Mbok Jirah

1582 Kata
Wanita itu benar-benar cantik, ia sedang mengunyah sesuatu lalu menelannya. Wanita itu mengambil setangkai melati dari hiasan rambut lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Kalian, enyah dari rumahku! Jangan campuri urusanku atau nasib kalian sama seperti dua anak kota ini.” Wanita itu melempar dua badan tepat di depan kami. Dua orang itu Restu dan Ilham. Aku kaget sekali, bagaimana bisa keduanya ditangkap oleh wanita itu? Aku segera berlutut, memeriksa kondisi mereka. Ilham sudah gak sadarkan diri, di telinganya keluar darah merah yang cukup banyak. Tulang kanannya patah dan mencuat keluar, menyobek kulit, mengeluarkan darah yang sangat banyak. Melihatnya, aku gak bisa membendung air mata. Meski pun belum lama kenal tapi tetap saja rasa sedih sangat ku rasakan saat melihat kondisinya yang sangat parah. Steve meletakkan telunjuk ke bawah hidung Ilham lalu ia menyentuh leher dan sedikit menekannya. Aku menatap Steve, meminta kabar baik, berharap Ilham bisa diselamatkan tapi Steve menggeleng pelan. Kondisi Restu gak jauh beda, dahinya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Mengalir turun, membasahi sebagian rambutnya. Ia merintih kesakitan, matanya terpejam erat, menahan rasa sakit yang ia rasakan. “Sori Kep. Kami tidak bisa membantu banyak.” Restu terlihat semakin kesakitan. Dua tangannya menyentuh kaki kanannya yang terluka parah. Darah keluar dari lututnya, membasahi celana jins hampir di seluruh bagiannya. Perut Restu juga mengeluarkan darah yang sangat banyak. Aku benar-benar gak bisa membayangkan kejadian apa yang membuat keduanya terluka parah. “Kamu harus bertahan, Restu! Kami pasti membantumu,” ucapku, diantara isak tangis. Restu memandangku, ia tersenyum tipis. “Kita belum lama kenal. Tapi ... senang mengenalmu, Bunga.” Restu kembali memejamkan mata. Ia kembali merintih kesakitan sebelum akhirnya ia gak sadarkan diri. Steve menggoyang bahu Restu. “Restu. Bangun!” Tapi Restu bergeming. Steve kembali melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan kepada Ilham. Kepala Steve menunduk dalam, bahunya bergetar. Aku menyentuh bahunya, Steve menggenggam tanganku erat. Ia menoleh kepadaku, tersenyum tipis meski aku tahu kalo Steve sangat kehilangan. Steve bangkit, ia menatap tajam kepada wanita yang masih berdiri di tengah pintu. Tersenyum mengejek dengan mulut masih terus mengunyah kembang melati. “Drama yang bagus sekali.” Wanita itu tertawa terbahak-bahak. “Apa yang kamu lakukan pada mereka?” Steve benar-benar marah. “Apa yang aku lakukan? Ini bukan apa-apa. Aku hanya mengusir orang-orang yang gak penting. Sebaiknya kalian pergi juga. Ini gak ada urusannya dengan kalian,” kata wanita itu. “Kenapa kamu sejahat ini? Mereka gak bersalah.” Aku berdiri, menatap perempuan itu dengan penuh amarah. “Jahat katamu? Hahahahahaha.” Wanita itu tertawa terbahak-bahak sampai dua bahunya berguncang hebat. “Tutup mulutmu, Mbok Jirah!” Steve berteriak marah, napasnya cepat dan tatapannya tajam. Wanita yang gak lain Mbok Jirah mengatukan mulut. Menatap Steve sama tajamnya. Rahangnya mengeras, ia meludahkan kembang melati yang sudah bercampur air liurnya ke sisi kanan. “Kamu kurang ajar!” Mata Mbok Jirah membulat, bibirnya mengkerut. Terlihat sekali kalo wanita yang terlihat masih sangat mudah ini sedang sangat marah. “Kalian gak tahu apa yang warga desa ini lakukan kepadaku. Mereka membakar rumahku. Membunuh anak perempuanku. Dan gak hanya itu ... mereka menyiksaku dan akan membunuhku andai aku gak melarikan diri. Kalian tahu bagaimana rasanya?” Mbok Jirah maju beberapa langkah, ia berhenti tepat di bawah kaki Ilham dan Restu. Satu tangannya memainkan hiasan bunga melati sebelum ia petik dan ia masukkan ke dalam mulut. Mengunyah pelan sambil menatapku beberapa lama. “Kamu mirip anakku. Kalo kamu mau, kamu bisa menjadi muridku,” katanya. Enak saja aku diambil murid sama dukun model dia. Dukun ilmu hitam yang sangat jahat sampai tega melakukan kejahatan semacam ini. Aku jadi ingat sama Ki Mengkis, meski Ki Mengkis juga seorang dukun tapi Ki Mengkis anti yang namanya melakukan pelet, santet apalagi teluh. Ki Mengkis bahkan gak pernah mengembalikan santet pasiennya kepada orang-orang yang menyantet pasiennya. Sementara wanita ini, entah kenapa aku yakin kalo Mbok Jirah mungkin saja pernah menyantet atau memelet salah satu pasien Ki Mengkis. “Aku akan menurunkan semua ilmuku kepadamu, Cantik.” Tawaran yang enggak banget deh. “Aku gak sudi jadi muridmu. Aku juga gak mau ilmu hitam yang kamu miliki,” tandasku. “Aku dukun terbaik. Ilmuku kuat. Kamu bisa mendapatkan semua yang kamu mau jika kamu mendapat semua ilmuku,” “Aku murid Ki Mengkis. Dukun terbaik di negara ini. Kamu gak akan bisa menandinginya. Bahkan kamu gak bisa menandingiku,” Mbok Jirah membelalakkan mata, kaget sesaat tapi sekarang ia tampak kembali tenang. “Jadi kamu murid Mengkis? ... aku beri kesempatan terakhir, jika kamu mau menjadi muridku. Kamu dan temanmu bisa pergi dengan selamat tapi kalo enggak. Jangan salahkan aku kalo aku membuatmu menjadi mayat seperti mereka,” Aku bersiap, membuat kuda-kuda sempurna. Mbok Jirah kembali tertawa, ia mengerucutkan bibir, meniup asap pekat keluar dari mulutnya. Asap itu membesar dan membentuk seperti wujud manusia asap. Steve membentuk gelembung udara, melindungi kami berdua dari serangan manusia asap. “Honey. Cari tempat aman selama aku melawannya!” Steve sesumbar, seolah-olah dia bisa melakukan pekerjaannya, padahal sudah jelas kekuatanku lebih besar darinya. Tapi aku memilih diam, aku gak mau bertengkar dengan Steve sekarang. Steve keluar dari gelembung, ia melakukan serangan dengan menggunakan cakra merahnya. Manusia asap, membentuk seperti tali dan menjerat leher Steve, membuatnya tercekik sampai ia mendongak, menunjukkan asap pekat yang menjerat lehernya. Steve menutup mata, tangannya mengeluarkan cahaya merah dan membuat asap pekat itu memudar sampai benar-benar hilang. Mbok Jirah kaget, ia kembali membuat manusia asap untuk menyerang Steve. Ada tiga manusia asap yang besar dibuat Mbok Jirah. Ketiganya menyerang Steve secara bersamaan. Sementara Mbok Jirah memilih keluar rumah, aku yakin dia gak mau berhadapan dengan Steve. Aku keluar dari gelembung pelindung buatan Steve. Ikut keluar rumah untuk mencari Mbok Jirah. Wanita itu berlari masuk ke dalam hutan, aku mengejarnya dengan berlari sekuat tenaga. Mbok Jirah menghentikan langkah, ia memutar badan. Menatapku masih dengan senyum seringai yang membuat wajahnya terlihat menyeramkan. “Apa kamu menerima tawaranku?” “Aku gak sudi jadi muridmu. Dukun tengik!” Mbok Jirah melotot, mulutnya komat-kamit gak jelas. Gak tahu apa yang ia lakukan tapi saat ia mengerucutkan bibir. Aku langsung membuat cakra dan segera ku lempar ke arahnya. Cakra mendarat di dadanya, membuatnya mundur beberapa langkah. Baju kebaya di sekitar d**a hangus kena cakraku, ia mengusap dadanya dengan kuat. “Kurang ajar kamu!” Mbok Jirah marah besar, ia mendekatiku dan menyerangku dengan pukulan kuat. Ia melakukan pukulan tapi aku bisa menangkisnya. Melakukan serangan dengan jurus pencak silat yang sangat baik. Tapi aku masih bisa melawannya bahkan bisa memukul dan menendangnya beberapa kali sementara dia gak bisa melukaiku. Mbok Jirah akhirnya melarikan diri. Ia mengeluarkan manusia asap yang langsung menyerangku. Membuatku gak bisa mengejarnya. Lima manusia asap membuatku sulit. Mereka bisa memukulku tapi saat aku memukulnya, tanganku tembus masuk ke dalam badan mereka. Aku menendang satu manusia asap, tapi lagi-lagi tendanganku masuk ke dalam badan mereka tapi gak membuatnya terluka. Satu manusia asap menangkap tanganku, melemparku pada manusia asap lainnya. Manusia asap lain melakukan hal yang sama, membuatku seperti sebuah mainan yang dilempar kesana-kemari. Sekali lagi, satu manusia asap menyerangku dengan pukulan kuat. Badanku sampai rubuh karena pukulannya. Manusia asap lain langsung menangkap badanku dari belakang dengan kuat. Membuat dua lenganku serasa remuk karena saking kuatnya. Di saat aku kebingungan, Steve datang menolongku. Dua tangannya bercahaya merah dan sangat terang. Ia menarik badan manusia asap dan melakukan pukulan-pukulan yang membuat manusia asap itu akhirnya menguap dan menghilang. Gak butuh lama buat Steve mengalahkan mereka semua. Aku sampai melongo karena baru sekali ini aku melihat seorang Steve bisa mengalahkan musuh dengan sangat cepat. Ia segera mendekatiku, memelukku erat dan menciumi seluruh mukaku. “Kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya. Aku terpana, tersihir oleh kehebatan Steve sampai akhirnya aku membuang muka. Malu karena terpesona olehnya. “Sebaiknya kita lihat keadaan desa. Desa membutuhkan kita.” Steve menarik tanganku, mengajakku keluar hutan dengan langkah cepat. Sewaktu kami berada di depan rumah Mbok Jirah, aku menghentikan langkah. Menoleh ke arah rumah dimana jasad Restu dan Ilham masih tergeletak disana. “Steve ... bagaimana dengan mereka?” Steve ikut memandang ke arah rumah. “Nanti kita jemput mereka. Sekarang, ayo kembali ke desa.” Steve kembali menarik tanganku. Keadaan desa jauh lebih genting dari sebelumnya. Para pasien yang terbaring di ranjang-ranjang bambu, muntah secara bersamaan lalu kejang dan akhirnya beberapa dari mereka gak sadarkan diri. Sementara orang-orang yang menjaga mereka juga mengalami gejala yang sama. Mereka semua terlihat pucat sekali hingga akhirnya ikut memuntahkan isi perut mereka. Beberapa orang bahkan mengalami kejang. Seseorang mencekal kaki kananku, membuatku menoleh kepadanya. Seorang pria merintih kesakitan, ia mengatakan sesuatu tapi aku gak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku jongkok, menatapnya dengan saksama. “Aku haus! Minum-minum,” rintihnya. Aku segera ke dapur, mengambil segelas air untuknya. Berlari dengan cepat dan kembali kepadanya. Tapi belum sampai kepada pria itu. Aku melihatnya kejang hebat, membuatku segera jongkok dan berharap bisa membantunya. Tapi kenyataannya, aku malah kebingungan. Aku berlari mendekati dokter yang sedang memeriksa pasien. “Dokter, ada yang butuh bantuan!” Dokter gak menggubrisku, ia masih sibuk memeriksa seorang nenek yang kejang hebat. Memasukkan sebuah alat berbentuk tabung kecil dengan lubang di tengahnya, ke dalam mulut nenek itu. Perawat menyuntikkan sebuah obat ke dalam selang infusnya.          Dokter beralih memeriksa pasien di sebelah nenek itu. Seorang anak kecil yang terus memuntahkan isi perutnya ke dalam wadah yang dipegang ibu-ibu berwajah sangat pucat. Ibu-ibu itu tiba-tiba ambruk, ia menggigil kedinginan di atas lantai yang sebenarnya sedang cukup hangat.          Kondisi benar-benar sangat kacau. Bahkan dokter yang sejak tadi sibuk sampai gak menggubrisku, tiba-tiba dokter ambruk dan gak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN