Gua ini bukan sembarang hua, gua yang dihiasi dengan stalakmit dan stalaktit yang panjang dan indah, sering jadi incaran orang-orang yang ingin mengambilnya tapi selalu gagal karena raksasa kolor ijo bakal menampakkan dirinya.
Konon katanya, raksasa kolor ijo ini sudah mendiami tempat ini ratusan tahun lalu. Bahkan raksasa ini yang menyelamatkan warga sekitar dari kejaran para penjajah Belanda dan Jepang. Hal inilah yang bikin warga mengkeramatkan tempat ini dan gak ada yang berani menjamahnya. Kecuali aku, Hengky dan Steve tentunya.
Baru berjalan masuk sesaat saja, tiba-tiba puluhan bahkan ratusan kelelawar terbang keluar dengan suara yang sangat berisik. Spontan kami bertiga menunduk sambil menjaga kepala biar gak dihantam sama mereka. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan masuk ke gua lebih dalam.
Berbagai jenis hantu betebaran. Aku membaca ajian di dalam hati buat nguatin mental. Aku masih merasa konyol karena bertahun-tahun bisa lihat hantu tapi tetap saja takut sama mereka.
Diantara perasaan takut, aku penasaran jin apa yang bakal kuhadapi disini. Aku mengingat-ingat jin-jin yang keluar dari dalam botol kemarin. Tapi tentu saja aku gak bisa memastikan jin mana yang kuhadapi, jadi yang bisa kulakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin.
“Keluarlah sebelum aku menghukum kalian!” Suara seseorang menggema.
Kami bertiga menghentikan langkah dan saling memandang. Aku menelan ludah susah payah. Hengky memucat dan Steve, entah apa yang dipikirkannya.
“Kami tak ingin mengambil sesuatu disini. Ijinkan kami masuk,” teriak Steve.
Steve mendorongku berjalan, bikin aku mau gak mau melangkahkan kaki. Kami berjalan lurus ke depan, sinar botol jin menjadi petunjuk. Sewatu di berhadapan dengan beberapa pintu, kami gak perlu bingung lagi.
Lalu tiba-tiba...
"HENGKY..." Pocong tiba-tiba berdiri di depanku, aku sontak memutar badan dan mendekati Hengky.
Dari sekian banyak hantu yang ku lihat. Pocong masuk daftar hantu pertama yang kutakuti. "Hengky, aku takut." Aku berada sangat dekat dengan Hengky, menyerap rasa aman yang dibawanya. Hengky memelukku erat, ini namanya kesempatan dalam kesempitan. Tapi rasanya nyaman banget.
"Relax, Honey. I always beside you." Lah, ini suara Steve. Aku melepas pelukan, dan benar ternyata cowok yang kupeluk itu Steve bukan Hengky.
Alamak, salah peluk orang. Ini semua karena pocong sialan yang muncul gak diundang.
Aku menoleh lalu memutar badan. "Steve, Hengky mana?" Aku baru sadar kalo Hengky gak ada.
Aku dan Steve menoleh mencari-cari Hengky. "HENGKY..." teriakku.
"Steve. Apa Hengky diculik lagi?" tanyaku.
Steve menatapku beberapa lama. "Ku rasa dia tersesat. Sudahlah, kita lanjutkan perjalanan sambil mencari Hengky," ajak Steve.
Aku mematung, pikiranku jadi kosong, gak bisa mikir apa-apa. Belum-belum Hengky menghilang tapi belum bisa mikir, Steve sudah menarik tanganku buat jalan.
Sekelebat bayangan melintas cepat, menghentikan langkah kami sesaat. Aku dan Steve bersitatap, lalu bayangan itu kembali berkelebat dan sinar botol semakin terang. Pertanda bayangan itu adalah jin botol yang pernah lepas.
Aku kembali melangkahkan kaki, berjalan pelan menceburkan kaki ke dalam kubangan berlumpur. Tempat ini sangat lembab dan menjijikkan. Aromanya bisa bikin kepala kliyengan macam kena n*****a.
Masuk semakin dalam, kubangan juga semakin dalam. Bikin niatku maju mundur buat melanjutkan perjalanan tapi Steve selalu menyuruhku maju.
Desisan macam desisan ular terdengar, sekali lagi langkahku terhenti. Sial tujuh belas ini, kalo ada ular aku yakin gak bisa lari karena kakiku terjerat lumpur.
"Steve. Mending balik aja deh. Kayaknya di depan gak ada apa-apa kecuali air," rengekku.
"Bisa jadi enggak, kan? Lanjut saja. Hanya ini jalan satu-satunya untuk menemukan jin itu. Lagipula bisa saja Hengky diculik seperti kemarin," tandas Steve.
Aku memandang Steve. Kurasa omongan Steve ada benarnya. Bisa saja Hengky diculik lagi jadi Hengky harus ditemukan dengan cara menangkap jin itu. Kalo Hengky memang diculik, dan aku yakin demikian maka Hengky harus diselamatkan. Aku kembali berjalan, lumpur semakin kuat mengisap dan air kini sudah mencapai pinggul. "Steve, apa kamu yakin?" Aku sendiri mulai gak yakin.
Steve gak bicara, bikin aku pusing kepala. "Steve..." Aku memutar badan, Steve tiba-tiba menghilang.
"Steve ... STEVE ... STEEVEE..." Ini gila, tadi Hengky sekarang Steve.
Bagaimana ini? Huaa, sial bener dah. Mending aku keluar gua buat cari bantuan.
Aku berjalan kembali buat keluar dari gua aneh ini. Aku berjalan cepat, melewati dinding gua lembab yang dihiasi hewan-hewan kecil mulai dari serangga, kaki seribu sampai kalajengking pun ada.
Tapi sudah berjalan begitu jauhnya, kurasa aku cuma muter-muter di tempat dan gak menemukan jalan keluarnya. Pintu-pintu gua begitu banyak, ku coba masuk ke dalam satu pintu lalu keluar di pintu yang lain. Begitu seterusnya hingga akhirnya aku berhenti karena kelelahan.
Lah terus jalan buat keluar gua itu dimana?
Aaaarrrggghhh... Kenapa tadi aku gak memerhatikan tempat ini sih?
Sekelebat bayangan muncul kembali, ia memutar bikin aku ikut berputar buat melihatnya. Botolku kembali menyala terang saat bayangan itu melintas lalu saat bayangan itu menghilang, botol meredup.
Sekelebat bayangan muncul lagi, kali ini gerakannya lebih lambat bikin aku bisa melihatnya cukup jelas. Jin ini bentuknya sangat panjang dan besar, melintas dengan anggun, di ujung ekornya bergerak-gerak dan mengeluarkan bunyi gemerincing. Aku yakin jin yang ku hadapi sekarang adalah jin ular.
Jin itu berhenti di depanku, seekor ular raksasa dengan diameter badannya dua kali dari badan Steve. Lumayan panjang kalo melihat badannya yang melingkar sampai tiga lingkaran. Kepalanya melebar macam ular kobra, lidahnya menjulur bercabang bersama suara desisan yang panjang. Aku mematung, masih bingung harus bagaimana. Tiba-tiba wujud ular berubah menjadi manusia tapi kepalanya masih berupa kepala ular. "Pergilah! Aku takkan mengganggumu," ucapnya.
"Kembalikan temanku!" pekikku.
Jin ular itu gak menjawab, tiba-tiba ia mendekatiku dengan cepat. Aku berkelit ke kanan, hampir saja kena jin ular. Ia berhenti membelakangiku, tertawa keras lalu mendesis dan memutar badan. Kepalanya miring ke kanan lalu ke kiri, pandangannya fokus kepadaku. "Pergilah! Aku takkan mengganggumu. Jadi jangan menggangguku," ucapnya.
"Dimana teman-temanku?" tanyaku.
"Teman? Aku tak tahu apa maksudmu," jawabnya.
Halah, ini makhluk pake pura-pura segala. Aku bergeming, memandangnya dengan rasa benci di hati. Ia menjulurkan lidah bercabangnya lalu tiba-tiba sebuah batu yang sangat besar, melayang ke arahku. Aku spontan menghindar dengan tangan kanan menangkis batu lalu batu itu menabrak dinding gua, bikin suara bedebum menggema keras.
Sepertinya jin satu ini gak suka banyak omong, dia berubah jadi ular lalu menyerangku. Aku kembali menghindar,hanya menghindar karena ia terlalu cepat untuk ku serang.
Ia kembali berubah jadi manusia ular, dikira aku gak bisa meniru strateginya? Aku pun membaca ajian qulhu geni. Sebuah bola cahaya kuning yang menyilaukan muncul di tangan kananku. Aku melemparkan bola itu ke arah jin ular, tapi dia punya reflek cepat jadi ia bisa lolos dari seranganku.
Jin ular berbentuk manusia dengan kepala ular kembali menyerang. Aku menggunakan jurus pencak silat yang pernah diajarkan oleh Ki Mengkis untuk menghadapinya. Ia menarik dua tanganku, berusaha melepas bisanya tapi aku menarik tanganku dari cengkeramannya dengan cara memutar lengannya. Ku tendang perutnya sekuat tenaga, ia melepaskan diri dariku. Mundur sambil memegang perutnya.
Adu kekuatan terus terjadi, nih jin kuat dan bandel amat ya. Aku sampai ngos-ngosan melawannya. Sekali lagi aku mengeluarkan ajian qulhu geni. Sekali, dua kali dan berkali-kali. Kadang bola itu menghantam dinding gua, kadang juga jatuh ke tanah tapi yang pasti gak ada yang mengenai tuh jin ular.
Aku berdiri di depan jin ular yang juga sama lelahnya denganku. Napasnya memburu tapi aku yakin dia gak bakal menyerah. Siapa yang mau dimasukkan ke dalam botol coba. Aku kembali membuat bola di tangan kanan sambil menatap fokus padanya.
"Kenapa kamu menyia-nyiakan waktumu untuk mengejarku?" tanyanya.
"Karena aku harus mengembalikanmu ke botol," jawabku.
"Lebih baik cari temanmu. Jangan ganggu aku!" pintanya.
Aku gak banyak omong, dengan kekuatan penuh. Ku lempar bola dan tepat mengenai lengannya. Lengan kirinya putus, ia berteriak keras sekali. Bikin beberapa batu kerikil runtuh dan membuatku harus kembali bergerak buat menghindari runtuhannya. Ia memandangku dengan tatapan marah lalu berubah jadi ular dan tiba-tiba saja badannya sudah melilitku. Kencang sekali. Bikin aku susah menggerakkan badan, kalo begini terus aku bisa mati. Aku gak boleh mati karenanya. Aku masih harus hidup buat bisa bertemu Hengky eh maksudku buat mencapai cita-cita. "Lepaskan aku!" teriakku.
"Sudah kukatakan, jangan ganggu aku. Tapi kamu bebal jadi ... temui ajalmu." Jin ular makin erat melilitku. Aku menjerit kesakitan, dua tanganku semakin menekan badan sementara badan jin ular sialan itu juga makin menjeratku. Dua kakiku terangkat lumayan tinggi, meliuk ke kanan dan ke kiri dan beberapa kali badanku hampir menabrak dinding gua.
Tapi tiba-tiba sebuah bola merah datang dan menumbuk badan jin ular. Lilitannya melemah, tapi sialnya ia melilitku lumayan tinggi, kepalaku hampir menyentuh langit-langit gua. Waktu lilitannya kendur, secara otomatis badanku terjun bebas dan mendarat cantik di atas tanah yang keras. Rasanya seperti maling ayam digebukin warga, sakit luar biasa, panas terasa di punggung dan menyebar sampai kepala ikut berdenyut-denyut. Botol menyala terang di dekatku, ku pandangi jin ular yang kini merintih kesakitan.
Meski sakit luar biasa tapi aku gak menyia-nyiakan waktu. Aku mengambil kendi dan mengulum isinya. Ular itu lalu berusaha berdiri sambil mendesis melawan sakit yang terasa menyiksa. Jin ular berdiri gak jauh dariku, ia memegang pangkal lengan kirinya sementara lengannya sendiri sudah putus dan teronggok di dekat kakinya.
Ia berjalan terseok-seok menjauhiku, tanpa menunggu, aku menyemburkan air suci kea rah jin ular. Aku mengambil botol dari dalam tas lalu membukanya dan mengarahkan mulut botol ke arahnya. Jin ular berubah menjadi asap pekat dan akhirnya ia tersedot masuk ke dalam botol. Aku segera menutupnya, lega banget bisa melawan jin ini tapi sekarang aku punya tugas lain. Aku berdiri sekuat tenaga, pulang nanti aku musti manggil Wak Jima sang dukun pijat buat pijat badanku yang sakit semua.
"BUNGA..." Suara Steve memekakkan telinga.
Steve memelukku erat, mengangkatku tinggi-tinggi bikin aku menjerit kesakitan. Steve panik, ia meraba-raba badanku, termasuk payudaraku.
“STEVE SIALAN. JANGAN SEENAKNYA MENYENTUH BADANKU...” teriakku.