Keberhasilan Di Tengah Duka

1596 Kata
Aku gak pernah menyangka bisa bertemu dengan seorang Kades yang gampang keok seperti Kepala desa Geluran ini. Di saat warganya butuh perhatian dan pertolongannya. Orang yang perutnya sudah buncit ini malah bersembunyi di dalam balai desa. Memandang pria yang sedang menyaksikan pertarungan Steve dan Mbok Jirah, aku hanya bisa menghela napas. “Untung kepala desa Tanjungsari gak kayak kamu, Pak. Kalo dia kayak kamu, bakal aku cabuti bulu jenggotnya satu persatu,” gerutuku. Steve masih berusaha melepaskan diri dari jeratan asap hitam buatan Mbok Jirah. Aku juga gemas dengannya karena di saat seperti ini, dia malah mengurungku di dalam gelembung. Mbok Jirah mendekati Steve, senyum angkuhnya terlihat jelas. Memandang Steve dari kepala sampai kaki. Mengatakan sesuatu tapi aku gak bisa mendengarnya. Mbok Jirah menyentuh dagu Steve, masih mengatakan sesuatu yang membuat Steve marah besar. Tangannya kembali menyala, ia menekuk siku untuk menyentuh asap yang akhirnya membuatnya lepas dari jeratannya. Steve mengeluarkan cakra yang sangat besar. Ia menyerang Mbok Jirah tanpa ampun. Satu cakra yang ia lepas membuat Mbok Jirah terhempas keras. Steve mendekati Mbok Jirah, ia mengeluarkan cakra sebesar bola kelereng. Menginjak kaki Mbok Jirah sampai wanita itu menjerit. Steve menjentikkan cakranya ke dalam mulut Mbok Jirah, membuat wanita jatuh gak sadarkan diri. Gelembung yang membuatku terperangkap, tiba-tiba menghilang. Aku mendekati Steve dan menatap Mbok Jirah yang masih berbaring. Steve mengeluarkan handphone-nya lalu menghubungi seseorang. “Misi selesai. Kirimkan polisi secepatnya!” Steve mengakhiri teleponnya, ia memasukkan handphone ke dalam kantong celana. *** Setelah tertangkapnya Mbok Jirah. Warga yang masih hidup berangsur-angsur membaik. Aku berdiri di dalam rumah Pak Kades. Melihat warga yang tadinya tergeletak lemah di atas ranjang, tiba-tiba merasa lebih baik. Bahkan bisa duduk, padahal sebelumnya bisa bertahan hidup saja sudah jadi sebuah keajaiban. “Syukurlah semuanya selesai. Honey. Ayo pulang!” Steve tersenyum, aku juga ikut tersenyum. Aku memutar badan, ingin segera pergi dari tempat ini. Pak Kades berdiri di hadapanku. Ia diam tapi tatapannya kepadaku. “Bapak mengucapkan terima kasih kepadamu. Juga teman-temanmu,” Aku diam, ingin tersenyum tapi sulit sekali. “Sudah tugas kami, Pak.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. “Ucapanku kemarin, membuat Bapak sadar. Bapak bukan kepala desa yang baik. Di saat warga membutuhkan Bapak. Bapak malah sibuk dengan perasaan Bapak karena kehilangan dua anak Bapak.” Pak Kades menunduk, ia menghela napas berat. Air mata merebak, secepatnya ia seka dengan dua jari tangan kanan. “Kejadian ini memang luar biasa. Wajar jika Bapak shock seperti ini.” Steve berdiri di sebelahku, menatap Pak Kades dengan tatapan kasihan. “Terima kasih, Nak Steve. Ngomong-ngomong kejadian kemarin....” Steve menunjuk kening Pak Kades. Membuat pria itu diam seribu bahasa. Sinar merah keluar dari telunjuk Steve, masuk ke dalam kepala Pak Kades. Pak Kades berkedip beberapa kali, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang yang sedang mencari sesuatu. “Bapak ingin ngomong apa ya? Semalam, Bapak bermimpi aneh. Dan tiba-tiba pagi ini semua membaik.” Aku melongo, kaget melihat Pak kades yang tiba-tiba bersikap aneh. Aku memandang Steve, ia mengedipkan bahu sambil melengkungkan bibirnya ke bawah. Slamet mendekati Steve, air mata menetes dari kedua matanya. Ia segera menghapusnya tapi air mata itu tetap saja menetes. “Kenapa Kapten tidak mengatakannya kepada saya?” Pundak Slamet bergetar hebat. Steve menepuk pundak Slamet. “Maafkan aku. Bukan maksudku menutupi masalah ini darimu. Tapi kita harus tetap mengerjakan tugas jadi ... terpaksa aku menutupi masalah ini sampai semua selesai,” “Aku sudah bilang. Jangan pergi! Tapi mereka tetap memaksa. Warga desa butuh obat segera, tapi kenyataannya ... mereka....” Slamet gak melanjutkan ucapan. Ia kembali menangis tersedu-sedu. Aku keluar dengan langkah gontai, kembali menatap ruangan yang penuh dengan tawa riang dari warga yang sudah kembali sehat. Di depan balai desa, beberapa mayat masih terbaring di atas lantai beralas tikar pandan. Polisi sedang melakukan pemeriksaan kepada mayat-mayat itu. Pak Subagyo juga ada di tempat ini. Ia sedang berbicara dengan seorang polisi yang seragamnya banyak dihiasi lambang-lambang. Mungkin dia orang yang punya kedudukan tinggi di kepolisian. Dua peti yang ditutupi bendera merah putih ada di sudut balai desa. Dua peti itu berisi mayat Restu dan Ilham. Steve dan Slamet berdiri di depan peti mati itu. Aku segera mendekati Steve, berdiri menatap dua peti yang akan segera dibawa ke kantor demon hunter. *** Restu dan Ilham dibawa masuk ke dalam kantor demon hunter. Aku berdiri di tengah ruangan, berbaris bersama para anggota demon hunter lainnya. Steve memimpin upacara pelepasan dua teman yang telah gugur saat bertugas. Suara Steve bergetar, membuat airmataku luruh karena aku bisa merasakan bagaimana perasaan Steve sekarang. Slamet meletakkan seragam Restu di peti mati yang ada fotonya di depan, ia juga meletakkan seragam Ilham di depan peti matinya. Slamet gak bisa menutupi perasaannya, ia menangis di depan peti mati sahabatnya. Aku menunduk, ikut terbawa suasana. Menangis sesenggukan tanpa bisa meredamnya. Sampai akhirnya upacara selesai. Semua anggota demon hunter bubar, mereka kembali mengerjakan tugasnya masing-masing. Beberapa orang mendekati peti mati. Melepas bendera merah putih yang menutupi peti itu lalu membawanya keluar. Slamet histeris, Steve menahan badannya agar gak mengikuti peti mati seperti orang gila. “Menangis tidak akan membuat mereka hidup.” Rascal berdiri di sebelahku. Menatap Steve yang menenangkan Slamet. “Aku tahu. Tapi dengan menangis, perasaan bisa lega.” Aku tersenyum, memandang Rascal. Hari ini dia memakai kaos biru tua yang melekat ketat di badannya. “Hanya orang lemah yang menangis,” “Maksudmu aku juga lemah karena aku juga kadang menangis?” Aku jadi esmosi jiwa. Rascal memandangku dengan dua alis diangkat. “Bukan begitu maksudku. Wanita wajar jika menangis. Tapi laki-laki...” “Mau laki-laki mau perempuan. Sama saja. Bisa menangis kalo ditinggal pergi orang-orang di dekatnya.” Aku memicingkan mata, memilih pergi saja daripada pusing mendengar omongan Rascal yang gak masuk akal. Aku mendekati Steve, tapi pandanganku masih ke Rascal. Bocah raksasa itu sedang berdiri sambil melipat dua tangannya. Ia tersenyum kepadaku, membuatku melengos. Steve memandangku dengan senyum gantengnya, aku memeluk lengannya dan mengajak Steve keluar kantor. *** Duduk di bangku di belakang gedung demon hunter. Steve duduk sambil menunduk, wajahnya sendu. Membuatku kasihan kepadanya. “Steve. Abis ini kita jalan yuk!” Aku ingin menghiburnya. Steve menoleh, ia tersenyum kepadaku. “Aku tidak bisa, Honey. Tidak setelah apa yang terjadi dengan dua timku,” “Bukan salahmu. Kamu jangan seperti ini. Kita ajak Slamet makan enak. Dia butuh kita kan?” “Kita masih masa berkabung. Beberapa hari lagi, kita bersenang-senang,” Aku mendongak, menatap pepohonan yang rindang. Angin yang berhembus, membuat daun-daun bergoyang. Aku jadi ingat sewaktu Ayah dan Ibu meninggal. Saat itu aku hampir sama seperti Slamet. Menangis sesenggukan gak mengenal tempat, bahkan aku menangis di pusara mereka. Gak mau pulang, sampe ditarik sama tetangga dan memaksaku untuk kembali ke rumah. Setetes air mata tumpah, kejadian itu benar-benar membuatku kehilangan harapan. Seandainya aku berani bunuh diri, mungkin sudah ku lakukan. Tapi, aku terlalu pengecut untuk mengakhiri nyawaku sendiri. “Ini semua gara-gara roserie. Roserie-roserie-roserie. Kesini kamu!” Roserie muncul setelah ku panggil. “Untuk apa memanggil roserie, Hun?” Steve membuatku menoleh, sesaat aku kebawa emosi sampai amarah membuatku memanggilnya. Mengingat, Ayah dan Ibu gak bakal balik meski aku marah atau bahkan memusnahkannya, aku menyuruh roserie pergi. Rascal berjalan pelan mendekati kami, ia berdiri di depan kami. Membuatku dan Steve mendongak untuk sekedar menatapnya. “Bos memanggil kita. Dia menunggu di kantor.” Rascal pergi setelah mengatakan hal itu. Steve bangkit, ia menyerahkan tangannya. Dengan semangat, aku merangkul lengannya. Menggelayut sambil memberinya senyuman paling manis yang dihadiahi kecupan manis di bibir. Steve tersenyum, membuatku senang karena akhirnya ada senyum muncul di wajahnya. *** Pak Subagyo meminta aku, Steve dan Rascal duduk dalam satu meja. Aku dan Steve duduk di kursi panjang, Rascal dan Pak Bagyo duduk di kursi, berseberangan dengan kami. “Aku memberi kalian, tugas baru.” Pak Bagyo mengangkat map putih yang ada di atas meja. Menyerahkan map itu kepada Steve. Steve membuka map itu, aku ikut membacanya. Sebuah tugas baru rupanya. Tapi aku gak tahu kenapa Rascal juga disuruh kemari padahal dia gak satu tim dengan kami. Pak Bagyo menunjukku sambil tersenyum. “Binggo! Steve, Rascal dan Bunga. Kalian satu tim! Slamet sedang berpikir untuk resign. Rascal butuh tim sementara tim kalian sudah hilang tiga.” Pak Subagyo tersenyum puas. “Kami berdua sudah cukup. Tidak perlu penambahan anggota tim.” Steve memandang Rascal dengan tatapana mencela. Rascal membelalakkan mata, ia menatapku dan Steve bergantian. “Biarkan Steve mencari anggota baru. Aku dan Bunga bisa mengatasi masalah ini.” Rascal seenaknya bicara. “Sungguh, Pak. Kami berdua bisa mengatasi ini. Rascal hanya membuat masalah ini lebih berantakan.” Kali ini Steve yang keberatan. Aku baru sekali ini melihat Steve dan Rascal duduk bersama. Ku pikir hubungan mereka layaknya saudara tapi nyatanya, mereka lebih terlihat seperti musuh bebuyutan. “Tapi aku sudah memutuskan. Untuk saat ini, lebih baik kalian bersama. Laksanakan tugas kalian dengan baik! Secepatnya beri aku hasil baik. Kalian bisa pergi sekarang. Aku masih punya banyak pekerjaan.” Pak Subagyo bangkit, ia melangkah menuju pintu. Steve berdiri, ia mengikuti arah langkah Pak Subagyo. “Pak saya mohon ... jangan satukan aku dengannya,” “Keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Laksanakan saja perintahku atau kamu keluar dari demon hunter. Aku hanya butuh satu Johnson berada di dalam lembaga ini. Sesuai amanat Peter Johnson.” Pak Subagyo memutar kenop pintu, ia keluar ruangan. Meninggalkan kami bertiga. Steve menghela napas, aku mengusap punggungnya dan memberinya senyuman. Steve memelukku, aku membalasnya dengan pelukan erat. “Wow. Apa yang kalian lakukan sekarang? Kalian gak bermaksud pamer kan?” Rascal membuat Steve melepas pelukannya. Ia menatap cowok yang tingginya sejengkal lebih tinggi dari Steve.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN