Arwah Penasaran Di Rumah Aktor Favorit

1578 Kata
Berdiri di depan rumah mewah dengan sang pemilik yang gak lain aktor kebanggaanku. Memandang seorang Reza Rahardiansyah, sedang tersenyum ramah kepadaku. Ini pasti sebuah mimpi. “Kalian masuklah!” Reza mempersilahkan kami masuk ke rumahnya. Aku terpaku, terpesona olehnya. Aku bahkan masih melongo, memandang cowok yang sangat kupuja ada di depan mata. Rasanya, gak bisa dijabarkan dengan kata-kata. “Honey!” Steve menarik lenganku, mengajakku masuk. Tapi pandanganku masih terpaku pada sosoknya. “Aduh.” Karena terlalu terpana, kepalaku menabrak daun pintu. Rasanya sakit dan malu sekali. Sementara itu, Steve melotot. Membuatku cemberut kepadanya. Kami bertiga duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Reza Rahardian. Ia hanya memakai kaos putih polos dan celana hitam, tapi begitu saja gak mengurangi ketampanannya. Ia sedang berbicara tapi entah apa yang ia katakan, aku gak mendengarnya. Hanya melihat bibirnya bergerak saat mengatakan sesuatu.                                                                                                                   “Ini bukan soal sulit. Kami bisa mengatasinya,” kata Steve. “Jangan meremehkan! Aku sudah berganti asisten rumah tangga tujuh kali. Entah apa yang salah dengan rumah ini. Hanya saja, dulu tidak pernah ada masalah seperti ini. Baru enam bulan belakangan ini. Ada kejadian ganjil dan puncaknya kemarin, aku melihat sendiri sosok hantu dengan muka sangat menyeramkan di dalam kamar asisten rumah tanggaku,” jelas Reza. Reza menghela napas berat, memandang kami dengan tatapan penuh harap. Aku tersenyum, masih belum bisa berpaling dari dirinya. “Apa ada yang salah dengan saya?” Reza memandangku dengan dahi mengkerut. Aku jadi serba salah ini. “Ehm ... anu. Saya ... fans beratnya Mas Reza Rahardiansyah. Saya ... minta tanda tangan. Boleh?” Entah mengapa, aku jadi malu-malu kucing. Reza kaget, ia memandang kaos bergambar dirinya yang sedang kupakai. Reza tertawa renyah membuatku ikut tertawa senang. Aku menoleh ke arah Steve, ia sedang melotot marah. Tawaku jadi hilang tapi bukan berarti niat baikku untuk mendapatkan tanda tangan, selfie dan cipika cipiki jadi berkurang. Reza bangkit, ia mendekati sebuah rak yang menempel di dinding. Ia kembali membawa sebuah spidol. Aku langsung berdiri, mendekati Reza dan menyerahkan punggungku. Goresan spidol bisa kurasakan. Pipiku memerah, dengan susah payah aku menahan tawa senang. “Sudah. Ada lagi?” tanya Reza. Reza benar-benar ramah orangnya, sama seperti yang aku duga. Dia bahkan masih menunggu jawabanku dengan senyum khas masih tersungging di wajah gantengnya. “Foto bareng sama ... cipika cipiki.” Aduh, mukaku panas banget saking malunya. “Foto bareng, oke. But no for kiss.” Steve bangkit, ia mendekatiku dengan mata melotot. Lagi. “Tidak apa-apa. Ini bukan masalah besar kok.” Reza berusaha menengahi tapi ia ikut mendapat pelototan mata Steve. Akhirnya aku hanya bisa puas dengan berfoto, itu pun diatur oleh Steve. Aku jadi malu berat sama Reza. Punya suami seperti Steve, gak asyik banget deh. *** Rumah Reza sangat besar. Rumah berlantai dua yang bergaya minimalis tapi gak banyak jendela, seperti rumah minimalis yang ku tonton di TV. Banyak sekali barang-barang antik yang disimpan di lemari, jadi hiasan dinding dan juga ada di sudut-sudut ruangan. Di halaman belakang terdapat sebuah kolam renang dengan taman kecil di sampingnya dan bale-bale. Lampu remang-remang menghiasi taman dan mengelilingi kolam renang. Suasana disini memang agak berbeda. Auranya sudah jelas kalo ada penghuni lain yang cukup kuat untuk menampakkan diri dan mengganggu orang rumah ini. Aku memutar badan, mau masuk kembali ke rumah tapi tiba-tiba di depanku ada sosok yang sangat ku takuti selama ini. “Poc ... poc ... pocong...” Aku memutar badan, menubruk seseorang dan menyembunyikan wajah di dadanya. “Honey. Are you crazy or something?” Steve membuatku mendongak pada seseorang yang memelukku. La dalah, kupikir dia Steve. Gak tahunya cowok itu adalah Rascal. Aku jadi malu banget. Mendekati Steve dengan kepala tertunduk. Aku yakin Steve sewot setengah mati karena ulahku tapi pocong memang benar-benar masih menakutkan. “Ada pocong Steve,” cicitku. “Kamu demon hunter. Seharusnya kamu berani atau kamu pulang saja!” Steve benar-benar sewot, aku jadi malu sekali sama artis idolaku.  “Jangan begitu. Wajar kalo orang takut sama pocong.” Reza membelaku. “Tapi bukan seorang demon hunter sepertinya.” Steve melotot ke Reza. Kali ini aku juga melotot kepada Steve. Sudah cukup dia mempermalukanku, tapi ini lebih dari mempermalukan. Awas kamu Steve! “Sebelum kejadian ini terjadi. Apa ada sesuatu hal yang kamu curigai terjadi di tempat ini?” Beruntung Rascal mengubah topik pembicaraan. Kisah aku ketakutan dengan pocong dan salah masuk ke pelukan Rascal langsung sirna. Reza menerawang, ia sedang memikirkan sesuatu hal. “Selain Parno pergi tanpa ijin dan Suratman keluar dari pekerjaan secara tiba-tiba. Tidak ada masalah lain,” jawabnya. “Kita harus mencari pocong itu dan menanyakannya.” Rascal segera masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Reza. Steve masih melotot, tapi ia menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. Mengikuti langkah Rascal dan Reza ke sebuah ruangan yang ada di dekat dapur. Setelah pintu terbuka, Reza menekan tombol untuk menyalakan lampu yang sebenarnya gak terlalu terang tapi cukup buat melihat seisi ruangan ini. Terdapat tangga yang menghubungkan ke sebuah ruangan yang ada di bawahnya. Ruangan itu sangat kotor dan banyak debu. Melihat kardus-kardus yang ditata, lemari tua dan jam dinding tua. Aku yakin tempat ini adalah sebuah gudang barang. Rascal dan Reza menuruni anak tangga, diikuti aku dan Steve. Saat aku hampir sampai ke bawah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kemunculan sosok pocong yang tiba-tiba jatuh tepat di depanku dengan badan menggantung seperti karung tinju. “HUAA STEVE!” Aku memutar badan, ingin memeluk Steve tapi badanku seperti ditarik seseorang, terlempar dan terhempas dengan cepat. Menabrak lemari kaca, membuat punggungku panas dan berakhir mendarat di atas lantai. “Sialan kamu!” teriak Steve. Aku melihat Steve melempar cakra ke arah pocong tapi pocong itu tiba-tiba menghilang. Aura negatif di ruangan ini sangat kuat. Aku mengelilingi tempat ini. Menyentuh kardus-kardus dan juga lemari yang terbuat dari kayu jati. Ada noda hitam di pinggiran lemari, membentuk jari-jari yang sangat mencurigakan tapi aku gak tahu apa itu. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku memutar badan, melihat Reza sedang berdiri di bawah lampu yang menggantung. Tiba-tiba badan Reza kejang, wajah yang penuh senyum berubah murung. Manik matanya naik ke atas dan gak turun lagi, mata Reza jadi putih semua. Reza kerasukan setan, ia mendesis dan berbicara gak jelas. Badan yang bergetar hebat, akhirnya berhenti. Pertarungan antara ruh Reza dengan setan yang merasukinya selesai. “Keluar dari badan pria itu atau kamu ku buat menyesal!” Tangan Steve mengeluarkan cahaya merah. Tapi ia masih berdiri di dekat tangga, gak ada gelagat mau menyerang Reza. “Tolong ... aku.” Suara Reza yang seksi dan empuk berubah menjadi serak kering.  “Sebaiknya langsung kita tahan, Steve. Jangan buang waktu lagi,” kata Rascal. Tapi Steve hanya memicingkan mata kepada Rascal. Ia mendekatiku, memandangku beberapa lama. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya. Aku mengangguk, kembali memandang Reza yang telah dimasuki pocong sialan itu. “Katakan padaku! Kenapa kamu mengganggu orang di rumah ini?” Steve berdiri di depan Reza. Badan Reza kembali bergetar hebat. Manik matanya menggelinding keluar masuk sampai akhirnya kembali menghilang, tersembunyi di balik mata putihnya. “Dia ... membunuhku. Aku harus membalasnya.” Ada amarah yang keluar dari raut wajah Reza. “Kembalilah ke alammu! Jangan usik manusia atau kamu berakhir menjadi hantu gentayangan,” kata Steve. “Apa kalian tidak mau membantuku? Kalo begitu. Rasakan ini!” Tiba-tiba angin berhembus di dalam ruangan ini. Lampu bergoyang ke kanan dan ke kiri. Reza yang sudah disusupi pocong, tertawa terbahak-bahak. Kardus-kardus beterbangan, benda-benda yang lain pun ikut beterbangan. Benda-benda itu menyerang kami bertiga. Aku menangkis semua barang yang mengarah kepadaku. Dengan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi tapi benda itu terus menyerangku. Sebuah gergaji tiba-tiba meluncur cepat ke arahku. Aku langsung menangkap dengan menyatukan telapak tangan. Menahan sekuat tenaga agar benda itu gak menggergaji badanku. Sebuah palu meluncur ke arahku. Aku mengarahkan gergaji ke arah palu dan kedua benda itu bertubrukan lalu jatuh ke atas tanah. Steve dan Rascal juga disibukkan dengan benda-benda melayang seperti tertiup angin p****g beliung. Beterbangan dan menyerang kami secara bertubi-tubi. Steve mengarahkan telunjuknya kepadaku. Seperti biasa, sebuah gelembung terbentuk di sekelilingku. Aku terdiam, membiarkan dua cowok itu berusaha menyelamatkan diri dari serangan perkakas yang beterbangan ke arah mereka. Badan Reza bergetar hebat, masih dalam posisi berdiri di bawah lampu yang bergoyang kesana-kemari. Lemari tiba-tiba bergeser, pelan tapi lama-lama terangkat dan terbang menyerang Steve. Benda itu terbang dengan kecepatan cukup tinggi tapi Steve mampu menghalaunya dengan lemparan cakra sehingga lemari terlempar menabrak tembok dan membuat tembok itu terkelupas. “Itu apa?” Aku mengernyitkan dahi. Berusaha fokus memandang sesuatu yang terlihat dari tembok yang terkelupas. Sebuah kardus besar ditendang Rascal, mendarat ke tembok yang terkelupas dan membuatnya semakin besar. “Itu kan ... tangan.” Aku menunjuk ke sesuatu yang terlihat seperti tangan manusia. Setelah beberapa lama melihatnya, kini aku yakin itu adalah sebuah tangan yang sudah bengkak dan membusuk. “Steve. Itu ... mayat.” Aku berteriak, membuat Steve menoleh kepadaku lalu memandang ke sesuatu yang ku tunjuk. “Apakah ini yang ingin kamu tunjukkan?” Pertanyaan Steve menghentikan tiupan angin. Badan Reza kembali mengejang hebat sebelum kemudian lemas dan gak sadarkan diri. Gelembung yang dibuat Steve akhirnya menghilang. Aku mendekati Reza tapi Steve menarikku ke arah tembok yang mengelupas. “Steve. Reza...” Aku memandang badan Reza yang masih tergeletak di atas lantai. “Biarkan Rascal yang mengurusnya,” kata Steve, dingin. Steve mengambil sebuah palu yang ada di dekat lemari yang roboh. Mengetukkannya ke tembok dan pelan-pelan tembok itu retak dan akhirnya pecah. Menunjukkan wajah mayat yang hancur, busuk dan dikelilingi belatung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN