Liburan

1816 Kata
Ini hari libur, hari yang sangat indah buat menikmati hari dengan tidur seharian. Tugasku sudah setengah jalan dan kini saatnya beristirahat. Ki Mengkis bilang, aku boleh gak membantunya sampai dua hari ke depan dan pekerjaan memburu jin botol akan dikerjakannya malam ini. Huaa, asyiknya.  “Bunga. Mommy mengajakmu piknik bersama. Ayo!” Ya ampun, Steve benar-benar ya. Bahkan waktu tidur pun aku memimpikan bocah itu. “Bunga. Come on! Pasti menyenangkan sekali. Patricia baru pulang dari Kanada. Dia ingin sekali bertemu denganmu.” Suara Steve lagi-lagi kudengar. “Astaga, Steve. Aku bisa ketularan gila kalo kamu terus-terusan menggangguku.” Aku membalik bantal dengan mata masih terpejam. Seharusnya mimpi buruk ini hilang kalo bantal sudah ku balik. “Bunga. Ki Mengkis sudah memberimu ijin ikut piknik dua hari di villa Johnson.” Seseorang mengguncang bahuku, bikin aku membuka mata dengan malas. “Steve ... apa kamu masih kurang lihat aku sampai kamu masuk ke mimpiku?” Aku kembali memejamkan mata. “What the hell, Bunga. Get up, Honey!” Dan sesuatu yang empuk dan hangat menempel di bibirku, hembusan udara yang hangat menerpa wajahku, bikin aku membuka mata dan busyet dah Steve lagi-lagi berulah.  “STEVE SIALAN....” *** Aku mencium tangan Ki Mengkis, berpamitan kepadanya. Ki Mengkis memberi nasehat macam-macam tapi intinya, aku harus jaga diri dan bersikap baik kepada keluarga Johnson.  “Ayo, Bunga!” Steve membawa tas ransel hitam yang berisi keperluanku selama menginap. Aku keluar rumah, berjalan di belakang Steve sampai di teras. Ku lihat mobil sedan hitam parkir disana. Bunyi bip-bip terdengar, Steve membuka pintu mobil dan melempar ranselku sebelum ia masuk ke dalamnya. Duduk di sebelah Steve yang lagi mengemudi. Aku baru tahu bocah edan ini bisa mengemudi mobil. Ini pertama kalinya aku naik mobil mahal dan rasanya menyenangkan sekali. Kursinya empuk dan adem semriwing. Aku menyentuh tombol-tombol, juga menyentuh AC yang bikin mobil ini adem dan seger banget. “Steve, mobilnya keren...” pujiku. “Lebih keren mana sama pengemudinya.” Aku mencibir, dasar Steve, selalu saja kepedean. “Bangunin aku kalo sudah sampai ya!” Daripada aku makin sebel sama bocah sableng satu ini, mending aku tidur cantik melanjutkan mimpiin Hengky yang dua hari ini gak bertemu. Hembusan hangat terasa di wajah, aku sedikit membuka mata dan kulihat bibir Steve sudah monyong siap nyosor bibirku. Aku menangkap bibirnya dengan lima jari, menguncinya sambil mendesis marah sama bocah edan yang jadi hobi nempelin bibirnya. “Kamu itu sudah kayak bebek. Suka nyosor sembarangan,” makiku. “Kamu kan yang minta dibangunkan. Kita sudah sampai, Honey,” ucap Steve. “Tapi kan gak perlu sosor menyosor begitu. Najis dicium sama cowok edan macam kamu,” hardikku. “Edan tapi ganteng kan ... sinting tapi menggemaskan. Gila tapi ngangenin.” Puji terus dirimu sendiri Steve. Aku mencengkeram leher Steve. “Soal ganteng, masih gantengan Hengky. Soal menggemaskan. Aku memang gemas, sampai pengen melemparmu ke kandang buaya dan ngangenin? Ya ampun Steve. Aku kangen masa sebelum ketemu kamu...” Aku tersengal-sengal. Gak tahu kenapa aku jadi suka marah-marah kalo ada di sekitar Steve. “Steve ... Oh gosh....” Seorang cewek bule membuka pintu mobil. Ia melihatku lagi mencekik Steve.  Aku melepas cekikanku dan merapikan rambut sambil berharap tuh cewek gak mikir kalo aku bakal membunuh Steve. “Hai Patty. Long time no see.” Steve keluar mobil lalu memeluk cewek itu. Aku keluar mobil, hal pertama yang kulihat adalah villa yang sangat megah berlantai dua dan villa ini seperti istana yang ada di Eropa. Di sisi kanan dan kiri ada pilar yang sangat besar, daun pintunya tinggi dan besar. Halamannya indah banget dengan berbagai tanaman hias menghiasinya. Bergaul dengan Steve itu aku jadi bisa melihat rumah orang kaya, maklum Steve anak orang kaya. “So, kamu...” Cewek bule yang tadi dipeluk Steve memandangku dengan penuh minat. “Aku Bunga dan aku bukan pacar Steve.” Aku harus meluruskan hubunganku dengan Steve sebelum Steve ngomong macam-macam tentang kami. Cewek itu tertawa geli. “Like you said, Dude. She’s so funny.” Cewek itu lagi-lagi tertawa. Aku mendekatkan bibir ke telinga Steve. “Kamu bilang apa sama dia?” tanyaku penasaran. Soalnya cewek ini ketawa gak berhenti-henti padahal aku cuma bilang kalo aku bukan pacar Steve. “Memangnya apa yang kukatakan? Aku hanya bilang...” Steve menggantung ucapannya. “Steve...” Aku melotot, Steve tersenyum dan mengecup bibirku lalu berlari masuk ke dalam villa. “STEVE ... SIALL...” Aku gak jadi mengumpat Steve, cewek bule itu memandangku dengan dua alis terangkat dan matanya terbelalak. “Steve memang sialan sejak dulu. Tapi Steve anak baik dan sangat penyayang. Aku yakin cepat atau lambat kamu pasti bahagia menjadi pacar Steve ... by the way, kenalkan. Aku Patricia, kakak Steve.” Mbak Patricia mengulurkan tangannya. Aku membalas jabatannya. “My name is Bunga ... Mbak Patricia,” Lagi-lagi Mbak Patricia tertawa terbahak-bahak, ia memelukku erat masih dengan tertawa. “Mbak Patricia? Oh gosh. Kamu sangat lucu, Sweetheart. Panggil aku Patty and don’t call me Mbak Patricia. Sound so rediculous,” ucapnya. “Yes, Mbak eh maksudku Patty.” Aku gak ngerti-ngerti amat arti ucapannya sih, pokoknya yes-yes aja. Patty merangkulku dan mengajakku masuk ke dalam villa. Kedatanganku langsung disambut hangat sama Mommy dan Daddy. Mas Martin juga ada disini tapi seperti biasa Steve selalu menarikku menempel padanya bikin Patty tertawa melihat ulah konyol adiknya. *** Aku memandang kamar yang sangat indah dan sangat luas. Kamar ini adalah kamar untukku. Aku tersenyum bahagia karena akhirnya bisa tidur di kamar mewah yang biasanya cuma bisa ku lihat di TV. Aku berlari lalu melompat ke atas ranjang. ku pantulkan badanku, ranjang ini mentul-mentul, empuk sekali. Kurebahkan badanku, kain selimut tebalnya sangat lembut dan gak berapa lama, aku sudah terlelap dalam tidur. Aku mendengar suara deritan pintu, aku yakin ini pasti Steve yang mau nyosor bibirku. Awas saja kalo dia berani mendekat, aku patahkan lehernya dan ku buang ke kandang buaya. Gak sesadis itu sih, tapi aku ingin bikin dia kapok karena sudah berani menciumku sembarangan. Ku dengar langkah kaki mendekat, tanpa pikir panjang, aku mengambil bantal dan ku pukulkan ke seseorang yang mendekat. Bantal itu tepat mengenai lengan kiri Patty. “Jeez, Bunga. Are you crazy or something?” ucap Patty. “Lah, Patty. Maaf, Pet. Ku pikir tadi Steve...” Aku jadi gak enak sama Patty. “Kamu membuatku bahagia. Bahkan dalam tidur pun, kamu memikirkanku.” Steve berdiri dengan tangan terlipat, bersandar pada frame pintu. Aku mendecak, melirik Steve yang lagi mendekat. Ia duduk di sebelahku dan mencondongkan badannya kepadaku, bikin aku bersiap-siap menghindar, kalo-kalo Steve mau menciumku. “Apa kamu pikir aku akan menciummu?”  Steve mempermalukanku di depan Patty, sialan ini bocah. “Siapa yang mikir begitu?” tanyaku. Steve tersenyum, bikin sebal setengah mati. Tiba-tiba Steve menahan kepalaku lalu memonyongkan bibirnya dan menciumku. Sialnya Patty memotret adegan itu, keduanya benar-benar duo saudara terjahil yang pernah ku kenal. “STEVE ... PATTY...”  Steve dan Patty berlari keluar kamar, lupakan soal tata krama, sopan santun dan bersikap baik di keluarga ini. Anak keluarga Johnson yang super jahil dan usil harus dikasih pelajaran. Aku berlari mengejar Patty yang memamerkan kameranya, ia berlari menuruni anak tangga bersama Steve yang ada di depannya.  “Patty. Mana kameranya?” Aku menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan akhirnya aku terpeleset, untung saja kepalaku gak terbentur.  “BUNGA...” Steve berteriak, ia langsung mendekatiku. “Huaa. Kalian jahat sama aku ...” Tangisku pecah, seumur-umur aku gak pernah jahil sama orang tapi kenapa aku sekarang jadi korban kejahilan orang? *** Makan malam diadakan di halaman belakang villa. Aku membantu Mommy memanggang sosis di atas barbeque ... barbeque ... apa gitu. Lupa namanya, pokoknya alat buat memanggang sosis.  “Maafkan Steve. Dia pasti terlalu cinta sama kamu. Makanya dia jahil sekali,” ungkap Mommy. Cinta kok sukanya jahil. Aneh. Aku membalik sosis dan sate yang terdiri dari potongan nanas, daging sapi, wortel, paprika merah, hijau dan kuning.  “Saya itu gak ngerti sama Steve, Mommy. Apa sih yang dilihat dari saya? Kok dia segitunya sama saya.”  “Karena kamu istimewa. Kamu tak merasakan itu dan itu nilai lebih yang lain.” Mas Martin ikut bergabung, ia merebut pencapit dariku dan membalik sosis di atas panggangan. “Aku itu gak istimewa, Mas Martin. Aku itu aneh. Asisten dukun. Tanya aja sama warga kampung kita,” akuku. Mommy tersenyum, memandangku dengan pandangan yang bikin aku merasa hangat dan dicintai. “Martin benar. Kamu gadis yang sangat istimewa. Mommy bahagia kamu menjadi pacar Steve.” Oke, aku suka Mommy tapi gak suka bagian dia suka aku pacaran sama anaknya. “Mommy ... saya beruntung bisa kenal Mommy,” ungkapku. Mommy tersenyum. “Daddy ingin kelak kamu dan Steve menikah. Daddy tak ingin melepasmu dari keluarga ini.” Daddy ikut bergabung bersama kami.  Hadew, menikah sama Steve? Aku bisa gila kalo terus sama dia. Steve itu ... menjengkelkan. Kemana-mana ngekor aja. Aku gak tahu kelebihan Steve dimana tapi yang pasti, dia selalu menggangguku. “Saya masih SMA. Masih ingin mengejar cita-cita jadi wanita karir. Kerja di kantoran. Masak belum-belum saya harus menikah ... sama Steve lagi,” cicitku. “You are a demon hunter. And you must marry with the demon hunter like...” Mas Martin gak melanjutkan ucapannya karena Mommy menyikut d**a Mas Martin. “Demon hunter? Hunter itu pemburu. Demon itu apa ya?” gumamku. Ck, kenapa keluarga ini kalo ngomong kok campur-campur sih bahasanya. Heran aku. Aku memandang Mas Martin. “Demon artinya apa, Mas?” tanyaku. Mas Martin mengangkat dua alisnya lalu tersenyum kepadaku. Mommy dan Daddy saling memandang, mereka juga tersenyum melihatku. Tuh kan mereka aneh sekali. “Sudah-sudah. Kita makan sekarang!” Mommy merangkul pundakku. Mengajakku ke meja makan.  Aku senang bisa kenal Mommy dan Daddy, mereka itu sudah bikin aku merasa punya orangtua lagi. “Mommy. I love you.” Ku kecup pipi Mommy. “Lihat kesini...” Patty memotretku dan Mommy. Aku dan Mommy saling memeluk, Daddy ikut bergabung bersama kami. Akhirnya kami foto bersama dan terakhir aku dan Steve dipaksa foto bersama. “Cium pipi Steve, Bunga!” Patty memaksa. Aku merengut, melirik Steve yang lagi menunjuk pipinya. Aku mendesis, ogah suruh cium-cium. Rusak kesucianku kalo berurusan sama Steve dan sekarang Patty jelas-jelas bersekongkol dengannya.   “Ayo, Bunga. Cuma cium pipi...” paksa Patty.  “Atau cium bibir saja?” Steve menggoda. Bikin aku kesal setengah mati. “Cium bibir saja. itu lebih baik,” sahut Patty. “Iya-iya pipi. Ck.” Akhirnya aku mengalah. Steve tersenyum senang, ia menarik pinggangku mendekat dan mendekatkan pipinya kepadaku. Aku mendekatkan bibir ke pipi Steve dan akhirnya untuk pertama kalinya aku mencium pipi cowok dan itu adalah Steve.  Steve tertawa senang, ia menoleh dan gak pake aba-aba dia mengecup bibirku, entah untuk ke berapa kalinya. Menjijikkan. “Bunga.” Suara seseorang membuatku menoleh ke sumber suara. Sepasang manusia yang sangat kurindukan berdiri di dekatku. Bapak dan Ibu yang wajahnya pucat, memakai pakaian berwarna putih memandangku. “Bapak. Ibu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN