Bapak Dan Ibu

1639 Kata
Aku mengerjapkan kedua mata, barusan aku melihat Bapak dan Ibu disini tapi tiba-tiba menghilang dalam kedipan mata. Ah, sepertinya itu cuma perasaanku saja. Steve menarik tanganku buat bergabung dengan keluarga yang lain. Duduk di tepi meja yang penuh dengan makanan, bikin perutku keroncongan. Steve mengambilkan aku sosis bakar dan satu tusuk sate. Aku mengambil sate itu dan menggigit paprika merah. Rasanya ... aneh tapi aku tetap memakannya. Mas Martin duduk di depanku, ia tersenyum melihatku. Sepertinya Mas Martin punya perasaan khusus kepadaku tapi aku gak mau bikin Mas Martin dan Steve bertengkar karena memperebutkan diriku. “Bagaimana rasanya, Sayang?” tanya Mommy. “Enak, Mommy.” Aku kembali menikmati makanan, sosis bakarnya enak sekali. Waktu aku menikmati makanan, tiba-tiba ada Bapak berdiri di belakang Mas Martin. Sontak aku berdiri, memandang Bapak yang diam memandangku. “Bapak...” panggilku. Steve berdiri, ia memandangku penuh tanya. Aku memandangnya, aku yakin Steve bisa melihatnya. “Dia...” Steve menggantung ucapannya. “Bapakku.” Aku kembali memandang ke arah Bapak, tapi Bapak sudah menghilang. Aku menghela napas, aku jadi sangat merindukannya. “Apa disini ada hantu?” Patty menggeser tempat duduknya ke Mas Martin. Tangannya memeluk tangan Mas Martin erat. Steve tersenyum, ia menunjuk sebelah Patty yang kebetulan ada cewek lagi berdiri dengan kepala tertunduk. “That’s a ghost beside you,” ucap Steve. “are you serious?” tanya Patty. “Apa Patty ingin dibuka mata batinnya? Biar bisa melihat hantu seperti Steve...” tawarku. Patty memucat, ia memeluk lengan Mas Martin semakin erat. Aku tertawa, senang karena sudah bikin Patty ketakutan seperti ini. *** Aku sedang di ruang keluarga bersama Steve dan Mas Martin, kami menonton film horor yang gak mengerikan sama sekali. Kisah tentang pemburu hantu dari luar negeri. Parahnya, film ini gak ada textnya, jadi aku gak ngerti sama ceritanya. Steve duduk di ujung sofa, sementara aku duduk di ujung lainnya. Mas Martin duduk di kursi malas sambil makan brondong. Aku meletakkan kepala di sandaran kursi, menonton TV sambil ngantuk-ngantuk. “Apa gak ada acara kontes dangdut gitu.” Aku menguap, kantuk makin berat. “Gak ada,” jawab Mas Martin. “Apa kamu ngantuk, Hon?” tanya Steve. Aku gak menjawab, mataku melotot ke layar yang lagi memperlihatkan hantu wanita yang lagi menjerit kesakitan. Kuluruskan kedua kaki, menyentuh kaki Steve. Karena gak sanggup menahan kantuk, akhirnya aku memejamkan mata. Ku pikir, tidur sebentar sebelum pindah ke kamar, bukan ide buruk. “Bunga. Ini Ibu, Nak...” Ibu berdiri di depan halaman villa. Memakai baju putih, ia cantik sekali. “Ibu...” Ibu mengangguk dan merentangkan kedua tangannya. Aku langsung lari dan memeluknya erat. Ibu sangat cantik sekali, tersenyum sambil menangkup wajahku. Bapak ada di samping Ibu, ia juga tersenyum cakep sekali. Kami bertiga berjalan di sebuah taman bunga yang indah. Bunga krisan berwarna kuning memenuhi tempat ini. Aku kembali menoleh ke kanan dan ke kiri, Bapak dan Ibu sudah sangat kurindukan tapi sekarang kami bertemu lagi. Dari kejauhan, kulihat sebuah danau yang sangat indah, aku mengajak Bapak dan Ibu berjalan ke danau itu. Pasti sangat menyenangkan kalo bermain di tepi danau sambil main ciprat-cipratan air. Aku berjalan dengan dua tangan digandeng Bapak dan Ibu, hari sangat cerah secerah hatiku. Kami bertiga duduk di tepi danau dengan air yang sangat jernih. Ibu memandangku sambil mengelus puncak kepalaku. Bapak tersenyum melihatku. “Aku punya dua teman dekat, Pak, Bu,” ucapku. “Hengky dan Steve. Dua-duanya sangat baik kepadaku. Apalagi Steve, meskipun dia suka nempel padaku dan sering bikin aku gemes tapi dialah yang selalu ada bersamaku. Kalo Hengky, dia cowok yang ku suka. Tapi dia sudah punya pacar. Sedih aku Bu.” Aku mencebik, si Hengky payah. Apa dia takut bersaing sama Steve, makanya dia mundur sebelum bertarung? “Apa kamu bahagia, Bunga?” tanya Ibu. “Aku bahagia, Bu. Apalagi sekarang aku ketemu Bapak dan Ibu. Aku sangat kangen kalian. Sebelum ada Hengky dan Steve, setiap hari aku berusaha sibuk biar gak mikirin kalian terus...” akuku. “Kalo sekarang bagaimana?” tanya Bapak. “Sekarang aku tetap kangen kalian tapi aku sudah gak cengeng kayak dulu.” Bapak tersenyum lagi. “Bunga. Sekarang Bapak dan Ibu sudah kembali. Kamu bisa pulang lagi ke rumah kita. Tinggal bersama Bapak dan Ibu,” ajak Ibu. “Sungguh Bu?” tanyaku. Ibu menganggukkan kepala. Aku, Bapak dan Ibu tersenyum lalu tertawa bersama. Aku mendongak, awan seputih kapas menghiasi langit yang berwarna biru cerah, secerah hatiku. Lalu tiba-tiba awan berwarna abu-abu datang, menutupi langit biru dan semakin lama warnanya semakin pekat dan menjadi semakin gelap. Bapak, Ibu ... Aku kembali memandang ke arah Bapak dan Ibu tapi keduanya sudah menghilang. Aku berdiri, memutar badan buat mencari keduanya, tapi semuanya kosong. Aku berlari ke taman bunga, mencari keberadaan mereka tapi sepanjang mata memandang, hanya taman bunga krisan kuning yang nampak. Sementara Bapak dan Ibu menghilang entah kemana. “BAPAK ... IBU ...” Aku berteriak sambil berlari kesana dan kemari tapi tetap saja gak menemukan mereka. Aku menangis, sedih sekali. Aku masih sangat kangen sama Bapak dan Ibu tapi dimana mereka sekarang? “Bapak ... Ibu ... Kenapa kalian pergi ninggalin aku begitu saja tanpa pamit. Seperti dulu waktu kalian pergi kondangan ninggalin aku. Katanya sebentar tapi ternyata kalian pergi selamanya. Dan sekarang, kalian ngajak aku pulang tapi kenapa sekarang kalian pergi lagi...” Aku jatuh di atas bunga krisan. Menekuk lutut dan kembali menangis sesenggukan. “Bapak ... Ibu ....” “Bapak ... Ibu ....” “Bunga. Wake up, Honey...” Seseorang mengguncang bahuku, membuatku membuka mata. Steve berlutut di depanku, aku baru sadar kalo aku masih ada dalam kondisi berbaring di atas sofa. Jadi apa yang kulihat tadi cuma mimpi, tapi aku kok berasa nyata banget... Aku kembali menangis, mimpi itu bikin aku kangen sama Bapak dan Ibu. Mereka sudah meninggalkan aku sendirian, tanpa sodara hanya sama Ki Mengkis yang gak lain tetangga yang merasa iba kepadaku. “Honey, apa kamu bermimpi buruk?” tanya Steve. Aku mengagguk, tapi air mata masih menetes. Steve mencium pipiku dan memelukku. Aku biarkan Steve memelukku karena dalam pelukannya, aku merasa nyaman. “Aku ... kangen Bapak dan Ibu. Mereka datang ke mimpi tapi pergi begitu saja. Aku ingin ketemu mereka lagi, Steve...” Lagi-lagi aku menangis. Steve melepas pelukannya, ia membantuku duduk dan kini ia berdiri dengan lutut sebagai penopang badan. Dia menangkup dua pipiku dengan dua tangannya, bikin tatapan kami beradu. “Aku tahu. Tapi sekarang mereka sudah di tempat yang tenang. Bunga ... jangan sedih. Ada aku yang selalu menjagamu. Kalo kamu merindukan mereka. Kita bisa ke makam mereka dan berdoa disana. Ok....” Steve menunggu jawabanku. Aku menghapus air mata, aku tersenyum, aku cewek yang tangguh tapi jadi baper begini karena sangat merindukan Bapak dan Ibu. Steve kembali memelukku, ia mengecup keningku. Aku senang, Steve akhirnya bisa ngomong sesuatu yang bikin hatiku adem. Walau masih hobi nempel tapi sekarang aku menikmatinya. *** Steve mengemudikan mobilnya ke arah pemakaman di kampung dimana jasad orangtuaku dimakamkan. Aku membawa sekeranjang bunga tujuh rupa yang akan ku taburkan di atas pusara Bapak dan Ibu. “Apa kamu gak capek. Abis dari villa langsung nganterin aku? Aku bisa ke makam ortuku sendiri, Steve...” Aku memandang Steve. Steve melirikku, ia tersenyum lalu kembali memandang jalanan. “Aku tak suka melihatmu sedih, Bunga. Ku harap, setelah dari makam orangtuamu, kamu bisa menjadi Bunga seperti biasanya. Yang ceria dan penuh semangat.” Steve kok jadi manis banget sih. Aku jadi merasa beruntung ada Steve, padahal kemarin-kemarin aku merasa kayak dikutuk karena Steve selalu menggangguku dimana-mana. “Aku memang tampan, kamu pasti merasa beruntung punya pacar sepertiku.” Ya ampun, kumat lagi ini bocah. Baru dilihat gitu aja udah kepedean lagi. “Yang beruntung itu kamu kali Steve. Aku asisten Ki Mengkis, dukun paling sakti mandraguna. Dan aku ... pemburu hantu yang bisa naklukin hantu paling menyeramkan di dunia ini....” Aku manggut-manggut, kemampuanku berburu hantu sudah gak diragukan lagi. “Jadi kamu sudah menerimaku jadi pacar?” tanya Steve. Nahlo, tadi Steve ngomong pacar ya? “Maksudku, kamu beruntung jadi temanku. Teman asisten dukun terkenal, yang bahas pacar itu siapa?” ralatku. “Aku memang beruntung punya pacar sepertimu. Tapi aku yakin kamu juga beruntung punya pacar sepertiku.” Steve kambuh lagi. “Aku bukan pacarmu,” sewotku. “Kamu memang bukan pacarku.” Aku senang Steve akhirnya mengerti. “Kamu kekasihku,” lanjutnya. Hadew, ku pikir dia sadar kalo kami gak pacaran eh ternyata... “Kamu ini kenapa kok maksa banget sih. Memangnya aku secantik apa sampai kamu suka aku?” tanyaku. “You are a perfect girl i ever met. Kamu segalanya bagiku dan kamu adalah cinta pertama dan terakhirku,” ungkapnya. “Kayak lagunya Sherina aja. Gombalanmu sudah pasaran. Gak mutu,” sindirku. Steve tertawa, ia melirik lalu mengacak-acak rambutku. Bikin aku sewot setengah mati, tapi melihatnya tertawa bikin hatiku senang sekali. Mobil berhenti di depan pemakaman, Steve menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobil. Aku turun dari mobil, Steve berdiri di sebelahku. Kami masuk ke dalam pemakaman, gak sulit mencari makam Bapak dan Ibu, letaknya ada di dekat pohon beringin yang sangat besar. Aku duduk di antara makam Bapak dan Ibu, menaburkan kembang tujuh rupa di pusara mereka. Berdoa agar mereka bisa tenang disana. Steve bersandar di akar pohon beringin, memakai kacamata hitam sambil memandangku. Setelah berdoa, aku berdiri, membersihkan celana dari kotoran yang mungkin saja menyangkut. Aku mengajak Steve untuk pergi, aku ingin ke rumah lama dan menengok rumah yang sekarang ditinggali Kang Selamet, tetangga sebelah rumah yang punya anak sembilan. Berdiri di depan rumah, aku melihat Bapak dan Ibu berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Mereka merenggangkan kedua tangan, aku tersenyum dan langsung menghambur ke pelukan mereka. “Honey, jangan masuk! Ini delusi,” teriak Steve. Dalam rengkuhan Bapak dan Ibu, di depan pintu rumah, aku menoleh memandang Steve sebelum aku dan kedua orangtua yang kurindukan masuk ke dalam rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN