Steve berang, ia gak terima karena sekarang dijadikan satu tim dengan Rascal. Sedari tadi ia sering menepuk setir. Aku gak tahu kalo hubungan Steve dan Rascal seperti kucing dan anjing. Perjalanan pulang menambah kemarahannya, kemacetan membuat Steve sering mendecak kesal. Aku memandangnya sambil geleng-geleng. Heran dengan sikapnya yang mudah meledak-ledak.
“Relax, Honey!” Aku sok keinggrisan, Steve menoleh. Muka tegangnya berubah lembut, senyum ia berikan kepadaku.
“Sorry, Hon. Aku....”
“Iya-iya, tahu kalo kamu kesal karena Rascal. Tapi kenapa sih kamu kok segitunya sama dia? Rascal lumayan baik menurutku.” Steve menghadiahiku tatapan pembunuh.
“Jangan pernah dekati dia, Hon. Dia tidak sebaik yang kamu kira,”
“Makanya, kasih tahu dong. Kenapa kamu gak suka Rascal? Selain karena dia lebih keren dan lebih berotot darimu.” Steve menepikan mobilnya, ia memutar badan ke arahku.
“Jangan pernah menganggapnya lebih keren dariku. Aku Steve Johnson, jauh lebih keren darinya,”
Aku tergelak, tertawa terbahak-bahak melihat kecemburuannya. Aku mencubit kedua pipinya, gemas karena Steve dengan mudahnya marah. “Kamu memang jauuuuuuh lebih keren dari cowok manapun di dunia ini, Steve. Meskipun kamu suka bikin aku jengkel tapi kamu cowok yang sudah membuatku bahagia,”
Steve tertawa, ia kembali menjalankan mobilnya. Aku senang melihat Steve kembali ceria. Steve yang super serius membuatku merasa gak nyaman, sangat berbeda dengan Steve yang gayanya slebor, yang membuatku mudah senang sekaligus sebal.
“Honey. Kita ke mall grande untuk survey lokasi sekaligus dating ya. Sudah lama kita tidak kencan kan?”
“Aku penasaran soal kenapa kamu gak suka Rascal? Apa kalian dulu sering jahil-jahilan trus kamu kalah sama dia?”
“Aku dan Rascal tidak punya masalah seperti itu Hon,”
“Terus apa?”
“Jangan bahas dia. Kita bahas kita saja. Kamu ingin apa? Nonton, shopping atau kita ke hotel grande. Makan siang sekaligus nana nina disana.” Nahlo otak omesnya kambuh lagi.
“Katanya berkabung? Gak ingin senang-senang?”
Steve melenguh, tapi ada tawa setelahnya. Aku ikutan tertawa, ku peluk lengannya yang gak sibuk menyetir. Steve memang lebih sering menyetir dengan satu tangan, satu tangan kadang menjahiliku, menyentuhku dan kadang-kadang disandarkan pada jok mobil atau memegang perseneleng.
“Honey. Terima kasih sudah membuat moodku membaik.” Steve melirikku, kami bersitatap beberapa detik tapi sialnya tiba-tiba mobil Steve menabrak mobil di depannya.
Aku langsung melepas lengannya, karena aku, Steve kena masalah. Aku mencebik tapi Steve tersenyum. Ia mengacak-acak rambutku lalu ia melepas seatbelt dan keluar mobil untuk bertemu dengan pemilik mobil yang ia tabrak.
Pengemudi mobil van hitam super besar keluar, aku melongo saat tahu orang itu gak lain adalah Rascal. Aku segera keluar mobil, mendekati dua cowok yang sedang berdiri berhadapan.
“Sorry. Aku tidak sengaja,” kata Steve.
“Kamu butuh fokus apalagi saat menyetir dengan seorang wanita.” Rascal menatapku sesaat.
“Tidak ada hubungannya dengan Bunga. Ini murni kesalahanku,” kata Steve.
“Aku tidak mengatakan, Bunga penyebabnya.” Rascal mengusap bemper mobilnya yang tergores.
“Bawa ke bengkel! Aku akan membayar semuanya,” kata Steve.
“Kita ke bengkel sama-sama. Aku butuh tumpangan,” kata Rascal.
“Kamu bisa naik taksi. Aku akan membayarnya,” ucap Steve.
“Aku yakin kamu akan ke mall grande. Aku juga akan kesana. Kita satu tim. Lebih baik kita kesana bersama-sama.” Rascal ada benarnya.
“Kalo gitu. Kita bawa mobilnya ke bengkel terus kita berangkat bareng-bareng. Iya kan Steve?” Tapi Steve menghadiahiku pelototan mata.
“Tidak bisa, Hon. Meski kita dalam misi yang sama tapi aku belum mengatakan kita satu tim. Aku tidak akan bersedia satu tim dengannya.” Steve menunjuk Rascal.
“Tentu saja. Kamu tidak ingin dikalahkan olehku. Seperti dulu, iya kan?” Rascal membuat rahang Steve mengeras.
“Aku gak tahu apa masalah kalian tapi ku rasa kita selesaikan misi ini secepatnya. Aku ingin minggu ini aku bisa tidur seharian. Ayo Rascal, cepat bawa mobilmu ke bengkel. Steve dan aku membuntutimu dari belakang.” Aku menarik lengan Steve, mengantarkannya ke dalam mobil.
Setelah aku duduk di dalam mobil, Steve melotot, aku tahu bocah ini mau ngamuk tapi sinar matanya berubah beberapa kali. Kadang biru terang kadang biru gelap sampai akhirnya kembali ke biru terang. “Kenapa kamu melakukannya, Hon? Rascal pasti merusak kencan kita,” keluhnya.
“Nanti sampai di mall, kita pisah. Aku dan kamu bisa nonton film terus Rascal, terserah deh dia mau kemana.” Ide bagus kan?
Steve tersenyum senang, mengacak-acak rambutku dan menghadiahiku kecupan manis di bibir. Membuatku menepuk pundaknya karena main nyosor sembarangan tapi Steve malah kembali tertawa terbahak-bahak. “Kita nonton terus ke hotel. Nana nina sampai waktunya memburu hantu.” Steve satu ini muncul lagi.
“Steve, kamu ini aneh banget deh. Kadang bisa serius, kadang bikin jengkel. Tapi aku suka Steve yang ini daripada Steve yang kemarin di desa Geluran,”
“Aku Steve, Hon. Kemarin atau sekarang. Aku tetap Steve.” Steve menyalakan mesin mobil, melaju di belakang mobil Rascal. Mengikuti mobil itu sampai ke bengkel.
***
Di mall, Steve manyun. Rascal mengekor di belakang kami berdua. Aku menoleh, Rascal tersenyum. Berjalan dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Rascal yang berbadan dempal langsung jadi pusat perhatian, macam pengawal yang mengikuti raja dan ratunya. Membuatku terkikik kalo membayangkan bagaimana aku dan Steve jadi raja dan ratu beneran.
“Hon. Ada yang lucu?” Steve melirik, aku menggelayut manja di lengannya.
“Kamu kenapa sih Steve? Bawaanmu jadi kayak orang mau M aja. Apa masih kepikiran Restu dan Ilham? Atau lagi memikirkan Slamet? Steve, aku yakin Slamet bakal ceria kayak biasanya. Sekarang dia lagi sedih aja,”
“Bukan itu Hon.” Steve menunduk, bibirnya menempel di daun kupingku. “Sampai kapan dia buntuti kita? Hon. Kita ke hotel saja. Aku malas melihatnya,” bisiknya.
Aku pikir dia sedang memikirkan teman-temannya, gak tahunya ternyata malah memikirkan Rascal. Aku kembali terkikik, menyadari kalo Steve sedari tadi manyun hanya karena ada Rascal.
“Hon. Aku serius.” Steve memasang muka jutek, makin lucu mukanya.
“Aku juga serius, Steve. Kamu ini, kenapa sih pake sebel sama Rascal? Kepo aku...”
Steve merangkul pundakku, mengajakku jalan lebih cepat. Ia membuang muka, enggan membahas masalah itu. Tapi itu justru membuatku semakin kepo.
“Hon. Boneka itu bagus-bagus. Aku ingin membelikanmu boneka yang paling besar.” Steve mengajakku masuk ke dalam toko boneka.
Steve benar-benar membuatku ingin tertawa geli, dia cari alasan biar aku gak menuntut jawabannya. Tapi ya sudahlah, mending aku menuruti keinginan Steve untuk gak membahas masalah ini.
Aku memandangi sekeliling toko boneka yang cukup luas. Ada beberapa rak berisi boneka yang ditata sesuai warna. Boneka yang besar-besar berjajar di rak paling atas, membuatku mendongak untuk melihatnya.
Ada boneka beruang putih, coklat, merah muda dan kuning berjajar disana. Ada juga boneka babi, boneka kelinci dan panda. Boneka kelinci tersenyum dengan pita besar di kuping kanan terlihat berbeda, lebih menarik dari yang lainnya, membuatku terdorong untuk membelinya. Aku menunjuknya, ingin memilikinya.
“Kamu mau panda itu, Hon?”
“Enggak deh. Aku ingin boneka beruang aja. Yang warna kuning.” Telunjukku beralih ke boneka beruang tersenyum dengan pita kuning besar dan mengkilap di lehernya.
“Bukannya boneka kelinci itu?”
“Enggak ah. Dia bagus tapi aku gak suka matanya. Kayak gimana gitu. Mending boneka beruang itu aja,”
Steve pun meminta penjualnya untuk mengambilkan boneka beruang kuning. Boneka itu diberikan kepadaku, ku peluk dan menikmati bulunya yang sangat lembut. Setelah membayar boneka, aku dan Steve keluar dari toko itu. Rascal berdiri di depan toko, membuatku tersenyum karena Steve kembali manyun.
Aku menarik tangan Rascal. Mengajaknya berjalan di sisi kiri sementara di sisi kanan, ada Steve yang kembali melingkarkan lengannya di leherku. “Kenapa kamu mengajaknya jalan di sebelahmu?” bisiknya.
Aku melirik Steve, tapi aku gak ingin banyak bicara. Gimana pun, Rascal adalah sepupu. Masa iya, dia dibiarkan berjalan sendiri. Aku menyerahkan boneka ke Steve, memintanya membawakan boneka besar itu.
Aku menarik tangan Steve dan Rascal, berjalan cepat ke bioskop untuk menonton. Steve mendengus, sementara Rascal tersenyum. Setelah kami berada di depan gedung bioskop, aku kembali memeluk lengan Steve. Memberinya senyum terbaik yang aku miliki. Steve menghela napas berat tapi ia memilih diam dan menurut kepadaku.
Selama menonton film, Steve merangkul pundakku sampai aku gerah dibuatnya. Tontonan film yang dibintangi Bunga Citra Lestari, harusnya sangat lucu tapi aku gak bisa konsen karena Steve terus meraba-raba kulitku.
“Aduh, Steve. Aku gak bisa nonton nih,” gerutuku.
“Nanti kita nonton lagi. Aku lagi pengen nih....”
Aku menoleh, dua alisku bertaut. Steve ini kok bisa punya keinginan aneh-aneh. Apalagi ada Rascal, aku gak enak sama dia karena menyuguhkan pemandangan gak pantas semacam ini.
“So childish.” Rascal melirik Steve, membuat suami antikku meradang. Ia memandang Rascal dengan dua mata melotot, Rascal memberi senyum tipis yang membuat Steve semakin geram.
Pada akhirnya, acara menonton jadi gak asyik. Di depan bioskop, aku mendecak sebal. Aku menatap Steve dengan dua alis bertaut. Aku merebut boneka beruang dari tangannya, berjalan cepat beriringan dengan Rascal.
Rascal tersenyum, ia menoleh, mengejek Steve. Membuat Steve semakin sebal, ia menarik tanganku. Menggenggamnya erat, membuat tanganku berkeringat. “Hon. Jangan buat masalah!” bisiknya.
“Kamu sih. Orang nonton kok diganggu,”
“Aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin menyentuhmu. Itu saja,”
“Ck. Nanti di rumah kan bisa. Emangnya orang pacaran, tangan gerayangan pas nonton bioskop,”
“Rasanya lain Hon. Kamu ini sukanya main cepat,”
Aku gak ngerti apa yang diomongin Steve. Yang pasti kalo ngomong sama Steve yang ini pasti kepalaku pusing. Ah, Steve ... kamu nyebelin.
Steve memutuskan menyudahi survey gaje yang kami lakukan. Padahal apa yang kami lakukan Cuma jalan-jalan, makan, nonton bioskop dan beli boneka ini. Kami bertiga naik ke lantai paling atas untuk menemui direktur mall ini.