Setan perempuan berambut sangat panjang menyerangku dengan menggunakan rambut sebagai senjata. Ia mengangguk dalam, rambutnya menjadi sekaku tombak dan mengarah kepadaku. Aku menghindar ke kanan, lalu ke kiri sewaktu ia menyerangku lagi.
Aku menarik rambutnya dengan penuh kekuatan, kubanting badannya ke arah tembok. Setan itu tiba-tiba menghilang tapi kini muncul setan yang lain. Setan bermuka jelek sekali, dua matanya keluar dari lubang tengkoraknya, ditahan sama otot-otot merah yang membuat dua matanya bergelantungan macam buah.
Dia memiliki kemampuan bela diri yang sangat mumpuni. Membuat serangan-serangan cepat yang membuatku harus menguras tenaga.
Steve dan Rascal sama sibuknya denganku. Mereka juga sedang baku hantam dengan setan-setan yang terus saja muncul dan menghilang.
Semakin lama, setan semakin banyak. Aku menggunakan cakra untuk melawan setan bermuka jelek itu dan kembali menggunakan cakra untuk melawan setan berbagai bentuk, rupa dan ukuran.
Genderuwo berkururan lima kali lebih besar dari Rascal, berbulu panjang di seluruh badannya, matanya satu selebar piring makan, berwarna merah, sebuah tanduk ada di atas mata. Ia mengepalkan tangan, membentuk tinju yang luar biasa besar. Menghantamkannya kepadaku, membuatku segera melompat mundur.
Ia terus maju, menyerangku dengan pukulan keras, membuat badanku terlempar keluar jendela. Bisa sukses jatuh kalo aku gak mencengkeram frame jendela. Aku melihat ke bawah. Meski gelap tapi aku bisa melihat lampu jalanan yang sangat kecil. Angin bertiup sangat kencang. Mendung pekat menutup langit. Seekor naga raksasa muncul, mencengkeram badanku dengan kakinya yang kuat.
Ia membawaku terbang menembus awan. Aku memeluk cakarnya, kalo aku jatuh maka tamt sudah hidupku. Angin sangat kencang, suaranya membuat kupingku hanya mendengar suara berisik yang memekakkan. Satu tangan memeluk cakar naga, tangan lain berusaha melepaskan diri.
“Kamu tidak akan selamat, anak muda.” Pria yang tadi ada di kejadian kecelakaan muncul, ia duduk di atas awan kecil.
“Turunkan aku!” Aku memandangnya sengit.
“Apa kamu yakin, ingin diturunkan?” Ia memandang ke bawah. Tentu saja aku gak mau diturunkan begitu saja. Aku belum gila sampai mau bunuh diri dengan cara yang bisa menghancurkan badanku tanpa ada yang mengenali selain dari KTP.
“Demon hunter, hah.” Setan sialan itu merendahkanku.
“Menyerahlah! Tindakanmu sudah membuat banyak manusia meninggal sia-sia.” Katakan aku edan, tapi aku ini demon hunter. Aku harus menjalankan tugas.
“Apa untungnya? Nona, anda harus belajar bahwa manusia itu sangat egois dan tidak pernah mau menghargai orang lain.” Awan pria itu mendekati kaki naga yang lain. Dengan mudah, ia berpindah dari awan ke cakar naga. Ia duduk dengan satu kaki menumpang kaki yang lain. Sangat santai, meskipun angin bertiup sangat kencang.
“Gak semua manusia egois.” Cakar naga kembali membuatku terjepit di tengahnya. Menahan badanku. Aku memukul cakar yang sangat kuat dan sisik kaki naga ini besar-besar dan keras.
“Berapa umurmu, Nona?”
Apa di saat seperti ini aku mesti menjawab pertanyaan aneh ini? Setan yang menyerupai wujud manusia ini sangat aneh sekali. Wajahnya terlihat ramah meski kelakuannya beda sekali. Aku menutup mata, mengeluarkan ajian senggoro macan. Aku kembali berusaha lepas dari cakar naga ini tapi sangat sulit ku lakukan.
“Aku perkirakan, kamu berumur enam belas tahun.” Santai dan tenangnya membuatku merasa ketakutan. Orang ini mungkin saja sangat kuat, mengingat gayanya seperti bos mafia di film-film.
“Umurku tujuh belas. Lusa aku delapan belas tahun.” Aku menepuk cakar naga, bukan karena dia salah menebak umurku tapi karena aku lelah berusaha lepas dari setan ini.
“Sudah ku katakan. Percuma saja kamu melepaskan diri darinya. Brajamusti sangat kuat dan tidak terkalahkan,”
Aku berpikir, mencari akal bagaimana caranya bisa lepas dari setan satu ini. Termasuk bagaimana caranya bisa turun dengan selamat ke bumi tercinta. Aku melihat ke bawah. Awan serupa kabut asap gak bisa menutupi daratan yang hanya terlihat lampu-lampu berwarna-warni. Itu pun gak banyak karena hari sudah sangat malam. Tiupan angin kencang membuatku berpikir kalo jatuh pasti gak akan jatuh ke apartemen itu. Bisa jadi mayatku jatuh ke atas gunung, lembah atau malah masuk laut.
Membayangkan hal semengerikan itu, membuatku bergidik ngeri.
“Roserie. Roserie. Roserie. Kesini!” Kuharap roserie bisa membantuku.
“Ya Nona...” roserie berdiri di atas cakar naga, menunduk. Menatapku dengan mata putihnya.
“Bantu aku turun!”
“Baik, Nona....” Roserie menarik badanku dengan kekuatan penuh tapi badanku sama sekali gak bisa digerakkan. Justru apa yang dilakukan roserie membuatku semakin kesakitan karena cengkeraman semakin kuat.
“Kamu cari akal lain! Aku gak akan bisa turun kalo caramu begini.” Aku menepis tangan roserie.
“Kamu punya peliharaan rupanya. Jika begitu. Urus urusan kalian. Ada dua anak lain yang membutuhkanku.” Setan laki-laki itu lenyap begitu saja.
Naga tiba-tiba menukik, menembus awan. Angin berhembus sangat kencang, telingaku dipenuhi udara, membuat sebuah bunyi yang sangat keras dan seperti menghantam. Roserie terlempar dengan sangat mudah sampai menembus awan.
Naga berhenti tepat dimana Rascal dan Steve sedang melihatku. Steve terlihat menjerit histeris sementara Rascal menahan badan Steve agar gak melompat ke arahku.
Naga kembali terbang tinggi. Bangunan-bangunan yang sempat terlihat besar, kini kembali terlihat kecil. Kembali di atas awan, naga seolah berhenti tapi awan berjalan pelan. Aku mengeluarkan ajian brajamusti, sama seperti nama naga ini. Mendorong cakar naga dengan kekuatan penuh sampai terbuka.
“Aku bantu, Nona.” Sialan, setelah cakar naga merenggang, roserie menarik badanku sampai aku sukses melesat turun.
“ROSERIE SIALAN!” Roserie sedang proses membuatku jadi mayat membusuk yang gak bisa dikenali. Sial-sial-sial.
Aku sudah bersiap mati, meski sebenarnya gak siap tapi aku yakin kali ini riwayatku akan tamat. Tapi tiba-tiba sebuah gelembung muncul di saat yang sangat tepat. Aku melayang di dalam gelembung di atas bangunan apartemen yang ada tulisan huruf H di tengahnya.
Steve dan Rascal sedang bahu membahu mengalahkan setan laki-laki itu. Pertarungan yang sangat seru sekali.
Steve mengeluarkan cakranya, menyerang dengan kekuatan penuh. Tapi setan kakek-kakek itu dengan mudah menyerap cakra Steve dengan tongkatnya.
Rascal juga melakukan serangan dengan cakra, di saat setan itu menyerap cakra Steve tapi sama seperti yang dilakukan kepada Steve. Cakra itu menghilang, terserap ke dalam tongkat.
Roserie muncul di depanku secara tiba-tiba. Aku benar-benar kesal karena roserie lagi-lagi hampir membuatku celaka.
“Sudah ku bilang. Kalo menolongku mbok ya mikir-mikir dulu,”
“Saya sudah berpikir, Nona. Bahkan saya sedang berpikir waktu saya menolong, Nona.” Roserie memamerkan deretan gigi runcing saat itu tersenyum lebar.
Apa maksudnya? Dasar setan peliharaan sinting.
“Yo wes. Minggir sana!” Roserie langsung menghilang. Aku membuat cakra dan ku lempar ke arah gelembung.
Aku mendekati Steve dan Rascal yang masih bertarung sekuat tenaga. Setan itu berdiri dengan dua tangan memegang tongkat.
“Honey. Kamu tidak apa-apa?” Steve melihatku tapi ia sedang membuat cakra yang sangat besar dan melemparnya. Membuat setan itu menyerap cakra Steve.
“Setan itu menyerap cakramu Steve...”
“Aku tahu, Hon.” Steve mengeluarkan cakranya terus menerus, membuat kakek tua itu mengangkat tongkat yang menyerap cakra Steve.
Rascal tiba-tiba berlari sangat cepat dan merebut tongkat itu dari kakek itu. Dengan sangat mudah, Rascal mematahkan tongkat dan melemparnya keluar gedung. “Tamat riwayatmu, frederic,”
Setan yang gak lain bernama Frederic itu menjerit sekuat tenaga, memandang tongkat saktinya yang aku yakin sudah ada di tanah. “TIDAK....”
Mulut frederic terbuka sangat lebar sekali, mengeluarkan laba-laba yang mengelilingi badannya. Ia menyerangku, dengan pukulan dari tangan yang dipenuhi laba-laba. Aku menyerangnya dengan cakra. Beberapa laba-laba terbakar dan berjatuhan tapi laba-laba yang lain menutup badannya. Sewaktu jatuh, laba-laba itu jatuh. Ia berubah menjadi arang dan kemudian terbang tertiup angin.
Hal yang sama juga terjadi saat Steve maupun Rascal menyerangnya dengan cakra. Beberapa laba-laba jatuh tapi laba-laba lain menutupinya.
“Manusia itu memindahkan semua mayat. Membangun gedung tanpa mempedulikan mayat-mayat yang harusnya tidur tenang di tempatnya,” ucap frederic. Ia menyerang Steve denga sebuah pukulan. Steve menghindar dengan menggerakkan badan ke kanan lalu ke kiri.
“Semua jenazah dipindahkan dengan baik. Jadi kenapa kamu marah?” kata Steve. Ia hanya bisa menghindar tanpa melakukan perlawanan fisik kecuali dengan cakra.
Rascal memukul punggung frederic dengan tangan kosong. Beberapa laba-laba merayap naik ke tangan Rascal tapi tangan Rascal mengeluarkan cahaya dan laba-laba itu gugur terpanggang, menjadi arang dan tertiup angin.
“Aku tidak. Jenazahku masih disini. Ditutup gedung tinggi. Ini tanahku.” Frederic membuka mulut, puluhan laba-laba keluar dari mulutnya. Merayap mendekatiku, membuatku mundur.
Steve membuat gelembung, melingkupiku. Membuat laba-laba itu gak bisa masuk ke dalam gelembung.
“Ini tanah manusia. Kamu bisa saja melakukan cara baik yang bisa membuat kami tahu dan memindahkanmu. Bukan dengan cara ini.” Steve kembali membuat cakra yang sangat besar. Sama besarnya dengan gelembung yang melindungiku.
“Ini tanahku! Kalian jangan ganggu aku!” Frederic membuka mulut, puluhan laba-laba kembali keluar secara terus menerus, membuat badanya membesar dengan laba-laba melingkupinya. Semakin besar dan semakin besar.
Steve dan Rascal menyerang satu titik dengan cakra mereka. Terus menerus tapi laba-laba bukan tambah habis tapi tambah banyak. Aku memecahkan gelembung. Bergabung dengan Steve dan Rascal untuk menyerang frederic dengan cakra yang sama.
“Honey. Kita satukan cakra kita!” Steve membuat cakra yang sangat besar.
Aku juga membuat cakra yang sangat besar. Kami menyatukan cakra kami dan melemparkan ke frederic. Membuatnya mundur beberapa langkah dan akhirnya ia terjatuh, badannya melayang semakin menjauh.
Rascal mengeluarkan handphone. Ia mengarahkan handphone ke arah frederic. Badan frederic berubah menjadi asap, kemudian terserap masuk ke dalam handphone Rascal.
Aku menghela napas lega, akhirnya misi selesai dengan sempurna. Aku berbagi senyum dengan Rascal dan Steve. Kami membalik badan dan dikejutkan oleh puluhan setan yang berbaris di depan kami.
“Bolehkah kami tetap mengelola hotel ini?” Setan berbadan besar seperti Rascal, dengan bekas jahitan di sekitar leher, bertanya.
“Asal tidak mengganggu manusia. Kalian boleh menggunakan tempat ini.” Steve membuat para setan tersenyum.
Aku melongo, kalo gedung ini dijadikan hotel lelembut. Berarti gedung ini adalah...
HOTEL LELEMBUT