Aku duduk di tepi meja makan, memandang Ibu yang sedang membawa panci kecil dengan isi yang asapnya masih mengepul. Ibu meletakkan panci itu ke atas meja, dari aromanya saja aku sudah tahu kalo makanan ini adalah makanan kesukaanku. Sayur lodeh nangka muda campur ceker, yang pedas dan mantap.
Air liur pengen menetes, memandang sayur bersantan yang sudah sangat ku rindukan. Bapak tersenyum, Ibu juga tersenyum, bikin aku ikutan tersenyum. Ibu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, sayur lodeh nangka muda dan dua ceker, gak lupa ikan asin goreng yang bikin masakan Ibu semakin enak gak ada duanya.
Aku makan dengan lahap, rasanya sepanci masakan Ibu masih kurang ini. Ayah tertawa melihatku, aku ikutan tertawa tapi mulutku penuh makanan, bikin kuah menetes di ujung bibirku.
“Bunga, pelan-pelan makannya, Nak...” Ibu memberiku segelas air. Tahu aja kalo leherku penuh makanan jadi butuh air buat mendorongnya masuk ke dalam usus.
“Ibu, masakan Ibu luar biasa ... sedap...” Ibu dan Bapak tertawa melihatku. Bikin aku ikutan tertawa bersama mereka.
“Bunga. Wake up, Honey....” Suara seseorang terdengar sangat kecil sekali tapi bikin aku penasaran sampe aku celingukan mencari sumber suara, tapi ah, mungkin perasaanku saja.
“Ada apa, Nak?” Bapak memandangku heran.
“Gak ada apa-apa, Pak. Bapak harus banyak makan, biar tambah sehat.” Aku mengisi piring kosong Bapak dengan seentong nasi, sesendok sayur nangka muda dan sepotong ikan asin.
“Ibu juga, makan yang banyak...”
“Ibu sedang diet, Nak.” Ibu tersenyum, ia memandangku penuh kelembutan.
Aku kembali menghabiskan makanan kesukaanku, gurihnya sayur lodeh, bercampur dengan manisnya nasi dan asinnya ikan asin. Memanjakan mulutku sampai perut rasanya begah, kekenyangan. Padahal aku masih ingin memasukkan makanan itu ke dalam perut.
Selesai makan, aku membantu Ibu membersihkan meja makan. Membawa piring kotor ke belakang rumah. Aku menimba air, Ibu mencuci piring kotor. Aku menarik timba yang diikat dengan tali dan dikaitkan dengan katrol.
“Bunga. Sudah, sana ke Bapakmu. Dia kangen pijatanmu.” Ibu memandangku sekilas lalu kembali sibuk dengan piring yang sedang dibilas.
“Gak papa, Bu. Nanti habis bantu Ibu, baru aku pijitin Bapak.” Aku kembali menimba air, setelah timba ada di depan mata, angkat dan ku tuang ke dalam bak cucian.
Setelah bak cucian penuh, aku jongkok di depan bak dan membilas piring sambil memandang wajah Ibu yang sangat cantik jelita.
***
Aku berdiri di depan Bapak yang lagi menonton TV. Memijit bahunya sambil memandang Ibu yang lagi mengupas buah mangga. Aku lega, karena akhirnya bisa bersama mereka setelah dua tahun lamanya kami terpisah karena...
“Enggak...” Aku menggelengkan kepala, itu semua pasti cuma mimpi, Bapak dan Ibu sehat-sehat saja kok.
“Sudah, Nak. Tanganmu pasti capek. Sana ke Ibumu! Makan buah mangganya.” Bapak menarik tanganku, membimbingku untuk duduk di sebelah Ibu.
Ibu mengambil sepotong mangga dan menyuapkannya ke mulutku. Rasa manis langsung memenuhi mulut. Ibu terlihat senang melihatku menikmati makanan itu.
“Bunga. Can you hear me? Bunga kamu bisa dengar aku?” Suara itu kembali ku dengar, suaranya sangat kecil sekali.
Aku celingukan, mencari-cari sumber suara, tapi gak ada siapapun kecuali kami bertiga.
“Ada apa Bunga?” tanya Ibu.
“Aku denger seseorang memanggilku. Tapi kayaknya aku salah dengar deh.” Aku kembali menikmati mangga dari suapan tangan Ibu.
***
Malam sudah larut, aku sudah berbaring di kamar, bersiap untuk tidur. Ibu dan Bapak ada di tepi ranjang, memandangku dengan senyum yang sangat menawan.
“Tidurlah, Nak ... Besok kita jalan-jalan bertiga.” Ibu membelai kepalaku, dengan penuh kelembutan.
“Kamu ingin kemana?” tanya Bapak.
Aku menerawang, aku ingin ke pantai, ke air terjun, ke kebun binatang atau ... aku bingung.
“Bunga ingin kemana?” tanya Bapak sekali lagi.
“Kemana aja, asal sama Bapak Ibu, aku mau,” jawabku.
Bapak dan Ibu tersenyum lagi, Ibu dan Bapak mencium keningku bergantian. Setelah itu keduanya beranjak pergi.
Aku berbaring sambil memandang langit-langit kamar, mataku masih belum mengantuk meskipun malam sudah sangat larut. Memandang sekeliling kamar yang selama ini sudah kutinggalkan cukup lama.
“Bunga. Aku Hengky. Bangunlah!” Suara Hengky kudengar lirih, tapi siapa Hengky?
“Bunga. Aku sudah tahu perasaanmu. Bangunlah! Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Suara itu kembali kudengar tapi siapa dia?
“You told me. You love Hengky, right? Come on, Sweety. Wake up. Do anything, you want. I will help you but, just GET UP!”
“Steve? Kamu dimana?” Aku yakin mendengar suara Steve dengan sangat jelas.
Aku membuka selimut, turun dari ranjang dan memeriksa kolong ranjang. Tapi gak ada siapapun disana, lalu dimana Steve.
Tiba-tiba kepalaku dipenuhi Steve yang tertawa, Steve yang khawatir dan ciuman Steve. “Steve...” Steve, bule edan yang setiap hari buntutin aku. Aku ingat siapa dia dan Hengky, cowok yang ku taksir. Yang sudah punya pacar. Oke, dia sudah punya pacar.
Seluruh ruangan kamar ini tiba-tiba berputar kencang lalu berhenti dan ku lihat Steve ada di depanku. Berdiri dengan wajah penuh khawatir. “Steve...” Aku merangkum wajahnya, aku jadi bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi.
“Bunga. Are you here?” tanya Steve.
Aku mencubit pipi Steve, buat mastiin kalo aku gak mimpi. Steve mengaduh, berarti aku gak mimpi ini. aku tersenyum senang sekali, artinya Bapak dan Ibu beneran ada bersamaku.
“Bunga. Oh Sweetheart. Aku sangat mengkhawatirkanmu...” Steve memelukku erat, bikin aku susah napas.
Ku dorong badannya, tapi Steve menempel kayak udah di lem. “Steve. Lepasin!” Steve mengecup wajahku berkali-kali sampe gak bersisa. Wajahku basah, karena Steve.
“Steve. Sial bener dah! Menjijikkan...” Aku mengusap wajah, bau mulut Steve tercium di tanganku.
“Honey. Don’t do that again! I’m gonna be crazy because of you...” kata Steve.
“Aduh Steve. Ngomong pake bahasa Indonesia dong,” gerutuku.
“Oh Honey. Aku mencintaimu...” Steve mau memelukku lagi, tapi aku berkelit, sembunyi di belakang badan Hengky.
Ngomong-ngomong soal Hengky, berarti apa yang ku dengar tadi, beneran suara Hengky dan dia tahu kalo aku suka sama dia. Ini pasti Steve yang cerita. Awas saja ya...
“Kita harus cepat memasukkan mereka ke dalam botol sebelum mereka sadar, Bunga sudah lepas dari pengaruh mereka.” Hengky menoleh, bikin aku mundur lalu mendekati Steve.
“Maksudnya apa?” tanyaku.
“Honey. Mereka bukan orangtuamu. Mereka jin yang membuatmu kena delusi. Kita harus cepat menangkap mereka!” Steve bikin aku mendelik bercampur sedih, apa benar apa yang dikatakan Steve.
“Aku tahu, ini berat untukmu. Tapi orangtuamu sudah meninggal dan orang meninggal tak bisa hidup lagi.” Steve menganggukkan kepala.
Steve benar, aku harus menerima kenyataan kalo Bapak dan Ibu sudah meninggal. Steve menyodorkan botol ajaib dan kendi. Aku kembali memandang Steve buat memastikan kalo apa yang diucapkan memang benar.
“Ayo!” Aku merebut kendi dari tangan Steve, sebelum aku baper, aku harus cepat bertindak.
***
Aku sedikit membuka pintu kamar, melihat keluar ternyata Bapak dan Ibu sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Steve mencolek pundakku, bikin aku menoleh kepadanya.
Steve memberiku aba-aba buat langsung menyemburkan air kendi ke badan mereka tapi aku gak tega. Gimanapun aku masih ingin berlama-lama sama mereka.
“Ayo Bunga! Mumpung mereka gak lihat kita.” Hengky berbisik, tapi tetap saja aku masih ingin melihat keduanya meskipun dengan cara seperti ini.
“Bunga. Come on!” Kali ini Steve yang memaksa.
Aku mengulum air kendi, berdiri lalu mendekati Bapak dan Ibu. Aku sudah ada di belakang Bapak dan Ibu, aku menoleh, melihat Steve dan Hengky memberiku aba-aba buat menyemburkan air kendi itu.
“Bunga. Kenapa kamu bangun, Nak?” Ibu bikin aku kaget, air kendi akhirnya tertelan dan masuk ke tenggorokanku.
Ibu dan Bapak menoleh, aku jadi serba salah deh. Kuharap mereka asli orangtuaku, tapi aku saja yakin kalo mereka bukan orangtuaku. Mereka jin yang merubah wujudnya menjadi Bapak dan Ibu.
“Iya, Bu. Anu ... kebelet pipis.” Aku nyengir kuda, hanya kebohongan ini yang bisa keluar dari mulutku.
“Oh, ya sudah. Ibu antar ke belakang...”
“Gak usah Bu. Aku berani kok,” tolakku.
“Benarkah? Ya sudah kalo begitu. Bapak dan Ibu mau tidur dulu.” Bapak dan Ibu bangkit dari kursi. Keduanya berdiri memandangku.
“Aku pipis dulu ya Pak, Bu.” Gak pake lama, aku langsung ngacir.
Di belakang rumah, aku tiba-tiba deg-degan gak jelas. Sikap mereka aneh sekali. Kalo diingat-ingat. Ibu dulu gak seperhatian itu, kalo aku kebelet pipis. Aku dipaksa ke kamar mandi yang letaknya di luar rumah, sendirian. Katanya biar aku terbiasa,
“Bunga....” Tepukan di bahu, bikin aku kaget dan sontak aku menoleh.
Aku memutar badan, memandang Steve dan Hengky yang lagi pasang muka geregetan. Aku memasang muka melas, kali ini mereka berdua sama-sama menghela napas.
“Bunga. Kamu harus bisa menanganinya! Ini sangat mudah.” Hengky bikin aku memandangnya sebal.
“Gak segampang itu. Mereka orangtuaku,” protesku.
“Mereka jin yang mengecohmu dengan berpura-pura menjadi orangtuamu, Honey.” Steve bikin aku mendongak dan meliriknya pake lirikan maut.
Steve sedikit menundukkan badannya, ia meletakkan dua tangan di dua pundakku dan mengunci pandangan kami. “Aku tahu ini berat. Tapi mereka jin yang berpura-pura jadi orangtuamu. Mereka menyakitimu dengan tipuan mereka dan menghina orangtuamu dengan kepura-puraannya,” ucap Steve.
Aku melongo, tumben Steve jadi bijaksana seperti sekarang. Aku tersenyum, sambil menganggukkan kepala. Aku merebut kendi dan mengisi mulut dengan air suci.
Aku mau masuk ke dalam rumah, waktu tiba-tiba Bapak dan Ibu berdiri di depan pintu. Keduanya memandangku dengan tatapan sayu, bikin aku merasa kasihan sama mereka.
Tapi aku harus menyelesaikan masalah ini, jadi...
BYUR! Air suci kusembur tepat di wajah keduanya. Seketika ada asap keluar dari wajah mereka lalu badan mereka juga mengeluarkan asap.
“Bunga. Kenapa kamu setega itu kepada kami?” teriak Ibu.
Bapak memandangku dengan mata merah, ia terlihat marah sekali. “Gak seharusnya kamu melakukannya! Kita bisa hidup bahagia bersama, Bunga,” katanya.
Ibu melotot marah, aku menangis sesenggukan, gak tega melihat mereka seperti ini. “Maafkan aku,” lirihku.
“Aku gak akan pernah memaafkanmu, Bunga. TIDAK....” Tiba-tiba kepala Ibu melar seperti karet, ia hendak menyerangku tapi Ibu berubah menjadi asap dan masuk ke dalam botol yang dibuka oleh Steve.
Bapak juga senasib sama Ibu, ia berubah menjadi asap dan masuk ke dalam botol. Aku menunduk, masih menangis sesenggukan karena akhirnya aku kehilangan mereka untuk kedua kalinya.
“Good job. Let’s go home!” Steve memapahku, mengajakku pulang ke rumah Ki Mengkis, meninggalkan rumahku, rumah yang pernah memberiku kenangan indah bersama Bapak dan Ibu.
***
Ki Mengkis memeluk guling sambil menciuminya. Aku dan Steve saling berpandangan.
“Cah ayu tenan. Sini diangetin sama Ki Mengkis.” Ki Mengkis berbaring di ranjangnya, masih memeluk guling sambil menciuminya.
“Dia masih kena efek delusi dari jin yang mengganggumu,” kata Steve.
“Tapi jinnya aja sudah masuk botol tapi kenapa efeknya belum hilang?” tanyaku penasaran.
“Karena sejak terpengaruh jin itu. Tak ada siapapun yang menyadarkan Ki Mengkis,” jawab Steve.
“Bagaimana kamu bisa tahu? Terus gimana cara nyadarin Ki Mengkis?” tanyaku.
Steve menunjukkan handphonenya. “Let’s find out!” kata Steve.
“Cah ayu. Tak keloni ben anget.” Ki Mengkis melepas kemejanya.