Anak-anak itu memutar badan ke kanan, mereka serentak berjalan pelan entah pergi kemana. Tapi yang jelas, aku harus mengikuti kemana pun mereka pergi. Aku terus ada di belakang mereka, mengamati bocah-bocah perempuan melewati akuarium lalu membelok ke kiri. Menuruni anak tangga, menuju ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan mesin-mesin yang aku gak mengerti kegunaannya. Juga ada kaca besar yang memisahkan antara tempat ini dengan dasar akuarium.
Aku penasaran banget, kemana arwah anak-anak itu pergi? Lalu dimana jasad mereka ditinggalkan? Kenapa anak-anak itu menjadi korban dan siapa sebenarnya merliana serta kenapa dia setega itu memangsa anak-anak yang gak berdosa.
Arwah anak-anak berjumlah lima belas anak, kira-kira umur mereka sekitar tujuh sampai sepuluh tahun. Satu hal yang menarik perhatianku, mereka semua berambut panjang, berkulit putih dan memiliki wajah yang cantik. Tapi aku gak tahu apakah karena mereka cantik terus akhirnya mereka dibunuh.
Tiba-tiba mereka berhenti lalu memutar badan, aku langsung sembunyi di lekukan tembok diantara akuarium, menekuk pundak biar gak kelihatan oleh mereka. Ini terlalu awal buat ketahuan, walau pun aku gak ngerti apakah mereka akan mengadu atau apalah tapi satu hal yang pasti, siapapun gak boleh tahu kalo aku sedang melakukan penyelidikan, seperti di film James Bond yang pernah ku tonton di TV.
Menunggu sambil menghitung satu sampai sepuluh, aku memberanikan diri untuk mengintip mereka. Mengamati situasi dan memastikan kalo aku benar-benar aman.
Fiuh, untung saja mereka sudah kembali berjalan. Ya ampun, baru kali ini aku deg-degan banget. Berasa jadi James Bond beneran yang sedang menyelidiki kasus besar.
Aku kembali mengikuti mereka, kali ini aku lebih hati-hati dan selalu menjaga jarak. Anak-anak itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat sempit, mereka berdiri berjubel tanpa ekspresi. Aku memutuskan untuk menunjukkan diriku kepada mereka dengan berdiri di depan pintu, berhadapan dengan mereka.
Mereka menatapku dengan mata berkaca-kaca, ada kesedihan yang terlihat sangat jelas. Siapapun pelakunya, mereka gak punya hati. Tapi merliana adalah setan, jelas dia gak punya hati. Aku jadi benar-benar kebawa perasaan, menangis sesenggukan tapi langsung ku hapus. “Kalian tunggu sebentar! Aku akan menyelamatkan kalian semua.” Aku berjanji.
Kepala arwah anak-anak tertunduk, aku yakin mereka sedang sangat bersedih karena sudah mengalami penderitaan seperti ini. Aku gak akan memaafkan merliana. Setan seperti dia harus dimusnahkan dari dunia ini. Aku akan memastikan kepunahannya.
“Apa yang kamu lakukan disini?” Seseorang membuatku kaget sekali. Aku menoleh, meski begitu, aku menoleh lagi untuk melihat kondisi anak-anak, tapi sayangnya mereka sudah menghilang entah kemana.
“Ini ruang kontrol. Bukan ruangan untuk pengunjung.” Seorang pria tinggi kurus, memakai seragam sea world memintaku untuk keluar.
“Maaf, Pak. Saya kesasar eh maksud saya, saya tersesat.” Aku meringis, bingung juga mencari alasan kenapa aku masuk kesini. Aku juga gak kepikiran mau mengatakan masalah yang sesungguhnya. Takut kalo dia gak percaya dan menganggapku sebagai orang gila.
Pria itu mencekal tanganku, menarik paksa dan dengan kasar sampai aku kembali berada di depan pintu.
Di luar, Steve dan Rascal sudah menunggu. Pria itu dengan kasar melepasku dengan sedikit mendorong sampe badanku hampir terjungkal kalo bukan karena Steve ada di depanku. Aku melotot, menatap wajah pria bernama Jatmiko, tertulis di papan nama yang menempel di sebelah kiri orang itu.
“Seharusnya anda bisa melihat tulisan ini.” Pak Jatmiko menunjuk tulisan staff only.
“Iya, Pak. Maaf.” Aku memilih mengalah, daripada mata Pak Jatmiko lepas dari lubangnya karena melotot.
Pak Jatmiko masih melirikku dengan ekor matanya sambil menutup pintu, menguncinya lalu meninggalkan kami. Ya ampun, benar-benar tuh orang. Aku gak ngambil apa-apa disana, lagipula gak ada sesuatu yang menarik di bawah sana kecuali arwah anak-anak itu.
“Kita harus keluar.” Steve melangkah, tapi aku gak ingin keluar dari tempat ini. Kalo perlu, aku akan menginap semalam untuk menyelamatkan arwah anak seorang ibu yang pasti masih menangis sambil mencari anaknya. Siapa tahu anak itu masih bernapas, arwah yang dikurung di bawah bisa jadi adalah arwah dari orang mati suri. Walau gak terlalu yakin, tapi seenggaknya masih ada harapan.
“Steve. Ada lima belas arwah anak dibawah sana. Aku tadi melihat merliana mengeluarkan arwah itu dari tubuhnya. Aku ingin menuntaskan masalah ini,”
Steve membalikkan badan, ia menatapku beberapa lama sebelum mengembuskan napas ke udara. “Pihak sea world tidak mengijinkan kita menangani kasus ini. Mereka lebih percaya dengan polisi daripada kita, POLIKHUSTRAL.”
Walah, tumben ini bocah menyebut dirinya sebagai anggota POLIKHUSTRAL. Biasanya dia lebih suka menyebut dirinya sebagai seorang demon hunter.
“Anak-anak jadi korban, Steve. Bisa jadi besok atau lusa. Merliana akan melakukan aksinya lagi. Kasihan anak-anak yang jadi korban.” Aku bersikeras. Gak bisa membayangkan ada ibu lain yang menangisi anaknya. Tempat ini harusnya menjadi tempat yang memberi kebahagiaan untuk anak-anak, bukan tempat yang menyeramkan.
“Ku rasa Bunga, benar. Jangan hanya menunggu perintah kecuali kamu mau korban lebih banyak lagi.” Rascal membelaku. Aku yakin dia juga kasihan sama anak-anak itu.
“Tapi....”
“Steve. Seandainya kita punya anak perempuan. Terus anak kita jadi korban orang jahat. Apa kamu rela?” Aku berusaha mempengaruhi Steve.
“Kamu benar. Kita harus menyelidiki masalah ini dan menyelesaikannya. Tapi aku harus menghubungi kantor...”
“Tidak perlu. Aku yakin jawaban mereka pasti tidak,” sela Rascal.
Steve mengangguk, aku yakin dia juga setuju dengan Rascal. “Meski benci tapi aku akui, kamu benar, Ras.” Steve menepuk pundak Rascal, membuat Rascal tersenyum tipis.
“Kita harus mencari tempat persembunyian. Kecuali jika kalian berdua ingin cepat tertangkap dan disuruh keluar dari tempat ini.” Rascal menggerakkan kepalanya ke arah pintu staff only.
Aku tersenyum, tentu saja tempat ini adalah tempat yang paling tepat untuk bersembunyi sampai malam datang.
Steve membuka pintu, ia masuk terlebih dulu. Aku dan Rascal masuk setelahnya. Menuruni anak tangga, bersembunyi di balik sebuah tong yang sangat besar. Aku memandang pintu yang gak jauh dari tabung. “Disitu anak-anak tadi.” Aku menunjuknya.
Steve dan Rascal memandang pintu itu lalu Steve berdiri, berjalan mendekati pintu dan membukanya. Raut wajah Steve terlihat kaget. Aku dan Rascal spontan berdiri dan mendekatinya.
Lima belas arwah anak-anak memandang kami dengan mata kaget, termasuk gadis kecil berbaju putih dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda.
“Apa ini semua ulah merliana?” tanya Steve.
Ke lima belas anak itu mengangguk bersama-sama lalu menunduk bersama-sama. Tentu saja ini ulah merliana, hanya setan yang tega menyakiti anak-anak.
Terdengar pintu terbuka, Steve segera menutup pintu. Kami bertiga kembali menyembunyikan diri di balik tabung besar.
Aku mendengar suara langkah seseorang, semakin lama semakin mendekat. Aku, Steve dan Rascal saling berpandangan. Steve mengkode kami untuk berpindah, kami bertiga jalan sambil jongkok memutari tabung dan berhenti di balik tabung.
“Halo anak-anak manis. Sebentar lagi, kalian akan mendapat teman baru.” Orang yang baru saja datang berbicara kepada arwah anak-anak.
Jadi masalah ini gak cuma urusan setan, tapi juga berurusan dengan manusia. Sungguh kejam siapapun orang yang menyakiti anak-anak gak berdosa seperti mereka. Aku mau bangkit, ingin menghajar orang itu tapi Steve menahan lenganku. Memintaku untuk kembali bersembunyi sampai orang itu kembali keluar.
Setelah orang itu keluar, Steve kembali mengamati tempat ini. Ia mengembuskan napas berat, menjatuhkan pantatnya di lantai yang dingin. “Ku rasa ini bukan hanya berurusan dengan demon saja,” katanya.
“Jika demon hunter tidak mendapat laporan tentang masalah ini. Artinya....” Rascal dan Steve saling mengangguk.
“Tentu saja. Seharusnya kita menyadari sejak pertama mendengar kasus itu.” Steve terkekeh, aku gak ngerti apanya yang lucu.
“Sebaiknya kita biarkan saja. Jangan ikut campur!” Rascal berdiri, ia memandang pintu dimana arwah anak-anak disembunyikan.
“Tidak bisa seperti itu. Nyawa anak-anak jadi taruhan.” Steve berdiri, menahan lengan Rascal yang sudah mau melangkahkan kaki.
“Urusannya akan runyam.” Rascal menoleh lalu mulai melangkah.
“Tidak biasanya kamu seperti ini Rascal. Apakah kamu sekarang menjadi ... pengecut.” Wow, ucapan Steve benar-benar bisa jadi masalah besar.
“Jangan menyebutku pengecut.” Tuh kan, Rascal jadi marah besar. Ia memutar badan, mendorong pundak Steve dengan tatapan siap membunuh.
“Jika begitu. Buktikan!” Steve sedang menantang Rascal.
“Kita akan kena masalah. Aku yakin kamu tahu itu,” kata Rascal.
“Aku tahu. Tapi itu lebih baik daripada harus kehilangan nyawa anak-anak satu persatu. Kamu sudah melihatnya sendiri kan? Kita harus menemukan jasad mereka.” Steve menunjuk ke arah pintu.
Rascal menghela napas, ia melirik Steve dengan sudut matanya. Berkacak pinggang dan mendongak. “Ya, kamu benar.” Rascal kembali melirik Steve.
“Sebenarnya kalian ngomong apa sih? Aku gak ngerti.” Aku gak ngerti dengan pembicaraan Steve dan Rascal. Mereka kayak kode-kodean.
Steve memandangku lekat, ia memegang dua pundakku. Tatapannya serius, “kita akan mengurus masalah ini. Bunga, kita harus menyelamatkan nyawa anak-anak yang mungkin saja menjadi korban selanjutnya,”
Aku tahu, sejak awal aku memang punya niat untuk menyelamatkan nyawa seorang anak. “Aku tahu, Steve. Kita harus menyelamatkan anak-anak di ruangan itu. Meskipun hanya dengan mengembalikan jasad mereka kepada keluarganya.”
“Bisa jadi anak-anak itu hanya mati suri. Kita bisa mengembalikan jiwa mereka ke raganya.” Aku masih berusaha yakin kalo anak-anak itu masih punya kesempatan bernapas.
“Mungkin saja. Walaupun itu sangat kecil.” Steve ragu, tapi ia tetap mengatakannya.
“Tolong. Tolong....” Suara anak kecil membuatku terhenyak kaget.
Kami bertiga kembali menyembunyikan diri di balik tabung. Seorang pria menarik badan anak perempuan yang meronta untuk melepaskan diri. Aku mengintip, ku lihat pria itu sudah berdiri di depan akuarium. Mengikat dua tangan anak itu di belakang punggungnya.
“Merliana, Sayang. Aku membawa makanan untukmu.” Jatmiko mengetuk dinding kaca.
Setan perempuan yang sangat cantik, berada di balik dinding kaca. Ia tersenyum memandang Jatmiko dan anak perempuan yang terlihat sangat ketakutan. Aku gak bisa hanya tinggal diam.
“Lepaskan anak itu!” Aku berdiri, memandang Jatmiko dan merliana. Aku akan membunuh mereka berdua.