Di Tengah Kehilangan Teman

1630 Kata
Aku berdiri di tengah ruangan, menyaksikan hal paling mengerikan yang sedang terjadi. Hanya air mata yang meleleh di kedua mataku, aku gak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menolong mereka. Steve menarik tanganku, mengajakku keluar dari rumah yang sebenarnya sangat membutuhkan pertolonganku. Kami berhenti di depan rumah, Steve melepas tangannya dan menatapku dengan tatapan marah. “Tidak seharusnya kamu menangis di saat seperti ini,” “Aku gak tahu apa yang harus aku lakukan, Steve. Aku gak tahu.” Lagi-lagi air mata meleleh begitu saja. Sudah ku hapus tapi tetap saja keluar. “Sekarang kamu sudah tahu apa yang kamu hadapi sebagai demon hunter kan?” Aku menunduk, aku memang gak menyangka kalo ada kasus seperti ini yang ditangani demon hunter. Aku menoleh, memandang ke dalam rumah. Merinding menyaksikan semua yang sekarang sedang terjadi. Slamet berlari keluar dengan tergesa-gesa, ia mendekati kami dengan napas terengah-engah. “Restu dan Ilham belum kembali dari tadi sore. Aku khawatir sekali,” Aku memandang Steve, Slamet belum tahu tentang kondisi Restu dan Ilham. Lagi-lagi perasaan sedih membuatku lemah. Restu dan Ilham adalah salah satu teman yang hilang setelah kehilangan rukmini beberapa waktu yang lalu. Kehilangan rukmini juga sama menyedihkan. Tapi kehilangan Restu dan Ilham membuatku ingat ada kehidupan maka ada kematian. Melihat Restu meninggal di depan mata, membuatku merasa kematian benar-benar mengintai dimanapun berada. Aku mengusap air mata, aku gak ingin melemah karena kesedihan. Aku memandang Slamet yang masih menunggu jawaban. Steve menghela napas berat, wajahnya sangat murung dan jelas dia yang paling merasa kehilangan. “Kita harus selesaikan tugas ini secepatnya! Kamu jangan memikirkan yang lain! Restu dan Ilham urusanku.” Steve menepuk pundak Slamet. Ia memutar badan dan pergi begitu saja. Slamet menatapku, menungguku untuk mengatakan sesuatu. Aku mau membuka suara, ingin mengatakan keadaan Restu dan Ilham yang sebenarnya tapi Steve memanggilku. Membuatku menelan kembali kata-kata yang mau keluar. Aku memutar badan, memandang punggung Steve yang masih berdiri di tengah-tengah pagar. Aku menoleh, memandang Slamet yang kebingungan. Gak ada yang bisa ku lakukan selain mengikuti Steve menjauh dari rumah Kades menuju ke arah balai desa. Steve menggenggam tanganku, ia berjalan dalam diam. Wajahnya sangat serius, ada kilatan aneh dari matanya tapi aku gak yakin tentang hal itu. Steve melirikku, ia menghela napas berat. Aku tahu, bebannya sangat berat. Kehilangan dua anggota setelah aku masuk beberapa waktu lalu. “Kenapa kamu gak cerita ke Slamet kalo….” Steve meremas rambutnya sendiri. “Untuk apa aku memberi beban ke Slamet? Kita selesaikan masalah ini secepatnya lalu pulang ke rumah.” “Tapi tetap saja Slamet harusnya tahu masalah ini kan?” “Honey. Lebih baik Slamet tidak tahu. Andai ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan,” Beberapa lama aku terdiam, memikirkan ucapan Steve. Aku setuju dengan kata-kata Steve kalo sebaiknya masalah ini gak diketahui Slamet. Biar dia bisa bekerja dengan baik tanpa terbebani dengan meninggalnya dua sahabatnya. “Steve. Apa kamu baik-baik saja?” Aku justru jadi khawatir karena Steve sangat tenang. “Aku baik-baik saja. Honey.” Steve menghentikan langkah, ia berpindah ke hadapanku. Menatapku lekat. “Jika kamu ingin terus bersama tim alpha. Kamu harus menurut seperti tadi. Kamu mengerti!” Ada sorot kekhawatiran di matanya. Aku menarik dua tangannya, menempelkannya ke mulut cukup erat. Kembali menatap ke sepasang mata biru gelapnya, memberinya senyum agar Steve tenang. “Tentu saja, Steve. Suamiku sayang.” Aku menyentuh pipinya, mengelusnya penuh kelembutan. “Syukurlah!” kata Steve. Kami kembali melangkah, balai desa sudah terlihat. Sambil berjalan, aku memandang Steve. “Aku penasaran, bagaimana kamu bisa membuat jurus yang bisa membuat tanganmu bersinar dan bisa melawan manusia asap itu,” Steve tersenyum kecil. “Sudah ku katakan. Aku hebat, Honey.” Jawaban songongnya membuatku tersenyum. “Dasar,” cibirku. “Ajari aku jurus itu, Steve. Aku juga ingin menguasainya.” Aku mengangkat dua tangan, membayangkan dua tanganku bersinar seperti tangan Steve. “Jangan berpikir macam-macam. Kita harus cepat menemui Pak KADES.” Steve mempercepat langkahnya, membuatku setengah berlari mengikutinya. Gak perlu waktu lama untuk sampai ke balai desa. Suasana sangat sepi, hanya ada beberapa dedemit lalu lalang. Selebihnya balai desa hanya dihiasi kabut tipis yang terlihat melalui lampu yang masih menyala di sekitar balai desa. Steve mengetuk pintu, menunggu beberapa lama sebelum kembali mengetuk pintu. “Apa mungkin Bu Romlah dan Pak KADES disini?” Aku penasaran sekali. “Rumah Pak KADES sudah ditempati warganya. Kemana lagi dia pergi selain disini,” Pintu tiba-tiba terbuka. Seorang wanita seumuran Mommy menatap kami berdua. “Apa kalian ingin berbicara dengan suami saya?” tanyanya. “Maaf, Bu. Kami mengganggu malam-malam. Tapi kami memang ingin berbicara dengan Pak KADES,” kata Steve. “Beliau baru saja berangkat ke kota. Kami sudah gak punya banyak waktu. Polisi bahkan rumah sakit gak bisa dihubungi jadi beliau memutuskan untuk pergi mencari pertolongan keluar,” jawab wanita itu. Steve kaget, ia memandangku sebelum memandang sesuatu di belakangku. “Itu motor siapa? Apa bisa saya pinjam untuk mengejar Pak KADES?” “Itu motor saya. Tunggu sebentar! Saya ambil kuncinya dulu.” Wanita itu masuk ke dalam tapi gak lama kemudian ia kembali dengan membawa kunci motor. Steve segera berlari mendekati motor. Aku berpamitan sebentar ke wanita itu sebelum mendekati Steve. Aku segera duduk di belakang Steve, memeluk pinggangnya erat. Motor segera melaju dengan kecepatan tinggi. Melewati rumah-rumah berhias kepedihan hingga kami berada di jalanan gelap, hanya lampu motor yang menerangi jalanan. Dari kejauhan, kami melihat sinar aneh bergerak cepat hingga akhirnya berhenti. Semakin dekat ke arah sinar itu, baru kami ketahui kalo sinar itu berasal dari lampu motor yang jatuh. Seorang pria berbaring sambil memegangi kaki kirinya. Steve segera menghentikan motor. Kami segera turun dan mendekati pria yang gak lain adalah Pak Kades. “Apa anda baik-baik saja?” tanya Steve kepada Pak KADES. Pak Kades hanya mendesis kesakitan, tangannya menunjuk sesuatu atau seseorang. Aku mengikuti arah telunjuknya, ku lihat Mbok Jirah berdiri dengan dua mata melotot. “Sudah ku katakan. Jangan ikut campur!” Mbok Jirah melangkah pelan, mendekati Pak Kades. Pak Kades ketakutan, ia merayap mundur dengan badan gemetar. Mbok Jirah melihat Pak Kades dengan senyum kemenangan. Ia terus melangkah mendekati Pak Kades, membuat Pak Kades terus merayap mundur. “Aku gak akan memaafkanmu! Pria yang membiarkan orang-orang membunuh putriku.” Mbok Jirah mengulurkan tangan, seketika asap hitam keluar dari ujung jari-jarinya. Menjulur ke leher Pak Kades dan menjeratnya. Mbok Jirah mengangkat tangannya. Badan Pak Kades ikut terangkat hingga dua kakinya gak menyentuh tanah. Aku membuat cakra dan melemparnya ke arah Mbok Jirah. Begitu juga Steve yang melayangkan cakra ke Mbok Jirah. Badan Mbok Jirah terjungkal ke belakang. Mukanya menunjukkan rasa sakit akibat cakra kami berdua. Badan Pak Kades merosot, berbaring di atas tanah. Aku segera mendekatinya, berlutut dan memandangnya tanpa tahu apa aku bisa menolongnya. “Bunga. Bawa Pak Kades menjauh!” Steve sedang berduel dengan Mbok Jirah. Steve menggunakan tangan yang mengeluarkan sinar merah untuk melawan Mbok Jirah. Ia menangkis semua pukulan dan tendangan dari wanita yang sebenarnya berwajah cukup cantik itu. Aku menyelipkan lengan di bawah ketiak Pak Kades, membantunya berdiri dan menyingkir dari Steve dan Mbok Jirah yang sedang beradu kekuatan. Mbok Jirah menatapku, ia meniup untuk mengeluarkan asap hitam yang segera berubah menjadi wujud manusia asap. Steve menoleh, ia mengulurkan tangannya dan gak lama kemudian sebuah gelembung besar terbentuk. Membuatku dan Pak Kades berada di dalam gelembung itu. Manusia asap menatapku dengan tatapan garang. Matanya yang hanya berupa dua buah lubang terlihat menyipit. Mereka berusaha masuk ke dalam gelembung tapi gelembung itu melindungi kami seolah sebuah bola kaca yang sangat besar. Pak Kades menekan dadanya, ia lemas sehingga aku membaringkannya di tanah. Ia menangis tersedu-sedu. Wajahnya berkerut dan berwarna merah, semerah mata yang sedang meneteskan air mata. “Ini semua memang salahku.” Pak Kades kembali menangis. “Bukan salah Bapak. Jangan menyalahkan diri Bapak,” “Seandainya waktu itu aku menghentikan masalah itu. Gak akan ada kejadian seperti ini. Bagaimana bisa aku mempertanggungjawabkan masalah sebesar ini....” “Kita memang gak tahu Pak. Tapi saya yakin, keputusan Bapak waktu itu adalah keputusan terbaik,” “Tidak ... itu tidak benar. Aku membiarkan saja masalah ini. karena aku sendiri marah kepada Jirah. Orang itu sudah membuat orang lain menderita. Bahkan aku ikut senang saat ia berhasil diusir dari desa ini,” Aku memandang Steve, bocah itu sedang bertarung dengan Mbok Jirah serta beberapa manusia asap. Steve melakukan tendangan keras ke Mbok Jirah tapi Mbok Jirah mampu berkelit. Manusia asap menarik tangan Steve tapi sentuhan tangan Steve yang sedang bercahaya membuat asap itu menghilang. Mbok Jirah melakukan serangan bola asap hitam pekat. Tapi Steve terus menangkisnya dengan tangannya yang bercahaya. Tetapi kecepatan Mbok Jirah membuat badan Steve akhirnya terkena bola asap dan membuat Steve dengan mudah dijerat tali yang terbuat dari asap mengelilingi badannya. Aku berdiri, hendak menolong Steve. Tapi bocah sialan itu malah melotot kepadaku. Aku mau keluar dari gelembung tapi gelembung ini benar-benar seperti bola kaca. Aku gak bisa menembusnya. Hanya bisa menggedor-gedor sambil berteriak memanggil nama Steve. “Jirah dukun sakti. Aku gak yakin temanmu akan selamat,” kata Pak Kades. Ia menunduk, pundaknya kembali bergetar. “Seandainya aku tahu seperti ini. Aku takkan memohon pertolongan dari luar.” Lagi-lagi Pak Kades bersedih. “Pak. Bapak ini Kades. Kenapa dari kemarin saya melihat Bapak terus-terusan mengeluh? Bu Romlah saja terus berusaha mencari bantuan. Seharusnya Bapak punya semangat seperti Bu Romlah.” Aku sudah jengah dengan pria yang sebenarnya terluka cukup parah pada bagian kakinya. “Aku tahu. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Dua anakku sudah menjadi korban. Dua-duanya sudah meninggal. Kamu juga tahu usaha kami gagal kan?” “Pak. Kalo Bapak saja gak yakin bisa berhasil. Bagaimana saya dan suami saya memperjuangkan keselamatan warga yang tersisa di desa ini?” Aku berdiri, memandang Pak Kades dengan perasaan sedih bercampur marah. Pak Kades menatapku dengan tatapan yang sulit kuterka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN