Di sekolah, perasaanku benar-benar marah, sebel, pengen nangis, kecewa, sakit hati dan pokoknya semua perasaan sedih lagi campur dalam hatiku. Ini semua pasti karena Steve yang kemarin sudah main menciumku seenak jidat dan di depan Hengky pula.
Kini aku tahu, yang bikin Hengky akhirnya milih pacaran sama Sekar gak lain karena ulah Steve.
“I told you, he is a dumb play boy.” Steve masih setia mengekorku sekalipun aku sudah mengatainya macam-macam.
“Kamu sadar gak sih kalo sebenarnya yang bikin Hengky berpaling itu kamu?” tanyaku dongkol.
“Kamu masih marah?” tanyanya.
“Enggak,” jawabku ketus.
“Masih marah rupanya,” gumamnya.
Aku memutar badan, berdiri berhadapan dengan Steve dengan perasaan sangat-sangat-sangat sebal. “Kamu itu diciptain dari apa sih? Sudah ditolak masih saja nempel kayak perangko. Aku ini bingung sama kamu Steve,” makiku.
“Easy, Honey. Bagiku, semua yang kamu lakukan adalah keindahan.” Nahlo, kambuh lagi keedanannya Steve.
“Tahulah Steve. Terserah kamu deh.” Aku menabrak pundak Steve sebelum berjalan menjauh darinya.
Sambil berjalan, aku bisa melihat Hengky dan cewek itu lagi duduk di pojokan taman berduaan sambil tertawa bahagia di atas penderitaanku dan semua itu karena ... Steve.
***
Malam ini, Hengky gak ikut memburu jin karena ia pergi ke rumah saudaranya Sekar di luar kota. Aku benar-benar patah hati dan semua itu karena cowok yang berjalan di sebelahku.
“Ngapain kamu ikut? Tanpa bantuanmu, aku bisa sendiri.” Aku benar-benar dongkol dengan Steve.
“Bunga. Hengky tak pernah punya rasa ke kamu. Tapi akulah yang sudah jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali kamu menabrakku di depan kantor kepala sekolah,” ucapnya.
Aku menghentikan langkah, memandang Steve murka. “Kamu itu ngerti bahasa Indonesia gak sih? Aku tuh gak suka sama kamu maksudku aku tuh gak cinta sama kamu. Aku cuma nganggap kamu teman. Gak lebih. Harusnya kamu nyadar kalo cintaku tuh cuma untuk Hengky,” teriakku.
Aku membuang muka, baru nyadar kalo aku dan Steve lagi bertengkar di pinggir jalan dekat pasar. Beberapa orang yang kebetulan disini saling berbisik sementara tatapan mereka tertuju padaku dan Steve. “Apa lihat-lihat?” makiku. Orang-orang jadi berhamburan.
“Jangan marah, Honey.”
“Jangan panggil aku Honey. Namaku Bunga. Bu-Nga.” Ku eja namaku.
Aku berjalan penuh emosi, Steve mengikutiku di belakang. Aku menghentikan langkah memutar badan buat melihat Steve yang kini berdiri memandangku. “Sudah ku bilang aku bisa sendiri. Pulang sana! Toh selama ini kamu gak pernah bantu kan,” teriakku.
“For god sake. Relax Bunga ... take a deep breathe.”
“Aku gak tahu kamu ngomong apa. Kamu nyebelin Steve apalagi kalo ngomong pake bahasa inggris.” Aku bersidekap sambil membuang muka.
“Maafkan aku. Aku janji tak akan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa inggris. Oke,” katanya.
“Oke itu bahasa inggris tahu. Orang edan sepertimu mana bisa tahu. Tahu...” Makin dongkol deh.
Steve mengatupkan bibirnya, aku tahu dia lagi menahan tawa gak jelas. Gak tahu apa yang lucu kok dia bisa nahan ketawa seperti ini.
Aku mengacak-acak rambut sebelum memutar badan dan melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk dari botol ajaib.
“Bunga. Kamu itu lucu dan menggemaskan. Itulah kenapa aku jatuh cinta sama kamu,” kata Steve.
Issh, kegilaan Steve sepertinya menular padaku ini.
***
Langkah kakiku akhirnya berhenti di hutan yang sebetulnya gak jauh-jauh amat dari rumah Ki Mengkis. Hutan yang sama dimana aku pernah bertarung dengan jin ular sendirian.
“Tahu gini lewat belakang rumah lebih cepet,” gerutuku.
Aku mengikuti botol yang menunjukkan jalan memutari hutan dan berseberangan dengan rumah Ki Mengkis.
Steve memberiku kacamata night-night apa gitu gak tahu dah (night vision) biar aku bisa melihat dalam gelap.
Gemerisik dedaunan terdengar sangat dekat sepertinya ada binatang malam lagi mengintai buruannya. Tanpa peduli, aku terus berjalan lalu berhenti di sebuah tempat yang cukup lapang.
“Aduh...” Seseorang menepuk kepala belakangku. Aku menoleh, pasti Steve yang bikin ulah.
“Ngapain mukul-mukul kepala?” semburku.
“What?” Aku mendesis, baru tadi dia janji gak bakal pake bahasa inggris.
“Sekali lagi kamu mukul kepalaku. Tak kepret kamu.” Aku melayangkan pukulan ke udara, sebagai tanda kalo ucapanku bukan isapan jempol.
Aku kembali memutar badan dan melanjutkan perjalanan, lagi-lagi seseorang menepuk kepala belakangku. “STEVE!” Aku menoleh, mau menyerang Steve tapi tiba-tiba seseorang memukulku dari depan. Maksudku sesuatu memukulku dari depan dan membuatku jatuh terjerembab ke atas tanah.
“BUNGA...!” Steve berteriak dan segera mendekatiku.
Steve berlutut tapi tiba-tiba sesuatu menarik kedua kakiku dan menyeretku dengan cepat dan kasar. Kulihat seorang jin dengan badan yang sangat besar, punya tanduk seperti kerbau di kepala dan punya ekor panjang sedang menarikku.
Aku memutar badan bikin badan bagian depan terasa panas karena bergesekan dengan tanah. Aku merangkul sebuah pohon biar aku gak tertarik sama jin ini dan tiba-tiba jin itu melepasku dan waktu aku menoleh, ternyata Steve sedang baku hantam dengan jin itu.
Aku berdiri, Steve sedang memukul jin itu dengan kekuatan penuh tapi jin itu berdiri terdiam gak terpengaruh dengan tenaga Steve.
“Tareptrep ing awakku, gebyar-gebyar panuwunku, kade gerah subawaku, kade gunting drijiku, watu item ing tanganku, sang katrajang remuk ajur mekso ilang tanpo bayu, hiyo aku braja musti.” Setelah membaca ajian, aku langsung berlari ke arah jin itu dan melayangkan sebuah pukulan keras di dadanya. Jin itu langsung mundur sambil mengelus dadanya.
Steve menahanku dan menyembunyikanku di belakang punggungnya. Ini bocah ya, sudah jelas kalo pukulannya gak mempan kok ya masih sok-sokan melindungiku.
“Minggir!” Aku menarik badan Steve dengan mudah, menjerembabkannya ke atas tanah.
“Bunga. Are you crazy?”
Steve bisa bikin aku murka ini. Kok bisa menghinaku gila, dasar orang gila.
“Bunga. Watch out!” teriak Steve.
Tiba-tiba tanganku dicekal kuat dan tubuhku diangkat lalu dilempar kuat-kuat sampai punggungku menabrak kayu besar dan sukses bikin aku mendarat ke tanah dengan sangat menyakitkan karena kerikil mengenai badan depanku.
“Hanya segitu kekuatanmu. Bocah cilik?” Jin itu mencemoohku.
Dia gak tahu kalo aku lagi panas banget ini, lagi butuh pelampiasan ini. Sambil berdiri, aku mengumpulkan tenaga dan setelah berdiri dengan sempurna, aku langsung menyerang jin itu tanpa aba-aba.
Aku memukul badannya tapi jin itu dengan tangkas menghindariku ke samping. Kugunakan kaki kananku untuk menjegal jin itu tapi jin itu bisa berkelit. Kemampuan bela dirinya luar biasa. Aku yang sudah dilatih pencak silat sejak kecil harus mengerahkan tenaga. Untung aku sudah menguasai ajian brajamusti jadi setiap pukulan dan tendanganku bisa bikin dia kesakitan.
Aku memukul dadanya tapi dia mencengkeram tanganku dan memutarnya, ia sangat kuat bikin tanganku sakit banget. Aku mendorongnya sambil menarik tanganku dari cengkeramannya. Tubuhnya menabrak kayu, aku menyikut perutnya dan membenturkan kepalaku dengan kepalanya.
“Sial!” Aduh kepalaku sakit bener, kepala jin ini kayaknya dari batu. Menyesal aku tadi sudah membenturkan kepala.
Jin itu tiba-tiba mengangkat badanku dan sekali lagi ia melemparku dan mendarat ke tanah dengan cara yang gak cantik banget karena aku jatuh dalam kondisi menungging.
Waktu aku mau bangun, jin itu sudah ada di dekatku. Ia menendang perutku sekali lalu sekali lagi dan sekali lagi dan berakhir dengan jatuh berguling-guling menuruni turunan penuh kerikil. Sakit...
Aku memandang jin itu, ia lagi berjalan santai mendekatiku. Aku menggunakan ajian qulhu geni, membuat bola kuning yang bisa memutuskan anggota badannya.
Bola sudah membesar sebesar bola tenis saat jin itu sudah berada di depanku. Tapi sialnya, belum kulempar. Jin itu menjambak rambutku sampai aku berdiri, bikin bola itu menghilang karena konsentrasiku buyar.
“Pergilah ke neraka!” Jin itu memukul mukaku dengan sangat keras,bikin rasa panas di pipi kiri dan rasa anyir darah bisa kurasakan.
Aku menepis dua tangannya, sedikit mundur untuk melakukan tendangan maut dan mengenai dadanya. Keseimbangan jin itu goyah, ia limbung dan jatuh di atas tanah. Aku mau melakukan serangan balik tapi dua kakinya mengapit satu kakiku dan bikin aku jatuh terpeluntir.
Kami saling menendang sampai akhirnya kami bisa kembali berdiri dan saling menghajar. Ia menarik tanganku dan aku mencengkeram tangannya lalu memuntirnya dan kembali mendorongnya sekuat tenaga. Tangan kami saling terkunci. Aku menggunakan kaki buat menendang perutnya beberapa kali. Ini jin yang cukup kuat karena bisa melakukan kontak fisik dengan manusia tapi aku makhluk paling mulia, jin bukan tandinganku.
Aku membaca ajian pamungkas yang bisa membuat jin ini terbakar, ajian komara geni yang pernah k****a dari buku karya Ki Mengkis. Jin itu menegang lalu berteriak sekuat tenaga. Aku melepas badannya, jin itu berkelojot, berguling-guling seperti orang kepanasan.
“Manusia sialan. Aku takkan pernah memaafkanmu. AARGH ... panas....” Jin itu terus merapal kebencian pada manusia.
Ku ambil kendi dan meneteskan beberapa ke badan jin itu. Lalu ku ambil botol dan membukanya. Jin itu berubah jadi asap dan akhirnya masuk ke dalam botol. Akhirnya setelah pertarungan yang cukup melelahkan, semua bisa selesai dengan sangat baik.
“Wow, kamu sangat keren. Aku sangat bangga padamu.” Steve tiba-tiba muncul setelah menghilang waktu aku duel dengan jin bertanduk itu.
Aku memejamkan mata, berusaha meredam amarah. Steve masih cengengesan, bikin aku sebal setengah mati. Ku cengkeram kaosnya dan juga celananya lalu kulempar sekuat tenaga sampai punggung Steve menabrak pohon dengan sangat keras dan akhirnya mendarat dengan p****t menungging.
“Rasakan!” desisku.
“Oh My. Bunga. Kurasa tulang punggungku patah,” racau Steve.
“Halah, baru segitu aja sakit. Cowok macam apa kamu?” ledekku.
“I’m serious. Bunga. Help me....” Steve berusaha bangun tapi sepertinya bocah itu benar-benar kesakitan.
Alamak, apa yang kulakukan tadi? Apa kata Mommy dan Daddy kalo tahu anaknya habis kuhajar.
“Steve. Kamu gak serius kan?” Aku benar-benar khawatir.
“Bunga. Aku tak bisa bergerak,” rintihnya.
Aku berlari mendekati Steve, kalo bocah ini sampai kenapa-kenapa aku bisa dituntut sama orangtuanya ini. Huaa, Steve. Jangan sakit...
Tiba-tiba Steve menarik tanganku dan menarikku sampai akhirnya aku terbaring dengan badan Steve di atasku.
“Kamu...” Sialan nih bocah. Aku ditipu sama dia.
“Aku tahu, kamu pasti mengkhawatirkanku. Tapi, aku cowok yang sangat kuat. Gak akan kesakitan hanya karena dihajar wanita secantik dirimu.” Steve mendaratkan ciuman di bibir. Bikin aku kesal setengah mati dan mendorongnya kuat-kuat tapi ini bocah bergeming.
Steve sialan, dia mencuri ciuman keduaku. KYAAAAAA