Pihak Ketiga

1724 Kata
Duduk bertiga sama Hengky dan Steve, aku merasa bahagia sekali. Kantin yang ada di belakang sekolah lagi ramai karena ini memang jam istirahat. Selama dua tahun sekolah di sekolah ini, aku gak pernah menyangka kalo akhirnya bisa duduk di kantin bersama teman manusia biasa, gak cuma satu tapi dua teman sekaligus. Duduk sambil menunggu Kang Ali menyiapkan bakso pesanan kami. Aku memandang Hengky yang duduk di depanku. Sekar datang dan langsung bergabung, duduk di sebelah Hengky dan itu bikin Hengky tersenyum senang. “Apa kabar Kak Steve?” Sekar memandang Steve dengan tatapan cerah. “Honey. Apa badanmu masih sakit? Apa perlu aku pijitin?” Steve memandangku lekat, aku cuma meliriknya sekilas lalu pandanganku beralih ke Kang Ali yang membawa nampan berisi tiga mangkok bakso. Air liurku hampir menetes melihat bola bakso sebesar bola bekel tiga biji dan gorengan sebiji plus siomay dan tahu gorengnya yang terlihat sangat enak sekali. Aku segera mengambil saus tomat dan menuangkannya banyak-banyak, lalu kuambil kecap dan mengambil dua sendok sambal. Warna kuah bakso yang bening berubah menjadi merah gelap. Ku sesap sedikit kuah dan rasa pedas, manis, asem dan gurih langsung memanjakan lidahku. “Kamu bisa sakit perut kalo kebanyakan makan pedas seperti itu, Hon.” Steve ngilangin selera makanku. Aku meliriknya sebal lalu berpindah menatap Hengky yang lagi suap-suapan sama Sekar. Semakin sebal deh. “Jadi ... kalian ditawan sama raksasa kolor ijo itu?” tanyaku, membuka topik pembahasan yang masih hot banget. Sekar memandangku heran, Hengky memberiku kode untuk gak membicarakan masalah ini, sementara Steve dengan sukarela menanggapi pertanyaanku dengan penuh semangat. Ceritanya, saat aku menghadapi jin ular sendirian. Hengky dan Steve ternyata diculik sama hantu raksasa kolor ijo penunggu gua yang gak suka dengan kehadiran jin ular dan juga kehadiran kami. Awalnya baik Hengky maupun Steve akan dibunuh tapi Steve bernegosiasi, dia bilang kalo aku pasti bisa mengalahkan jin ular jadi mereka bertiga malah mengintip pertarunganku dengan jin ular itu. Sialan bener mereka, harusnya kan ikut membantuku. Bukan jadi tim hore-hore di belakang sambil melihatku yang hampir saja diremukkan sama tuh jin ular. “Dan kalian tega gak bantuin aku?” tanyaku sewot. “I really sorry Beb. But he can kill us. And i can’t die without you,” ucap Steve. Busyet dah. Maksudnya kalo dia mati mau ngajak aku? “Kalo kamu mau mati. Mati aja sendiri. Gak usah ngajak-ngajak aku,” semprotku. Steve tertawa sambil acak-acak rambutku. Bikin kesal aja ini bocah, hadew. Sabar-sabar, pokoknya kalo berurusan sama yang namanya bule udik masuk kampung macam Steve. Aku wajib dan kudu bersabar. *** Pulang sekolah, Steve maksa buat nganterin aku pulang. Berjalan di lorong sekolah, lagi-lagi kami jadi perhatian cewek-cewek di sekolah. Steve dan pesonanya memang bikin para cewek di sekolah ini ingin lebih dekat sama dia. Tapi Steve yang cakepnya ngalah-ngalahin Leonardo Di Caprio di film titanic ini kayak bocah alergi cewek kecuali cewek itu aku. Kalo sama aku, gak tahu kenapa suka jahil banget, suka nempel kayak perangko. Kemana-mana selalu ikut, bahkan ke kamar mandi saja, dia jadi kayak pengawalku dan rela nungguin aku di depan pintu kamar mandi. “Kamu ini gak punya kerjaan apa?” tanyaku. “Kerjaanku memang mengikuti kamu, Sayang. Melindungimu dari bahaya apapun,” gombalnya. Aku mendecak lalu geleng-geleng kepala. “Pacaran nih ye...” Eh busyet, Sari tiba-tiba nongol di tengah-tengah kami. Rambut yang menutupi wajah depannya tergerai tertiup angin, menunjukkan wajah bopeng dan mata kecilnya. “Jangan bikin kaget, Sar.” Aku menghalau badannya, Sari bergerak menyamping dan berjalan mundur, menjadi pihak ketiga kami. “Kamu ngapain ikut-ikut?” tanyaku. “Pria dan wanita yang bukan muhrim, dilarang berduaan karena pihak ketiganya adalah aku,” ucap Sari. “Yang bener pihak ketiganya setan, kali,” ralatku. “Kamu kira aku apa? Ketan? Keran?” Wah Sari bisa bikin aku senewen tujuh belas kali ini. Aku membuang muka, menghadap ke taman sekolah dan tatapanku tertumbuk pada Hengky yang duduk di bangku di seberang sana bersama Sekar. Aku mencebik, cemburu karena kini Hengky sudah jadi milik Sekar. Padahal kupikir dia jatuh hati padaku. “Untuk apa kamu masih perhatian sama cowok play boy macam dia.” Steve berdiri di sebelahku, aku memandangnya. “Tapi Hengky bukan play boy,” desahku. “Kamu terlalu lugu, Bunga. Kamu terlalu baik,” ujar Steve. Aku menghela napas panjang, males ngomong sama Steve. Pasti cewek itu yang keganjenan, bukan Hengky yang ingin dekat sama cewek itu. Aku tahu pasti, Hengky bukan play boy kayak yang dituduhkan Steve. Aku berjalan cepat. Hari ini aku harus ke pasar buat belanja keperluan sehari-hari. Steve dengan setia berjalan di sebelahku. Tapi aku gak mau ngomong sama cowok yang sudah menuduh Hengky macam-macam. “Kamu marah?” tanyanya. “Engga,” balasku dingin. “Kamu marah kan?” tanyanya lagi. “Eng ... nggak,” jawabku dengan penekanan. “Kamu pasti marah,” ucap Steve. Aku berhenti berjalan, memutar badan buat berdiri berhadapan sama Steve. “Maumu apa sih Steve? Tiap hari ngekor aja. Kamu itu bukan kakakku, adikku. Pacar juga bukan, jadi jangan ikuti aku!” teriakku. “Tuh kan marah.” Steve cengengesan. Aku menekan kepala yang cenut-cenutan. Ini bocah dimarahin bukan merasa bersalah malah cengengesan gak jelas. Embohlah Steve-Steve, sak karepmu. (Gak tahulah Steve-Steve, terserah kamu) Aku kembali berjalan cepat lalu menoleh, Steve lagi-lagi ngikutin aku. Bikin aku kesal setengah mati. Mau cuek tapi gak bisa, mau marah, percuma. Huaa, Steve aku sangat membencimu setengah mati... *** Berjalan di dalam pasar tradisional yang becek, bau dan ramai bener. (Maklum tanggal muda, ibu-ibu banyak yang belanja). Steve masih setia berjalan di belakangku. Dengan membawa beberapa kresek berisi belanjaan. Rasakan pembalasanku, siapa suruh ngekor aku. Lumayan juga, bisa hemat tenaga. Kulihat seorang ibu-ibu membawa banyak sekali belanjaan lalu tanpa sengaja kesenggol seseorang yang melintas, membuat sebuah tas kresek jatuh dan isinya berhamburan keluar. Jeruk berwarna jingga kini kotor terkena lumpur, wanita itu kesal tapi dia cuma menghela napas lalu memungut jeruk-jeruk itu. Aku segera membantunya, mengeluarkan tisu dari dalam tas lalu memungut jeruk yang kena lumpur, membersihkannya dengan tisu lalu memasukkannya ke dalam tas kresek. Setelah memasukkan jeruk terakhir, aku berdiri berhadapan dengan wanita paruh baya berbadan gemuk yang masih sibuk mengatur tas belanjanya. “Terima kasih, Nduk,” ucapnya. “Bukan apa-apa Bu. Ibu sendirian ke pasar?” tanyaku. “Iya, anak saya masih kecil. Jadi saya tinggal di rumah,” jawabnya. “Rumahnya mana toh Bu? Biar saya antar,” tawarku. “Rumah Ibu dekat kok. Gak usah Nduk, takut ngerepotin,” tolaknya. “Sudah gak papa, Bu. Sini saya bawakan beberapa. Saya dan teman saya sudah selesai belanja kok.” Aku merebut empat tas belanja ibu itu lalu memberikannya ke Steve. Steve melotot, tapi biar tahu rasa dia. Ku rebut belanjaan yang lain dari tangan Ibu Galih, nama ibu itu. Ku bawa sambil berjalan menyusuri jalanan bersamanya. Bu Galih bercerita, ia memiliki anak berumur lima tahun dan hidup berdua dengannya sementara suami Bu Galih pergi tanpa pamit tiga tahun lalu. Sampai di depan rumah Bu Galih, ku serahkan belanjaannya. “Saya pamit dulu, Bu,” pamitku. “Gak masuk dulu? Ibu buatin es yang segar ya,” tawarnya. “Maaf Bu. Tapi saya harus cepat pulang. Nanti Ki ... ayah saya khawatir,” ucapku asal. Setelah beberapa kali berbicara dengan Bu Galih, akhirnya aku dan Steve berjalan kembali menuju rumah Ki Mengkis yang jaraknya jadi dua kali lebih jauh. *** Duduk di kamar seorang diri, memandang bintang yang gemerlap di balik jendela, pikiranku masih berputar kepada Hengky dan Sekar. Aku tahu aku gak boleh cemburu, Hengky bukan pacarku walau sepertinya dia menaruh hati padaku tapi ... apa bener kata Steve kalo Hengky play boy? Tapi selama ini Hengky gak pernah pacaran sama cewek manapun, seenggaknya itu yang kutahu. Hengky apa benar kamu cowok yang hobi tebar pesona seperti kata Steve? Kalo benar, aku sangat kecewa sekali. “Bunga. Sudah waktunya kamu berburu.” Ki Mengkis membuyarkan lamunanku. “Baik Ki,” ujarku lemah. Aku mengambil tas selempang yang tergeletak di atas meja, menyampirkannya di bahu dan segera berangkat. Ki Mengkis menyerahkan botol ajaib itu, aku segera memasukkannya ke dalam tas. Berjalan keluar rumah, pikiranku masih melayang-layang soal Hengky. Aku masih sangsi tapi kalo dipikir-pikir, Steve ada benarnya juga. Bisa saja Hengky tipe cowok penebar pesona, cuma aku aja yang buta jadi gak tahu kalo Hengky ternyata seperti itu. Tapi dua tahun sekolah, aku gak pernah dengar gosip soal Hengky jalan sama cewek sekolah, ah atau karena aku gak pernah bergaul sama teman-teman selama ini jadi aku gak tahu gosip itu. Beginikah cinta, deritanya tiada akhir. Cinta gak pake logika, meski disakiti tetap saja mencinta Aargghh ... PUSING... “Bunga.” Hengky berdiri di depanku, memakai kaos putih dan celana jins, ganteng sekali. Wajahku meradang, Hengky yang kukenal selama ini anak baik-baik. Meski populer tapi bukan tipe cowok penebar pesona. Pasti Steve cemburu, makanya dia jelek-jelekin Hengky. “Apa botol itu sudah menunjukkan letak perburuan kita?” tanyanya. Kita ... aku dan dia. Aku yakin perasaan Hengky hanya untukku. Cewek itu cuma ingin mendekatinya. Aku menganggukkan kepala, menunjuk jalanan sepi. “Kalo begitu, ayo!” ajaknya. Berjalan bersebelahan dengan Hengky dan hanya berdua. Hari ini rasanya seperti habis kejatuhan buah durian. Sesekali aku mencuri pandang kepadanya, Hengky yang keren abis suka tersenyum kalo kebetulan kami bersitatap. “Tumben kamu menjemputku,” godaku. “Daripada diancam sama Steve lagi,” jawabnya. Mendengar jawaban Hengky, aku menahan tawa, mengingat bagaimana Steve jadi preman kesiangan jika berhubungan dengan Hengky. “Bunga.” Steve mendekat dan merangkul pundakku. Ini bocah seperti jelangkung aja, datang gak dijemput, pulang gak diantar. Tiba-tiba jadi keinget obrolan Sari tadi siang kalo cowok dan cewek berjalan berduaan maka yang ketiga adalah “Setan,” gumamku. “What?” tanya Steve. Aku meliriknya, Steve memang setan diantara aku dan Hengky. Tapi mau gimana lagi, memang harus ada setan antara aku dan Hengky. Aku kembali berjalan menyusuri jalanan yang sepi sambil mendengarkan bualan Steve yang bisa bikin sakit kuping. Melewati pasar, mengikuti arah yang ditunjukkan oleh botol yang sejak dari rumah sudah menunjukkan arah kemana kami bisa menemukan jin yang harus kami tangkap. Botol yang kusimpan dalam tas tiba-tiba keluar, ia jatuh ke atas tanah beraspal lalu berputar-putar sebelum berhenti dengan mulut botol menghadap ke arah kiri. Aku menoleh, memandang sebuah rumah sederhana yang tadi siang ku datangi bersama Steve. Rumah yang gak lain dan gak bukan adalah.... Yup, rumah Bu Galih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN