Aku Benci Sekar

1896 Kata
Aku keluar dari kamar mandi sambil benerin letak ikat pinggang dan merapikan kerah seragam sekolah biar lebih rapi. Ku cuci tangan di wastafel sambil memandang wajahku yang biasa-biasa saja. “Mbak Bunga. Minggu besok ada acara ndak?” Sekar tahu-tahu bicara di belakangku, bikin aku menoleh ke arahnya. “Minggu? Memangnya kenapa?” tanyaku balik. Sekar mencuci tangannya di wastafel sambil mengamati wajahnya sendiri dari pantulan kaca. “Aku dan Mas Hengky mau ke mall buat nonton. Aku ingin mengajakmu dan Kak Steve,” ujarnya. “Minggu aku punya banyak kerjaan. Lebih baik, kamu pergi berduaan saja sama Hengky.” Minggu itu lebih enak dihabiskan buat mencuci baju, setrika dan tidur seharian. Sekar mendesah, ia memandangku pake mata melas macam anak kucing kejepit pintu. “Maaf ya Sekar. Lain kali aja, oke.” Aku beranjak, pengen ke kantin buat makan bakso. “Mbak Bunga.” Panggilan Sekar bikin langkahku berhenti tepat di depan pintu. Aku memutar badan, memandang Sekar yang lagi berdiri di depanku. “Ehm. Kalo Mbak Bunga gak bisa. Bisa kan kalo minta Kak Steve ikut bersama kami?” Lah, Sekar ini kok aneh banget sih. “Kenapa gak minta Hengky buat ngajak Steve?” tanyaku. “Kata Mas Hengky. Kak Steve mau pergi kalo Mbak Bunga ikut,” jawabnya. “Maaf Sekar. Aku beneran gak bisa ikut. Banyak kerjaan.” Aku kembali memutar badan. “Aku mohon Mbak. Aku ingin sekali pergi dengan kalian berdua.” Suara Sekar semakin memelas. “Maafin aku Sekar. Tapi beneran aku gak bisa.” “Apa Mbak Bunga takut Kak Steve kurebut?” tanya Sekar tiba-tiba. Aku balik memutar badan, bocah ini aneh banget deh. Orang gak mau diajak pergi kok dianya maksa banget sih. Manalagi mall paling deket dari sini tuh butuh waktu tiga jam perjalanan lagi. “Maksudmu apa sih Sekar?” tanyaku balik. “Semua anak sini tahu kalo Mbak Bunga dan Kak Steve pacaran. Semua juga tahu kalo Mbak Bunga bikin Kak Steve gak bisa berpaling. Tapi kudengar, pelet itu gak berlaku kalo keluar dari wilayah ini,” ucapnya. “Tunggu-tunggu. Pelet apa maksudmu ini?” tanyaku heran. Baru kali ini ada yang berani ngomong langsung soal pelet gak jelas yang entah siapa yang udah mengedarkan informasi kejam ini. “Kalo begitu. Buktikan dong Mbak...” tantangnya. “Buktiin apa? Aku loh gak melet Steve,” kataku. “Ya sudah. Kalo gitu, minggu besok. Mbak Bunga ajak Kak Steve jalan sama kami,” Paksanya. “Kenapa kamu maksa banget? Atau jangan-jangan...” Aku menggantung omonganku, ku harap apa yang ada dalam kepalaku gak bener. “Pokoknya, aku minta Mbak Bunga buktikan kalo Kak Steve gak kena pelet.” Sekar masuk ke kamar mandi, ninggalin aku yang masih bengong sama sikapnya. *** Aku memandang pemandangan mall yang baru pertama kulihat. Lampunya sangat terang dan di semua toko ada lampu beraneka warna. Toko-toko memamerkan dagangan mereka yang lucu-lucu dan indah-indah. Ada tangga berjalan naik dan ada yang turun. Ada toko roti yang memamerkan beraneka roti dan kue yang sepertinya enak banget. Steve merangkul pundakku, memandangku dengan senyum penuh keceriaan. “Baru pertama kali ke mall?” tanyanya. Aku mengangguk, memandangnya sebentar lalu kembali memandang pemandangan yang indah sekali. Steve menggenggam tanganku, mengajakku jalan mengikuti Sekar dan Hengky yang berjalan di depan kami. Sekar membalik badan, mendekati Steve dengan wajah sumringah. “Kak Steve. Kita ke lantai atas yuk,” ajaknya. “Ok,” jawab Steve singkat sekali. Sekar menarik tangan Steve tapi Steve menarik tangannya bikin Sekar kaget dan heran tapi kemudian ia tersenyum. Melihat tingkah Sekar, aku tahu kalo ini bocah ngajak kesini buat menggaet Steve. Aku memandang Hengky, ia tersenyum masam bikin aku kasihan sama dia. “Honey. Apa kamu mau es krim?” tanya Steve. Es krim? Di kampung aku belum pernah makan es krim. Paling banter aku makan es puter. “Mau,” pekikku penuh semangat. “Hengky. See you at teathre. I need my time with my beautiful flower.” Steve menarik tanganku, ia berjalan cepat bikin aku setengah berlari mengikutinya. “Steve, pelan-pelan kenapa sih?” rajukku. Steve menoleh, ia melepas genggamannya dan merangkul pundakku. Bikin gerah banget ini bocah. “Lepasin Steve. Malu.” Aku menggerakkan pundak, berusaha melepas rangkulan tangan Steve. “Lihat sekeliling kita ... sama kan?” Steve benar, ku lihat banyak sekali pasangan yang pegangan tangan atau berjalan sambil berangkulan. Bahkan beberapa cewek pake baju kelihatan paha dan ada yang pake atasan sampe kelihatan belahan dadanya. Wow, orang kota ya ... bajunya pendek-pendek. Mungkin disini gerah jadi mereka sukanya pake baju mini. Tatapan mataku tertumbuk pada sebuah toko yang memamerkan asesoris yang lucu-lucu. Aku merangkul pinggang Steve, menariknya ke toko itu. Toko asesoris berwarna merah muda dengan beraneka ragam asesoris dipamerkan bikin aku pengen borong semuanya. Tapi melihat harganya yang mahal-mahal kayaknya beli satu pita aja udah cukup. Aku memerhatikan deretan pita yang dipajang, jadi bingung sendiri mau beli yang mana. Aku mengambil pita berwarna putih dengan garis-garis merah muda. Tapi mataku malah melirik pita berwarna hijau mengkilap yang gak kalah cantiknya. “Cantik-cantik ya Steve?” tanyaku. Steve gak merespon, bikin aku menoleh mencari Steve. ternyata Steve sedang menarik tangannya dari rangkulan Sekar dan lagi-lagi kulihat Hengky berdiri dengan wajah masam. “Sekar.” Aku mengembalikan pita ke tempatnya. Mendekati mereka bertiga. “Honey. Help me!” Steve ini aneh-aneh aja sih, masak sama cewek macam Sekar aja takutnya ngalah-ngalahin sama Sari. Halah sama Sari dan Rukmini aja dia biasa aja. “Sekar. Lepasin Steve!” pintaku. Sekar memandangku dengan pandangan sengit, ini bocah bikin sebal aja. “Kenapa? Cemburu?” Nahlo, kok Sekar jadi begini sih? “Bukan begitu Sekar. Tapi kan...” “Alah, Mbak Bunga gak usah sok suci deh. Aku yakin Mbak Bunga sudah siapin pelet lain biar Kak Steve tetep kecantol sama Mbak, iya kan?” Sekar bikin aku mulai naik darah ini. “Kamu jangan mulai, Sekar.” Aku menahan diri buat gak marah. “Honey...” Steve menarik tangannya, Sekar mendekatiku tapi aku langsung menatapnya tajam. “Mau nyantet aku? Silahkan...” tantang Sekar. Santet apanya? Baik santet maupun pelet, gak pernah sekalipun aku memikirkannya. Ini fitnah yang sangat keterlaluan. Apa dia gak takut kalo aku beneran nyantet dia? “Sekar. Sudah. Kita nonton sekarang!” Hengky mencekal lengan Sekar tapi Sekar malah menepisnya dan kembali menggelayut di lengan Steve. Steve kembali meronta, berusaha melepaskan tangan Sekar. “Kamu itu jahat banget, Sekar. Sudah memfitnah aku dan sekarang juga nyakitin perasaan Hengky. Nyesel aku nurutin kemauanmu,” makiku. “Kamu pikir apa sampe aku mau ngajak kamu?” Sekar sudah bikin aku semakin jengkel sama dia. Aku marah luar biasa, aku memandang Sekar tajam dengan dua tangan terkepal. Urat leherku mencuat dan siap menyemburkan api kalo saja bisa kulakukan. “Aku yakin kamu tahu kalo semua cewek di sekolah menganggapmu aneh. Seharusnya orang aneh sepertimu tahu. Pasti aneh kalo orang populer sepertiku mengajakmu...” “CUKUP!” Aku menutup mata, merapal doa buat menenangkan hati yang sudah sangat-sangat marah. Tiba-tiba seseorang mencekal tanganku, aku membuka mata. Steve menarikku, mengajakku pergi meninggalkan Hengky dan Sekar. Aku menangis, sakit sekali karena sudah dikata-katai seperti itu. Di tempat umum pula, malu banget deh. *** Steve membawaku ke tempat parkir. Ia menekan remote dan membuat lampu mobilnya berkedip dan berbunyi bip-bip. Aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya, sambil mengatur napas yang memburu. Steve masuk ke dalam mobil, ia membelai rambutku. Memijat satu pundakku dengan lembut. “Kamu tak perlu memikirkan ucapan Sekar. Dia gila,” hiburnya. “Aku tuh gak pernah nyantet apalagi melet. Mikir itu aja gak pernah. Kenapa semua orang nganggap aku jahat?” Aku menghapus air mata. Membuang muka ke luar jendela. “Aku tahu. Aku tak pernah menganggapmu jahat. You are the best girl i ever met.” Steve menarikku dalam pelukannya. Aku melingkarkan dua lengan di leher Steve. Menangis tersedu-sedu karena hatiku masih sangat sakit. “Mereka semua jahat. Bahkan lebih jahat dari jin, setan dan sebangsanya. Aku ... gak bisa hidup berdampingan sama mereka. Mereka pikir, aku betah? Steve, andai bukan demi Ki Mengkis yang sudah susah payah cari uang buat nyekolahin aku. Aku bakal pergi ninggalin mereka,” curhatku. Steve membiarkanku bicara, ini kali pertama aku curhat sama seseorang. Semua apa yang selama ini kupendam di dalam hati akhirnya keluar, bikin hatiku sangat lega sekali. “Sudahlah, Bunga. Kamu harus sabar. Aku akan selalu di sisimu. I’m your guardian angel and i will save you from everything. Trust me” ucap Steve. “Artinya apa?” Heran sama Steve, masih aja nyampur bahasa Indonesia sama bahasa inggris. Steve menahan tawa, aku sebal kalo sudah jadi bahan tertawaan Steve. “Jangan ngomong bahasa inggris dong. Gak semua bahasamu ku mengerti!” cebikku. “Artinya aku mencintaimu,” kata Steve. Aku menghela napas berat, kalo bahasa inggrisnya aku mencintaimu, aku mengerti. Dasar Steve edan. Tapi semakin kesini, aku merasa sangat nyaman sama Steve dan ku rasa gak buruk juga kalo aku jalan sama dia. “Kenapa tersenyum?” tanya Steve. “Enggak kok,” jawabku. “Tadi tersenyum,” katanya. “Siapa?” tanyaku. “Kita, pasangan paling serasi dan kita akan jadi pasangan paling kuat dalam memberantas setan yang mengganggu kehidupan manusia di muka bumi ini,” katanya. “Ya ampun, Steve. Kita ini Cuma berburu jin botol sampai jin yang dulu lepas masuk botol semua. Abis itu, aku balik jadi Bunga asisten dukun dan kamu balik jadi...” Tiba-tiba Steve menarik kepalaku mendekatinya dan bibirnya menyentuh bibirku. Biasanya aku sangat marah tapi gak tahu kenapa, sekarang aku gak marah, malah ciuman sama Steve sangat nikmat sekali. “Wow. Sorry mengganggu.” Hengky membuatku kelabakan. Malu banget sudah ketahuan kalo lagi ciuman di dalam mobil. “Hengky!” Aku tersipu malu dan kini aku merasa biasa-biasa saja kepada Hengky. “Ku pikir kamu...” Hengky menghentikan ucapannya sendiri. “Dia pacarku. Tentu saja dia mencintaiku dan ciuman itu buktinya.” Steve mengecup bibirku sekali lagi sebelum dia memasang sabuk pengaman kepadaku. “Menjijikkan.” Sekar masuk ke dalam kursi penumpang yang ada di belakang, ia melipat kedua tangannya. “Aku melakukannya sama pacarku sendiri. Memangnya kenapa? Aku gak merebut pacar orang lain kan...” balasku. Sekar melotot, Steve memutar kepalaku ke depan. Ia tersenyum kepadaku, memintaku buat diam. Eh kok tiba-tiba aku merasa ngerti sama kode-kodeannya Steve ya? “I love you,” ungkap Steve, bikin aku meleleh seperti es krim yang gak jadi ku beli. Sepanjang perjalanan pulang, Steve menggenggam satu tanganku dan gak ada suara selain suara musik yang diputar di radio mobil. Aku males ngomong, Sekar lebih banyak melirikku dan Steve sementara Hengky, ia selalu melihat keluar mobil. Pasti dia gemes sama Sekar yang ternyata nguber Steve dan cuek sama Hengky. *** Malam sudah cukup larut sewaktu mobil Steve masuk ke kampung tempat kami tinggal. Beberapa hantu berdiri di pinggir jalan. Tiba-tiba mobil berhenti dan bodi depan mobil mengeluarkan asap. Aku memandang Steve, Steve tersenyum lalu keluar mobil diikuti Hengky. Sekar tertidur, aku bertahan di dalam mobil. Mobil mogok tepat di sebelah kuburan, bikin aku menunduk karena perasaanku gak enak banget. Tapi perasaan lain menyuruhku buat keluar, semakin lama perasaan itu semakin kuat sampai akhirnya aku putuskan keluar mobil. Berjalan dengan mata setengah menutup, aku mendekati Steve dan Hengky. Sampai di sebelah Steve, ku lihat botol ajaib bersinar di tengah jalan dan mulut botol itu menghadap ke sesosok.... “AAARRRGGGHHH....” Melihat sosok itu, aku langsung pingsan di tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN