Pocong

1681 Kata
Di dunia ini, aku gak takut-takut amat sama jenis setan apapun kecuali setan yang sekarang harus ku hadapi. Aku masih bertahan di dalam mobil bagian penumpang, bersebelahan dengan Sekar dan memilih melepaskan pocong itu daripada aku harus bertatap muka sama dia. “Kamu saja yang menghadapi Steve. Aku takut...” Aku memeluk lututku sendiri. Masih tetep merem. “Kalian ini sedang bahas apa sih?” Sekar memandang heran kami. Aku meliriknya sebal tapi ku pikir aku pengen buat dia bisa melihat apa yang bisa kulihat. Jadi aku membaca ajian buat membuka mata batin seseorang lalu meludahi tanganku dan mengusapkannya ke mata Sekar. “Apa yang kamu...” Sekar mau marah, tapi dia melihat sesuatu di belakangku dan tiba-tiba dia pingsan di tempat. Perlahan aku memutar kepala dan kulihat sosok pocong berdiri di belakang Steve. “Biarkan aku disini ya say.” Suara pocong itu sok manis tapi aku tetap aja takut kepadanya. “AARRGGHH...” Aku teriak sekuat tenaga. Aku menutup kedua mata lagi dan kedua telinga, gak mau ada di tempat ini. Steve menarik tanganku, menggenggamnya erat. wajahnya sangat dekat, jadi seluruh lapang pandangku penuh olehnya. “Dengarkan aku Bunga! Kamu harus melawan perasaanmu sendiri. Pemburu hantu tak boleh takut dengan hantu apapun,” katanya. “Aku gak bisa Steve. kamu gak tahu apa yang pernah pocong lakukan padaku.” Pokoknya aku gak berani dengan yang namanya pocong. Waktu itu aku masih duduk di kelas tiga SD, sewaktu aku berkenalan dengan anak kecil seumuranku yang badannya dibungkus kain putih dan diatas kepalanya ada kuncritan dari kain itu. Hampir setiap malam, aku dan anak itu main bersama. Dia suka sekali melompat, bikin aku suka melompat mengikuti gerakannya. Suatu malam, dua orang yang juga seluruh badannya dibungkus kain putih mendatangiku. Dia marah karena aku sudah bikin anaknya sedih. Aku gak ngerti kenapa anak itu sedih karena perasaan kami gak ada masalah. Tapi ternyata, anak itu sedih karena aku bisa pake baju bagus-bagus sementara anak itu hanya bisa pake baju putih yang membungkus semua badannya. Dua orang itu yang gak lain hantu pocong, membawaku ke kuburan. Diarak sama banyak pocong yang berbau bangkai yang bikin perutku mual. Pocong-pocong itu mengikatku di sebuah batu nisan dalam keadaan duduk. Mereka bergoyang-goyang sambil melotot dengan mata yang menyeramkan dan sejak itu aku sangat takut dengan pocong. “Pokoknya aku gak mau.” Aku gak akan pernah lagi mau berurusan sama pocong. “Ini sangat mudah, Honey. Mereka tak bisa melakukan apapun.” Steve masih berusaha meyakinkanku. “Kamu belum pernah lihat mata mereka yang putih semua dan melotot sih. Kamu juga belum pernah mencium baunya kan. Aduh bayangin aja aku udah mual banget.” Aku masih bertahan buat menghadapi pocong. Tapi baik Steve maupun Hengky gak peduli padaku, keduanya bekerja sama menyeretku keluar dari mobil dan menyeretku masuk ke dalam area pemakaman. Aku berdiri di depan pintu pemakaman, memandang area yang gelap gulita. Steve memasangkan kacamata khusus melihat gelap. Kini aku melihat pekuburan lengkap dengan kuntilanak, wewe gombel dan juga ... pocong. “Aku lupa gak bawa air suci.” Aku memutar badan, tapi Steve menahanku dan memutar badanku. “Aku membawanya.” Aku melotot, Steve kok bisa bawa benda yang selalu ku simpan di kamarku. “Ki Mengkis memintaku membawanya. Kalau-kalau kita kemalamam di jalan. Jadi sekalian kita melakukan perburuan,” ungkap Steve. Ya ampun, ini bocah. Kok bisa dia bawa peralatan berburu jin pada waktu kami ngemall. Aku m,encebik, berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Steve tapi tuh bocah sialan gak mau peduli. Aku histeris, menangis keras gak peduli seluruh setan di dunia ini bakal mencemoohku. “Aku gak mau....” rengekku. “Gak mau apa sih, Cin?” Lo kok suaranya alai banget sih? Aku membuka kedua mata. Ternyata di depanku gak lain dan gak bukan adalah ... pocong! “HUAA ... POCONG!” Sontak aku berlari sekencang yang kubisa. Berusaha menjauh dari tuh pocong alay sejauh-jauhnya. “Hahahahahaha. Demon hunter kok takut sama pocong. Aih gak kuku...” Bujubuneng, sial bener. Aku menoleh ke belakang, kedua kakiku masih berlari kencang, melewati deretan batu nisan yang di dalamnya jelas berisi mayat dibungkus kain kafan. Aku kembali melihat ke depan tapi tiba-tiba ... Bugh! Kepalaku terbentur dengan begitu keras sampai badanku jatuh telentang diantara dua batu nisan. Aku menyentuh keningku yang sakit luar biasa dan benjol pula. Aduuuh.... Aku kembali menangis. Kenapa diantara sekian banyak jenis hantu, pocong adalah salah satu penghuni botol ajaib. “Adududuh ... jadi nongnong deh.” Suara itu? Aku membuka mata, masih dalam keadaan berbaring dan sosok yang pertama kulihat adalah... “STEVE. HELP ME!” Aku berteriak sekuat tenaga. Aku merayap mundur dan segera berdiri untuk lari sekencang yang kubisa. Taburan batu nisan menghambat langkahku. Aku kesandung sebuah batu nisan dan jatuh telungkup diatas gundukan tanah yang masih basah. “Hai Nona cantik. Kenalin, aku nakiren. Anak mati kemaren...” Aku menoleh ke sumber suara, gak tahunya ada pocong lagi duduk diatas batu nisan besar sambil cekikikan. Matanya berputar macam game rowlet yang sering dimainin Steve. Aku terisak, aku merayap mundur sampai badanku menabrak sesuatu. “Eh Neng, kalo jalan liat pake mata dong...” Suara itu membuatku mendongak, memandang sosok tinggi besar bermuka item dengan sepasang mata putih dengan titik kecil di tengahnya. Ya ampun ... kenapa hari ini sial bener ya ... tadi si Sekar bikin ulah dan sekarang. Huaa, pocong ... jangan ganggu aku... Aku berdiri, sebelum berlari, kusempatin menoleh ke belakang. Ada empat pocong berdiri berjajar sambil geyal geyol macam ulat kepanasan. Aku kembali berlari, pocong mengikutiku dari belakang. Aku berlari ke kanan, mereka ikut ke kanan. Aku berlari ke kiri, mereka juga ikut ke kiri. Lalu kemana aku harus berlari? Aku bersembunyi di belakang pohon randu, sambil mengatur napas, aku mengedarkan pandangan ke seluruh wilayah pekuburan. Sepanjang mata memandang, kuburan ini gak ada jalan keluarnya. Sial bener dah, mana aku lupa gak bawa buku ajian karyha Ki Mengkis lagi. Jadi gak bisa cari ajian apa yang pas buat nemuin jalan keluar. Karena aku yakin mataku sedang ditutup sama tuh pocong sialan biar aku gak bisa keluar dari tempat ini. “Honey. Lakukan penangkapan sekarang!” Aku menoleh dengan mata melotot dan d**a berdebar kencang. Tapi setelah tahu di sebelahku adalah Steve. aku bernapas lega, aku memeluk lengan Steve kuat-kuat. Menyembunyikan wajah di belakang ketiaknya. “Aku takut Steve....” rintihku. “Oh Bunga. Don’t be scare! Ada aku.” Aku mendongak, melotot lagi. “Dari tadi kamu kemana aja? Aku ngadepin pocong sendirian. Dan mana Hengky?” teriakku. Steve tersenyum, bocah gemblung satu ini memang rada-rada. Selalu ngilang disaat gak tepat dan kalo dipikir-pikir, dia selalu saja begitu. “Aku ada di belakangmu. Hanya saja, sepertinya kamu tak melihatku.” Steve merangkul pundakku, mencium keningku dan mengusap kepalaku penuh kelembutan. “Aih-aih, dilarang berbuat m***m disini ya...” Suara itu berasal dari atas. Aku mendongak, sesosok pocong berdiri di atas pohon randu. “Huaa ... pocong sialan. Jangan ganggu aku....” Aku menarik tangan Steve dan mengajaknya menjauh. “Idih. Idih, santai dulu kenapa Cin. Capek ini lompat cepat-cepat...” Aku menghentikan langkah, berpikir kenapa Steve kok bahasanya jadi aneh. Tiba-tiba Steve ada di depanku, bersedekap sambil tersenyum lalu ia menunjuk belakangku. “Pocong...” Pocong itu menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Kupikir tadi aku menggenggam tangan Steve, eh gak tahunya yang kugenggam adalah tangang pocong yang tertutup kain. “Steve...” Aku lemas, merosot dan memeluk lututku sendiri. Aku menangis sesenggukan, gak sanggup menghadapi mereka semua. “Bunga ... Tulkiyem. Teman mainmu dulu...” “Tulkiyem?” Aku mengingat-ingat nama itu. Cukup lama sampai akhirnya aku ingat siapa dia. Bau bangkai yang super duper gak enak yang kini kucium adalah bau yang sama seperti temanku waktu kecil. Aku mendongak, memandang Tulkiyem yang berwajah pucat dengan mata dikelilingi lingkaran hitam. Ia tersenyum, Tulkiyem yang dulu tetap Tulkiyem si bocah yang dulu tingginya sama denganku tapi sekarang aku makin tinggi tapi Tulkiyem tetap Tulkiyem yang gak berubah oleh perjalanan waktu. “Jangan takut Bunga. Kamu ini manusia, makhluk paling mulia di dunia ini.” Meski masih merinding bulu roma, tapi Tulkiyem membuatku merasa agak tenang. “Tapi...” “Maafin orangtuaku yang sudah bikin kamu ketakutan sampai pipis di celana,” kata Tulkiyem. Aku kembali memandang Tulkiyem, kok bisa si bocah ini masih mengingat bagaimana aku ketakutan setengah mati sampai pipis di celana. Tulkiyem terkikik, kepalanya menunduk hingga dagunya menyentuh tangan. “Tangkap dia! Kamu gak ingin dia mengganggu warga sini dengan penampakannya kan?” tanya Tulkiyem. Aku menggeleng, tentu saja aku gak mau pocong itu sampai mengganggu ketentraman warga tapi menangkapnya bukan hal mudah. “Ayolah Bunga! Ini wilayah kekuasaanku tapi Jumadi membuatku tersingkir. Kamu tahu kan gak enaknya jadi orang disisihkan?” tanya Tulkiyem. “Kok kamu tahu Tul?” tanyaku balik dan penasaran. “Aku tahu. Diam-diam, aku mengamatimu. Aku ingin menjagamu Bunga tapi kamu takut bangsaku jadi aku memilih bersembunyi biar kamu gak ketakutan.” Tulkiyem bikin aku baper deh, aku berdiri memandang Tulkiyem sambil tersenyum. Ku abaikan bau bangkainya, kupeluk erat Tulkiyem. “Terima kasih Tul. Aku senang jadi temanmu,” ungkapku. “Sama-sama. Sekarang, ayo tangkap pocong itu!” Aku melepas pelukannya. Steve tiba-tiba ada di sebelahku, ia menyerahkan kendi dan botol ajaib. Aku menerima kendi dan mengulum isinya, aku harus segera mengejar pocong itu dan menyemburkannya tepat di muka dia. Tulkiyem menunjuk ke arah pohon randu. Tepat di belakang pohon itu, terlihat sedikit badan pocong yang harus kutangkap. Aku membawa botol ajaib ke pohon itu dan langsung bertatap muka sama pocong yang lagi tersenyum kepadaku. Kalo pocong ini berpikir aku masih ketakutan, dia salah besar. Aku menyemburkan air suci ke wajahnya, wajahnya langsung mengeluarkan asap. Ia menjerit kesakitan. Gak nunggu lagi, aku langsung membuka botol dan pocong berubah jadi asap lalu masuk ke dalam botol. Lega sekali, akhirnya babak menyembalkan selesai. Aku tersenyum, memandang Steve dengan perasaan bahagia. Aku memeluknya erat, menyebarkan perasaan gembira karena sudah menang dari perasaan takutku. “Bawa aku pulang Steve!” Aku memeluk lengan Steve, menyeretnya keluar dari pekuburan ini. Waktu melintasi sosok pocong yang gak lain adalah Tulkiyem, aku berbisik kepada pocong sahabat baikku. “Dia pacarku,” bisikku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN