Hotel Mewah

1576 Kata
Hanya dalam hitungan menit, suasana berubah menjadi sangat ramai. Orang-orang yang ada di dekat tempat kejadian mulai berkerumun. Beberapa orang hanya ingin melihat saja, beberapa lagi berlarian membawa ember berisi air untuk memadamkan mobil sedan dan truk yang sedang terbakar. Beberapa orang juga menyiram dua badan yang tergolek di atas aspal yang masih terbakar. Setelah apinya padam, badan dua orang yang terbakar sudah menjadi sehitam arang. Gak perlu diperiksa, aku yakin keduanya sudah mati terbakar. Orang-orang mengerumuni mayat dua orang itu. Dua orang yang gak lain sopir dan kenek mobil truk duduk di tepi jalan. Wajah keduanya menunjukkan kalo mereka kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Wanita pemilik warung memberi keduanya segelas air mineral. Keduanya meneguk teh hangat itu, sambil memandang truk mereka yang terbakar. Bisik-bisik antar warga terdengar, mereka gak kaget karena disini memang sering terjadi kecelakaan. Mereka mengatakan ini ulah penunggu terowongan. Tapi beberapa penunggu terowongan yang kebetulan berada di tempat ini justru menggeleng sebelum mereka meninggalkan tempat ini. Polisi akhirnya datang setelah api sudah dipadamkan warga. Mereka segera membuat garis pembatas dengan garis berwarna kuning yang mengelilingi mobil. Seorang polisi mendekati sopir dan keneknya, meminta keterangan tentang kejadian yang baru mereka alami. “Apakah ada diantara kalian yang melihat kejadian ini?” tanya polisi kepada kami. Steve mendekati polisi, ia menceritakan kejadian yang baru saja terjadi tanpa menyebut bahwa kejadian itu dikarenakan setan yang menampakkan diri. Setelah memberikan keterangan, Steve mendekatiku. Bersama Rascal, kami bertiga kembali masuk ke dalam mobil. Aku duduk di belakang sementara Rascal dan Steve duduk di depan. Kami masih melihat orang-orang yang berkerumun di depan mobil yang rusak sangat parah. “Tangkap frederic dan selesaikan tugas ini dengan cepat,” kata Rascal. “Tidak sebelum kita tahu alasan dia melakukan ini semua,” kata Steve. “Untuk apa mendengarkan alasan mereka. Demon ada untuk mengganggu manusia,” sahut Rascal. “Itu sudah jelas.” Steve menatap Rascal dengan tajam. Membuat suasana di dalam mobil jadi gak enak. “Kalian ini ngapain sih? Kita ke apartemen itu dan langsung menangkap frederic. Terus minta penjelasan darinya,” Steve dan Rascal menoleh, “good idea,” kata keduanya, kompak. Mobil bergerak perlahan, membelah kerumunan warga yang masih berkerumun di tengah jalan. Kakek tua yang membawa tongkat, kembali muncul. Ia berdiri di depan dua kantong mayat, tersenyum ke arah kami sebelum kembali menghilang. Aku kembali melihat ke arah depan. Memandang terowongan yang banyak sekali penunggunya. Di ujung terowongan, ada setan perempuan memakai jubah merah, ia tertawa terbahak-bahak lalu melayang mengikuti mobil kami. Suara cukup keras terdengar, sepertinya suara itu dari atap mobil. Selendang merah yang sama dengan yang dipakai setan perempuan itu menjuntai. Tiba-tiba kepalanya muncul dalam kondisi terbalik. Menatapku dengan senyum lebar dan mengeluarkan lidah bercabang dua, seperti ular. “Kamu mau apa?” tanyaku. Setan perempuan itu menghilang, tapi kembali muncul tepat di sampingku. Aku memandangnya cukup lama. Setan satu ini nekat sekali, gak malu-malu main numpang mobil orang aja. “s**t!” Rascal melirik ke arah belakang melalui spion. Ia menepikan mobil secara mendadak, membuatku oleng dan terjatuh. “Keluar dari mobilku!” Rascal menatap setan perempuan itu dengan tatapan marah. Perempuan itu tersenyum, “aku akan membantumu, Sayang.” Perempuan itu mengedipkan kedua matanya berkali-kali. “Keluar atau ku musnahkan kamu!” Rascal benar-benar mengeluarkan tanduknya. “Sudah lama kamu tidak datang. Aku membencimu karena kamu bersama wanita yang...” Perempuan itu menatapku dengan tatapan merendahkan, aku melotot. Gak pake banyak ngomong, aku langsung mengeluarkan cakra. “Tahan Honey! Ini bukan urusan kita.” Steve meredam amarahku. “Oh jadi perempuan ini ... milikmu?” Perempuan itu memandang Steve, Steve mengangguk. Perempuan yang tadinya terlihat gak suka padaku, tiba-tiba tersenyum kepadaku. “Lanjutkan perjalanan!” perintah Steve. Rascal marah tapi ia gak banyak ngomong dan kembali mengemudikan mobil. Setan perempuan itu tersenyum puas. Aku rasa, dia ada perasaan khusus kepada Rascal. Mobil berhenti di sebuah gedung hotel yang sangat indah. Aku mendongak, menghitung jumlah lantainya. Ada delapan lantai dengan jendela berhias tanaman bunga di depannya. “Hati-hati, Sayang! Frederic memiliki pasukan di tempat ini,” pesan setan perempuan itu. “Namamu siapa?” tanyaku. Perempuan itu menoleh, memandangku dengan dua alis terangkat. “Namaku ... wo aini,” Namanya seperti nama orang China. Tapi kalo dilihat-lihat, mukanya memang seperti China. Kulitnya putih sekali dan bibirnya berwarna merah, seperti perempuan yang memakai lipstik. “Aku Bunga.” Rascal menjentikkan telunjuknya ke keningku. Lumayan sakit, membuatku merengut. “Apa yang kamu lakukan kepadanya?” Steve berang, ia menarik kerah baju Rascal. “Sudahlah! Ini gak penting. Ayo masuk!” Aku berjalan duluan, masuk ke dalam hotel. Ada sebuah meja bertuliskan frederic hotel and apartment dengan dua orang yang sedang berdiri sambil tersenyum. Ruangan ini sangat luas, ada dua set meja kursi ada di sebelah kanan ruangan. Dua lift berada di kanan dan kiri meja dimana dua orang wanita itu masih tersenyum “Selamat datang di Frederic hotel and apartment.” Dua wanita itu mengangguk dan berkata secara bersamaan. Aku menoleh ke Steve yang berdiri di sebelah kiri dan Rascal yang berdiri di sebelah kanan. Ruangan yang tadi sepi, tiba-tiba menjadi sangat ramai. Ada sekitar sepuluh setan ada di tempat ini. Seorang wanita bule memakai baju khas Belanda. Seorang nenek bongkok berambut abu-abu. Dua anak kecil perempuan dan laki-laki sedang asyik bermain kejar-kejaran. Seorang pria yang sedang duduk di sebuah kursi sambil memandang keluar jendela dan lima pria asyik berdiri sambil berbincang-bincang. Suasana disini layaknya sebuah tempat yang dihuni manusia. Aku yakin kalo ada orang singgah di tempat ini pasti mengira kalo tempat ini adalah apartemen yang ditempati manusia. Rascal mendekati dua wanita yang masih berdiri di depan meja. Steve memilih mengelilingi tempat ini sementara aku masih memandang sekitar tempat yang sangat mewah ini, dengan lampu gantung besar sekali ada di tengah-tengah ruangan. Rascal mendekatiku sambil menunjukkan sebuah kartu. “Aku sudah pesan kamar untuk kita bertiga,” katanya. Aku menelengkan kepala, gak ngerti maksud Rascal. Rascal yang tersenyum tipis, dengan gerakan kepala, ia mengajakku berjalan ke lift. Aku dan Rascal berdiri di depan lift, menunggu benda kotak itu membuka. Steve datang, ia segera masuk sewaktu lift tiba-tiba terbuka. Lift tertutup, Rascal memencet angka 7. Kami bertiga terdiam, bahkan sewaktu ada setan perempuan dengan wajah penuh kulit yang berkerut-kerut lalu setan laki-laki yang membawa kepalanya sendiri di tangan kiri. Pintu kembali terbuka, setan yang merangkak dengan badan telentang masuk ke dalam. Rambut panjangnya menyapu lantai. Aku memandang Steve, ia tersenyum sambil mengangguk. Aku jadi deg-degan sekali. Kalo terjadi pertempuran di dalam lift. Kemungkinan kecil bisa menang kalo setan satu persatu masuk ke dalam. Nomer tujuh akhirnya muncul, pintu lift perlahan terbuka. Perlahan kami keluar, diikuti setan-setan yang mengikuti kami dari belakang. Setan perempuan memakai seragam SMP dengan kepala tertunduk, berjalan semakin mendekat. Saat benar-benar berhadapan, dia mengangkat kepala. Bibirnya dijahit jadi satu tapi melengkung ke atas, tersenyum kepada kami. Kami melewatinya begitu saja, sampai menemukan sebuah kamar 206. Rascal menggesek kartu ke sebuah alat dan membuka pintu. Sebuah kamar yang lumayan mewah membuatku sumringah tapi Steve melotot kepadaku. “Jangan lupa kasus Mbok Sinem kemarin!” Aku terkekeh, aku gak akan lupa kasus yang membuatku kena diare parah. Ini hanya dunia khayalan. Aku gak boleh termakan dengan khayalan ini atau aku bakal kena diare lagi. “Room service.” Seseorang mengetuk pintu sambil berkata. Rascal langsung membukanya. Seorang pemuda memakai baju seragam berwarna biru. Memandang kami bertiga dengan senyum yang membuatnya terlihat sangat ganteng. “Kami tidak butuh layanan,” jawab Rascal. Ia mau menutup pintu tapi cowok room service menahan daun pintu. Membuat Rascal kembali membukanya. “Hotel mengirim makan malam untuk anda semua.” Cowok room service memasukkan sebuah meja beroda ke dalam. Dengan tiga piring yang ditutup dengan tutup saji dan tiga gelas jus berwarna merah. Setelah memasukkan meja beroda, cowok room service langsung membuka tutup saji. “Ini menu istimewa kami. Daging sapi panggang bumbu rahasia dan jus tomat yang masih fresh. Selamat menikmati.” Cowok room service lalu pamit dan keluar ruangan. Aku memandang makanan itu penuh minat, apalagi perut lagi lapar sekali. Aku menelan ludah susah payah, mencium aroma masakan baru matang membuatku mendekati meja. Tapi Steve menahanku, meniup dua mataku dan seketika daging sapi yang terlihat enak sudah berubah menjadi batu dengan belatung dan ular kecil di atasnya. Sementara jus tomat yang tadi terlihat menyegarkan ternyata adalah segelas darah yang sangat pekat. Perut jadi sangat mual, hampir saja kena jebakan yang sama seperti kemarin. Aku memutar badan, gak ingin melihat benda sialan itu. Tapi Steve sudah membuka mataku dengan kemampuannya. Membuat ruangan yang tadi terlihat mewah, kini hanya sebuah kamar kosong dengan dinding penuh dengan coretan. Gak ada ranjang, gak ada TV, gak ada lampu menggantung yang mewah. Hanya ruangan berdebu dengan coretan di sana-sini. Bau yang tadinya wangi, sekarang sudah berubah menjadi bau kencing yang sangat pesing. Seorang wanita berpakaian putih, wajahnya dipenuhi kulit yang menggelambir bahkan kedua matanya tertutupi kulitnya, berambut panjang sampai menyapu lantai. Merayap menuruni tembok, dua kaki dan tangannya terbuka lebar. Pelan tapi pasti akhirnya ia sampai di atas lantai. Posisinya masih dalam kondisi merayap. Wajahnya geleng ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba ia bergerak sangat cepat mendekatiku. Membuatku langsung menghindarinya. Seorang setan perempuan lain dengan memakai baju tradisional khas Jawa muncul di belakang pintu yang terbuka. Ia salto dan segera menyerangku, aku dengan sigap menangkis semua serangannya. Setan yang lain muncul, setan laki-laki bercula satu di dahinya muncul dan menyerang Rascal. Steve juga diserang oleh setan berkepala kerbau. Satu persatu hantu itu muncul, membuat kami benar-benar sibuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN