Aku, Steve dan Rascal berdiri di depan halaman rumah Reza Rahardiansyah. Memandang beberapa polisi yang membawa kantong mayat berisi mayat yang kami temukan. Sulit dipercaya tapi mayat yang gak lain adalah mayat Parno kemungkinan mati dibunuh temannya sendiri, Suratman. Tapi tentu saja butuh penyelidikan polisi untuk mengungkap masalah ini.
Reza mendekati kami dengan senyum yang selalu indah. Membuatku terpana olehnya tapi Steve merangkul pundakku. Merusak suasana hati tapi aku gak ingin Steve menjatuhkan harga diriku di depan Reza lagi.
“Terima kasih. Kalian benar-benar hebat,” kata Reza.
“Sudah tugas kami. Maaf tapi ada misi lain menunggu kami.” Steve membuatku sewot. Harusnya bisa disini agak lama tapi dia membimbingku masuk ke dalam mobil.
Aku melihat Reza melambaikan tangan saat mobil kembali dipacu. Aku menghela napas, menarik kaos untuk melihat tanda tangannya. Aku merogoh saku celana. Melihat fotoku dan Reza. Aku tersenyum puas, seenggaknya aku sudah punya foto kami berdua. Steve merebut handphone-ku. Setelah diutak-atik, ia kembalikan lagi.
Aku membuka galeri, mencari fotoku dan Reza tapi foto itu gak ada. Aku marah sekali, melotot ke arah Steve dan berteriak. “STEVE, APA YANG KAMU LAKUKAN?” Aku menangis histeris. Steve sialan, merusak kesenangan orang saja. Huft.
***
Perjalanan lancar, masuk ke sebuah jalan yang cukup lengang. Rumah-rumah sudah tertutup, hanya lampu jalan yang menerangi jalanan. Rascal menepikan mobilnya tepat di sebuah terowongan. Setelah mesin mobil berhenti, Rascal dan Steve turun dari mobil. Mereka berjalan menuju terowongan.
Aku melepas seatbelt, keluar dari mobil dan mengikuti mereka berdua. Berjalan pelan sampai akhirnya aku berdiri di samping Rascal.
Seorang wanita berjubah putih, kedua kakinya melayang, darah menetes dari belakang kakinya. Muka wanita ini sangat putih sekali, seperti diberi dempul tembok dengan dua mata dilingkari hitam pekat. Ia menatap kami berdua.
Seorang anak kecil, hanya memakai celana dalam. Mukanya pucat dan ada lingkarang hitam mengelilingi matanya. Ia duduk berselonjor di dalam terowongan, menatap kami berdua.
Seorang wanita yang menggendong bayi, berdiri sambil mengayun anaknya. Bersenandung untuk anaknya. Ia berjalan semakin mendekati kami. Kedua matanya melirik kami. Sewaktu ia melewati kami, aku melihat bayi yang ada dalam gendongannya. Muka bayi itu seperti orang dewasa, badannya hanya berupa rangka yang berlumuran darah.
Aku mendongak, memandang Rascal dengan perasaan bertanya-tanya. Apakah kami harus menangkap mereka? Tapi kelihatannya mereka gak mengganggu siapapun.
Sebelum mendapat jawabannya, Rascal sudah masuk ke dalam terowongan. Membuatku kembali melangkah mengikuti orang itu.
“Apa kamu melihat Frederic?” tanya Rascal.
Wanita itu melotot, matanya seolah mau lepas dari tempatnya. Tanpa bicara, wanita itu memutar badan, menunjukkan punggungnya yang bolong, berdarah dan belatung-belatung berukuran cukup besar berjalan di dalam punggungnya yang bolong.
“Hei. Kamu!” Rascal membuat sundel bolong itu menghentikan langkah.
“Kamu tahu siapa aku?” Rascal kembali mendekati wanita itu. Berdiri di hadapannya.
“Aku demon hunter. Jawab pertanyaanku atau kamu akan....”
“Gue kagak kenal Frederic. Gue gak tahu apa-apa,” jawab wanita itu.
Rascal menyeringai, tangan kanannya mengeluarkan cahaya merah. Ia mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah sundel bolong itu. Dari ujung jari Rascal, mengeluarkan sinar berwarna merah yang kemudian mengelilingi leher setan itu.
“Aku bertanya baik-baik. Katakan padaku atau aku tidak segan-segan.” Tali yang mengelilingi leher setan itu mengetat, membuat sundel bolong tercekik.
“Gu ... e. Ggak, mmau, bbinnasssah,” kata setan itu, terbata-bata.
“Katakan sekarang! Atau aku yang membinasakanmu.” Rascal benar-benar menakutkan. Gak punya ampun.
Beberapa lama setan itu diam, cekikan di lehernya semakin erat. Kedua kakinya yang melayang kini semakin tinggi. Sejalan dengan jari telunjuk Rascal yang juga terangkat semakin tinggi.
“Baiklah jika itu maumu.” Rascal membuat cakra dengan tangan kiri.
“Akku ... tettap. Tidak ... tahu. Mus. Musnahkan. Aku!” Sundel bolong itu terlihat kesakitan, dua matanya melotot. Tapi dia tetap gak memberitahukannya.
“Rascal. Dia tidak tahu apa-apa,” kata Steve.
Rascal melepas sundel bolong itu, ia memutar badan dan melangkah keluar dari terowongan. Sundel bolong yang ketakutan segera berlari menembus dinding terowongan dan para penghuni terowongan ini, sangat ketakutan.
Rascal berjalan di depan aku dan Steve. Melewati tembok-tembok yang dicoret dan digambar dengan cat warna-warni. Beberapa setan melarikan diri, begitu melihat kami bertiga. Bahkan ada hantu anak kecil yang menangis di tengah jalan.
“Frederic itu siapa?”
Steve gak merespon, aku jadi sebal karena dicuekin. Harusnya aku yang marah sama dia karena sudah menghapus fotoku dan Reza.
Keluar dari terowongan, jalanan semakin sepi. Hanya ada gerombolan bocah jalanan dengan motor bebek mereka, ada di pinggir jalan. Beberapa diantaranya membawa botol minuman keras berwarna hijau. Mereka asyik berbicara dan tertawa.
Melewati gerombolan cowok yang kompak memakai jaket kulit berwarna hitam. Aku melihat mereka menatap kami. Tapi mereka hanya berani melihat sambil berbisik lalu tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka seketika berhenti, saat Rascal menghentikan langkah dan menoleh ke arah mereka.
Gak jauh dari kami, ada sebuah warung dengan beberapa pria asyik ngopi sambil bersenda gurau. Kami mendekati warung itu lalu segera duduk di bangku dekat pintu. Steve memintaku duduk di sebelahnya.
“Mister mau minum apa? Drink-drink.” Seorang wanita gemuk memandang Rascal dan Steve dengan wajah bingung. Ia berusaha menggunakan bahasa Inggris, yang sama jeleknya denganku.
“Beri saya kopi hitam. Kamu apa Bunga?” Rascal menoleh kepadaku. Wanita gemuk pemilik warung ini melongo, memandang Rascal tanpa berkedip.
“Aku kopi hitam dan berikan dia teh hangat!” kata Steve.
“Aku kopi s**u, Bu.” Enak saja, Steve main pesan minuman untukku.
“Honey. Kopi tidak bagus untuk perempuan.” Steve mulai deh.
“Kamu ini jangan nyebelin deh.” Aku ingin bejek-bejek Steve yang sejak tadi menyebalkan sekali.
Gak perlu waktu lama, kopi hitam untuk Rascal dan Steve, kopi s**u untukku, sudah tersedia di depan kami. Aku langsung menuang kopi ke dalam lapik, menghirup aromanya sebelum sedikit menyesapnya. Mantap bener dah.
Dua bapak-bapak juga sedang asyik ngopi dan merokok. Dua pria lain, berdiri, membayar sejumlah uang ke wanita itu lalu ia pergi.
“Aku yakin mereka berdua bakal celaka.” Seorang bapak-bapak berkumis tebal dan memakai kaos merah membuka pembicaraan kepada bapak-bapak di sebelahnya. Seorang pria berkulit kuning dan memakai kaos kuning.
“Biarkan saja Atmo. Mereka kan sudah pernah melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalo siapapun yang gak mau mengirim sesajen di gedung bekas kuburan itu. Mereka bakal celaka. Yang penting kan kita sudah mengingatkannya,” kata pria memakai kaos kuning.
“Memangnya ada masalah apa sih Pak?” Aku penasaran, jadi super kepo dengan cerita mereka.
“Mbak ini pasti bukan warga sini. Sudah bukan rahasia lagi kalo gedung apartemen itu selalu meminta tumbal. Siapapun yang mau melanjutkan pembangunannya pasti bernasib sial. Gak sedikit kuli bangunan yang mati dengan cara nggak wajar. Hii, aku jadi merinding,” kata wanita pemilik warung, panjang lebar.
“Gedung apartemen ... yang mana?” Aku penasaran tapi kondisi masih malam , jadi aku gak tahu dimana gedung apartemen itu.
“Itu loh, Neng. Gedung yang berdiri di atas bekas kuburan. Katanya, gak semua mayat dipindahkan. Kuburan itu kan sudah ada dari jaman Belanda dulu. Jadi aku yakin ada beberapa mayat yang tertinggal,” sambung bapak memakai kaos merah.
“Frederic salah satunya,” gumam Rascal.
“Terus apa hubungannya dengan sesajen?” Aku gak ngerti ini.
“Siapapun kontraktor dan kuli bangunannya. Kalo mereka memberi sesajen sebelum melanjutkan pembangunan, mereka akan dimaafkan. Paling hanya disakiti tapi gak sampe dibikin mati,” jawab bapak memakai kaos kuning.
Jadi inikah misi kami? Memberantas arwah penasaran yang suka mengganggu manusia?
Aku memandang Rascal. Ia masih asyik menikmati kopinya sambil mendengarkan penuturan dari tiga orang di tempat ini.
Setelah mengorek beberapa informasi. Rascal bangkit, ia membayar kopi kami lalu mengajakku keluar warung. Kami kembali berjalan ke terowongan, di mana mobil Rascal ada di dekat terowongan seberang sana.
Melewati terowongan berisi beberapa makhluk astral. Mereka menatap kami dengan wajah takut. Aku menahan tawa, melihat sesosok manusia berkepala ular langsung lari terbirit-b***t begitu melihat kami.
“Sepertinya kalian sangat terkenal,”
“Semua keturunan Johnson terkenal. Aku yakin kamu pun akan terkenal nantinya,” kata Rascal.
“Oh. Terus, seperti apa frederic itu?” Aku jadi penasaran dengan makhluk satu ini.
“Dia ... seorang Belanda yang dulu sangat kejam kepada kaum pribumi. Kematiannya, sangat tragis. Dibantai oleh bekas korbannya sendiri. Dia, istri dan dua anak perempuannya mati mengenaskan. Setelah kematiannya, ia membalas dendam kepada siapapun yang mengusiknya. Walau hanya sedikit.” Rascal menghentikan pembicaraan tepat di mobil van-nya.
Aku mengangguk, mengerti dengan penjelasan Rascal. Rascal memicingkan mata, seringaian kecil terpahat di wajahnya. Membuatku mengikuti arah pandangnya. Sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, keluar dari terowongan. Dari arah berlawanan, muncul sebuah truk yang juga berkecepatan tinggi.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki tua, membawa tongkat. Berdiri tepat di depan truk tersebut. Truk itu berusaha menghindarinya, naas apa yang dilakukan sopir truk justru membuat truk itu bertabrakan dengan mobil yang juga melintas.
Steve menarikku, menyembunyikanku ke dalam pelukannya. Tabrakan itu mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Beberapa bagian mobil lepas dan terlempar dari badan mobil. Bahkan aku melihat sebuah spion terbang dan jatuh gak jauh dari depanku. Steve semakin merapatkan pelukannya, ia memaksaku duduk dengan berlindung di balik mobil.
Sebuah ledakan besar membuatku terkejut, aku ingin melihatnya tapi Steve masih memelukku sangat erat. Beberapa lama Rascal menahanku, sampai akhirnya ia melonggarkan pelukannya.
Aku berdiri, melihat dua orang terbakar hidup-hidup dan sedang berusaha menyelamatkan diri. Aku ingin mendekatinya tapi Rascal mencegahku, mencengkeram lenganku dengan sangat kuat.
“Kita harus menyelamatkannya!”
“Bunga. Sebaiknya kamu disitu! Rascal, telepon polisi! Aku akan melihat kesana.” Steve berlari ke arah mobil yang masih terbakar.
Aku dan Rascal saling berpandangan. Rascal mengedikkan bahu dan mengambil handphone, ia menelepon polisi sambil mendekati Steve.
Dari seberang jalan, aku melihat kakek yang membawa tongkat sedang tersenyum sebelum ia menghilang.