Melihat akuarium raksasa dengan berbagai jenis ikan dan tumbuhan laut membuat mulutku terbuka lebar. “Huaa. Keren banget ya.” Aku gak berhenti untuk berdecak kagum.
“Steve ayo kita kesana!” Aku menarik tangan Steve, mengajaknya untuk melihat ikan yang ada di dalam sebuah film kartun. “Itu nemo dan dory.” Baru sekali ini aku melihat dua ikan itu. Ku pikir ikan itu sebesar ikan gurami siap panen tapi ternyata kecil sekali.
Aku mengamati ikan-ikan yang lain. Dengan senyum lebar, aku sangat mengagumi tempat ini. Luar biasa sekali.
“Anakku ... anakku.” Seorang ibu-ibu berjalan cepat sambil celingukan mencari anaknya yang hilang.
Seorang security menghentikan ibu itu, menanyakan tentang ciri-ciri anaknya yang hilang lalu security segera mengajak ibu itu ke kantor.
“Kepada seluruh pengunjung sea world Indonesia. Apabila mengetahui seorang anak berusia lima tahun. Berambut keriting, berkulit sawo matang memakai kaos hijau bergambar hiu dan memakai celana jins. Mohon untuk membawanya ke ruang informasi. Sekali lagi....” Semua pengunjung mendengarkan pengumuman itu.
Semua orang membicangkan masalah ini, ada yang mencaci, mengatakan ibunya gak becus menjaga anaknya. Ada juga yang merasa iba karena ada anak yang terpisah dari orangtuanya. Suasana yang sudah rame jadi lebih rame lagi. Semua orang melihat kanan dan kirinya, mencari tahu apakah anak yang disebutkan ada di sekitar mereka. Termasuk aku.
“Asyik sendiri sih. Sampe anak pergi, gak tahu.” Seorang wanita memakai baju hijau dan berbadan gemuk berbicara.
“Mungkin karena terlalu rame, jadi anaknya lepas dari ibu itu. Kasihan...” komentar seorang perempuan memakai jilbab lebar.
“Kasihan anaknya. Pasti ketakutan karena terpisah dari ibunya,” celetuk seorang wanita memakai kaos merah dan celana leging.
“Jangan-jangan dia jadi korbannya merliana,” bisik seorang pria kepada seorang wanita di sebelahnya.
“Apa maksud anda?” Steve menoleh, menaruh minat sama ucapan pria berbadan gembul dan perutnya buncit.
Pria itu memandang Steve beberapa lama, ia lebih mendekat ke Steve. Berjinjit lalu membisikkan sesuatu kepada Steve. Membuat suamiku kaget sambil berpandangan dengan pria itu.
“Tapi ini masih gosip Mister. Hanya saja, gosip ini sudah lama terdengar. Kalo gosip ini benar, itu artinya sudah banyak korban dia,” kata pria itu.
Aku penasaran dengan apa yang dibicarakan pria itu dengan Steve. Aku memandang Steve lalu Rascal, berharap cowok itu tahu tapi melihat tatapan Rascal, aku tahu dia gak tahu.
“Apa yang ia katakan?” Rascal memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana. Memandang Steve dan menunggu jawabannya.
“Ku rasa, kita harus bertanya langsung dengan staf tempat ini.” Steve melangkah lebar, menarik tanganku untuk mengikutinya.
Melewati kerumunan orang yang sedang menikmati rekreasi mereka dan kali ini sepertinya acara liburanku sudah berakhir. Saat melewati akuarium berisi puluhan ikan piranha. Aku melihat puluhan anak kecil, berdiri berjajar, memandang aku, Steve dan Rascal. Melihat betapa pucat kulit mereka, ada lingkaran hitam mengelilingi mata mereka dan tatapannya kosong. Aku tahu kalo mereka adalah arwah penasaran.
Aku, Steve dan Rascal berada di ruang informasi. Memandang wanita yang kehilangan anaknya, duduk di dalam ruangan kecil dan terlihat sangat gelisah. Ia bangkit, berjalan ke depan pintu dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Badannya gemetar, dua tangannya ditautkan dan dijadikan mainan, sesekali ia menggigit kuku untuk meredam kekhawatirannya.
“Saya perlu menemui manager tempat ini.” Steve menahan seorang pria memakai seragam sea world.
“Anda siapa?” Pria itu memandang Steve, penuh waspada.
“Katakan padanya. Putra Damian dan Dania ingin menemuinya.” Rascal mengucapkannya dengan penuh keyakinan.
Sesaat pria itu bergeming, tetapi melihat keseriusan Steve dan Rascal. Pada akhirnya pria itu keluar dan meminta kami menunggu managernya datang menemui kami.
***
Manager sea world yang bernama Pak Dino mengatakan kalo dalam setahun belakangan telah terjadi hal yang sangat aneh sekali. Kejadian pertama, terjadi setahun yang lalu. Seorang ibu meminta bantuan petugas untuk mencari keberadaan anaknya. Semua tim diturunkan untuk membantu pencarian, tetapi sampai saat ini, anak itu masih belum ditemukan. Bahkan membuat sea world menghubungi polisi untuk membantu pencarian. Tapi hasilnya nihil.
Kata Pak Dino, hal seperti ini terjadi setiap satu bulan sekali. Tapi sea world menutupi masalah ini sampai menemukan jalan yang terbaik. Pak Dino takut, apabila sampai membenarkan gosip, maka bisa dipastikan kalo sea world bakal sepi dan tentu saja pemasukan jauh dari target mereka.
“Jadi selama ini. Saya dan teman-teman polisi. Sedang menyelidiki kasus hilangnya anak-anak perempuan yang sampai sekarang belum ditemukan.” Pria berbadan gemuk dan pendek, yang gak lain adalah manager tempati ini terlihat kalut.
“Apakah ada kecurigaan lain selain penculikan atau mungkin ada benang merah dari kejadian ini?” Rascal duduk dengan dua tangan terlipat, punggungnya bersandar dengan nyaman.
Pak Dino menggeleng. “Polisi sampai saat ini masih menyelidikinya. Saya tidak bisa memberi tahu anda tentang masalah ini kecuali ... ah tidak-tidak. Kita tunggu saja penyelidikan polisi nanti.” Pak Dino gusar, wajahnya memucat.
“Apakah ini ada hubungannya dengan Merliana?” tanya Rascal.
Mata Pak Dino terbelalak, ia kaget mendengar pertanyaan ini. “Aku tidak tahu. Rasanya aneh jika anak manusia diculik setan tapi entahlah. Aku tidak berani mengatakan apapun tentang kejadian ini. Ini sangat ... misterius.”
“Merliana itu siapa?” Aku bertanya-tanya. Pak Dino memandangku setengah gak percaya tapi aku memang penasaran tentang merliana.
“Setahun yang lalu, kami mendapat kiriman seekor dugong. Esoknya, kejadian itu terjadi. Diikuti kejadian-kejadian yang lain. Kisah merliana muncul begitu saja, aku rasa ini ulah pengunjung yang menyangkut pautkan masalah ini dengan sesuatu yang berbau mistis,” terang Pak Dino.
“Lalu seperti apa merliana ini? Jika saya boleh tahu,” tanya Steve.
“Katanya, merliana berbentuk putri duyung yang sangat cantik dan kecantikannya didapat dengan menyerap jiwa anak-anak. Ini tidak masuk akal sama sekali.” Pak Dino jelas gak akan mempercayai hal semacam ini. Dia orang kota, orang Jakarta yang sangat modern.
Sesaat suasana hening, Pak Dino terlihat lemas. Ia meremas rambutnya sendiri lalu menghela napas. Seorang pria yang berseragam sea world datang. Ia membawa sebuah pakaian anak perempuan dan diserahkan kepada Pak Dino. Setelah membisikkan sesuatu, pria itu pergi begitu saja.
“Ada apa?” Rascal memandang baju berwarna putih dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda yang diremas Pak Dino.
Pak Dino bergeming, ia sedang larut dalam pikirannya. Tapi aku yakin baik Steve dan Rascal pasti sudah tahu kalo masalah ini memang ada sangkut pautnya dengan setan atau dedemit yang bernama merliana. Tapi sayangnya, sampai saat ini Pak Dino gak mau membahas siapa merliana sebenarnya.
Setelah berbincang dengan Pak Dino. Steve memutuskan akan menyelidiki masalah ini. Kami bertiga sangat menyayangkan karena pihak pengurus tempat ini gak berpikir kalo bisa saja gosip itu benar adanya. Seandainya mereka melakukannya, anak-anak gak perlu menjadi korban setan itu.
“Rascal. Kamu lihat kesana! Kita harus menemukan sosok merliana.” Steve memerintahkan Rascal. Membuat cowok yang sedang memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam dan celana coklat ini melotot.
“Baik. Aku saja yang kesana. Kamu cari disini.” Rascal tetap saja melotot meski Steve merubah perintahnya.
“Kamu bukan ketua timnya,” tukas Rascal.
Aku melotot, dua orang ini pasti mau adu mulut lagi. Di saat seperti ini pun masih saja mereka sempat-sempatnya mau bertengkar. “Kalian berdua cari disini. Aku yang nyari disana.” Aku melangkah tapi Steve menarik tangan kiriku sementara Rascal menahan tangan kananku.
“Kalian cari disini. Aku akan menyelesaikan masalah ini jika menemukannya disana.” Rascal akhirnya mengalah, membuatku tersenyum senang karena akhirnya ada yang mau mengalah.
“Ayo Hon!” Steve mengajakku berkeliling. Tempat ini masih ramai pengunjung tapi tetap gak menyurutkan semangat Steve dan Rascal untuk menyelidiki kasus ini. Sementara aku sendiri mending menikmati tempat ini karena belum tentu ada kesempatan lain bisa mengunjungi tempat terindah yang pernah ku lihat.
Berada di tengah akuarium dengan berbagai jenis ikan beraneka ragam bentuk, membuatku kembali berdecak kagum. Di kanan, kiri dan atas hanya berisi air dan ikan-ikan yang sibuk berenang. Aku mendongak, melihat hiu yang sangat besar sedang melintas.
“Steve ... kapan-kapan kita kesini lagi ya...” Aku kembali memandang Steve. Bocah itu berubah jadi serius sejak tahu ada masalah dengan tempat ini.
Aku menelengkan kepala, memandang Steve yang sibuk menanyakan soal merliana ke sosok pria dengan tanduk di kepalanya sementara badan bagian bawahnya adalah ekor ular. Abaikan Steve yang sibuk, aku juga harus menyibukkan diri dengan menikmati akuarium ini.
Aku memutar badan, menghadap akuarium dimana seekor pari sedang melintas. Ikan-ikan kecil melintas secara bergerombol. Karang-karang berwarna warni dengan anemon yang melambai-lambai dihiasi ikan hias yang beaneka jenis dan rupa.
Saat aku asyik melihat ke arah air berwarna biru ini, dari kejauhan muncul ikan lain yang semakin lama semakin besar dan semakin jelas. Membuat mataku melebar dan membulat, menelan ludah dengan susah payah karena aku melihat seekor putri duyung yang sangat cantik jelita.
Aku gak yakin apakah dia bisa melihatku atau enggak tapi sekarang ia sudah berdiri di depanku. Menatapku sambil tersenyum cantik sekali. Kulitnya begitu mulus. Badan atasnya hanya ada penutup d**a yang terbuat dari cangkang kerang sementara dari bawah pusar sampai ekornya, dihiasi sisik berwarna biru keperakan yang sangat indah.
Di saat aku masih takjub dengan apa yang ku lihat. Putri duyung itu meniup, mengeluarkan asap berwarna putih ke arah kaca jendela. Asap keluar dari mulutnya dan tembus keluar, membentuk sosok seorang anak perempuan berambut panjang dan memakai baju berwarna putih dengan motif bunga-bunga, sama seperti baju yang tadi dipegang oleh Pak Dino.
Anak perempuan itu berdiri, berhadapan dengan putri duyung. Putri duyung itu menunjuk ke arah kirinya. Aku mengikuti arah telunjuk yang berakhir pada barisan hantu anak-anak yang ku lihat tadi. Gadis kecil itu melangkah pelan menuju ke barisan anak-anak yang lain.
Aku kembali memandang si putri duyung. Aku baru sadar bahwa putri duyung yang masih memandangku sambil tersenyum ini gak lain dan gak bukan adalah...
Merliana.