Jin Tuyul

2087 Kata
Rumah Bu Galih itu sangat sederhana, luasnya kira-kira sama seperti perumahan tipe dua puluh satu dengan pagar terbuat dari bambu. Tapi meski begitu halaman depannya sangat luas dengan beberapa pohon mangga, jambu dan juga pohon asam berdiri disana. Kalo siang, rumah ini terlihat asri banget tapi kalo malam hari, rumah ini lumayan menyeramkan. Hengky membuka pintu pagar depan rumah, memasuki rumah ini aura negatifnya terasa cukup kuat. Di tengah halaman, aku memerhatikan rumah ini lebih detil lagi lalu kulihat seorang bocah dengan kepala botak, cuma pake celana dalam berwarna putih mengintip kami dari belakang pohon asam. Botol ajaib yang ku simpan di dalam tas keluar dan berputar-putar di atas lantai berpaving lalu berhenti dengan mulut botol menghadap ke bocah itu. Aku memandang bocah itu, dua matanya dihiasi lingkaran hitam. Sesaat kami terdiam sebelum kemudian bocah itu tersenyum dan menunjukkan deretan giginya lalu ia berlari menjauh. “Dia ... kejar bocah itu!” Aku menunjuk ke arah bocah yang wujudnya gak jauh beda sama tuyul tapi jelas bocah ini bukan sembarang tuyul. Aku langsung berlari mengejar bocah yang juga terus berlari ke belakang rumah. “Woi, berhenti!” teriakku. Bocah itu tiba-tiba berhenti lalu memutar badan. Aku tersenyum, kayaknya tugas ini bakal cepet selesai ini. Bocah itu membungkukkan setengah badannya dan menggoyang pantatnya sambil meledekku. “Wah, dasar kutu kupret. Aku kepret kamu!” Bocah itu lagi-lagi berlari sambil tertawa, senang kayaknya aku kejar-kejar. Lengan Steve menahan pinggangku, bikin aku sebal karena lagi-lagi itu bocah tertawa sambil meledekku. Aku menoleh, memandang Steve sambil mendesis. “Lepasin! Aku mesti nangkap tuyul itu,” desisku. “Apa kamu pikir kejar-kejaran begini bisa membuatnya tertangkap?” tanya Steve. Sesaat aku mikir, kalo gak dikejar bocah itu bakal lari terus. Tapi kemudian aku kepikiran sesuatu. “Ah, kenapa gak buka botol ajaib itu.” Untung Steve ngingetin. Steve menggerakkan kepala ke kanan, bikin aku menoleh ke kanan dan astaga ternyata botol itu dipegang sama tuyul yang lagi menjulurkan lidahnya. “Lepasin aku Steve. Itu anak mesti dikasih pelajaran!” umpatku. “Take an easy, Honey. Hengky akan menangkap bocah itu dan akan mengembalikan botol kepadamu. Sementara itu, kita bisa berduaan disini sampai Hengky berhasil menjalankan tugasnya,” kata Steve sambil berseri-seri. Aku memandang Steve dengan dua alis bertaut dan bibir mengerucut. “Kamu ini, tega bener nyuruh Hengky ngejar tuyul itu sendirian. Bantu sana!” makiku. “Aku capek sekali. Badanku sakit semua. Maafkan aku Bunga, tapi seharian tadi sangat melelahkan,” keluhnya. Aku kembali mendesis, masa cuma bantu segitu aja udah ngeluhnya kayak abis jadi kuli bangunan yang dipaksa kerja dua puluh empat jam tanpa berhenti. “Ya sudah, kalo kamu gak mau bantu. Aku yang bakal bantu Hengky.” Aku menyikut perut Steve sebelum ke belakang rumah untuk mencari Hengky. *** Berdiri di dekat pohon mangga, kulihat Bu Galih lagi berdiri sambil memarahi Hengky. Di belakang Bu Galih, ada anak kecil yang gak lain dan gak bukan adalah tuyul tadi. Hanya saja, sekarang matanya sudah normal tanpa lingkaran hitam dan ia juga memakai baju kemeja putih dan celana pendek berwarna jingga. “Aku akan melaporkanmu ke polisi. Dasar penculik.” Bu Galih melotot dengan dua tangan berkacak pinggang. Melihat wajahnya, aku tahu kalo Bu Galih sedang sangat marah sekali. Gak pake mikir lagi, aku mendekati Hengky. Sesaat Bu Galih terkejut waktu melihatku. Aku tersenyum lalu ku sempatkan buat melihat bocah yang bersembunyi di balik punggung Bu Galih. Waktu kami bersitatap, dia sempat-sempatnya menjulurkan lidah. Bikin orang naik darah aja. “Maaf Bu Galih. Teman saya kesini bukan buat menculik kok.” Aku berusaha mendamaikan suasana. “Dia temanmu?” tanya Bu galih. Aku menganggukkan kepala, aku bingung mau bicara apa. Masa iya aku bilang kalo anak ini sebenarnya tuyul. Bisa shock nanti, malah lebih gawat. “Ibu, aku ngantuk...” Bocah setan itu merengek sambil mengucek mata. Bu Galih langsung jongkok, menyejajarkan tingginya dengan bocah itu. Dengan lembut Bu Galih mengelus puncak kepalanya dan dengan senyum keibuan ia berkata. “Kita masuk! Ibu akan menyanyikan lagu tidur untukmu,” La dalah, ini bocah malah pura-pura jadi anaknya Bu Galih. Pantas saja dia marahnya kayak tadi. Aku dan Hengky saling berpandangan, ia mengedikkan bahu menyerah dengan kejadian ini. “Bu Galih. Maaf, bisakah kita bicara ... berdua.” BU Galih menggendong bocah jadi-jadian itu. “Sebetulnya ini terlalu malam. Tapi membiarkanmu pulang sendirian, bukan keputusan bijaksana.” Bu Galih melirik Hengky, sepertinya Bu Galih masih sewot sama Hengky. “Dia Hengky, Bu. Teman sekolah saya,” terangku. “Ganteng-ganteng, penculik,” gumam Bu Galih, tapi masih terdengar di telingaku. *** Aku dan Hengky duduk di ruang tamu rumah Bu Galih, sementara wanita itu lagi menidurkan bocah jadi-jadian, hantu sontoloyo yang ngaku-ngaku jadi anaknya Bu Galih. Tanpa sengaja tatapanku beradu dengan Hengky. Aku langsung buang muka, menutupi rona merah yang aku yakin tampak di mukaku. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya Bu Galih keluar dari kamar. Duduk di ruang tamu, beberapa lama kami terdiam. Aku sendiri bingung mau mengawali omongan. “Kalian ini, malam-malam kesini. Mau apa?” tanya Bu Galhi. Aku dan Hengky saling memandang, aku menelan ludah dengan susah payah. Meski berat tapi aku harus mengatakannya. “Anu Bu, maaf. Anak tadi...” “Oh, itu anak Ibu. Dia tadi kebelet pipis, kebiasaannya kalo pipis di luar makanya dia keluar rumah tengah malam begini.” Bu Galih terlihat bahagia sekali. “Sebenarnya, anak itu ... bukan ...” “Dia jin yang lepas dari botol.” Hengky menyelesaikan omonganku. Bu Galih memandang Hengky dengan wajah meradang. “Apa kamu bilang?” tanyanya. “Anak itu, jin yang keluar dari botol. Dia bukan manusia,” ulang Hengky. Bu Galih berdiri dalam diam, lalu ia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sekali lagi aku dan Hengky saling pandang beberapa lama hingga akhirnya “Byur.” Seember air membasahi badan Hengky dari kepala sampai celana panjangnya basah. Bu Galih dengan ember kosong di tangan memandang Hengky dengan tatapan penuh amarah lalu tatapannya berpindah kepadaku. “Enak saja menyebut anak kesayanganku jin, setan.” Tiba-tiba Bu Galih memukulkan ember itu ke arah Hengky. Bikin Hengky terkejut dan spontan menghindar. Aku mendekati Hengky, menyelamatkannya dari amukan Bu Galih. Kupikir kalo aku di depan Hengky, Bu Galih bakal berhenti. Gak tahunya dia malah memukulku dengan ember berkali-kali, aku menghindar tapi Bu Galih malah mengejarku. “Kamu juga. Ku pikir kamu anak baik, gak tahunya malah ngatain anakku setan.” Bu Galih mengambil vas dari atas meja lalu melemparnya ke arahku dan vas itu mendarat tepat di keningku. Kusentuh kening yang terasa panas, waktu kulihat telapak tanganku. AKU BERDARAH! “Tuyul sialan! Akan kubalas kau,” rutukku. “Apa kamu bilang? Kamu sebut anakku tuyul!” Bu Galih masuk ke dalam rumah lagi, sekarang waktuku buat mengusir itu tuyul yang sudah bikin wanita sebaik Bu Galih jadi seperti ini. Oke, maksudku tadi siang dia baik banget tapi sekarang dia ... sedikit baik. Tuyul itu keluar kamarnya, memandangku sambil cekikikan. Aku mendengus kesal, kusingsingkan lengan baju dan berjalan cepat menuju kamar itu. “Woi tuyul sialan! Keluar kamu,” teriakku. Aku menggedor-gedor pintu kamar sambil memaksa tuyul itu keluar tapi tiba-tiba sesuatu menghantam kepalaku dan waktu aku menoleh, ternyata Bu Galih memukulku dengan sapu lidi. “Bu Galih...” “Masih saja menyebut anakku dengan sebutan itu. Kurang ajar!” Aku berlari menghindari amukan Bu Galih. Bu Galih terus mengejarku tanpa henti, gak cuma sapu lidi, Bu Galih juga melempariku dengan benda-benda yang ada di rumah ini. Piring keramik yang ada di lemari kaca ada di tangan Bu Galih dan gak lama kemudian piring itu melayang ke arahku. Aku melompat ke kanan, menghindari piring yang bisa saja melukaiku. Hengky memeluk badan Bu Galih, menahan wanita itu yang terus ngamuk gak ada henti. “Bunga. Tangkap setan itu! Aku yang mengurus wanita ini,” ucapnya. “Jangan sentuh anakku! Aku takkan pernah memaafkanmu.” Bu Galih meronta, kasihan sekali wanita ini. Tuyul itu sudah membuat Bu Galih terpedaya. “Bunga. Tunggu apalagi?” Hengky membangunkanku dari lamunan. Aku kembali menggedor-gedor pintu tapi tentu saja tuyul itu gak bukain pintu. Aku memasang kuda-kuda, mengatur napas buat melakukan sebuah aksi brutal. Aku menendang pintu sekuat tenaga, pintu langsung roboh karena terlepas dari engselnya. Si tuyul berdiri di tengah kamarnya. Lagi-lagi dia meledekku sambil menjulurkan lidah dan menggoyangkan pantatnya. “Tangkap aku!” tantangnya sebelum ia menghilang. “Dasar tuyul sialan... aarrghh...” Tiba-tiba seseorang menjambak rambutku dari belakang. “Dasar anak kurang ajar. Aku takkan pernah memaafkanmu. Kamu yang setan. Enak saja nyebut anakku setan.” Bu Galih menyeretku dengan genggaman kuat di rambutku. “Bu Galih, lepasin. Sakit...” Aku berusaha melepaskan genggamannya tapi susah sekali, macam tangannya dan rambutku di lem. “Keluar dari rumahku dasar anak nakal!” maki Bu Galih. “Lepaskan Bunga. Anda dibohongi sama tuyul itu....” Ucapan Hengky membuat Bu Galih melepasku tapi kini wanita itu menatap horor ke arah Hengky. “Kamu juga dasar anak bandel kurang ajar!” Bu Galih memukul Hengky dengan sapu lidi membuat kegaduhan kembali terjadi. “Bunga. Cepat urus tuyul itu!” pekik Hengky, ia memegang kepalanya, sapu lidi terus dipukulkan Bu Galih ke Hengky. Tuyul sialan itu tiba-tiba muncul di dekat lemari, ia tertawa terbahak-bahak seolah-olah lagi menonton ludruk. “Woi tuyul, sini kamu!” Aku berlari mengejar tuyul itu. “Dasar anak nakal. Lepaskan anakku!” Sementara itu, Bu Galih mengejarku. “Bu. Tolong sadarlah! Anak itu setan bukan anak ibu.” Hengky mengejar Bu Galih. Aku mengejar tuyul di halaman rumah, Bu Galih mengejarku dan Hengky mengejar Bu Galih. Situasi ini benar-benar memuakkan dan lama-lama aku kelelahan hingga akhirnya aku berhenti tepat di sebelah pohon asam. Aku menoleh ke belakang, Bu Galih juga lagi berhenti buat mengatur napas, begitu juga dengan Hengky. Tuyul itu kembali tertawa terbahak-bahak sambil menunjukku. Sialan! “Ini botolnya. Sejak tadi aku menunggumu disini tapi kamu gak keluar-keluar.” Steve berdiri bersandar di pohon asam, menyerahkan botol dengan begitu tenang. Gak tahu kalo aku dan Hengky butuh bantuan. “Cepat lakukan tugasmu!” Lagi-lagi Steve bicara dengan begitu enteng. Ini bocah aneh banget, kemarin dia sok pahlawan eh sekarang seenak perutnya. Dasar! “Cepat lakukan!” “Iya-iya,” selaku. Aku menerima botol dari Steve. Melihatku sudah menggenggam botol itu, si tuyul melihatku dengan sorot kengerian. Aku menggenggam botol sambil tersenyum penuh kemenangan. Tuyul itu mau berlari tapi aku membuka tutup botol lalu tuyul itu berubah jadi asap dan masuk ke dalam botol. “TIDAK....” Bu Galih berteriak histeris. Bu Galih pasti shock berat karena terpisah dari tuyul yang ngaku-ngaku jadi anaknnya. “Honey, sebaiknya kita segera pergi!” Steve menggenggam pergelangan tanganku, ia menarikku dan berlari keluar rumah Bu Galih dengan kecepatan penuh. Dari kejauhan, aku masih bisa melihat bagaimana Bu Galih mendekati tempat terakhir tuyul dimana ia berubah jadi asap. Wanita itu berlutut dengan tangis yang cukup keras. *** Berdiri di pinggir jalan, jauh dari rumah Bu Galih. Aku memukul Steve yang membiarkanku menghadapi masalah ini hanya bersama Hengky. “Katanya kamu sayang sama aku. Tapi kenapa kamu ngebiarin aku menghadapi Bu Galih sendirian, Steve. Tega kamu ya...” ucapku. “Maaf Bunga. Sewaktu kamu menghadapi wanita itu. Aku sibuk mencari botol,” ucap Steve. Pasti cuma alasan. “Kasihan Bu Galih. Pasti sedih karena kehilangan anak. Kamu gak tahu rasanya Steve...” Aku menundukkan kepala, mengingat Bu Galih bikin aku mengeluarkan air mata. “Hei-hei. Yang penting semuanya selesai. Tuyul itu sudah masuk kembali ke dalam botol.” Hengky berusaha menenangkanku. “Oh Tuhan, aku gak tega melihat gimana Bu Galih menangis seperti itu. Apa yang harus kulakukan?” Aku mengusap air mata yang tumpah. “Besok kita kesana dan minta maaf, oke.” Steve menyentuh puncak kepalaku. “Apa yang harus kukatakan kepadanya besok? Aku ... takut,” rintihku. “Sudahlah! Semua pasti bisa diatasi. Trust me!” hibur Steve. *** Sore harinya, aku, Hengky dan Steve datang ke rumah Bu Galih dan apa yang baru kami ketahui dari tetangga sebelah rumah Bu Galih bikin kami terkejut setengah mati. Pak Sodikin, tetangga Bu Galih menuturkan kalo ternyata Bu Galih sudah gila sejak tiga tahun terakhir. Anak semata wayangnya meninggal karena sakit dan suaminya pergi tanpa pamit. Bu Galih berdiri di depan Steve dengan senyum merekah, ia membawa kerikil dan diulurkan kepada Steve. “Anakku. Sudah waktunya minum obat,” katanya. Steve berusaha menghindar tapi Bu Galih terus menyodorkan kerikil yang katanya obat. “Udah Steve. Minum saja, biar cepet sembuh,” ledek Hengky. Steve mundur beberapa langkah sebelum ia berlari dikejar Bu Galih. “BUNGA HELP ME!” teriaknya. “Jangan lari, Nak. Minum obatnya...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN