Pelet Mbok Sinem

1637 Kata
Aku memandang rumah kue yang sepertinya enak kalo dimakan. Ngeces melihat rumah yang terbuat dari batangan coklat, beratap coklat berhias krim strawberry. Ada satu set kursi berasal dari kue bolu dan meja yang terbuat dari jenang dodol. Aku menggigit pilar yang terbuat dari coklat, rasa manis sekali, enak dan membuatku gak berhenti mengunyah. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang wanita setengah baya tapi masih sangat cantik jelita, keluar dari rumah itu. Ia tersenyum, mendekati kami bertiga. Aku mengusap bibir yang belepotan coklat, malu dan gak enak karena sudah menggigit pilar rumahnya. “Halo, anak manis. Apa kamu senang dengan coklat ini?” Wanita itu ramah sekali, ia bahkan mematahkan sedikit coklat dan diberikannya kepadaku. “Maaf. Saya sudah gak sopan.” Aku menunduk malu. Wanita itu mendekatiku, ia kembali memamerkan senyum yang sangat indah sekali. “Gak apa-apa. Ehm, kalo kamu mau. Kita masuk ke rumah. Aku akan menyiapkan makan siang yang sangat enak. Kamu mau kan?” Senyumku merekah, tanpa mikir panjang. Aku langsung menerima ajakannya. “Honey. Jangan!” Steve menahan tanganku, ia melarangku tapi wanita itu kembali menawarkan makanan. “Kalian bertiga, masuk saja. Aku akan membuatkan kalian kue yang sangat enak,” ajak wanita itu. “Ayolah. Steve...” Aku merajuk. Steve dan Rascal akhirnya mengekor. Masuk ke dalam rumah, aroma kue yang harum dan permen serta coklat yang manis langsung menyambut. Wanita itu mempersilahkan kami bertiga duduk di sebuah set kursi yang serupa dengan yang ada di depan. Aku langsung duduk di kursi yang sangat empuk. Menyentuh kelembutan kursi lalu mencuil dan menikmati kue yang sangat lembut dan enak sekali. “Honey. Perutmu bisa sakit jika terus makan...” Steve membuatku mencebik, perutku sama sekali gak kenyang meski sudah makan banyak. “Biarkan saja dia. Aku juga lapar tapi aku ingin makanan bersih. Bukan asal makan sepertinya.” Rascal melipat dua tangannya. Wanita itu keluar dengan nampan berisi tiga cangkir. Ia meletakkannya ke atas meja. Tiga cangkir s**u coklat yang masih mengepul, menguarkan aroma manis. Aku langsung mengambil satu cangkir dan gak perlu waktu lama untuk segera menyesapnya. Wanita itu masuk lagi, setelah beberapa lama, ia kembali keluar. Kali ini ia membawa kue tar berwarna merah muda. Ia meletakkan kue itu di atas meja dan membaginya ke piring-piring kecil lalu diserahkan kepadaku, Steve dan Rascal. “Makanlah. Ini enak sekali,” kata wanita itu. Aku langsung mengambil kue dari atas piring, saat ku gigit, rasa lembut dan manis kembali memanjakan lidah. Aku bahkan mengiris sendiri kue tar dan kembali memasukkannya ke dalam mulut. “Namaku Tante Imelda. Kalian siapa?” Tante Imelda ikut duduk bersama kami. “Aku Steve, dia Rascal dan Ini Bunga.” Steve memperkenalkan kami bertiga. “Apa yang mau kalian lakukan di tempat seperti ini?” tanya Tante Imelda. “Kami....” Rascal menggantung ucapannya. Tante Imelda menyerahkan kue tar ke Steve. Awalnya Steve menolak tapi aku memaksanya untuk mencicipi walau sedikit. Akhirnya Steve menggigit kue itu, selanjutnya Steve malah menambah kue dan makan sama banyaknya denganku. Kami bertiga terus dijamu dengan aneka kue. Dari kue tar, kue bolu, kue pisang coklat dan lain-lain sampai akhirnya semua kue berpindah ke perut kami. Aku menepuk perutku sendiri, sudah sedikit mengembang karena banyaknya makanan yang aku makan. “Aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian istirahat. Bunga tidur disana. Steve dan Rascal, kalian tidur disana.” Tante Imelda menunjuk dua kamar. “Tante. Aku dan Bunga sudah menikah.” Steve merangkul pundakku, kami memamerkan senyum terindah. “Menikah muda ya? Kalo begitu. Steve dan Bunga tidur disana. Rascal akan tidur sendiri,” kata Tante Imelda. Aku dan Steve beranjak, mendekati kamar yang sudah ditunjukkan oleh Tante Imelda. Aku membuka pintu, melihat kamar yang sangat indah dengan hiasan bunga yang terbuat dari permen. Aku masuk ke dalam, melemparkan badan ke atas ranjang yang seharum kue lemon buatan Mommy. Empuk sekaligus harum, benar-benar enak untuk tidur. “Honey, ayo nana nina!” Steve ikut berbaring di atas kasur. Ia langsung mengurungku dalam pelukannya. “Steve, enakan makan daripada nana nina.” Aku mengerang, enggan nana nina. Pengennya cuma makan-makan dan makan. “Ayolah ... aku kebelet ini.” Steve melepas baju dan membuka ikat pinggangnya. Aku tertawa, terbuai oleh aroma kue, keindahan badan Steve dan sentuhannya. Pada akhirnya aku kalah, aku menerima nana nina dengan senang hati hingga akhirnya puncak kenikmatan dunia ku reguk. Tiba-tiba bentuk kamar kue dan keindahannya sirna begitu saja. Berubah menjadi sebuah rumah kayu yang reot. Aku segera bangkit, memakai semua pakaianku dengan kepala penuh dengan pertanyaan. Steve pun serupa denganku. Kami berdua terkejut dengan apa yang kami lihat sekarang. Steve membuka pintu yang engselnya rusak, kalo gak hati-hati pintu itu pasti lepas dengan sendirinya. Rumah yang tadi terbuat dari berbagai kue juga sirna. Berganti jadi gubuk reot dengan jaring laba-laba yang ada di hampir setiap sudut. Debu tebal menyelimuti hampir di semua tempat dan saat melihat meja dengan piring-piring dan gelas-gelas di atasnya. Aku langsung memuntahkan isi perutku. Piring-piring yang tadi berisi kue-kue enak telah berubah menjadi piring kotor berisi pasir, lumpur, daun kering dan yang paling menjijikkan ada juga piring berisi belatung. Gelas-gelas yang tadi berisi s**u coklat, ternyata air bercampur lumpur. “Honey. Kita cari Rascal sekarang!” Steve mendekati kamar Rascal. Aku berdiri di sebelah Steve. Perlahan ia membuka pintu sampai aku dan Steve melihat Rascal sedang berciuman dengan seorang nenek memakai kebaya lusuh, jarik lusuh dan rambut penuh ubannya digelung sederhana. Aku dan Steve berpandangan, Steve menarikku keluar, membuat sebuah gelembung yang membuatku mendecak sebal. “Keluarkan aku Steve! Kenapa aku selalu dikurung begini?” Aku menggedor gelembung tapi Steve gak mau dengar. “Honey. Lebih aman jika kamu ada di dalam buble saver,” Rascal mengakhiri ciumannya setelah mendengar suara kami. Ia memandang kami berdua lalu ia memandang nenek yang duduk di pangkuannya. Rascal kaget, ia mendorong nenek itu lalu bangkit dan berlari ke arah kami. Nenek itu berdiri, ia memandang kami bertiga dengan tatapan marah. “Setelah apa yang ku beri kepada kalian. Apa seperti ini cara kalian membalasku?” Nenek itu marah sekali, ia melangkah maju dengan langkah berat. Steve dan Rascal bersiap. Keduanya siap melawan nenek itu. Sementara aku harus puas ada di dalam gelembung buatan Steve. Sialan si Steve, “aku bisa melawannya Steve. Aku ini tim alpha, tapi kalo selalu ada dalam gelembung begini. Gimana aku bisa melawannya?” Aku kembali menggedor-gedor gelembung. “Apakah kamu ... Mbok Sinem?” tanya Steve. “Namaku Tante Imelda. Bukan Mbok Sinem. Siapa itu Mbok Sinem. Udik sekali namanya.” Nenek itu semakin mendekat. “Rascal. Ayo kita lanjutkan! Steve ... kalo kamu mau. Kamu bisa bergabung dengan kami.” Mata nenek itu berkilat aneh, Steve dan Rascal mendekati nenek itu. “Apa yang kamu lakukan? Steve, Rascal. Bangun kalian!” Steve dan Rascal masuk ke pelukan nenek genit yang mukanya sudah berkerut-kerut. “Jangan dengarkan dia. Ayo anak manis. Kita masuk ke kamar!” Nenek itu menggandeng lengan Rascal dan Steve, mengajak dua cowok itu masuk kamar. Aku menggedor-gedor gelembung, meski ku lakukan dengan sekuat tenaga, gelembung ini tetap saja kokoh. “Sebaiknya aku gunakan cakra.” Meski aku takut kalo cakra bisa memantul seperti saat menyerang gelembung dewi kenes tapi hanya cara ini yang bisa ku coba. Aku membuat cakra yang cukup besar. Menarik napas dalam-dalam, bersiap apapun yang terjadi. Sewaktu aku melihat pintu kamar ditutup, tanpa pikir panjang, aku melempar cakra ke arah gelembung lalu langsung menutup mata. Gak ada apapun yang terjadi, aku baik-baik saja. Aku membuka mata, gelembung yang tadi mengurungku sudah menghilang. Aku tersenyum puas. Segera ke kamar dan menendang pintu yang tertutup dengan sekuat tenaga. Pintu roboh hanya dengan sekali tendang. Ku lihat Steve dan Rascal sedang mencumbu Mbok Sinem yang sedang tidur telentang. “Kalian berdua menjijikkan!” Aku melempar keduanya dengan cakra. Khusus untuk Steve, aku kembali menghadiahinya sebuah lemparan cakra yang membuatnya ketakutan dan segera berlari mendekatiku. “Honey. Ampuni aku!” Steve berlutut, dua tangannya memeluk kakiku. “Steve. Kamu ini punya istri cantik. Masih kinyis-kinyis. Kenapa kok gampang sekali berpaling?” Aku menarik kakiku tapi Steve masih bertahan. “Aku kena hipnotis, Hon. Aku tidak sadar....” Steve memeluk pinggangku, ia menutup mukanya ke perutku. “Imelda. Kamu cantik sekali...” Rascal kembali mencumbu Mbok Sinem. Aku mendecak, mendorong badan Steve dan langsung menyerang Rascal dan Mbok Sinem dengan cakra. “Oh damn!” Rascal berdiri, ia kaget setengah mati. Mbok Sinem duduk, ia memandang Rascal dengan senyuman. Rascal yang awalnya kaget, lagi-lagi tersenyum kepada Mbok Sinem. Aku kembali melempar cakra ke Rascal, ia kembali sadar. Menjauhi Mbok Sinem tapi lagi-lagi kena pelet Mbok Sinem. “Honey. Kamu serang Mbok Sinem! Aku yang membangunkan Rascal.” Steve bangkit, ia menyerang Rascal dengan cakra. “Kenapa bukan kamu yang menyerang Mbok Sinem?” tanyaku. “Honey ... lebih baik kamu gantung aku di tiang bendera dari pada aku...” Steve menatap Mbok Sinem horor tapi itu gak lama. “Imelda ... sayang...” Steve kena pelet Mbok Sinem. Aku melempar Steve dengan cakra, baru kemudian melempar Mbok Sinem dengan cakra. Mbok Sinem marah besar, ia memanggil jin peliharaannya. Ada genderuwo dan kuntilanak. Steve langsung menyerang genderuwo sementara Rascal melawan kuntilanak. Keduanya gak mau melihat Mbok Sinem. Padahal Mbok Sinem berusaha menarik perhatian mereka. “Sayang. Lihat Tante Imelda,” katanya. Aku jijik mendengar suara nenek-nenek yang gak tahu umur dan gak tahu diri. Aku membuat cakra dan langsung ku lempar ke Mbok Sinem. Wanita itu terlempar beberapa langkah, ia langsung gak sadarkan diri. Melihat Mbok Sinem sudah pingsan. Genderuwo dan kuntilanak, mengangkat dua tangannya. “Jangan serang aku! Aku hanya diperintah Mbok Sinem.” Mereka berdua kompak melarikan diri. Aku mengikat Mbok Sinem di tepi ranjang reyot. Mencubit pipinya sekuat tenaga, membuang marah karena sudah mempermainkan kami dengan ilmunya. Ia membuka mata, tersadar dari pingsannya. Aku meninju mukanya, membuat nenek yang sudah berani membuat Steve mencium pipi keriputnya, kembali gak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN