Aku Kasmaran

1857 Kata
Duduk di taman sekolah, aku dan Steve lagi menikmati es puter berdua. Dia menyuapiku lalu menyuapi dirinya sendiri. Si bule edan ini sekarang jadi menyenangkan sekali, padahal kemarin-kemarin dia super menyebalkan sekali. “Enak kan Bunga?” tanyanya. “Iya, es puter buatan Pak Radi memang paling yahut.” Pak Radi adalah penjual es puter keliling yang sangat laris di kampung ini. “Aaa...” Steve memintaku membuka mulut, ia menyodorkan sesendok es puter dan segera masuk ke mulutku. Ia menyendok es dan menyuapkan ke mulutnya sendiri. Di sudut bibirnya terdapat lelehan es, aku mengusapnya dengan jempol. Bikin Steve tersenyum, ia mengecup pipiku, bikin aku meradang dan langsung mengedarkan pandangan, takut kalo diliat seseorang. “Nobody’s here, Honey. Ini tempat paling aman buat...” Steve gak melanjutkan ucapannya, ia mengecup bibirku. Bikin aku kaget dan memukul pundak Steve. Steve tertawa, ia merangkul pundakku. Aku tersenyum, meletakkan kepala di sela lehernya. Menikmati jam istirahat dengan berpacaran, sungguh senangnya. “Steve. Bunga...” Suara lantang itu membuatku mendongak. Bu Yanti berdiri sambil berkacak pingang, matanya melotot dan bibirnya berkedut. “Ikut saya ke kantor. Se-kar-rang!” teriaknya. Aku memandang Steve dengan perasaan sedih, tapi Steve tersenyum. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya tapi Bu Yanti menjewer kuping Steve dan menariknya ke arah kantor. *** Di dalam kantor kepala sekolah, aku berdiri dengan lutut dengan dua tangan menjewer telinga di dekat pintu. Steve ada di sebelahku dengan posisi yang sama. “Saya sangat kecewa dengan Bunga. Dia memang aneh tapi selama ini dia anak baik dan gak berbuat ulah kecuali soal setan persetanan tapi semenjak ada Steve, dia berubah dan buruknya dia jadi kebarat-baratan. Pacaran seperti ... ya, anda bayangkan sendiri lah!” Bu Yanti sedang mendudukkan Ki Mengkis dan Daddy. Gara-gara ketahuan pacaran di bangku pojokan di belakang taman sekolah. Bu Yanti memanggil Daddy dan Ki Mengkis. Aku malu setengah mati tapi aku gak bisa berbuat banyak selain pasrah dan menerima hukuman apapun. “Maafkan putra saya. Dia memang baru kembali dari Kanada. Dia belum tahu bersikap layaknya orang timur.” Daddy berbicara dengan suara yang lemah, bikin aku semakin sedih mendengarnya. “Maafkan sikap Bunga juga. Mohon dimaklumi, dia kan anak remaja.” Ki Mengkis menjawab dengan tenang. “Maka dari itu. Kita sebagai orangtua harus mengingatkan mereka berdua agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Anda berdua tahu kan maksud saya?” tanya Bu Yanti. Baik Daddy maupun Ki Mengkis mengangguk, Bu Yanti terus ceramah panjang lebar. Daddy dan Ki Mengkis cuma menjawab seadanya. Kedua tanganku kesemutan tapi waktu ku turunkan tangan, Bu Yanti melotot ke arahku. Bikin aku kembali menyentuh telinga. “Sabar Honey, nanti aku pijat,” bisik Steve, bikin aku tersenyum dan dapat hadiah pelototan mata lagi dari Bu Yanti. “Ya sudah. Saya mohon didik anak-anak dengan baik. Disini kami mengawasi mereka tapi di rumah tentu saja para orangtua harus bisa mengawasi setiap tindak tanduk anaknya sendiri.” Akhirnya Bu Yanti menyudahi ceramah. Daddy dan Ki Mengkis berdiri, keduanya bersalaman dengan Bu Yanti dan segera balik badan. Steve berdiri, ia mengulurkan tangan dan kutarik tangannya buat bantu aku berdiri. Lututku kesakitan, tanganku kesemutan dan kakiku juga. Ki Mengkis menyerahkan lengannya untuk ku gamit. Aku langsung menggamit lengannya dan berjalan dengan menyeret kedua kaki. “Makanya, jangan pacaran di sekolah,” seru Sari. Dia berdiri di dekat pintu. “Aku khilaf, Sar,” bisikku. “Karena kita manusia yang sedang jatuh cinta. Dunia milik kita berdua.” Steve bikin aku tersenyum, aku memang lagi merasa berbunga-bunga. Rasanya gak mau pisah dari Steve. *** Sampai di rumah, Ki Mengkis masuk ke dalam sambil menghela napas. Ia gak ngomong apa-apa tapi ini bikin aku merasa sangat gak enak. Aku berdiri di belakangnya, menunduk sambil memainkan ujung seragam. “Maafin aku, Ki. Aku udah bikin Ki Mengkis malu.” Air mataku merebak dan menetes dengan gampangnya. “Aku maafkan. Lain kali, jangan pacaran di sekolah. Paham?” tanya Ki Mengkis. “Iya, Ki. Aku gak akan pacaran lagi,” kataku. “Sekarang. Masak yang banyak dan enak! Nanti malam, banyak tamu yang datang.” Ki Mengkis merogoh saku celana, ia mengeluarkan dompet dan meletakkan beberapa lembar duit seratus ribuan. “Banyak amat, Ki?” tanyaku. “Beli baju yang bagus! Aku mau nanti malam kamu memakainya. Sekalian belanja lauk yang enak. Daging krengsengan kesukaanku jangan sampai ketinggalan dan ikan baronang bakar. Jangan lupa juga sambal terasi petenya!” Aku memandang Ki Mengkis gak percaya. “Memangnya siapa yang datang sih, Ki?” tanyaku penasaran. “Pokoknya belanja sekarang! Kalo ditunda-tunda nanti gak matang,” katanya. Aku mengambil uang itu lalu masuk ke kamar dan berganti pakaian. Dengan membawa tas selempang, aku segera ke pasar. Berjalan di tengah hari yang terik sendirian sambil berpikir siapa sih yang sebenarnya mau datang? *** Sampai di pasar, aku ke deretan toko pakaian yang berjajar. Patung-patung dengan baju yang bagus-bagus bikin aku bingung mau beli baju yang mana. Aku menyentuh sebuah patung yang memakai kaos berwarna pink dengan jaket jins dan celana jins. Ku rasa aku beli baju ini saja ah, “Jangan Bunga! Perempuan seharusnya memakai dress yang indah!” Seruan Mommy bikin aku menoleh, Mommy memandangku dengan tatapan sengit sementara Patty cekikikan di belakang Mommy. “Mommy. Lagi di pasar?” tanyaku. “No, i guess,” celetuk Patty, gak tahu deh artinya apa. “Sini. Mommy pilihkan baju yang bagus.” Mommy menarik tanganku masuk ke toko baju. Aku memandang toko baju yang memajang bajunya menempel di dinding. Mommy mengedarkan pandangan dan menunjuk sebuah kebaya lengkap dengan jariknya. “Mommy. Ngapain beli baju begitu? Kayak mau karnaval saja,” celetukku. “Kamu ini orang Indonesia. Seharusnya ya pake dress asli Indonesia.” Mommy memandang kebaya putih dengan manik-manik menghiasi brokatnya. “Tolong ganti jariknya dengan sidomukti!” Mommy menyerahkan jarik yang ternyata adalah rok ke penjual. Gak lama kemudian si penjual memberikan rok dengan motif batik sidomukti. “Lah, ini kan jarikbuat pengantin?” tanyaku, memandang Mommy yang memeriksa rok jarik. “Kamu coba!” perintah Mommy. Aku keheranan, masih memandang Mommy dan kebaya yang disodorkan kepadaku. Tapi Mommy memaksa, bikin aku mau gak mau mencobanya. Akhirnya aku membawa pakaian itu ke kamar pas. Mencoba kebaya dan jariknya bikin aku kayak orang mau menikah saja. ya ampun, dasar Mommy. Kayaknya Mommy gak tahu makna jarik motif sidomukti. Jarik yang melambangkan doa agar mempelai pengantin memiliki masa depan cerah dan penuh kebahagiaan. Tapi gak papa deh, biarin aja. Biar si camer seneng hehe. Mommy mengetuk pintu kamar pas, ia ingin melihatku memakai pakaian itu. Aku keluar dari kamar pas, Mommy memutar-mutar badanku buat memeriksa semuanya. “Oke. Bagus. Kita bayar baju ini.” Mommy gak buang-buang waktu, ia ke penjual lagi buat bayarin bajuku. Patty memandangku masih dengan cekikikan, bikin aku semakin gak ngerti sebenarnya ada apa sih ini? *** Hari sudah beranjak malam, tempat praktek diliburkan mendadak demi kedatangan tamu spesial Ki Mengkis. Ki Mengkis pake kemeja putih dan celana hitam. Bikin aku keheranan dengannya. “Kamu pake baju barumu sekarang! Tamu kita mau datang,” perintah Ki Mengkis. “Baju baru? Tapi...” Aku menggantungkan ucapan, masak aku disuruh pake kebaya sama jarik buat nerima tamu. Kan malu... “Kalo kamu gak pake bajumu. Awas saja ya...” Ki Mengkis melirikku tajam, bikin aku masuk kamar dan melaksanakan perintahnya. Aku segera memakai baju baru, sebenarnya malas sih la wong nerima tamu aja pake baju begini tapi aku takut sama Ki Mengkis jadi terpaksa deh aku menerima perintahnya. “Bunga. Apa kamu udah selesai?” tanya Ki Mengkis. “Sudah ki...” Aku keluar kamar sambil memandang penampilanku sendiri. Ki Mengkis memandangku sambil manggut-manggut, ia menoleh ke arah ruang tamu dan ku lihat keluarga Steve sudah duduk manis di atas tikar pandan. Steve memakai setelan kemeja putih, jas hitam, dasi hitam dan celana bahan berwarna hitam, dia juga pake peci layaknya cowok yang mau menikah. “Hai Bunga...” Steve berdiri mau menyambutku tapi pundaknya ditahan sama Daddy. “Sweetheart. Daddy mau bicara berdua ... maksud Daddy bertiga denganmu dan Mommy.” Daddy merubah ucapan karena Mommy mencubit pahanya. *** Dan sebuah berita bikin aku kaget setengah mati. Di dalam kamar, duduk di tepi ranjang, memandang Mommy yang duduk di sebelahku dan Daddy yang duduk di kursi, berhadapan denganku. Aku masih gak percaya dengan apa yang baru saja mereka katakan. “Aku sama Steve masih sekolah, Mommy ... Daddy,” ungkapku. “Tapi kamu sudah berani pacaran. Aku gak mau disalahkan orangtuamu karena gak bisa menjagamu. Jadi aku dan Pak Johnson sudah sepakat buat menikahkan kalian berdua. Secara siri dulu. Nanti kalo kalian sudah dapat ijasah SMA baru ngurus ke KUA.” Ki Mengkis masuk ke kamar. “Tapi. Tadi Ki Mengkis gak ngomong apa-apa,” ucapku. “Mommy sengaja meminta Ki Mengkis diam. Mommy ingin Mommy sendiri yang mengatakannya kepadamu,” kata Mommy. “Tapi tadi siang pas kita ketemu...” “Mommy ingin mengatakannya tapi Mommy takut kamu shock dan bunuh diri jadi...” Ya ampun Mommy. Dipikir aku punya nyali buat bunuh diri? “Ki, Mommy, Daddy. Aku ... gak mau menikah mendadak begini. Aku masih ingin melanjutkan cita-cita.” Lirih, tapi kuharap mereka mendengar dan mengerti maksudku. “Catch your dream! But you have marry with Steve...” Aku memandang Mommy, gak ngerti artinya. “Kejar cita-citamu tapi kamu harus menikah dengan Steve.” Daddy mengartikan maksud ucapan Mommy. Aku lemes, duduk sambil dengerin ceramah bla bla bla dari Ki Mengkis, Mommy dan Daddy, akhirnya aku menurut karena kata Ki Mengkis, sebelum Bapak meninggal, beliau berpesan kalo suatu saat aku ketahuan pacaran lebih baik dikawinin sekalian karena kata Bapak, beliau gak mau aku jadi beban Ki Mengkis karena udah merusak nama baik Ki Mengkis. Ucapan yang ternyata adalah wasiat sebelum beliau meninggal. “Sorry mengganggu. Tapi Pak Modin dan Pak Lurah sudah datang.” Mas Martin melongok dari pintu. “Ya sudah. Ayo ke depan!” Mommy menarikku sampai berdiri, ia memapahku keluar kamar. Di ruang tamu, Pak Modin sudah duduk bersila berhadapan dengan Steve. Pak Lurah ada di sebelah Pak Modin. Patty dan Mas Martin ada di sebelah Steve. Mommy mendudukkanku di sebelah Steve dan gak lama kemudian akad nikah diucapkan. Aku menunduk, deg-degan setengah mati. Aku memainkan jari jemariku yang gemetar. Air mata merebak lalu menetes dengan deras. Semua terjadi dengan cepat dan kini di umur delapan belas tahun dan masih berstatus pelajar, aku kini juga menyandang status istri untuk cowok yang baru kucintai. “Sah!”? tanya Pak Modin. “SAH!” seru semua orang disini. Pak Modin berdoa, aku menangis sesenggukan. Disamping karena meratapi pernikahan yang mendadak, aku juga menangis karena yang menikahkanku adalah wali hakim karena aku gak punya sanak saudara lagi. “Assalamualaikum, maaf saya terlambat.” Suara seseorang membuat perhatianku dan semua orang disini teralihkan. Aku memandang seseorang yang kini berdiri di tengah pintu. Kedua mataku membulat, gak percaya dengan siapa yang datang... Aku memandang Pak Lurah yang duduk di sebelah Pak Modin. Dia juga terkejut dengan tamu yang datang. Aku memandang Steve, lalu kembali memandang Pak Lurah dan tamu itu. Ki Mengkis menyentuh pundakku, membuatku menoleh kepadanya. Ki Mengkis menunjuk botol ajaib yang ada di sudut ruangan, botol itu menyala terang lalu jatuh dan berputar-putar gak jelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN