Pencarian Pemilik Boneka Kelinci

1631 Kata
Boneka kelinci yang bernama Samijan, kini menjadi tawanan kami. Dua tangannya diikat dengan tali panjang yang berujung pada tangan Steve. Steve menarik tali seperti kusir menarik delman. Berjalan melintasi hujan dengan pohon-pohon yang sangat besar. Rimbunan semak-semak, tanah yang basah, licin dan berlumpur membuat perjalanan cukup sulit. Semua ini kami lakukan demi menemukan siapa di balik tragedi kecelakaan yang menimpa korban di mall grande. Pagi sudah menyapa, langit gelap perlahan berubah menjadi terang. Tapi perjalanan sepertinya masih sangat jauh. Aku memandang ke sekitar, tanpa sengaja aku terpeleset dan bisa jatuh kalo gak berpegangan lengan Rascal. “Hati-hati.” Rascal menggenggam tanganku, membantuku melewati kubangan berlumpur yang cukup dalam dan membuat kakiku seperti diserap masuk. “Honey. Sini!” Steve ada di ujung kubangan, mengulurkan tangan, aku langsung menangkap tangannya. Berdiri di sebelah Steve, aku mendapat hadiah pelototan mata darinya. Membuatku mencebik karena aku merasa gak berbuat kesalahan apapun. Aku melangkah lebih dulu, melewati Samijan yang tersenyum geli. Aku menghentikan langkah di sebelahnya, dengan sengaja ku injak kaki hitam Samijan yang kotor dan basah karena terkena kubangan. Perjalanan masih terus berlanjut, berjalan di tepi jurang dengan sungai yang alirannya sangat deras. Jalan setapak yang berliku-liku dan menanjak tinggi membuatku akhirnya kelelahan. Aku putuskan untuk berhenti, duduk di atas sebuah batu besar, aku mengambil air yang ku simpan di dalam ransel. Meneguknya sampai tersisa setengahnya. Steve duduk di sebelahku, Rascal duduk di sebuah batu besar di seberang jalan setapak, berhadapan denganku. Samijan duduk diam layaknya boneka di tengah jalan. Dua tangannya masih terikat tali yang dikekang Steve. “Apa masih jauh, Jan?” Samijan bergeming, membuatku sebal dengan boneka sialan satu ini. Aku mengambil kerikil, melemparkannya ke muka samijan dengan sangat keras. Boneka itu memegang wajahnya, sepertinya boneka ini juga memiliki rasa sakit layaknya manusia. “Rumah Mbok Sinem ada disana. Di belakang hutan ini.” Samijan menunjuk ke arah belakang, ada hutan lain di balik bukit ini. Aku yakin tempatnya sangat jauh sekali. Aku menghela napas berat, waktu tahu lawanku adalah boneka dekil, ku pikir tugas ini bakal cepat selesai, tapi gak tahunya, ada orang di balik boneka ini. Seseorang yang memasukkan jin samijan ke dalam badan boneka kelinci. “Kenapa kamu membunuh semua orang yang gak memilihmu? Kamu ini jin, kenapa musti cemburu kalo gak dipilih?” Aku kembali mengambil batu besar sewaktu samijan masih diam seperti boneka. Aku siap melayangkan batu, samijan terkejut, ia menutup mukanya dengan dua tangan. “Bukan karena gak dipilih. Aku hanya ingin membunuhnya saja. Mereka menyebalkan. Menghinaku, boneka jelek katanya. Anak-anak bodoh, gak tahu barang bagus.” Samijan menarik telinganya seolah menggerai rambut panjang. Rascal terkikik, ia melempar kerikil tepat di belakang kepala samijan. Membuat boneka itu terkejut lalu berbalik memandang Rascal. “Apa tujuan mereka?” Steve bertanya. “Tentu saja karena Mbok Sinem disuruh seseorang.” Samijan menutup mulutnya. “Jangan harap aku cerita ya....” Steve bangkit, ia mendekati samijan dan berlutut di hadapannya. “Apa kamu ingin masuk penjara demon hunter? Aku bisa mencari orang itu tanpa bantuanmu.” Steve merogoh kantong celana, mengeluarkan handphone-nya. “Jangan-jangan. Ampuni aku!” Samijan ketakutan. “Orang itu ... pemilik mall queen. Dia gak suka mall grande yang semakin hari semakin rame,” Steve berdiri, ia menarik kekangan tali, membuat samijan tertarik sampai berdiri. Steve memutar badan, mengulurkan tangannya, membantuku berdiri. Kami kembali melanjutkan perjalanan. *** Sampai di ujung hutan, sebuah sungai memisahkan hutan dimana kami berdiri dengan hutan yang ada di seberang. Sebuah asap mengepul, menunjukkan ada sesuatu atau seseorang di dalam hutan di seberang sana. “Kalian lihat asap disana? Itulah rumah Mbok Sinem.” Samijan menunjuk ke arah asap hitam. Tetapi untuk kesana, kami harus memikirkan sebuah cara. Hutan ini dengan hutan disana dipisahkan jurang yang cukup dalam dengan jarak yang sebenarnya hanya sekitar tiga meter tapi untuk melompat kesana, mungkin cuma badut sirkus atau agen rahasia di film-film yang bisa melakukannya. “Gimana Steve?” Aku menoleh, memandang Steve. “Masukkan saja jin itu ke dalam penjara. Kita bisa melewatinya dengan tali itu.” Rascal menunjuk tali. Samijan gemetar, ia beringsut ke belakang kaki Steve. Menggenggamnya dengan erat, pandangannya lurus ke arah Rascal. “Ku rasa ide bagus.” Steve tersenyum, ia merogoh saku celana. Samijan berlari ke belakangku, memeluk kaki kananku. Aku bisa merasakan badannya yang gemetar. Dua cowok di depanku tertawa terbahak-bahak. Aku mendelik, kasihan samijan kalo ternyata ia dikibulin Steve. Samijan memang jahat, ia pelaku pembunuhan empat orang di mall. Tapi dia hanya suruhan, jin ini gak punya niat membunuh. Dia terpaksa melakukannya karena kalo enggak, dia yang bakal disiksa pemiliknya. Steve menunjuk samijan, ujung jarinya mengeluarkan cahaya merah. Tiba-tiba jin yang ada dalam badan kelinci perlahan keluar. Wujud asli samijan mulai tampak, pelan-pelan sampai akhirnya benar-benar lepas dari badan boneka. “Pergilah! Aku membebaskanmu, seperti janjiku. Tapi jika aku tahu kamu melakukan kejahatan lagi. Aku tidak akan segan-segan,” kata Steve. Samijan, jin berbadan anak-anak tapi wajahnya seperti orang dewasa, mengangguk. Gak menunggu lama, ia melarikan diri, kembali masuk ke dalam hutan. Rascal mengambil boneka kelinci yang ada di belakang kakiku, menyerahkannya kepadaku. Aku langsung melempar boneka itu ke dalam sungai, siapa juga yang mau menyimpan boneka bekas dimasuki jin seperti samijan. “Kalian tunggu disini!” Steve menggulung tali yang tadi dipakai untuk mengikat samijan. Ia berjalan beberapa langkah, sepertinya ia mau melompati sungai ini. “Kamu jangan gila, Steve.” Aku melongok ke bawah. Aliran sungai sangat deras, menabrak batu-batu yang sangat besar. “Lihat kehebatanku, Honey.” Steve lari kencang lalu melompat dan mendarat sampai di seberang jurang dengan selamat. Aku terpesona, Steve benar-benar sangat keren. Steve melempar ujung tali sementara ujung tali lainnya ditangkap Rascal. Rascal mendekatiku, gak ngomong apa-apa langsung mengikat tali ke badanku. Aku meronta, tapi Rascal malah mempererat ikatan tali itu. “Rascal. Apa yang kamu lakukan?” Aku heran dengannya. Rascal gak menjawab pertanyaanku. Ia mengunci kedua tanganku dengan ikatan yang sangat kuat. Ia mengangkat badanku dan gak ku duga. Ia melemparku dengan kencang, sampai sedetik kemudian, aku mendarat dalam gendongan Steve. Aku berkedip beberapa kali, gak menyangka kalo mereka melakukan hal gila semacam ini. Steve menurunkanku dari gendongannya, melepaskan tali yang mengikat badanku. Aku masih kaget dengan cara mereka menyeberangkanku. Padahal kalo aku diberi waktu, aku yakin aku bisa melompati sungai itu. “Kamu tidak apa-apa?” Steve menatapku dengan senyum sok cakepnya. Aku mendongak, menatap Steve dengan tatapan mara. Ku pukul badannya beberapa kali, Steve gak melawan, dua tangannya justru melindungi dirinya sendiri. “Kamu gila. Steve. Kenapa gak bilang-bilang kalo cara menyeberangnya seperti itu. Kamu bikin badanku hampir digrepe-grepe Rascal. Kamu kira aku cewek apaan?” Aku kembali menghujani Steve dengan pukulan. “Apa Rascal menyentuh badanmu dengan sengaja?” Steve menahan dua tanganku. Tatapannya menuntut jawaban. Tadi dia seenaknya eh sekarang dia marah gak jelas. “Bukan begitu. Ku pikir cara menyeberangnya kayak di film-film. Merayap di tali atau berjalan di atas tali, gitu. Gak tahunya kamu melemparku kayak melempar lemper. Kalo tahu cara nyeberangnya dengan melompat. Aku yakin aku bisa melakukannya.” Steve menghela napas lega. Aku masih mencebik. Bunyi gedebum membuatku menoleh. Rascal baru saja mendarat dengan selamat. Badan besarnya membuat jejak kaki yang cukup dalam. Ia melangkah mendekat, berjalan melewati aku dan Steve. “Maafkan aku Honey. Cara ini pernah kami lakukan ke Sonya. Jadi aku melakukannya ke kamu,” Aku mendelik, dipikir aku dan Sonya sama? Aku jelas jauh lebih baik. Hanya melompati sungai tiga meter “Ayo jalan. Urusan kalian. Selesaikan di kamar kalian nanti.” Rascal membuatku menoleh, ini bocah juga mulai menunjukkan sifat aslinya. Kalem tapi suka mengeluarkan kata-kata yang bisa membuatku ingin memakan kepalanya yang seperti cilok. Steve merangkul pundakku, mengajakku jalan melewati jalan setapak yang menanjak cukup tinggi. Semakin masuk ke dalam hutan, sebuah keajaiban tiba-tiba ada di depan mata. Hutan yang tadinya dipenuhi pohon-pohon besar, sekarang berubah menjadi hutan, “permen, es krim, sungai s**u, kue coklat. Wow, apa ini nyata?” Aku mengucek-ucek mata. Tapi apa yang ku lihat benar-benar surga makanan. Aku berlari ke sebuah taman yang dipenuhi arum manis berwarna merah muda. Menari-nari kayak di film India. Aku mencium aroma manis pada arum manis. Aku tergoda dengannya, mengambilnya sedikit lalu memakannya. “Manisnya...” Aku kembali memakan arum manis. “Honey. Apa yang kamu lakukan?” Steve menarikku keluar dari taman arum manis. Aku melangkah menuju sungai s**u yang juga sangat menggoda. Gak pake menunggu lama, aku langsung menyeburkan diri ke sungai itu. Ibarat kata menyelam sambil minum s**u. Aku benar-benar melakukannya. Aku menyelam sambil minum s**u rasa vanila yang sangat manis dan segar. Aku juga mengambil kue coklat yang ada di tepi sungai s**u. Menggigit kue yang rasanya manis dan legit. Walah, ini namanya surga makanan. Aku benar-benar jadi senang sekali. Aku menarik Steve sampai ia ikut tercebur ke dalam sungai s**u. Aku mencipratinya dengan air s**u membuat Steve kaget dan ia menjilat bibirnya yang terkena s**u. “Manis...” Steve akhirnya ikut menikmati air s**u. “Honey. Ayo!” Steve menarikku, menggenggam tanganku, mengajakku berjalan, melewati pohon berbuah permen warna-warni. Aku memetik permen berwarna merah, masuk ke mulut, permen yang kenyal dan manis asem membuatku ingin memetiknya lagi dan lagi. “Rascal. Ayo makan permen ini. Enak loh....” Aku mendorong permen ke Rascal. Ia menolak tapi aku terus memaksanya sampai akhirnya Rascal menerima permen itu dan memakannya. Sejauh mata memandang, hanya ada pohon berbuah permen, rumput-rumput yang terbuat dari permen. Bebatuan yang terbuat dari beraneka kue dengan berbagai warna. Sungai s**u putih dan coklat. Taman arum manis yang tertata indah, berwarna merah muda, putih, kuning, hijau dan biru. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang terbuat dari, “Kue ... huaa....” Aku berlari ke arah rumah kue. Memandangnya dengan tatapan memuja, aku gak tahu kalo di tengah hutan ada hutan ajaib. “Kupikir hutan ajaib itu cuma dongeng. Gak tahunya ... hutan ajaib benar-benar ada...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN