Cemburu

1672 Kata
Aku berjalan di halaman rumah Steve, terkagum-kagum dengan rumahnya yang sangat mewah dan berlantai dua pula, rumah ini juga dilengkapi taman yang juga sangat indah. Ada sebuah kolam ikan dengan patung mbok jamu di tengahnya dan ada dua mobil sedan di garasi. Steve memang benar-benar kaya dan aku beruntung punya teman seperti dia. “I know your feeling, Honey. But actually, i’m the luckiest one.” Steve memergokiku memandanginya. Dan seperti biasa, Steve kepedean luar biasa. “Apa kamu gadis yang bernama Bunga?” Seorang wanita berkulit putih kemerahan kena sinar matahari memandangku dengan wajah sumringah. “Iya Bu. Eh, Missis. Iya, saya Bunga.” Walah aku bingung memanggilnya ibu apa missis. Maklum baru pertama ini kenalan sama bule. Ibunya Steve wanita yang sangat cantik, memiliki hidung mancung dan bibir tipis serta berambut coklat seperti Steve. Ibunya Steve tertawa terbahak-bahak, ia menepuk pundakku sambil meredam tawanya sendiri. “Call me Mommy like my children. I mean, Panggil aku Mommy,” ucapnya. “Iya ... Mommy,” ucapku. Mommy mengajakku masuk ke dalam rumahnya dan sekali lagi aku merasa sangat kagum dengan bangunan ini. Semua orang tahu rumah depan keluarga Steve paling mentereng, paling mewah di seluruh kampung ini tapi ini pertama kalinya aku melihat bagian dalamnya dan luar biasa. Ada sofa berwarna merah yang sangat indah, ada guci besar menghiasi sudut ruangan. Ada foto keluarga besar Steve menempel di dinding dan ada tangga indah menuju lantai dua. Tapi dari semua itu, yang paling kukagumi adalah foto keluarga Steve. Ada ayah, ibu, cowok dan cewek pasti saudara Steve dan ada Steve juga. “Silahkan duduk. Kamu mau minum apa? panas atau dingin?” tanya Mommy. Aku duduk di sofa merah yang sangat empuk dan membal. “Nggak usah repot-repot Mommy,” ucapku berbasa-basi meskipun sebenarnya aku haus sekali. “Tak usah sungkan-sungkan. Kamu sudah jadi bagian keluarga ini. Jadi perlakukan kami sama seperti keluargamu.” Mommy tersenyum manis sekali. Aku senang karena Mommynya Steve baik sekali. Beda banget sama anaknya yang edan, sinting dan semaunya sendiri. Aku melirik Steve sambil mendesis, Steve memandangku sambil tersenyum. “Oh so sweet. Steve memang pinter memilih pacar. Mommy sangat senang dengan hubungan kalian,” ucap Mommy. Tunggu dulu! Apa maksudnya dengan pacar? Jangan-jangan.... “I told them about us. Tentang hubungan kita.” Steve merangkul pundakku. Aku melotot ke arah Steve, baru beberapa detik yang lalu kubilang dia edan, eh ternyata dia gak cuma edan tapi gendeng pol. (Gendeng, edan memiliki makna yang sama yaitu gila) “I’m home, Darling.” Seorang bule berambut pirang dan tinggi sekali, lebih tinggi dari Steve. “Daddy. Lihat siapa yang datang...” Mommy mendekati suaminya, menggiring pria itu memandangku. “Is she ... Bunga?” tanya ayah Steve. Nahlo kenapa aku terkenal disini ya? “Yup, Dad. She is so beautiful isn’t she?” Steve kembali merangkul pundakku. Aku meliriknya pengen makan ini bocah dan ku kunyah kuat-kuat biar remuk. “Hallo. Saya James. Ayah Steve. Bunga, glad to see you.” Ayah Steve menarik tanganku sampai berdiri lalu memelukku kuat sekali. Sekarang aku tahu darimana Steve hobi peluk-peluk orang sembarangan. “Anu Mister. Ehm ... tolong lepasin saya. Saya gak bisa napas, Mister. Ehm, dificult breathing.” Maksudku susah napas, bener kan? “What do you say? Oh, yes i understand ... sorry. I’m too happy...” Ayah Steve melepas pelukannya sambil tertawa terbahak-bahak. “Call me Daddy. i’m your daddy. Daddy in law actually.” Sekali lagi ayah Steve tertawa terbahak-bahak. Keluarga ini benar-benar unik sekali. *** Gak butuh waktu lama buat bisa dekat dengan orangtua Steve yang hangat. Mereka sangat baik dan sangat ramah. Duduk di ruang keluarga, menyantap kue-kue resep luar negeri yang baru pertama kali kulihat. Salah satunya pie buah yang sangat enak sekali. “Kata Steve, kamu bisa melihat hantu. apa itu benar?” tanya Mommy. Steve duduk di sebelahku, lagi-lagi dia merangkul pundakku. “Like i told you, Mom. Dan dia juga membuatku bisa melihat hantu,” katanya penuh bangga. “Saya gak aneh, Mommy. Daddy...” ungkapku Tiba-tiba aku merasa rendah diri, dari sekian banyak cerita. Kenapa Steve juga menceritakan soal kemampuanku. “Hei, jangan sedih. Kami sangat mengagumi kemampuanmu. Kami iri sekali denganmu. Kami sangat ingin bisa melihat hantu seperti kamu dan Steve.” Mommy memandangku dengan tatapan bersungguh-sungguh, bikin perasaanku membaik. “Benarkah?” tanyaku, heran lagi dengan keluarga ini. “Daddy penasaran dengan wujud kuntilanak. Apa dia seseram di film horor?” Daddy gak kalah semangat. Aku tertawa bahagia, akhirnya setelah sekian lama. Aku menemukan keluarga yang menganggapku cewek normal. “Soal itu gampang. Aku akan membuka mata batin Mommy dan Daddy. Biar bisa lihat kuntilanak dan hantu seperti dia.” Aku menunjuk Steve. Mommy dan Daddy antusias sekali, aku mendekati keduanya. k****a ajian pembuka mata batin. Ku pasang kuda-kuda, ku doai kedua telapak tangan dan meludahinya. Aku hendak mengusapkannya ke mata Mommy tapi terhenti oleh suara seorang cowok. “Apa yang kalian lakukan?” ucapnya. Aku menoleh, seorang cowok super ganteng sekali dan lebih ganteng daripada Steve berdiri di ambang pintu. Bersandar sambil melipat dua tangannya, gayanya seksi sekali. Ia melangkahkan kaki mendekatiku. Ia berdiri sangat dekat denganku, sedikit membungkuk buat menyejajarkan wajahnya. “Jadi kamu yang bernama Bunga?” tanyanya. Aku menghembuskan napas ke udara, dari tadi pertanyaan itu pasti muncul. “Iya, aku Bunga. Aku bukan pacar Steve,” imbuhku. Cowok itu menutup mulutnya dengan tangan kanan tergenggam, menahan tawa tapi pada akhirnya tawa itu meledak juga. “Kamu sangat lucu Bunga. Jadi apa benar desas desus tentang kemampuan ... supranaturalmu?” tanyanya lugas. “Aku memang bisa lihat hantu tapi aku bukan cewek aneh. Aku normal, hanya saja orang-orang seenaknya menganggapku aneh. Oke, Mister.” Tiba-tiba aku merasa kesal. “Aku tak menganggapmu aneh, anak manis.” Cowok itu meletakkan telapak tangan di atas kepalaku, memandangku dengan senyum yang bisa bikin klepek-klepek, andai hatiku belum tertambat ke Hengky. “Hei, jangan menggoda pacarku. Big bro.” Steve mendekati kami, menarik pinggangku ke arahnya. Aku menepis lengan Steve, menghadiahinya pelototan mata. Cowok itu mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. “Posesif,” ledeknya. “I must. Aku tak mau kamu merebut pacarku. Big guy.” Steve melotot ke saudaranya. “Well. Let see.” Cowok itu kembali memandangku masih dengan senyum mautnya. “Glad to see you, Bunga. Aku Martin, kakak Steve.” Mas Martin mengulurkan tangan, akan menjabatku tapi waktu aku mau menjabat tangannya. Steve menangkap tangan Mas Martin, bikin Mas Martin tertawa. *** Duduk di ruang makan, masih bersama keluarga Johnson. Mommy dan Daddy duduk di depanku bersama Martin yang berhadapan denganku sementara Steve masih di kamar mandi. Dia akan duduk di sebelahku. Sudah jelas karena hanya kursi itu yang kosong. Kali ini aku menikmati sepiring steak daging sapi yang dilumuri saus berwarna coklat dan lelehan keju di atasnya, lengkap dengan irisan kentang goreng. Ada garpu dan pisau diletakkan di sisi kiri piring. Aku merasa kayak lagi main film barat ini. seumur-umur baru kali ini makan pake garpu dan pisau. “Ini Steak andalan Mommy. Makanlah!” kata Daddy. Aku memandang steak dengan antusias. Kuambil garpu di tangan kanan dan pisau di tangan kiri. Kupikir, memotong steak kayak di TV-TV itu gampang tapi ternyata susahnya ampun dah. Manalagi pisaunya gak tajam, jadi susah mengirisnya. Aku masih berkutat dengan garpu dan pisau lalu tiba-tiba daging melompat keluar dan mengenai badan Martin. “Oh s**t!” umpat Mas Martin. “Walah, maafin aku Mas Martin. Aku gak sengaja.” Aku panik, berdiri sambil membawa serbet mendekatinya. Aku mengusap serbet ke kaos putih yang kini terkena noda. Menyentuh kaosnya, aku yakin kaosnya sangat mahal. Kalo nodanya gak bisa ilang terus dia minta aku ganti kaosnya. Duit darimana.... Tiba-tiba Steve menggenggam lenganku dan menarikku sampai berdiri. “Steve...” “Bunga. Ini hanya masalah kecil. Jangan berlebihan.” Steve memandang sengit ke Mas Martin. “Tapi ini salahku. Aduh Mas Martin. Kaosnya nanti aku cuciin deh.” Aku masih merasa bersalah. “Dia bisa beli baru. Kamu tak usah mengkhawatirkannya,” ucap Steve. Tapi tetep saja aku merasa gak enak sudah bikin kaosnya Mas Martin belepotan. “Steve. Please! Dia hanya membantu Martin membersihkan kaosnya,” kata Mommy tapi Steve malah melotot ke Mommy. Bikin Mommy mati kutu. “Steve. Sudah deh. Kamu ini apa-apaan sih. Gak baik bersikap begitu ke Mommy tahu,” nasehatku. “Let’s go!” Tiba-tiba Steve menarik tanganku, keluar dari ruang makan. melewati ruang keluarga dan berakhir di halaman depan. Sepertinya Steve mau mengajakku pulang, aku gak bisa seenak jidat pulang begitu saja apalagi hanya karena masalah yang gak penting sama sekali. “Aku belum pamit keluargamu.” Aku menarik tangan dari genggaman Steve. “Tak perlu. Aku yakin mereka mengerti.” Steve aneh kalo marah, jadi gak seedan biasanya. Malah nyeremin banget. “Ayolah. Mommy dan Daddy sudah menjamuku dengan sangat menyenangkan. Aku ingin mengucapkan terima kasih dan....” Tiba-tiba Steve menubrukkan wajah kepadaku. Menempelkan bibirnya dengan bibirku. Satu tangan memeluk pinggangku sementara tangan satunya menahan kepalaku.. Huaa, Steve mencuri ciuman pertamaku. Steve edan! Aku memukul pundaknya tapi dia bergeming. Aku menjauhkan kepala tapi tenaganya terlalu kuat jadi bibirku dan bibirnya masih menempel. “Bunga. Steve. Oh my god!” Itu suara Hengky. Huaa jelas-jelas itu suara Hengky. Apa yang harus aku lakukan? Steve masih menciumku ini. Steve sialan. Aku membuka mulut mencari bibir bawahnya lalu menggigitnya. Akhirnya Steve melepas ciuman kami, ia mengusap bibirnya yang aku yakin sakit setelah kena gigitanku. “Kamu jahat Steve!” makiku. “Keluargamu mengundangku makan malam. Tapi kupikir, aku mengganggu kalian.” Hengky memutar badan sepertinya dia sedih dan kecewa melihat kami berdua. “Hengky. Ini gak seperti yang kamu kira. Aku dan Steve...” “Sebaiknya kamu pulang! Kamu mengganggu kami.” Steve kasar sekali. “STEVE!” Aku frustasi dengan sikap Steve. “Bunga. Tasmu ... ehm, sepertinya kedatanganku gak tepat.” Mas Martin berdiri di sebelah Hengky. Aku merebut tas dari tangan Mas Martin. Untuk terakhir kalinya aku memandang Steve, dia terlihat parah banget tapi aku benci dia. Sangat benci dan gak ada tolerir baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN