Steve Semakin Aneh

1583 Kata
Steve melotot, pipinya menggembung, bibirnya mengerucut. Dua tangannya berkacak pinggang. Aku dan Rascal berpandangan sebelum memandang Steve yang sedang sangat marah gak ada alasan yang jelas. “Honey. Aku sudah katakan, kamu jangan berduaan dengan cowok lain! Apalagi Rascal.” Steve mendekatiku, ia menarik tanganku dan mengajakku menjauhi Rascal. Aku menarik tangan dari cekalan Steve. Ia menoleh, memandangku kaget sekaligus melotot. Saat ia mau mencekal tanganku, aku langsung menyembunyikan tangan di belakang punggung. “Bukannya tadi kamu yang memintaku disini sama Rascal?” Aku jadi sewot. Melipat kedua tangan dan dua alisku bertautan. Steve menunjuk dirinya sendiri, “aku?” Kali ini aku yang heran, tadi ngomong A eh sekarang ngomong B. Meskipun aku tahu Steve punya dua kepribadian yang berbeda satu sama lain, tapi tetap saja aku merasa aneh dengannya. Sulit membiasakan diri dengan dua orang dalam satu raga. Aku harus mencari tahu masalah yang membuat Steve jadi seperti itu. “Oh. Iya-ya. Hehehehehe.” Steve terkekeh sambil garuk-garuk kepalanya. “Maaf, Honey. Aku tadi terbawa emosi. Aku tidak sanggup melihatmu bersama cowok lain.” Steve membuka kedua tangan, ia ingin memelukku tapi aku terlanjur sebel. Aku menghindarinya, Steve tetap saja memaksa. Bahkan dia merenggut bibirku dalam satu kecupan singkat. Ulahnya sukses membuatku mencubit perutnya. Aku mencibir, masih muda udah gampang lupa. Aku mencubit dua pipinya, menariknya ke kanan dan ke kiri. Gemas dengan tingkahnya yang kadang lucu tapi nyebelin kadang serius tapi sama nyebelinnya. Aku berjalan menuju ke pintu masuk sea world. Disana ada Pak Lukito selaku direktur tempat ini. Orang yang sempat membuatku gugup karena dia mendudukkan kami bertiga di kantornya dan diintograsi (interogasi) tadi. Ia sudah memakai jaket birunya, berdiri di tengah pintu bersama dua karyawannya. “Apa yang kalian sudah temukan di tempat ini?” tanya Pak Lukito. Rascal tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku. Ia membawa sebuah tengkorak untuk diserahkan kepada Pak Lukito. Pria itu langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi saat melihatnya, badannya bergetar karena begitu takutnya. Dua karyawannya juga terlihat kaget meski mereka berusaha terlihat tenang. “Karyawan anda. Jatmiko. Sudah dimanfaatkan merliana untuk urusan pribadinya. Demon itu ingin menjadi manusia sempurna dengan mengambil darah murni anak-anak ini.” Steve tersenyum, aku yakin dia puas sudah menyelesaikan masalah ini. “Apakah ini masuk akal?” Pak Lukito masih kurang percaya. Tentu saja karena Pak Lukito orang modern yang baru saja tahu kalo hantu benar-benar ada. Wajar kalo dia lebih memercayai hal-hal yang lebih masuk akal. “Apa Bapak perlu nanya ke anak-anak korban setan itu? Saya bisa membuka mata batin Bapak ... kalo Bapak siap mental.” Aku pasti senang kalo Pak Lukito mau. Biar dia tahu kalo setan di muka bumi ini jumlahnya saingan sama jumlah manusia. Wajah Pak Lukito yang putih jadi semakin putih pucat, ia melambaikan kedua tangannya. “Tidak-tidak. Tidak perlu.” Aku tersenyum geli, orang seperti Pak Lukito pasti pingsan kalo melihat hantu yang lebih jelek dari roserie. “Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya tidak mau masalah ini muncul ke permukaan. Kredibilitas tempat ini dipertaruhkan.” Pak Lukito menunggu Steve menjawab pertanyaannya. Steve memiringkan kepala, sesaat ia berpikir tapi kemudian ia menggeleng. “Kalo saya, yang penting jasad anak-anak ini dikembalikan ke keluarganya. Biar mereka dikebumikan dengan cara yang wajar.” Steve puas dengan jawabannya. Pak Lukito menunduk lalu menghela napas berat. “Usulanmu baik, tapi saya yakin mereka tidak akan semudah itu memaafkan kami jika mereka tahu bahwa anak-anak mereka dibunuh di tempat ini.” Aku mengerti maksud Pak Lukito. “Beri mereka kompensasi yang pantas. Semua manusia suka uang kan?” Mulut Rascal harus dikuncrit biar gak asal ngomong. Pak Lukito mengangkat kepala. Memandang Rascal dengan menyipitkan matanya, “kasar sekali. Saya yakin mereka tidak akan mau menerimanya apalagi ini terkesan kami membeli nyawa anak-anak mereka.” “Beri yang banyak. Aku yakin mereka luluh dengan uang.” Rascal memang terlihat sangat yakin. Seyakin aku untuk mengambil karet dan menguncrit mulutnya. Beberapa lama kami terdiam. Aku melihat lima anak berdiri berjajar di sebelah Pak Lukito. Mereka sedang memandangku, sepertinya mereka ingin mengatakan sesuatu. Aku bergeming, menunggu mereka membuka suara. “Pertemukan kami dengan orangtua kami untuk terakhir kalinya.” Seorang anak perempuan yang tingginya se daguku, berbicara dengan suara memelas. Aku dan Steve bersitatap, aku tahu mereka pasti ingin bertemu keluarga mereka sebelum kembali ke alamnya. Tapi bagaimana cara kami menemui semua keluarga mereka dan apa yang harus kami katakan? Ini jadi tugas yang sama sulitnya. “Orangtua mereka tetap harus tahu kalo anak mereka sudah meninggal. Kalo Bapak punya anak terus anak Bapak, hilang. Apa Bapak gak mencari mereka?” tanyaku. “Tentu saja aku akan mencarinya. Hanya saja ... tempat ini adalah sumber penghidupan saya dan karyawan-karyawan saya. Ditambah, penghuni lain di tempat ini juga butuh makan dan perawatan rumah mereka tidaklah murah,” keluh Pak Lukito. “Kami hanya ingin bertemu keluarga kami sebelum kami benar-benar pergi.” Seorang anak perempuan bermata besar, menatapku dengan tatapan memohon. “Kita harus lapor polisi secara diam-diam. Jangan sampai ada wartawan tahu kasus ini!” kata Rascal. Pak Lukito mengangguk, ia menatap dua karyawannya dan meminta mereka untuk menghubungi polisi. Pak Lukito juga meminta Steve untuk membantu polisi dalam penyelesaian kasus yang sulit diterima akal manusia. Keberadaan lembaga POLIKHUSTRAL benar-benar membantu karena semua kepolisian tahu keberadaan lembaga yang bernaung di dalam perlindungan kepolisian ini. Gak menunggu lama, suara sirine yang berasal dari mobil polisi memenuhi tempat ini. Beberapa polisi melakukan tugas mereka dengan memeriksa tempat ini dan juga memeriksa kami. Semua sibuk dengan urusan mereka, termasuk Steve dan Rascal yang menjelaskan duduk masalahnya. Aku sendiri memilih melihat polisi memindahkan jasad anak-anak ke kantong-kantong mayat. Tulang-tulang disatukan dalam satu kantong jenazah. Sementara mayat anak perempuan yang seharusnya memakai dress putih bermotif bunga berwarna merah muda, tapi kenyataannya dia ditelanjangi sebelum dikebumikan, dimasukkan dalam satu kantong mayat. Selanjutnya, kantong-kantong jenazah dimasukkan ke dalam ambulan. Lima belas arwah anak-anak mengikuti jasad mereka pergi. Duduk berjubel di dalam mobil ambulan bersama dua orang yang sejak tadi mengusap tengkuknya. Mereka tersenyum kepadaku, semua sudah berakhir dan mereka akan kembali ke alam mereka dengan tenang. Mobil ambulan mengeluarkan bunyi sirine dengan suara nyaring. Perlahan mobil itu bergerak dan meninggalkan tempat ini. Aku terus memandangnya sampai ambulan itu benar-benar hilang dari pandangan. “Kita pulang malam ini!” Steve merangkul pundakku. Mengajakku keluar dari tempat yang sudah memberi kami misi mendadak di saat kami seharusnya menikmati liburan. Semoga mereka benar-benar bisa bertemu dengan keluarga mereka sebelum kembali ke alam mereka. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa menerima kenyataan yang sangat pahit sekali. Semoga gak ada lagi kasus yang membuat anak-anak menderita. *** Akhirnya kami bertiga harus kembali pulang ke Surabaya. Naik kereta malam, aku memandang jendela dimana diluar hanya ada kegelapan. Jakarta gak meninggalkan kenangan manis kecuali sewaktu aku bertemu Reza Rahardian. Walau sangat singkat, tapi aku terkesan dengan keramahannya. Gak banyak waktu yang ku miliki untuk bersenang-senang, tapi walau sedikit itu sudah memberiku sedikit kelegaan walau akhirnya kebahagiaan itu terenggut saat waktuku habis buat mengurus masalah kematian anak-anak yang sangat memilukan. “Steve. kapan-kapan ajak aku ke Jakarta lagi ya. Aku masih ingin jalan-jalan disana,” Steve menoleh, memandangku sambil tersenyum. “Nanti kita kesana lagi.” Gaya bicaranya berubah jadi nada bicara serius. Aku memandangnya lekat, meneliti wajahnya dengan saksama. Membuat Steve mengangkat dua alisnya. Tapi aku benar-benar penasaran dengan keanehan Steve. Cuma mau tanya, masih bingung cara tanya-nya. “Kenapa, Hon?” Steve melipat kedua tangan. Pandangannya masih belum dialihkan dariku. “Dia penasaran dengan jati dirimu. Steve. Atau aku panggil nama lainmu. Peter.” Rascal semakin membuatku bingung dengan ucapannya. “Kok Peter. Itu bukannya nama leluhur kita?” Aku memiringkan kepala, masih gak ngerti dengan ucapan Rascal. “Jangan memulainya, Rascal. Ini belum saatnya.” Steve memicingkan mata kepada Rascal. Sedetik kemudian, Rascal melipat kedua tangannya dan memejamkan mata. “Apanya yang belum saatnya?” Aku jadi lebih penasaran lagi. Steve gak menjawab, ia malah ikut memejamkan mata. Membiarkan aku bertanya-tanya sendiri. Aku menggenggam lengan Steve, menggoyangnya untuk memintanya terbangun. “Ayo ngomong! Apa yang kamu sembunyiin sih?” Steve melirikku dengan ekor matanya tapi ia kemudian balik memejamkan mata kembali. Aku jadi sewot setengah mati, membuang muka sambil melipat kedua tangan, menatap luar jendela yang sedang berhenti di sebuah stasiun. Steve meletakkan kepalanya di pundakku. Ia merangkul lenganku dengan erat. “Jangan marah, Honey!” Aku menyikut dadanya tapi Steve menempel lagi seperti magnet. “Sudah lama aku gak tidur nempel sama kamu. Enaknya....” Steve membuatku bete. “Gak usah nempel-nempel!” Aku mendorongnya kuat-kuat sampai badan Steve hampir terjungkal. Ia kaget sekali tapi kemudian dia balik nempel lagi dan akhirnya aku membiarkannya menyandarkan kepala di pundakku. “Kalian lucu.” Rascal tersenyum tipis sekali tapi aku masih bisa melihatnya. Aku kembali memandang keluar jendela, Rascal dan Steve sudah kembali tidur. Lambat laun aku juga jadi mengantuk dan akhirnya aku tertidur dengan kepala bersandar pada jendela. Suara tabrakan keras dan guncangan hebat membuatku kaget dan langsung berdiri tapi Steve dan Rascal mendorongku sampai aku terduduk dalam pelukan keduanya. Guncangan masih terus terasa sebelum akhirnya gerbong berguling-guling. Barang-barang dan orang-orang bergulingan. Aku bisa melihatnya sekalipun Steve memelukku erat dan Rascal memeluk Steve sama eratnya. Badan besar Rascal membuat kami terlindung dan gak terjungkal mengikuti arah bergulingnya gerbong. Setelah beberapa kali berguling, akhirnya gerbong berhenti dalam posisi terbalik. Beruntung Rascal dan Steve menahan badan mereka jadi aku gak tergencet. Aku masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Sekalipun Steve dan Rascal sudah berdiri. Aku masih bergelung dengan posisi kepala terbalik. “Sebenarnya ada apa ini?” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN