Pergi Ke Dufan

1571 Kata
Akhirnya misi selesai sudah, aku bisa jalan-jalan ke Dufan seperti yang aku inginkan. Walau libur cuma sehari, aku ingin sekali melihat dufan dan sea world. Mobil baru saja diparkirkan tapi aku gak mau berlama-lama di dalamnya. Aku keluar, memandang laut yang sangat indah. Angin bertiup sepoi-sepoi, langit sangat cerah dan ini waktu yang tepat buat jalan-jalan. “Ayo ke dufan!” Steve menarik tanganku, mengajakku berjalan cepat dan meninggalkan Rascal yang baru saja mengunci pintu mobilnya dengan remot. Aku menoleh, kasihan juga si Rascal kalo jalan sendirian. Pasti gak enak, aku sudah pernah merasakannya waktu rekreasi jaman sekolah dulu. Luntang-lantung kayak lutung, jadi bahan tontonan orang apalagi Rascal punya badan bongsor, jelas hampir semua orang melirik kepadanya. “Ajak Rascal sama kita, Steve!” Aku menghentikan langkah, menunggu Rascal mendekat. Steve kembali mencekal tanganku, mengajakku meninggalkan sepupu kami. Cekalannya kali ini lebih kuat, aku jadi gak bisa menarik tanganku darinya. “Steve...” “Buat apa jalan sama dia, Hon? Sekali-kali kita kencan. Kita jarang sekali jalan berduaan kan?” Steve merangkul pundakku, mengajakku berjalan ke dufan yang tempatnya dekat dengan sea world. Kami berdua mendekati tempat penjualan tiket, hari minggu yang sangat cerah membuat orang berbondong-bondong ke dufan. Antrian panjang seperti ular, baru melihatnya saja aku sudah gerah gak karuan. “Steve. Aku sekalian ya.” Tahu-tahu Rascal sudah berdiri di belakangku, ada senyum mengejek tersungging di bibirnya. Steve memutar badan, ia melotot. Menarikku masuk ke rangkulannya. Rascal tertawa terbahak-bahak. Steve benar-benar membuatku malu karena tingkah kolokannya kambuh lagi. Tapi ada perasaan senang juga sih karena Steve yang inilah yang sudah membuatku klepek-klepek dengan cara aneh, tentu saja. Steve masih merangkulku saat kami masuk ke dufan. Begitu erat sampai aku menempel erat seperti prangko dan amplop. “Steve. Gerah tahu. Lepasin!” Aku menarik lengannya dari pundakku tapi Steve kembali menempel. “Hei, lihat! Banyak pasangan disini yang suka menempel.” Steve menunjuk pasangan yang sedang asyik foto pake tongsis, keduanya sedang pelukan di tengah keramaian. “Ya wajar Steve. Namanya juga foto-foto. Kalo sudah kan pasti dilepasin juga,” Tapi ternyata enggak begitu, setelah selesai foto-foto. Pasangan itu tetap menempel seperti kami. Steve memandangku sambil tertawa puas, aku jadi manyun karenanya. Di kampung mah jangankan pelukan, gandengan tangan aja sembunyi-sembunyi. Kalo enggak begitu, bisa dikawinin kayak aku dan Steve yang ketangkap basah ciuman di taman, padahal tempat itu rimbun banget. Aku tersenyum, selalu seperti ini kalo teringat kejadian saat itu. Begitulah aku dan Steve menjadi sepasang suami istri meski hanya dengan ikatan agama dan disaksikan pihak kelurahan. Aku kok jadi lupa kalo hubungan kami belum diresmikan di KUA ya? Ya sudahlah, entar aja diurus. Sekarang ayo bersenang-senang... Aku memandang taman bermain yang sangat luas dan sangat indah. Mainan-mainan berukuran raksasa membuatku semakin bersemangat. Aku memandang papan penunjuk. Membaca apa saja yang ada disana. Pandanganku tertumbuk ke dunia boneka. Pasti lucu sekali disana. “Steve, ayo ke dunia boneka,” rengekku. “Kita kesana, Hon!” Steve mengajakku mendekati kapal yang sangat besar, yang berayun-ayun dengan kencang. Aku meronta, malas sewaktu melihat antrian yang luar biasa tapi Steve terus memaksaku. “Steve. Aku kan minta ke istana boneka.” Aku menautkan dua alis, mencebik. Steve menyolek daguku, mengacak-acak rambutku. “Nanti, Hon. Wahana keren banyak sekali. Pertama kita main kora-kora, kicir-kicir, pontang-pontang, ontang-anting, halilintar dan yang terakhir istana boneka,” Ya ampun Steve, ngapain main kesini buat kora-kora (cuci piring dalam bahasa Jawa). Aku kembali melongok antrian yang masih sangat panjang dan saat tahu mainan kapal ini bernama kora-kora aku hanya bisa mengangguk-angguk. “Ras. Pergilah! Kamu jangan mengikuti kami.” Steve membuatku menoleh, lagi-lagi Rascal ada bersama kami. Ia pun lagi-lagi tersenyum senang melihat sepupunya manyun. “Ini tempat umum. Aku bisa kemana pun ku suka,” ucapan Rascal membuat Steve kembali membuatku gerah, ia lagi-lagi merangkul pundakku erat. Setelah menunggu lama, akhirnya kami bisa duduk di barisan paling belakang kapal super besar ini. Steve duduk di samping kananku sementara Rascal ada di sebelah kiriku. Steve merapikan anak rambutku yang keluar dari kunciran kuda, ke belakang telinga. “Hon. Kalo takut, teriak yang keras ya...” “Konyol!” Rascal untuk ke sekian kalinya membuat Steve melotot. Suara bel terdengar, gak lama kemudian kapal mulai berayun maju lalu mundur. Semakin lama semakin keras sampai aku bisa melihat bawah kapal sebelum kapal barayun maju. Seru memang tapi aku sudah mengalami hal yang jauh lebih seru kemarin. Gak ada yang aku rasakan selain terpaan angin kencang sejalan dengan ayunan kapal. Setelah kapal berhenti, Steve memandangku lekat. “Are you okey?” Steve kembali merapikan rambutku yang berantakan. “Ya ampun Steve. Semalam aku terbang sama naga. Apa kamu pikir, ini menakutkan?” Aku geleng-geleng, gak ngerti kok bocah ini bisa jadi dodol kalo lagi jadi Steve super konyol. Rascal tertawa terbahak-bahak, ia berdiri dan menarik tanganku sampai aku berdiri. Steve mendorong pundak Rascal, ia kesal sekali. Tapi Rascal malah tersenyum geli sambil mengedipkan satu mata lagi. Ampun dah, pasti hari ini aku lewatkan dengan banyak masalah gara-gara Rascal dan Steve. *** Hampir semua mainan yang besar dan menantang tapi membosankan untukku sudah kami datangi. Kali ini kami duduk di sebuah mainan kalo di pasar malam kami menyebutnya dermulen, kalo disini disebut bianglala tapi ukurannya jauh lebih besar. Bersama Rascal yang asyik duduk di depanku dengan dua tangan terlipat. “Rascal. Aku rasa kamu hanya iri melihatku dan Bunga. Carilah pacar! Kamu terlalu lama sendirian.” Kali ini Steve yang tertawa senang, sementara Rascal mengerutkan bibirnya. “Aku sudah menemukan mate-ku. Yang aku lakukan hanya menunggunya.” Rascal membuat tawa Steve semakin kencang. “Ini dunia nyata. Kenapa kamu menunggu mate seolah-olah kamu werewolf dalam film.” Steve gak berhenti tertawa. “Sudah ah. Kalian ini kenapa sih? Dari tadi ribut mulu. Gak cape apa? Kita nikmati libur kita dengan tenang. Nikmati ketinggian dan rasakan angin yang bikin seger ini.” Aku menghirup udara dalam-dalam. “Bunga benar. Steve bodoh.” Steve menyerang Rascal, membuat kotak berayun kencang. Aku menepuk p****t Steve kuat-kuat lalu menarik pinggangnya, membuatnya kembali duduk sambil merangkul pundakku. “Kalo kita jatuh karena kalian. Aku bakal jadi hantu dan menghantui kalian.” Aku melotot kepada Rascal dan Steve bergantian. “Habis ini kita ke istana boneka. Kalo kamu gak mau, aku kesana sendirian.” Aku mengancam Steve. “Aku bisa mengantarmu,” sahut Rascal. “Oke, Honey bunny. Kita kesana ya.” Steve mengerucutkan bibir, bersiap nyosor bibirku di depan Rascal. Bocah g****k ini sudah bener-bener jadi Steve. Gak keren banget dah kalo gini. Aku mengambil botol air mineral dan menempelkannya ke bibir Steve. “Nih cium botol. Adem kan?” Steve terkejut lalu tertawa, tapi Steve adalah Steve kalo gak bisa ambil kesempatan, bukan Steve namanya. Ia mencium pipiku, membuatku melotot sambil menyentuh pipi bekas ia cium. Steve tertawa senang, ia kembali melingkarkan lengan di atas pundakku. Dan kembali berusaha menciumku membuatku sukses mencubit pinggangnya. *** Duduk di sebuah kereta, diapit Steve dan Rascal yang membuat tempat ini sempit. Aku masuk ke istana boneka. Pada awalnya aku senang setengah mati karena mau melihat boneka-boneka lucu dengan memakai pakaian adat. Tapi ternyata bukan itu yang aku lihat. Boneka-boneka itu memang lucu. Tapi sayangnya, di dalam tempat yang gelap dengan lampu-lampu kecil yang menerangi boneka. Terlalu banyak hantu disini, tempat ini jadi terlalu panas karena kehadiran mereka. Ada kuntilanak dengan lubang berdarah di punggungnya, sedang asyik menimang anak yang gak lain sebuah boneka. Aku jadi ilfil karena keberadaan mereka mengganggu pemandangan. Tapi apa boleh buat, karena aku memang demon hunter yang punya kemampuan melihat setan. Aku harus fokus hanya melihat boneka dan berusaha gak memandang mereka.Tapi aku jengkel sewaktu Ada setan anak kecil dengan kepala yang dicabut lalu ditempelin di lehernya berulang kali, seolah dia sedang meniru gaya boneka yang sedang bergerak-gerak. Kereta tiba-tiba berhenti tepat di sebuah boneka memakai baju adat Jawa. Aku memotret boneka itu lalu memotret diriku sendiri dengan handphone. “CILUK BA....” Pocong tiba-tiba muncul dengan muka hitam kecuali bagian mata, menggelantung dengan kepala di bawah, tepat di hadapanku. Sontak aku menyembunyikan wajah ke d**a Steve. Sialan tuh pocong, muncul gak pake permisi. “Steve. Usir pocong sialan itu.” Aku semakin kencang memeluk Steve. Seseorang menarik badanku, membuatku membelalakkan mata karena ternyata cowok yang ku peluk tadi adalah Rascal. Aduh, salah peluk orang ini. Steve melotot, kali ini kepalaku tertunduk malu banget. Tapi Steve tersenyum, mendongakkan kepalaku dan membelai pipiku. “Aku tidak marah Honey. Kamu tidak sengaja. Kamu menyebut namaku saat memeluk, srigala jadi-jadian itu.” Steve melotot ke Rascal. Aku tersenyum, senang karena Steve mengerti kalo aku salah orang. Fiuh, tadi sempat takut kalo Steve bakal berantem beneran sama Rascal. Aku menggelayut manja di lengan Steve, sesekali memandangnya sambil tersenyum cantik. Steve merapikan anak rambut di belakang telingaku. Memainkan daguku dan mencolek hidungku. Aku senang bisa jalan sama Steve meski kami gak pernah pergi berduaan. Selalu aja ada orang yang menemani, tapi itu gak membuatku terganggu. Asalkan mata Steve hanya melihatku dan mataku hanya melihatnya, itu sudah cukup. Perjalanan di istana boneka akhirnya berakhir. Setelah kereta berhenti, Steve membantuku untuk keluar. Kami berjalan ke pintu keluar, meski masih kurang puas tapi waktu berlalu sangat cepat. Steve mengajakku ke sea world sebelum kami kembali lupa waktu. Berjalan bergandengan tangan, layaknya pasangan yang sedang b******a. Aku merasa sudah sangat lama gak melihat Steve seperti sekarang. Kami berada di depan gedung sea world, menunggu antrian untuk bisa masuk ke dalam. Aku gak sabar ingin cepat masuk, melihat akuarium besar bersama Steve-ku. Suami idamanku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN