Pak Banu, manager di mall ini menjelaskan tentang beberapa kejadian yang menurutnya aneh. Selama sebulan ini, ada empat kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa empat orang. Anehnya, keempat orang yang kecelakaan ini sempat membeli boneka di toko boneka yang tadi sempat ku kunjungi.
“Aku tidak mencurigai mereka karena memang tidak ada motif di balik kecelakaan ini. Keempatnya tidak memiliki hubungan khusus baik dengan pegawai maupun dengan pemiliknya. Tetapi entah kenapa, empat korban sama-sama membeli boneka besar seperti boneka yang dibawa oleh Nona ini.” Pak Banu menunjuk boneka yang aku bawa.
Pak Banu sedikit mencondongkan badannya ke depan, pandangannya seolah-olah sedang membicarakan sesuatu yang penting dan rahasia. “Aku curiga. Ini ulah hantu boneka seperti chucky atau anabel.” Pak Banu manggut-manggut, membenarkan ucapannya sendiri.
Rascal tertawa terbahak-bahak, aku dan Steve menatapnya heran. Aku kembali memandnag Pak Banu, ia sepertinya tersinggung karena ulah Rascal.
Pak Banu mengeluarkan sebuah map berwarna putih. Ia menyerahkan map itu kepada Steve. Di halaman pertama, aku melihat sebuah artikel tentang kecelakaan seorang anak yang kakinya terjepit lift (eskalator), di saat para petugas menolong dengan membuka bagian mesin. Tiba-tiba badan anak itu tertarik masuk, hingga akhirnya ia lenyap. Halaman kedua, seorang ada seorang pria meninggal setelah terjatuh dari lantai delapan mall ini. Halaman ketiga seorang wanita yang meninggal di kamar mandi dengan kepala masuk ke dalam wc duduk.
“Yang ini kan bisa jadi karena pembunuhan,” ucapku.
“Seharusnya begitu. Tapi wanita ini juga membawa boneka besar dari toko itu,” jelas Pak Banu.
Steve mengembalikan map itu ke atas meja, ia menatap Pak Banu beberapa lama. “Bagaimana anda tahu tentang kami?” Kali ini Steve bertanya dengan mimik muka serius.
“Apa kamu kenal Bimo Kastanto? Kapolres kita. Kebetulan dia sepupuku. Dia yang memberi tahu tentang kalian kepadaku.,” jawab Pak Banu.
Steve menoleh kepadaku sejenak, ia tersenyum sebelum kembali memandang Pak Banu. “Malam ini biarkan kami disini. Kami harus menyelidiki masalah ini. Jika apa yang anda katakan benar. Seharusnya dia muncul di tempat ini. Setidaknya saat malam,” kata Steve.
“Silahkan saja. Hanya saja asal kalian tahu. Tempat ini jauh berbeda jika malam tiba.” Pak Banu lagi-lagi mencondongkan badan saat membicarakan sesuatu hal berbau hantu.
“Kami demon hunter, Pak. Hantu, dedemit, jin atau setan sudah biasa bagi kami,” ucapku.
Pak Banu menepuk sandaran kursi, ia menghela napas sambil manggut-manggut. “Iya ya. Aku lupa hahahahaha.” Tawa keras memenuhi ruangan.
***
Jam menunjuk angka sepuluh malam, toko-toko mulai tutup. Hanya bioskop yang masih buka karena ada jadwal tayang jam dua belas malam.
Aku dan Steve duduk di ruang tunggu, di lantai dasar. Menyaksikan para pegawai toko membereskan dagangan mereka sebelum akhirnya tutup. Lampu kelap-kelip yang menghiasi toko asesoris dipadamkan. Gak lama kemudian beberapa orang keluar lalu yang terakhir bagian mengunci pintu.
Aku memeluk boneka, kepalaku menyandar di bahu Steve. Menunggu semua orang disini keluar serta menunggu penunggu ini muncul membuatku bosan. Ingin cepat menyelesaikan misi ini lalu pulang dan tidur sambil memeluk boneka kesayangan.
Tiba-tiba bulu kudukku meremang, aku merasa kalo ada seseorang mengawasiku. Aku duduk tegak, menoleh ke kanan dan ke kiri tapi hanya orang-orang melintas yang melirik bahkan ada yang sengaja memandang kami.
“Aneh,” lirihku.
“Apa?” Steve memandangku dengan dua alis bertaut.
“Enggak.” Aku berdiri, daripada bengong mending keliling mall.
Aku melangkah, mendekati lift (eskalator) yang masih berjalan naik. Aku memutuskan naik, masih memeluk boneka, aku memandang ke ujung lift (eskalator). Seorang wanita memakai baju terusan berwarna putih lusuh dengan rambut panjang memandangku lekat. Aku diam, enggan memandangnya.
Saat aku sampai di tangga terakhir, wanita itu bergeming, masih memandangku lekat. Aku menggeser badan, membiarkannya berdiri di ujung lift (eskalator).
“Kamu mau kemana Hon?” Steve berjalan di sampingku. Merebut boneka untuk dibawanya.
“Aku bosan, Steve. Mending kita jalan-jalan.” Aku memandang ke bawah. Orang-orang banyak yang mulai keluar mall, sementara hantu-hantu mulai banyak yang muncul.
Tawa anak-anak terdengar keras, beberapa hantu bocah berlari sambil tertawa. Seorang hantu anak cowok berdiri di depan Steve, ia menunjuk boneka yang dipegang Steve di tangan kiri kemudian ia tertawa dan berlari menjemput teman-temannya.
Beberapa hantu wanita memakai baju daster batik tersenyum, melihat kami berdua. Saat kami berpapasan, tanpa malu-malu mereka memandangi kami berdua. Keramaian mall ini semakin seperti mall pada siang hari. Bedanya toko-toko sudah tutup, mereka lalu lalang gak jelas.
Lagi-lagi aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi. Aku menghentikan langkah, memandang ke arah belakang. Tapi gak ada sesuatu yang mencurigakan, hanya ada boneka kelinci yang bersandar di tembok kaca.
“Ada apa Hon?” Steve ikut menoleh.
Aku menelengkan kepala, siapa yang meninggalkan boneka lucu seperti itu disini?
Aku mendekati boneka kelinci merah muda dengan pita besar di telinga kanan. Boneka yang serupa dengan yang ku lihat tadi sewaktu di toko boneka. Aku mengambil boneka itu, memandangnya lekat. Boneka ini sama lucunya dengan boneka beruangku tapi boneka ini terasa aneh saat dipegang. Terasa terlalu hangat dan seolah hidup. Tiba-tiba matanya berkedip, sontak aku melempar boneka itu karena aku terlalu terkejut.
Tanpa ku duga, boneka itu tiba-tiba berdiri sambil mengusap pantatnya. Dua alisnya bertaut, bibirnya menyeringai. “Kenapa kamu gak memilihku, anak manis....” Aku melongo, boneka ini bisa bicara dan bergerak layaknya manusia.
Aku memandang Steve, gak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku kembali menoleh ke boneka, tapi boneka itu sudah gak ada.
“Aduh!” Seseorang memukul kakiku dengan benda keras. Sakitnya membuat kepalaku ikut berdenyut-denyut. Entah bagaimana caranya, boneka itu sudah berdiri di depanku. Menyeringai dengan satu tangan membawa sebuah palu kayu.
“Boneka sialan!” Steve mengangkat boneka itu, melemparnya dengan keras melalui pagar pembatas. Boneka itu mendarat di lantai dasar dengan cara yang menyakitkan, kalo dia bisa merasakannya.
“Boneka sialan!” Steve lagi-lagi mengumpat.
Aku memutar badan, mataku seketika membulat sewaktu melihat boneka kelinci yang tadi dilempar Steve, sekarang sudah berdiri di depan kami. Wajah marahnya terlihat jelas, ia membawa sebuah tongkat yang digunakan sebagai pemukul kasti.
“Berani sekali kamu melemparku! Sudah gak memilihku. Masih membuangku. Kalian benar-benar kejam.” Boneka kelinci memukulkan tongkat kastinya ke tangan kiri. Berlagak sok jadi preman.
“Jadi ... kamu boneka yang tadi?” Aku jadi penasaran.
“Aku boneka terbaik di dunia ini. Kenapa kamu gak memilihku?” Boneka kelinci itu kembali menyerangku dengan tongkat kasti. Dengan mudah, Steve memegang tongkat itu dan mengangkat badan boneka.
Sewaktu Steve mau melempar boneka itu lagi. Boneka kelinci bersiul, gak lama kemudian genderuwo hitam keluar dari toko mainan. Ia mendekati kami dengan mata selebar tatakan cangkir, melotot.
Genderuwo menyerang Steve, gak menunggu lama keduanya sudah terlibat baku hantam. Boneka yang tadi dibawa Steve dilempar ke pinggir lift (eskalator) dan akhirnya terlempar ke bawah setelah genderuwo tanpa sengaja menendang boneka itu saat seharusnya menendang Steve.
“Kau urusanku, Nona. Kenapa kamu gak memilihku?” Boneka kelinci berdiri di atas pagar pembatas.
Aku ingin tertawa, aku, Bunga Lestari, murid dukun terkenal, malah harus berhadapan dengan boneka hantu seperti dia.
Boneka itu marah besar, ia bersiul. Gak lama kemudian, boneka dengan berbagai model dan ukuran keluar dari toko-toko yang setengah terbuka. Mereka kompak mendekatiku, membuatku melotot kaget karena ternyata ada banyak boneka yang bisa bergerak seperti boneka kelinci itu.
Boneka-boneka itu berbaris di depan boneka kelinci, seolah-olah mereka adalah anak buah boneka kelinci tersebut. Boneka kelinci tersenyum puas, ia berjalan mondar-mandir di depan boneka-boneka yang berbaris.
“Kalian semua. SERANG DIA!” Teriakan boneka kelinci adalah awal dari perlawanan boneka-boneka melawanku.
Boneka berbagai ukuran menyerangku bersama-sama. Aku melawan mereka dengan tangan kosong. Memukul dan menendang pada lawan dimana yang paling besar saja ukurannya hanya sepinggangku.
Aku terus berusaha menyelamatkan diri, tapi boneka-boneka itu bukannya berkurang justru semakin banyak. Mereka menyerangku secara bersama-sama. Beberapa barbie melompat di kepalaku, menjambak rambutku tanpa ampun. Aku menariknya dan melemparnya. Belum terbebas dari barbie, kini boneka gajah, jerapah dan monyet, melemparkan badan mereka di d**a, di punggung dan lengan, mereka melekat erat sekali. Seperti ada lem yang mengelem kami.
Aku menarik boneka gajah yang menempel di dadaku, menarik boneka jerapah yang ada di punggungku lalu menarik boneka monyet di lenganku. Aku melempar mereka tapi boneka lain menyusul, membuatku kembali dalam posisi yang sama. Terkepung oleh puluhan boneka.
Aku menarik dan melempar semua boneka yang menempel tapi semakin sering aku melakukannya, mereka semakin ganas dan aku malah terkubur oleh boneka-boneka yang menyerangku secara bersemaan.
Seseorang menyelamatkanku, melempar cakranya sampai boneka itu terbakar dan bisa lepas dari badanku. Aroma benda terbakar tercium kuat, aku berdiri sambil berkacak pinggang. Menatap boneka-boneka yang terbakar di sana-sini.
“Steve sudah menangkap boneka itu.” Rascal mendekati Steve. Suamiku sudah mencekal dua tangan boneka di belakang punggungnya. Boneka kelinci itu menghela napas berat.
Rascal berdiri di depan boneka kelinci. “Katakan, siapa yang menyuruhmu?
Aku jongkok di depan boneka kelinci, muka boneka ini lucu sekali, hanya saja sepasang matanya terlihat menyeramkan. Steve berada di belakang boneka, ia selesai mengikat dua tangan boneka itu. Kini Steve memainkan pita yang dipasang di depan telinga kanan boneka. Ia mengeluarkan gunting dan segera menggunting benang yang menyatukan pita dengan telinganya.
“Apa aku perlu memotong telingamu juga?” Steve membuat boneka kelinci mengerut.
“Siapa yang menyuruhmu?” Steve menekan kepala kelinci, gunting digerakkan tepat di depan mata boneka itu.
“Rascal. Hanny butuh telinga boneka kelinci. Kenapa tidak kita memotong telinga boneka ini dan membawanya ke Hanny,” kata Steve.
Boneka kelinci beringsut, badannya gemetar. “Aku ... bisa dilenyapkan olehnya. Aku takut...”
“Aku tahu kamu sengaja dipasang di boneka ini. Tapi untuk apa dan kenapa. Katakan atau, aku siap menggunting telingamu.” Steve menarik telinga kanan boneka, mendekatkan gunting sampai ujungnya menyentuh kuping kelinci.
“Baik-baik. Aku akan katakan...”
Boneka itu akhirnya membuka suara, menceritakan masalah yang terjadi dan siapa yang melakukannya.