Penemuan Besar

1661 Kata
Akhirnya setelah obrolan aneh dua eh tiga orang tadi. Aku bisa melanjutkan misi menyelamatkan arwah anak-anak. Sejujurnya, aku masih gak ngerti apa yang mereka bicarakan. Kenapa mereka tertawa, kenapa mereka saling memandang dengan tatapan tajam. Tapi satu hal yang pasti adalah aku jadi semakin suka dengan sisi lain Steve. Seenggaknya, dia bisa diandalkan di saat-saat yang genting. “Tapi apa benar kalo Steve emang punya dua kepribadian? Tapi masa ada sih, satu orang dengan dua kepribadian yang sangat berbeda?” gumamku. Aku menelengkan kepala, berusaha menjawab ucapanku sendiri tapi ... halah, yang penting aku mencintai Steve. Mau dia berkepribadian dua mau tiga. Steve kan cuma satu. Dan cuma Steve, cowok yang aku sukai. Kami berjalan memasuki lorong akuarium yang sangat besar, hiu berenang tepat di atas kepalaku. Pari asyik berenang di sisi kanan dan di sisi kiri, ada ikan yang jueleknya minta ampun, mana bibirnya dower lagi. Steve menghentikan langkah, ia memutar badan untuk menghadapku. “Hon. Apa kamu siap?” Tumben Steve menanyakan hal semacam ini. “Tentu saja. Aku akan mencabut sisik-sisik setan sialan itu.” Duh, jadi kumat gemesnya kalo membayangkan kejahatan apa yang dilakukan merliana kepada anak-anak. “Aku mengerti. Tapi ingatlah. Jangan melawannya sendirian! Kita belum tahu seberapa kuat dia.” Aku merasa sangat diremehkan sekarang. Selama ini harusnya Steve tahu, aku adalah demon hunter yang kuat dan bisa diandalkan. “Tenang saja. Tanpa kamu. Aku bisa mengalahkan merliana.” Aku sangat yakin itu. “Kami tahu.” Steve menepuk pundakku. Ia tersenyum manis sekali. “We love you, Hon.” Sesaat aku terpaku, aku mendengar dua suara keluar dari mulut Steve. Tapi bisa saja aku yang keliru. Rascal mendekat, ia memandang kami berdua bergantian. “Sebaiknya kita berpencar. Harus ada yang mencari jasad anak-anak dan harus ada yang mencari informasi ke Jatmiko,” Kejadian dimana cakra Steve membuat kaca pecah dan melempar bergalon-galon air tadi membuat Jatmiko dan anak perempuan tadi harus dibawa ke rumah sakit. Keduanya tenggelam dan gak sadarkan diri sewaktu ditolong. Aku jauh lebih beruntung karena kata Steve, ia menarikku sesaat sebelum aku gak sadarkan diri. “Aku akan ke rumah sakit. Rascal, selidiki tempat ini bersama Bunga!” Steve sangat serius waktu mengatakannya. Ini aneh sekali, Steve bukan tipe orang yang bisa membiarkan aku bersama cowok lain, bahkan sama Rascal sekalipun. Tapi sekarang, tiba-tiba dia membiarkan aku jalan sama Rascal. Jangan-jangan tadi kepalanya terpentok pintu lagi. “Rascal. Jaga istriku selama kalian disini!” Rascal mengangguk, patuh dan gak mengatakan apapun. Steve menepuk pundakku lalu membelai rambutku. “Hon. Jaga dirimu baik-baik! Kita akan mengatasi masalah ini.” Ia memelukku dan mengecup keningku tanpa mengecup bibirku, aku merasa ada yang lain darinya. Steve suka mencium bibirku walau cuma ciuman singkat, Steve gak bakal melewatkannya. “Ayo!” Rascal membangunkanku dari lamunan. Aku bahkan baru tahu kalo Steve sudah menjauh. Kami mengelilingi sea world, tapi gak ada sesuatu yang mencurigakan. Kami juga bertanya pada para penunggu tempat ini. Kuntilanak, genderuwo, setan bermuka gurita, setan berbadan cumi-cumi bahkan kami bertanya pada penunggu dalam akuarium. Seekor siluman buaya buntung dan ikan berkepala manusia. Tapi mereka gak ada yang mau berbicara soal merliana. Rascal mengajakku keluar sea world, aku gak ngerti kenapa dia melakukannya. “Ras. Merliana ada di dalam dan arwah anak-anak juga. Kenapa kita keluar?” Aku jadi heran dengan apa yang dipikirkan Rascal. “Di dalam sudah ada Steve. Lagi pula, ku rasa jasad anak-anak itu ada di luar gedung ini.” Rascal berjalan cepat, mengelilingi gedung sambil mengendus. Aku gak melakukan apapun kecuali mengikuti Rascal. Gak tahu kenapa, pikiranku jadi beralih ke Steve. Semakin lama, aku merasa kalo Steve benar-benar aneh dan itu gak bisa ku abaikan begitu saja. Rascal jongkok di depan taman dengan hiasan bunga berwarna kuning. Menyentuh tanah dan mencium aromanya. “Ada yang tidak beres dengan tanah ini. Baunya seperti ... bangkai “Apa Steve itu orangnya seperti itu ya?” Rascal menoleh, dua alisnya terangkat. “Apa maksudmu?” Aku mengedikkan bahu, menerawang sesaat untuk mengingat dua perilaku Steve yang sangat berbeda. “Kadang aku merasa Steve seperti orang lain, Ras.” “Seperti orang lain? Steve ya Steve. Dia memang seperti itu. Kamu terima saja. Aku akui dia konyol tapi ... sudahlah, kita harus menggali tempat ini!” Rascal bangkit, ia menepuk dua tangannya untuk membersihkan dari kotoran tanah. Aku menggeleng, di saat seperti ini hal yang paling penting adalah mencari keberadaan jasad anak-anak itu. Kami berjalan menuju ke belakang gedung ini. Rascal membuka sebuah pintu yang tersembunyi di sudut gedung. Ia memberiku sebuah sekop dan dia sendiri membawa cangkul. “Buat apa ini?” Aku mengangkat sekop, menunjukkannya di depan Rascal. “Kita harus menggali.” Mulutku terbuka, gak menyangka Rascal mengajakku menggali tempat itu. “Menggali? Yang benar saja. Ogah!” Malam-malam harus menggali tanah. Apapun alasannya aku gak mau. Rascal menyipitkan mata, beberapa saat ia memandangku sebelum ia menutup pintu dan menyeretku kembali ke taman. Rascal mulai mencangkul, aku berdiri dengan menyandarkan dua tangan di atas sekop. Memandang Rascal yang masih terus menggali. Dengan otot sebesar itu, aku yakin dia sendiri saja sudah pasti bisa menyelesaikan penggalian ini. “Apa menurutmu jasad anak-anak dikubur disini?” Sebenarnya sejak aawal aku tahu jawabannya, tapi aku hanya butuh seseorang yang bisa meyakinkanku. “Makanya bantu aku menggali tempat ini. Supaya kita cepat mengetahui jawabannya.” Rascal berhenti sejenak, ia memandangku sesaat, kemudian ia menghela napas berat. “Kalo pun iya. Besok kan ada waktu, Ras. Ngapain malam-malam begini menggali tanah?” Aku bersikeras tapi Rascal juga sama. Iya kembali mencangkul tanpa memintaku membantunya. Benar-benar gak perlu waktu lama buat menunggunya menyelesaikan penggalian. Rascal benar-benar berotot baja, dalam waktu singkat ia sudah mencangkul sampai kedalaman sekitar satu meter. Aku melihat Rascal terus mencangkul, membuang tanah gak jauh dari tempatku berdiri sampai akhirnya ia mulai melempar sebuah tengkorak. Aku sampai melotot karena begitu kaget melihatnya. Tengkorak itu adalah awalnya, Rascal terus melempar tulang belulang yang aku yakin berasal dari badan manusia. Melihat ukurannya yang kecil, aku yakin itu adalah tulang anak-anak. Satu arwah anak-anak muncul, menatap tengkorak yang ada di dekat kakinya. Kemudian bertambah menjadi dua-tiga-empat. Arwah itu bertambah sesuai dengan semakin banyaknya jumlah tulang yang dilempar oleh Rascal. “Apakah ... ini kalian?” Aku menatap mereka dengan jantung berdebar keras. Aku tahu seklai jawabannya tapi tetap saja gak bisa menahan perasaan sewaktu mengetahui jawaban mereka. Sebuah anggukan membuat kedua kakiku lemas dan badanku gemetar hebat. Membayangkan bagaimana mereka harus meregang nyawa, jasad dikubur di tempat seperti ini. Hatiku benar-benar gak bisa menahan perasaan marah. “Ras. Kita selesaikan masalah ini sekarang!” Aku harus melenyapkan merliana sekarang atau aku harus bertahan dengan perasaan bersalah karena gak bisa menolong mereka. Rascal melempar jasad anak-anak tanpa busana tepat di depanku. Melihat jasad yang utuh, sepertinya anak ini adalah korban terbaru mereka. Arwah anak perempuan memakai baju putih dengan motif bunga berwarna merah muda tiba-tiba muncul. Ia memandang jasad itu dengan wajah meredup dan air mata luruh dari kedua matanya. “Tenanglah! Aku tidak bisa menghidupkanmu. Tapi aku bisa membantumu bertemu keluargamu. Bertahanlah sebentar lagi.” Gadis itu mendongak, menatapku saksama. Ada getaran yang gak bisa ku elak sewaktu melihatnya. Arwah anak itu melihat ke arah belakangku. Wajahnya tiba-tiba menjadi ketakutan dan kemudian ia menghilang. Aku memutar badan, ingin tahu siapa yang sudah membuatnya ketakutan. Seorang wanita cantik, memakai baju kemben berwarna merah bergaris-garis emas dan memakai jarik selutut. Rambutnya digelung dan dihiasi roncean melati yang menjuntai sampai di pinggulnya. Ia melotot, urat-urat lehernya mencuat. Ia memandang tumpukan tulang dan jasad anak tadi. “Apa yang kamu lakukan?” berangnya. “Apa yang kami lakukan gak penting. Kamu sudah membunuh anak-anak gak berdosa. Kamu benar-benar iblis.” Aku ingin menyerangnya. Tapi aku masih ingin tahu alasan kenapa dia melakukan hal sekejam ini. “Ini bukan urusanmu. Kamu jangan ikut campur!” Merliana maju dua langkah. Membuat jarak kami sangat dekat. Aku menunduk, memandang dua kaki yang seharusnya gak ada. Merliana adalah siluman dugong karena aku gak mau mencemari kata duyung. Putri duyung adalah orang baik seperti yang selama ini ku tonton di TV. Yang menolong pangeran dan menjual suaranya demi bisa bersatu dengan pangeran itu. Tapi makhluk di depanku adalah setan, iblis, siluman. Bahkan dugong masih terlalu bagus untuk dibandingkan dengannya. “Aku gak tahu kamu punya kaki.” Aku memandang merliana dengan tatapan geram. Sambil menahan amarah aku bertanya dengan baik-baik. “Apa kamu mengambil nyawa anak-anak ini demi ... kaki?” Merliana tertawa terbahak-bahak, dua pundaknya bergerak-gerak. “Bukan demi kaki.” Merliana menatapku tajam. “Demi menjadi manusia. Sepertimu.” Jawaban merliana membuatku terhenyak. Aku gak tahu kalo ada iblis seperti dia yang ingin menjadi manusia. “Tapi ... kenapa anak-anak?” Merliana memutar badanku, ia memandang Rascal yang baru saja keluar dari lubang berisi jasad dan tulang anak-anak. “Temanmu sangat tampan dan kuat. Aku suka lelaki berotot sepertinya.” Merliana mendekati Rascal. Ia menempelkan badannya, gak peduli kalo Rascal kotor dan berkeringat. Pada awalnya Rascal bergeming, tapi gak lama kemudian ia membuat cakra dan melemparkannya ke d**a merliana. “Aku benci setan wanita ... apalagi kamu.” Rascal kembali membuat sebuah cakra. Ia melempar cakranya ke merliana. Membuat merliana gak punya kesempatan untuk melawannya. Rascal menoleh ke arahku, sementara ia mengeluarkan tali berupa cahaya merah dari telunjuk dan mengikatnya pada badan merliana. “Bunga. Apa yang kamu lakukan?” Aku berkedip beberapa kali, gak ngerti maksudnya. “Handphone!” Aku baru ngeh sewaktu Rascal mengatakannya. Aku mengeluarkan handphone. Pada layarnya muncul sebuah lingkaran yang berputar-putar. Aku gak ngerti apa yang harus aku lakukan tapi mengingat bagaimana Steve dan Rascal memakai handphone mereka untuk menangkap setan. Aku hanya meniru mereka saja dengan mengarahkan layar ke arah merliana. Tiba-tiba badan merliana berubah jadi asap sebelum masuk ke dalam handphone. Setelah merliana terperangkap dalam penjara demon hunter. Satu persatu arwah anak-anak muncul. Mereka tersenyum kepadaku dan Rascal. Setelah mereka memandang tulang belulang dan jasad yang berserakan di dekat lubang yang dijadikan tempat kubur. Mereka menghilang begitu saja. “HONEY. RASCAL. APA YANG KALIAN LAKUKAN?” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN