Cemburu Buta

1666 Kata
Memandang Mbok Sinem digelandang polisi khusus makhluk astral yang berseragam kaos biru tua berkerah dan bertuliskan turn back crime di d**a kirinya. Perempuan itu menoleh ke arah kami bertiga dengan senyum tipis mengembang. Rascal dan Steve lagi-lagi kena mantra pelet super yang membuat keduanya seperti monyet melihat pisang, melangkah sambil memandang Mbok Sinem seolah-olah dia dewi paling cantik yang turun dari kahyangan. Aku memukul kepala belakang keduanya, mencibir dua cowok berbadan bongsor yang dengan mudah kena mantra nenek-nenek seperti Mbok Sinem. Keduanya memandangku sambil garuk-garuk kepala belakang. “Honey. Bukan maksudku untuk...” Aku melotot, membuat Steve menghentikan ucapannya. Steve terkekeh, ia merangkul pundakku. Tapi aku segera menepisnya. Rascal tertawa geli, aku melotot ke arahnya. Membuatnya diam seribu bahasa. Aku menatap gubuk reot yang tadinya ku pikir rumah berbahan coklat dan kue. Gubuk dengan kayu lapuk, bisa ambruk kapan saja. Pemandangan di sekitarnya hanya pohon-pohon pinus dan tumbuhan rambat. Ada sungai kecil di depan gubuk itu, dengan air jernih dan menabrak bebatuan yang cukup besar. “Ternyata apa yang ku lihat dan ku rasakan tadi....” Belum sempat mengakhiri ucapan, membayangkan apa yang tadi sudah ku makan. Aku langsung ke tepi sungai, membuang semua isi perutku. Steve pun berdiri di sebelahku, bernasib sama denganku. Kami berdua memuntahkan isi perut. Dan gak hanya itu, perutku juga mulas. Membuatku ingin segera membuang air besar tapi disini gak ada ponten. “HUAA, AKU SAKIT...” *** Di dalam kamar, aku menggedor pintu kamar mandi dengan menahan diri buat gak BAB. “Steve. Cepat!!!” Aku benar-benar gak tahan ini... Steve membuka pintu kamar mandi. Aku langsung masuk dan membuang isi perut. Belum tuntas, Steve menggedor pintu. “Honey. Cepat keluar! Gantian ... Aku ... Sudah ... Oh s**t! Honey. Ini salahmu. s**t! s**t! s**t!” Suara Steve menghilang. Aku bisa berlama-lama di dalam kamar mandi. Setelah satu jam di kamar mandi, aku merasa sedikit lega. Meski perut masih sakit, tapi seenggaknya aku bisa keluar dari kamar mandi. Aku membuka pintu. Berjalan dengan kaki telanjang, aku menginjak sesuatu yang lembek dan basah. Aku menunduk, melihat sesuatu yang sangat lembek berwarna kuning yang gak lain ... “STEVE. JOROK!!! HOEK...” Aku segera memuntahkan isi perutku. Bercampur dengan kotoran Steve. Astaga. Ternyata jadi demon hunter sangat sulit sekali! *** Kisahku dan Steve menjadi bahan tawa bagi Rascal. Diantara kami bertiga, hanya Rascal yang gak mengalami masalah pencernaan. Aku, Steve dan Rascal duduk di taman belakang rumah. Setelah mendapat obat dari Daddy, baik aku dan Steve kondisinya sudah baik-baik saja. Duduk di bale-bale. Aku menyelonjorkan kedua kaki. Memakan jambu biji dan salak biar sembuh dari penyakit diare. Daddy bilang, kalo masih belum sembuh. Terpaksa harus disuntik, jadi sebelum itu terjadi. Aku makan jambu, minum air daun jambu biji dan makan salak. “Ini semua gara-gara kamu Honey!” Steve masih saja menyalahkanku, padahal aku gak menyuruh Steve buat makan kue, coklat dan s**u yang ternyata kata Pak Bagyo, itu adalah halusinasi. “Aku kan gak menyuruhmu. Kamu sendiri yang mau.” Aku sewot setengah mati. “Mau apanya? Kamu lupa, kamu mendorong makanan itu ke dalam mulutku.” Steve mendelik, membuatku berkedip beberapa kali. Menyadari kalo aku memang melakukannya. “Ya ... maaf.” Aku mencicit seperti tikus. Steve menghela napas, “maafkan aku ya Hon. Bukan maksudku, menyalahkanmu.” Steve tersenyum. “Jadi hanya seperti ini pertengkaran kalian? Tidak seru sama sekali.” Rascal menghela napas berat. Apa maksudnya? Aku memandang Rascal dengan tatapan sebal. “Kamu jangan menatapku seperti itu. Kamu pikir, kamu cantik dan bisa membuatku terpesona dengan cara itu? Lupakan!” kata Rascal. Wah, ini bocah sableng juga. Aku mengambil buah jambu yang besarnya sekepalan tangannya. Ku lempar dengan tangan kiri. Rascal menangkap buah itu dan menggigitnya. Aku langsung mengambil buah jambu lagi dan kali ini lemparanku tepat mengenai kepalanya. Membuat Rascal terdiam sesaat lalu melotot ke arahku. Aku tertawa senang, tapi kali ini bukan hanya Rascal yang melotot tapi Steve juga. Dia cemberut hanya karena aku menggoda saudaranya. Aku berusaha menahan tawa, tapi gak bisa menahan diri buat terkikik geli. “Honey!!!” Steve bangkit, ia menarikku sampai berdiri. Menarikku keluar dari bale-bale. Meninggalkan Rascal yang menatap kami sambil menggigit buah jambu. Steve menarikku berjalan masuk ke dalam rumah dan berakhir di dalam ruang keluarga. Ia membuatku terjerembab di atas sofa. Aku kaget dengannya yang tiba-tiba jadi terlalu marah hanya karena aku menggoda sepupunya. “Honey. Aku tidak suka kamu bersikap seperti itu ke Rascal,” “Aku Cuma godain dia. Ada yang salah?” “Ada aku. Kenapa kamu menggoda Rascal? Aku sudah mengatakan kepadamu. Jangan goda cowok lain selain aku!” “Ya ampun, Steve. Aku gak ada maksud lain. Cuma godain saudara aja. Memangnya aku salah apa?” “Dia memang sepupuku tapi dia juga cowok. Apa kamu pikir dia sepemikiran denganmu?” “Loh-loh. Kamu cemburu? Ya udah. Aku mau mengambil jambu dulu.” Aku berdiri, bersiap ke dapur buat mengambil jambu. “Apa hubungannya dengan jambu, Hon?” “Bukannya kamu ingin ditimpuk buah jambu seperti Rascal?” Steve melotot, rahangnya mengeras badannya tegang. Menahan amarah yang siap dikeluarkan. “Bukan begitu, Hon ... sekali lagbi, aku ingatkan. Jangan menggoda cowok lain selain aku. Oke!” “Steve. Cemburu boleh-boleh aja. Tapi ada tempatnya. Aku ini istrimu. Aku juga cintanya hanya sama kamu. Aku gak ada perasaan apapun ke cowok lainnya. Apalagi sama cowok jadi-jadian seperti Rascal.” Aku mau keluar ruang keluarga tapi Steve menahan lenganku. “Aku serius Honey. Aku memang cemburu. Tapi ini semua karena aku mencintaimu,” “Aku tahu. Tapi Steve. Kamu harusnya percaya sama aku. Aku gak ada perasaan apapun ke cowok lain kecuali perasaan biasa antar teman dan saudara. Kamu jangan seperti anak kecil, ah. Gak lucu,” “Honey. Aku percaya padamu tapi aku tidak percaya Rascal menganggapmu teman atau saudara. Aku bisa melihat, dia menyukaimu,” Mendengar ucapan Steve, aku kaget sekaligus ingin tertawa. Bagaimana mungkin seorang cowok model Rascal menyukaiku? “Honey. Percayalah! Kamu pikir untuk apa dia meminta bergabung dengan tim kita?” “Pertama. Kita kehilangan Restu dan Ilham. Slamet juga masih cuti beberapa hari karena merasa kehilangan. Jadi gak ada masalah kan kalo Rascal satu tim dengan kita?” “Apa kamu pikir sesederhana itu?” “Loh, memangnya ada alasan lain?” “Honey. Kamu terlalu lugu,” “Gak ada hubungannya dengan itu,” “Keluguanmu, kecantikanmu dan kehebatanmu dalam bertarung adalah daya pikatmu. Aku yakin Rascal juga melihatnya,” “Aku gak tahu ini pujian atau olok-olokan. Tapi aku memang lugu. Kalo aku gak lugu, aku gak bakal kejebak cinta dari cowok saklek sepertimu. Lepasin aku atau aku gigit tanganmu!” Steve melepas genggaman tangannya. Aku melotot, dia jadi gak lucu kalo cemburu. Cuma masalah sepele aja dibesar-besarin. Aku membuang muka, keluar dari ruang keluarga dengan perasaan yang tiba-tiba marah luar biasa. Sampai di depan pintu, Rascal berdiri sambil melipat dua tangannya. Aku memandangnya dengan tatapan garang. Menyesal karena sudah melakukan hal yang gak disukai Steve. “Maafkan aku.” Rascal gak ada tampang menyesal, malah ada senyum tipis di bibirnya. Aku gak peduli, melangkah pergi dan aku jadi enggan melihat tampang Rascal maupun Steve. *** Pagi ini, aku, Steve dan Rascal kembali ke kantor demon hunter. Kami akan mendapat tugas baru. Duduk di dalam ruangan tim alpha. Aku dan Steve duduk bersebelahan sementara Rascal duduk dengan dua tangan jadi bantalan kepala. Memandang kami berdua bergantian. “Honey. Pulang dari kantor. Kamu mau kemana? Sudah lama kita tidak kencan berdua.” Steve membuatku menoleh kepadanya. “Aku ingin nonton filmnya Bunga Citra Lestari yang baru. Judulnya My Stupid Bos itu loh, Steve,” “Nanti malam kita nonton dan makan malam. Oke,” “Oke.” Aku membentuk huruf o dengan menautkan jari jempol dan telunjuk. Rascal terkekeh, membuatku berang kepadanya. Rascal mengedikkan bahu, memainkan satu mata kepadaku, membuatku jijik melihatnya. Pak Subagyo masuk ke dalam ruangan, ia membawa sebuah map putih di tangannya. Ia segera duduk di sebelah Rascal. “Misi kalian kemarin membawa banyak keberhasilan dalam kasus kepolisian kita. Beberapa kasus yang sulit ditangani oleh polisi ternyata ada campur tangan Mbok Sinem. Selamat untuk tim baru kalian,” kata Pak Subagyo. “Apa maksudmu, Pak?” Steve menatap horor ke Pak Subagyo. “Slamet kemarin mengajukan surat pengunduran diri. Banyak kasus yang harus kita tangani jadi daripada kita membuang waktu dengan mencari anggota tim alpha baru. Tiga Johnson. Sangat cocok menjadi tim alpha,” terang Pak Subagyo. “Aku tidak bisa terima!” Steve berang. Pak Subagyo menoleh ke Rascal. “Bagaimana menurutmu?” “No problem.” Rascal mengedikkan bahu. Pak Subagyo memandangku. “Bagaimana denganmu, Bunga?” Aku terdiam, mau bilang gak ada masalah. Aku melirik Steve. Ia memandangku dengan rahang mengeras. Aku memandang Pak Subagyo, hanya bisa tersenyum gaje. “Ku anggap tidak ada masalah. Ini ada tugas baru. Ku rasa, Bunga pasti menyukainya. Besok. Kalian ke Jakarta! Kalian ke rumah Reza Rahardian! Dia mengeluhkan soal kehadiran hantu di rumahnya.” Pak Bagyo membuka dokumen bergambar Reza Rahardian. Aktor papan atas yang kini sedang main di film my stupid bos. Idolaku. Steve mengambil dokumen itu, aku merebut foto Reza Rahardian. Huaa, memandang fotonya saja sudah membuat wajahku sumringah. “What you doing!” Steve merebut foto dan melotot kepadaku. Aku tersenyum gaje lagi. Hendak merebut foto Reza Rahardian tapi Steve keburu meremas foto itu dan membuangnya. Steve memandang Pak Subagyo, sengit. “Tugas begini. Serahkan tim beta. Bahkan tim omega bisa menanganinya,” “Selain tugas itu. Kalian juga selesaikan tugas lain disana. Aku tidak mau membuang uang dengan mengirim dua tim ke satu tempat. Jadi selesaikan tugas di rumah Reza Rahardian lalu selesaikan tugas selanjutnya, Pak Subagyo hendak berdiri tapi Steve menghentikannya. Pak Subagyo kembali duduk.  “Kerjakan saja tugas kalian!” Pak Subagyo berdiri, ia melangkah meninggalkan ruangan. Aku berdiri, memungut foto Reza Rahardian dan memeluknya tapi lagi-lagi Steve merebut foto itu dan kali ini ia merobeknya. Aku berdiri, memandangnya garang. “Dasar cemburuan!” Aku mau keluar ruangan tapi memandang Rascal yang sedang tertawa geli membuatku melotot kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN