua.
“Mas Martin, Stevenya ada dua...” Aku memandang Mas Martin, ia menghela napas berat.
“Bunga. Bagaimana kamu bisa seteledor ini!” desahnya.
“Maaf,” sesalku.
“Honey, i’m Steve. your husband.” Satu Steve berbicara dengan bahasa inggris bikin aku yakin kalo dialah Steveku.
“I really love you, my beautiful flower.” Nahlo Steve satunya juga bisa bahasa inggris.
Lalu keduanya bertengkar dengan memakai bahasa inggris gak jelas, bikin aku kebingungan. Mas Martin mendekatiku, ia merangkul pundakku dan satu Steve memandang Mas Martin horor lalu di tangan kanannya muncul cahaya bola berwarna merah dan dilemparkan ke Mas Martin tapi bola merah itu memental seperti ada pelindung kasat mata yang ada di depan kami berdua.
“Steve...” Wah, pasti Steve yang bisa ngeluarin cahaya bola merah adalah Steve KW.
Aku melepaskan diri dari rangkulan Mas Martin, sambil mendekati Steve aku ngeluarin ajian buat bikin bola cahaya kuning.
“Honey. What you doing?” Steve KW bertanya, ku jawab dengan lemparan cahaya bola kuning langsung ke arah dadanya.
Steve KW mundur beberapa langkah, ia menyentuh dadanya sambil meringis. “Honey,” rintihnya.
“Bunga. You i***t!” Mas Martin mendekatiku, ia menatapku tajam.
“Never call her i***t. i***t!” Steve marah besar, ia melempar bola cahaya merah ke arah Mas Martin, bikin Mas Martin mundur beberapa langkah sambil menekan dadanya. Ekspresi wajahnya jelas kalo dia lagi kesakitan tapi melihat bagaimana marahnya Steve sekarang jelas Steve yang bisa bikin cahaya bola merah adalah Steveku.
Tapi kok dia bisa???
Aku melongo memandang Steve yang masih memandang Mas martin dengan sengit. Kalo steve bisa melakukan itu, apa itu artinya Steve.
Steve yang bisa bikin cahaya bola merah memandangku dan merangkulku. Aku memandangnya masih dengan banyak pertanyaan yang keluar di kepalaku.
“Are you okay, Honey?” tanyanya.
“Steve...” Ucapanku berhenti, Steve mencium bibirku seperti yang biasa Steve lakukan. Ku kalungkan kedua lenganku di lehernya, menikmati ciuman yang begitu memesona.
“Bocah-bocah edan, gemblung. Lagi mburu dedemit la kok m***m nang pinggir sawah, (anak-anak gila. Sedang berburu setan kok malah berbuat m***m di pinggir sawah)” maki Ki Mengkis.
Aku melepaskan diri dari Steve, malu bukan main karena tadi sudah terbuai sama Steve. Aku menunduk, sementara Steve kembali menarik badanku mendekatinya.
“Steve. Ingat janjimu! Kamu harus menangkap jin yang sudah dilepaskan istrimu. Kalo enggak, aku batalkan pernikahan kalian,” ancam Ki Mengkis.
Aku memandang Ki Mengkis heran, sejak kejadian pernikahanku dan Steve memang semuanya jadi bikin kepalaku puyeng. “Sebetulnya ini ada apa toh? Kenapa hari ini hidupku banyak surpresnya?” tanyaku.
Steve tertawa, Mas Martin tersenyum geli. “Honey. Nanti saja kuceritakan. Sekarang, ayo cepat selesaikan perburuan ini,” kata Steve.
Steve dan Mas Martin berlari, aku memandang punggung keduanya. Ki Mengkis berdiri di sebelahku, ia ikut memandang mereka berdua.
“Kamu jangan kaget, Nduk. Steve adalah pemburu jin. Sama sepertimu,” katanya.
Aku menoleh, memandang Ki Mengkis gak percaya. “Masak sih?” tanyaku.
“Steve dan Martin adalah pemburu jin dari luar negeri,” terang Ki Mengkis.
Aku melongo, gak menyangka kalo orang bule juga ada yang bisa menangkap jin. Tapi aku masih gak percaya kalo Steve yang selama ini lucu bisa mengeluarkan ajian sehebat tadi. La wong, biasanya waktu berburu jin, dia lebih banyak bersembunyi.
“Steve sedang mengamati kemampuanmu, itulah kenapa selama ini dia lebih banyak gak membantumu,” kata Ki Mengkis, ia tahu apa yang ada dalam pikiranku.
Jadi selama ini Steve sengaja gak bantu aku dan cuma melihat kemampuanku. Dasar Steve, dia sudah menipuku. Awas saja nanti, kuhajar dia.
“Sudah, soal itu nanti saja. Sekarang, ayo tangkap setan itu.” Ki Mengkis bikin aku lepas dari lamunan. Ia berlari, aku ikut berlari di belakangnya.
Sampai di lapangan bola, ku lihat Steve sedang duel sama Pak Birowo, bekas tentara yang sekarang melatih pencak silat di kampung ini.
Steve yang selama ini gak pernah melakukan aksi apapun ternyata dia sangat kuat. Pak Birowo meninju d**a Steve tapi Steve dengan sigap menggenggam kepalan tangan Pak Birowo. Meskipun tangan Pak Birowo sudah dikunci oleh Steve, tapi kakinya masih bebas. Pak Birowo menendang kaki Steve tapi Steve dengan mudah menghindar.
Adu kekuatan terus berlangsung, Steve akhirnya memenangkan pertandingan. Pak Birowo melirikku, ia tersenyum lalu tiba-tiba dia berubah menjadi diriku. Steve yang awalnya hendak memukul muka Pak Birowo akhirnya mengurungkan niat. Bikin aku meradang dan akhirnya aku mengeluarkan ajian dan melemparkan cahaya bola kuning ke arah jin yang menyerupai diriku.
Mas Martin meniupkan asap berwarna putih menyala, asap putih itu mengikat jin seperti tali kemudian jin itu berubah menjadi asap. Ki Mengkis membuka botol lalu asap jin itu masuk ke dalamnya.
Aku bernapas lega, akhirnya kisah ini selesai sudah. Steve tersenyum kepadaku, ia mendekat sambil merentangkan tangan. Aku mendekatinya lalu meninju perutnya kuat-kuat bikin Steve mengaduh kesakitan. “Kamu pembohong. Tahu kalo kamu bisa nangkap hantu, aku gak mau susah-susah seperti kemarin,” keluhku.
Steve tertawa, ia merangkul pundakku tapi aku menepisnya. Aku melirik Steve, kesal setengah mati. Dua tangan bersedekap dan bibirku manyun beberapa senti.
“Kamu semakin cantik kalo sedang marah,” pujinya.
“Bohong,” balasku, tapi mukaku memerah kena pujiannya.
“Sumpah! Bunga is the most beautiful flower in the world,” katanya lagi.
“Gombal.” Makin senang deh hatiku.
“And you are my wife. I really love you,” katanya.
Aku terdiam, mati kutu kena pujiannya. Dasar si Steve, bisa bikin sebel bisa juga bikin seneng. Aku melangkahkan kedua kaki sambil menunduk buat menutupi perasaanku.
“I love you, Bunga. Do you love me?” bisiknya.
Aku mengangkat kepala, memandangnya sekilas lalu kembali menunduk. Steve kembali bertanya, tapi aku masih terlalu malu buat mengatakannya.
“Say it, Honey! Say, you love me!”
“I ... loph you,” lirihku.
“Apa?” tanyanya.
“I loph you.” Aku sedikit mengeraskan suara.
“Aku tak dengar, Honey.”
“I LOPH YU PULL,” teriakku.