Merliana dan Jatmiko melihatku dengan tatapan kaget. Tapi gak lama kemudian, merliana tersenyum. Ia meminta Jatmiko mendorong anak perempuan itu sampai menempel di dinding kaca. Merliana tersenyum, memandang anak itu sambil menjilat bibirnya sendiri. menyerap badan anak itu, membuat anak itu menjerit kesakitan. Aku terpaku, terlalu kaget sampai aku terpaku.
“Jangan sakiti anak itu!” Steve melemparkan cakranya ke dinding kaca. Membuat kaca itu retak dan retakannya perlahan semakin membesar sampai akhirnya pecah. Membuat air masuk ke dalam ruangan, membuat ruangan ini dipenuhi air.
“Steve. Aku gak bisa berenang.” Badanku diserang air, aku panik sekali. Berliter-liter air masuk ke dalam perutku melalui mulut dan hidung. Aku melambaikan tangan dan meronta, berusaha bisa terapung tapi ruangan ini benar-benar dipenuhi air.
Mungkin ini adalah akhir hidupku, seorang Bunga Lestari. Murid dukun terkenal dan gak punya rasa takut kecuali sama Tuhan dan juga ... pocong. Mati karena gak bisa berenang. Sangat menyedihkan sekali.
Napasku sesak, aku memang sempat menahan napas tapi sekarang aku benar-benar butuh udara. Badanku mengambang di dalam air, mataku terbuka, tapi aku gak bisa melihat apa-apa kecuali air yang berwarna hijau, biru atau ... entahlah.
Aku sedih sekali, yang paling ku sesalkan adalah karena aku gak bisa berlama-lama dengan Steve. Suamiku tercinta, lelaki yang sudah mencuri hatiku. Cowok yang mengganggu hari-hariku tapi sekaligus memberiku perhatian dan kasih sayang.
Steve, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi kurasa, ini saatnya aku dan kamu terpisah. Maafkan aku Steve.
***
“Honey. Bangun! Sadarlah, Hon!” Aku mendengar suara Steve.
“Hon. Jangan tinggalkan aku!” Seseorang menekan dadaku dan seseorang memasukkan udara melalui mulutku lalu ia menekan dadaku lagi dan meniupkan udara melalui mulutku.
Aku membuka mata, rasa pertama yang ku rasakan adalah ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku. Aku bangun, langsung membuang air dari dalam mulutku. Rasanya panas di tenggorokan, membuatku terbatuk-batuk yang sangat menyiksa.
“Seandainya aku tahu kamu tidak bisa berenang.” Steve tampak menyesal, napasnya masih tersengal-sengal. Mungkin karena tadi kami sama-sama terjebak dalam air.
Aku duduk, menepuk pundaknya. Memberinya senyum dan mengatakan kalo aku baik-baik saja. Meskipun sebenarnya tadi aku benar-benar putus asa. Aku gak menyangka dengan mudah dikalahkan oleh air. Mengingatnya aku jadi ingin tertawa.
“Ini tidak lucu, Honey.” Steve melotot, aku yakin dia marah karena terlalu khawatir denganku.
“Aku dikalahin sama air. Apa itu gak lucu?” Steve makin melotot karena ucapanku.
“Apa kamu baik-baik saja?” Steve kembali menanyakan hal yang sama. Aku menjawab kalo aku baik-baik saja.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?” Gak tahu kapan mereka datang, tahu-tahu ada segerombolan orang mengelilingi kami.
Mereka memandang pintu yang terbuka, berisi air yang sudah membasahi lantai ini. Begitu banyak air yang keluar sampai merendam seluruh ruang bawah tanah. Aku bahkan bisa melihat seekor ikan pari berenang melintasi tangga.
“Kita punya urusan. Anak muda.” Pria yang memakai jaket biru, memakai kacamata warna emas, menatap kami dengan rahang mengeras dan gigi geliginya bergemelutuk.
Mereka membawa kami ke ruang informasi dalam keadaan basah kuyup. Kami bertiga duduk di kursi panjang dalam keadaan menggigil. Pria yang memakai jaket biru duduk berseberangan dengan kami. Ia menatap kami seperti elang mau memangsa kelinci.
“Jelaskan padaku. Apa yang telah kalian lakukan?” tanyanya tegas.
Aku memandang Steve dan Rascal bergantian, aku jadi gugup menghadapi orang di depanku. Kesalahan kami pasti sangat besar karena sudah memecahkan kaca akuarium dan membuat ikan-ikan berenang ke ruang yang banyak mesinnya itu. Tapi ini tetap gak sebanding dengan nyawa anak-anak bukan?
“Maafkan kami. Tapi ada kejadian luar biasa terjadi di tempat ini. Kami melihatnya sendiri?” Steve mulai berbicara, kalo aku gugup maka Steve gak gugup sama sekali. Malah dia terlihat sangat percaya diri.
“Memangnya kejadian apa yang terjadi disana sampai kalian merusak akuarium. Aku memberi kalian kesempatan untuk menjawab. Tapi jika itu tidak bisa kuterima. Maka kalian harus bersiap masuk penjara.” Wajah pria itu memerah, dua tangannya terkepal. Aku yakin dia sedang menahan amarahnya.
“Apakah Bapak tahu jika disini sering terjadi kehilangan anak? Mereka semua belum ditemukan bahkan ada yang setelah berbulan-bulan lamanya.” Ucapan Steve membuat pria itu menatap Steve, tajam.
“Lalu apakah ada hubungan antara pecahnya kaca akuarium dengan kejadian itu? Ini sama sekali tidak relevan.” Mata pria itu menyipit, tatapannya masih tertuju kepada Steve.
“Apakah itu artinya anda tidak menyangkal kejadian itu? Apakah kasus ini sudah ditangani oleh polisi atau....” Steve menggantung ucapannya.
Pria itu tiba-tiba gelagapan, padahal jawabannya gak perlu mikir panjang. Pria itu memandang keluar, bersamaan dengan seorang pria yang masuk dan membisikkan sesuatu.
“Selamatkan mereka! Aku tidak mau kehilangan satu pun diantaranya.” Pria itu menyuruh pria yang membisikkan sesuatu untuk pergi.
“Kalian tidak melaporkannya.” Rascal melipat kedua tangannya, memandang pria itu dengan tatapan merendahkan dan ujung bibir kanannya terangkat.
“Kami bisa mengatasi masalah ini. Tidak perlu ada polisi.” Tiba-tiba pria itu menjadi gugup, ia melepaskan jaket birunya dan menunjukkan kaos merah berkerah.
“Tentu saja. Jika masalah ini ditangani polisi maka tempat wisata ini dalam bahaya. Pengunjung akan berkurang dan tempat ini akan mengalami kerugian besar. Butuh waktu lama untuk mengembalikan masalah ini.” Steve tersenyum, aku bisa melihat ada tatapan mengejek yang keluar dari sepasang matanya.
“Seberapa banyak yang kalian tahu?” Pria itu menatap kami bertiga secara bergantian.
Steve tergelak, aku gak ngerti dimana letak lucunya tapi Steve butuh waktu untuk meredam tawanya sendiri.
“Kami hanya tahu ada lima belas anak menjadi korban. Jika kami punya waktu lebih maka ... kami akan mengetahui yang lainnya.” Steve terdengar sedang mengancam.
“Tetap saja kalian tidak bisa seenaknya melakukan perusakan. Kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kalian sebabkan.” Pria itu membuatku kembali mengkerut. Aku takut masuk penjara bahkan kalo hanya sebentar.
“Tidak masalah. Kami akan mempertanggung jawabkannya. Hanya saja, apakah anda yakin ingin melakukan hal itu? Anda tidak tahu siapa saya...” Steve benar-benar jadi luar biasa berbeda, ada perasaan bangga karena orang pintar yang duduk di sebelahku adalah Steve Johnson, suamiku.
“Setidaknya butuh lebih dari seratus juta untuk memperbaiki apa yang telah kalian rusak,” kata pria memakai kaos merah berkerah itu.
“Setidaknya tempat ini harus ditutup karena sudah menghilangkan nyawa lima belas anak perempuan,” balas Steve.
“Tidak ada bukti. Kamu pikir polisi percaya kepada kalian?” tanya pria berkaos merah.
“Memang tidak. Kecuali jika kami adalah anggota mereka.” Rascal duduk tegak, ia memandang pria berkaos merah dengan tatapan mengejek. “Kami mengenal mereka dengan sangat baik. Aku yakin tempat ini benar-benar akan menjadi taman impian karena kami akan membuat tempat ini ditutup selamanya.” Rascal tersenyum lalu tertawa puas.
Pria berkaos merah menjadi berang, ia kembali menatap kami satu persatu. “Lalu apa yang ingin kalian lakukan?” tanyanya.
“Apakah benar anda tidak mengetahui masalah ini? atau anda sedang menutup mata dan berpura-pura bahwa hal itu tidak benar-benar terjadi?” tanya Steve.
Pria berkaos merah muda itu menarik napas dalam, ia mengusap mukanya sendiri. “Kami sedang menyelidikinya. Tidak ada petunjuk sama sekali. Jadi ini sangat sulit. Sehingga satu-satunya cara adalah menutup masalah ini dari publik.” Ini orang kok gak punya hati ya. Padahal sudah jelas korbannya anak-anak tapi kok dengan begitu tega membiarkan mereka menderita seperti ini.
“Kami bisa mengatasinya. Tidak perlua ada korban lagi.” Steve menawarkan bantuan.
Pria berkaos merah terhenyak lalu ia tertawa terbahak-bahak. “Siapa kalian bisa membantu kami? Sementara kami sudah melakukan investigasi menyeluruh tapi tetap saja hasilnya nihil,” katanya.
“Apa anda percaya ada hantu di dunia ini?” tanya Rascal, menghentikan tawa pria berkaos merah itu.
Pria berkaos merah itu langsung terdiam, beberapa lama ia berpikir sebelum ia menjawab “tidak. Aku tidak percaya,” jawabnya.
“Apakah anda percaya Tuhan benar-benar ada?” Kali ini Steve yang menanyakannya.
Pria itu kembali kaget tapi kemudian ia tersenyum. “Aku percaya. Aku seorang makhluk beragama,” jawabnya.
“Jika begitu. Anggap saja pertemuan ini adalah jalan dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah ini.” Steve mengangguk, membuatku ikut mengangguk.
Pria itu duduk tegak, dua tangannya ada di atas sandaran kursi. Telunjuk kanannya, mengetuk kursi yang berbahan kayu jati. “Menurut kalian. Siapa pelakunya?” tanyanya.
“Anda tidak akan bisa mempercayai jawaban saya meskipun itu jawaban yang sesungguhnya.” Aku gak tahu kenapa Steve kok bicara seperti itu tapi tetap saja aku diam, mendengarkan jawaban pria itu.
“Memangnya apa?” Pria itu sedikit mencondongkan badannya, menunggu jawaban Steve.
“Ini perbuatan demon.” Singkat padat dan jelas tapi pria itu malah tertawa lebar setelah mendengar jawaban Steve.
“Nonsense. Hantu, demon atau spirit itu tidak ada.” Pria itu kembali tertawa terbahak-bahak.
Steve melirikku, ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Panggil roserie. Minta dia menunjukkan dirinya di depan pria itu.” Aku jadi terkikik, membayangkan apa yang akan terjadi sama pria itu kalo melihat roserie.
“roserie, roserie, roserie.” Hanya butuh waktu sedetik bagi roserie untuk mencul di dekatku.
“Ros. Tunjukkan jati dirimu kepada pria itu!” Aku mengangguk, meyakinkan roserie untuk melakukannya.
Roserie merayap ke atas meja. Ia duduk selonjor dengan satu kaki ditekuk, bergaya seperti model-model iklan di TV.
“Hai ganteng.” Tepok jidat melihat bagaimana cara roserie menunjukkan jati dirinya. Benar-benar di luar pikiranku.
Pria itu terperanjat kaget. Ia reflek berdiri dan menyembunyikan dirinya di belakang kursi. “Siap ... siappa. Kamu?” Pria itu melotot, memandang roserie dengan wajah memerah karena ketakutan.
Steve tersenyum, “jadi apakah sekarang anda percaya hantu atau demon itu ada?” tanya Steve.
“Tto ... tolong minta dia pergi!” Pria itu masih ketakutan, tentu saja karena muka roserie gak ada bagus-bagusnya.
Atas perintah Steve, aku meminta roserie pergi. Hantu gaje itu pergi begitu saja.
Pria berkaos merah kembali duduk di atas kursinya. Keringatnya bercucuran, seperti orang yang habis lari memutari lapangan.
“Sebenarnya siapa kalian?” tanya pria itu setelah ia bisa meredam perasaannya.
“Kami ... polikhustral. Polisi khusus makhluk astral atau orang menyebutnya ... demon hunter.”