Rumah-rumah dihiasi dipan berhias tubuh manusia ditutup jarik. Keluarga yang kehilangan menangis bahkan ada yang histeris. Para warga yang sehat, bahu membahu mengebumikan jenazah korban wabah penyakit misterius. Anak-anak menangis meski tampaknya mereka tidak begitu mengerti musabab air mata yang ditumpahkan.
Kami sampai di sebuah rumah joglo yang sangat luas. Banyak sekali orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka. Seorang dokter berlari tanpa mengenakan jubah kebesarannya. Hanya stetoskop terkalung di leher yang membuatnya bisa dikenali sebagai seorang dokter.
“Hoeek....” Seorang Ibu paruh baya keluar dan membuang isi perutnya. Gak jauh dariku berdiri, secara otomatis aku menghindar, menyembunyikan badan di belakang Steve.
Steve menggenggam erat tanganku, ia tersenyum membuatku merasa sedikit senang ada dia. Aku kembali memandang sekeliling, seorang wanita membawa nampan berisi obat-obatan. “Minggir!” Wanita itu menyenggol pundak Restu, ia berlari masuk ke dalam rumah.
“Seperti inilah kami seminggu ini,” desah Bu Romlah.
Bu Romlah masuk ke dalam rumah, mempersilahkan kami ikut bersamanya. Tapi sebelum masuk, seorang suster memberi kami masker. Kami pun segera memakai sebelum mengikuti langkah Bu Romlah.
Saat masuk ke dalam rumah. Ruangan yang aku yakin sebenarnya ruang tamu telah berubah menjadi seperti ruang inap di rumah sakit. Orang-orang sakit berbaring berjajar di atas dipan bambu dengan punggung tangan diinfus.
Seorang pria duduk di tepi seorang wanita yang terbaring lemah. Air mata meleleh dari kedua matanya, wanita yang berwajah pucat tersenyum tipis. Dengan tangan gemetar ia menyentuh wajah pria itu. “Ayah harus tabah! Ibu rasa, waktunya sudah sangat dekat. Ayah, Ibu bahagia sudah menjadi istri Ayah. Terima kasih Ayah. Aku mencintaimu.” Wanita itu masih tersenyum, tapi kemudian tangannya jatuh lunglai. Kedua matanya menutup tapi ada seulas senyum tipis menghiasi wajahnya.
“IBU ... JANGAN TINGGALKAN AKU....” Pria yang gak lain suami wanita itu, histeris. Perawat segera menutup seluruh badan wanita itu dan meminta dua orang pria mendekatinya.
“JANGAN BAWA ISTRIKU! DIA MASIH BUTUH DIOBATI.” Dokter memakai kemeja biru kotak-kotak menarik badan sang suami yang masih berusaha merebut badan istrinya yang sedang diangkat dua pria dan dipindahkan ke sebuah tandu.
Ranjang kosong itu, hanya bertahan sekian detik. Dua pria lain dengan membawa tandu berisi anak perempuan yang juga dalam kondisi lemah, datang. Dua pria itu meletakkan tandu di sebelah ranjang kosong dan gak lama kemudian, anak perempuan itu sudah menempati tempat wanita tadi.
Aku benar-benar gak sanggup melihat pemandangan itu, air mata leleh dan dengan susah payah aku menahannya. Kisah pilu itu hanya satu dari sekian banyak kisah pilu yang lain. Aku gak sanggup melihatnya, berlari keluar dan berhenti di bawah pohon rambutan yang rimbun. Aku menangis sejadi-jadinya, gak tega melihat kondisi desa ini.
“Honey, apa kamu baik-baik saja?” Steve berdiri di depanku, meletakkan dua tangan di pundakku. Menatapku dengan tatapan khawatir.
Aku menghapus jejak air mata, berusaha untuk bisa menenangkan diriku sendiri. “Gak apa-apa Steve. Aku Cuma ... kasihan melihat warga desa seperti ini,”
Steve menghapus air mata, ia merangkul pundakku dan mengecup keningku. Sesaat aku merasa tenang, tapi gak lama kemudian suara jerit tangis mengembalikanku ke dalam dunia nyata.
“Sebaiknya kita bergegas membantu!” Steve menarik tanganku, kembali ke dalam rumah.
Aku dan para anggota tim alpha membantu perawat dan dokter dengan semampu kami. Aku membantu perawat memberikan obat kepada para pasien. Membantu mereka untuk meminumnya dan juga membantu menadah muntahan yang keluar dari mulut mereka.
***
Malam telah datang, aku dan Steve mendapat giliran istirahat. Restu, Ilham dan Slamet sudah istirahat sebelum kami. Aku dan Steve berada di kamar pribadi Pak Kades yang beralih fungsi menjadi tempat istirahat para dokter, perawat dan kami.
Aku duduk di tepi ranjang, memandang Steve yang sedang menikmati makan malamnya dengan lahap. Sementara setelah kejadian hari ini, aku sama sekali gak punya selera. Bahkan rasa mual, kembali datang setiap mengingat muntahan para pasien.
“Kamu harus tetap makan walau tidak selera, Hun. Ini untuk kesehatanmu.” Steve kembali melahap nasi pecel dengan telur ceplok.
“Habiskan saja, Steve. Aku ingin tidur.” Aku berbaring, tangis histeris, pasien yang tersiksa oleh penyakitnya, masih berputar-putar di kepala.
“Tidak, Hun. Kamu harus tetap makan! Sini aku suapi!”
“Aku gak lapar Steve. Aku cuma mengantuk,”
“Bunga. Makan atau pulang sekarang juga!” Ucapan tegas Steve membuatku menatapnya penuh selidik.
“Aku sudah mengingatkan! Menjadi demon hunter itu tidak mudah.” Steve melotot tajam, membuatku mau gak mau mengambil sepiring nasi pecel yang ada di atas meja.
Aku kembali duduk di tepi ranjang, mengaduk makanan tanpa ada selera memasukkannya ke dalam mulut.
“Bunga ... aaa” Steve berdiri di depanku, sesendok nasi ada di depan mulutku.
Aku menatapnya sesaat, Steve kembali melihatku dengan wajah serius. Akhirnya aku makan dari tangan Steve meski gak ada selera tapi dia terus memaksaku menghabiskan sepiring nasi pecel.
Steve tersenyum puas, ia mengambil sebotol air dari dalam ransel dan memaksaku untuk minum sebelum ia minum dari botol yang sama.
Steve segera berbaring, menarik lenganku hingga aku berbaring di sebelahnya. “Kita harus tidur sebelum membantu yang lain.” Setelah berbicara, aku mendengar suara dengkur halus keluar dari mulut Steve. Bocah itu makan dengan enak dan tidur dengan nyenyak seolah gak ada sesuatu yang terjadi. Aku masih terjaga beberapa saat sebelum kantuk benar-benar membawaku ke dalam tidur.
“Honey, bangun!” Steve mengguncang bahuku, perlahan aku membuka kedua mata. Duduk sambil mengucek mata, sesaat aku lupa dimana aku berada tapi pelan aku sadar kalo aku ada di rumah Pak Kades Gelulan.
“Istirahat sudah selesai, Hun.” Steve menarik tanganku sampai aku berdiri.
Kami berjalan keluar kamar, mendekati dokter dan perawat yang sedang mengisi wadah kecil dengan obat. Steve memintaku duduk di depan meja dokter, sementara ia berdiri di sebelahku.
“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Steve.
Dokter telah selesai mengerjakan tugasnya, ia meminta perawat untuk keluar dengan membawa nampan dengan wadah-wadah kecil berisi obat. Dokter mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi, suara gemeretak keluar dari persendiannya yang pasti sudah lelah.
“Sejujurnya ... aku juga belum tahu. Ini hal baru yang pernah ku tangani dan selama aku menjadi dokter. Jujur, aku belum bisa menyimpulkan wabah apa yang terjadi dengan warga desa ini,”
Steve terdiam, ia memandang dokter bernama Gatot beberapa lama. “Lalu obat apa yang anda berikan kepada pasien dokter?” tanyanya.
“Cairan. Obat anti mual, pereda nyeri, penurun demam. Hanya obat yang bisa menekan keluhan mereka ... aku yakin Bu Romlah sudah bercerita tentang pemuda yang dikirim ke kota untuk membeli obat. Beberapa dari mereka, aku beri sample darah, saliva bahkan kotoran mereka untuk mengecek penyakit ini tapi tidak ada yang sampai ke rumah sakit. Semua meninggal karena kecelakaan.” Dokter menghela napas berat. “Ini aneh, tapi nyata,” imbuhnya.
Setelah beberapa lama berbicara dengan dokter, Steve mengajakku keluar dari tempat kerjanya. Berjalan ke dapur dan menemui seorang nenek memakai daster batik sedang sibuk membuat kopi.
“Mbah. Saya ingin tanya sesuatu.” Steve membuat nenek-nenek itu menghentikan kegiatannya.
“Apa Le?” Nenek-nenek itu memandang Steve, menunggu pertanyaan yang keluar darinya.
“Sebelum ada penyakit ini ... apakah terjadi sesuatu yang aneh?” tanya Steve.
Nenek itu berpaling, memandang luar jendela yang hanya dihiasi kegelapan malam. Ia sedikit mendongak, menerawang dan mengingat sesuatu. “Mungkin ini ada hubungannya dengan pengusiran Mbok Jirah,” katanya.
“Siapa dia, Mbah?” tanyaku penasaran.
Nenek itu memandangku dan Steve bergantian, ia meminta ijin sebentar untuk mengirim kopi ke ruang dokter tapi gak lama kemudian nenek itu sudah kembali lagi.
“Mbok Jirah adalah dukun sakti di desa ini. Dia gak Cuma bisa mengobati tapi juga bisa membuat pelet, teluh bahkan santet. Para warga sini sudah lama gak suka kehadiran Mbok Jirah karena dia pemuja aliran sesat dan mengajak beberapa orang untuk mengikuti alirannya ... sampai tepat sebelum penyakit ini keluar. Warga desa menyeret Mbok Jirah dari rumahnya. Membakar rumah dan mengusirnya dari desa ini.” Nenek itu menghentikan ucapannya.
“Tapi aku gak yakin. Bisa saja ini penyakit biasa. Seperti kata dokter, kami memang masih suka minum air sungai jadi ada kemungkinan kami kena penyakit karena kebanyakan minum air mentah,” tambahnya.
“Lalu dimana rumah Mbok Jirah, Mbah?” tanya Steve.
Nenek itu menatap Steve beberapa lama sebelum ia menunjuk keluar jendela. “Rumahnya lurus, mengikuti jalan ini. Nanti kalo ada rumah terbakar, itulah rumahnya.” Nenek itu meletakkan panci ke atas kompor. “Apa kalian mau dibuatkan kopi juga?” tawar nenek itu.
Steve menolak dengan cara halus, ia keluar dari rumah dan berjalan mengelilingi rumah ini. Memeriksa dengan saksama lalu berkeliling desa sambil mencari-cari sesuatu yang membuat aku memiringkan kepala. “Kamu nyari apa sih Steve?” tanyaku.
“Kamu dengar sendiri kan? Ku rasa, kejadian ini ada hubungannya dengan Mbok Jirah. Tapi kita harus mencari tahu.” Steve mengajakku berjalan ke arah dimana rumah Mbok Jirah berada.
Rumahnya ada di tempat paling pojok dari kampung ini, berbatasan langsung dengan hutan. Rumah bekas terbakar, kacanya pecah dan begitu banyak arang hasil kayu terbakar berserakan disana.
Steve masuk ke dalam melalui pintu, menggunakan kacamata khusus yang juga aku kenakan. Di dalam rumah, benar-benar sangat menyeramkan. Gak ada barang yang selamat, semua sudah menjadi hitam seperti arang.
Steve berlutut di depan kamar, menyentuh tanah lalu menatapku. “Ku rasa ada seseorang kemari belum lama ini,”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku POLIKHUSTRAL Honey. Aku dilatih melakukan penyelidikan semacam ini,”
Aku mengerucutkan bibir, nih bocah sombong banget dah. Aku memeriksa tempat ini, ada sebuah bingkai yang sebagian besar sudah menghitam tapi masih bisa terlihat sebagian wajah di foto itu. Seorang wanita cantik dengan mata besar dan bulat.
“Apa yang kalian lakukan di rumahku?” Suara seorang wanita membuatku menoleh.
Seorang wanita cantik, dengan rambut dihiasi roncean bunga melati berdiri menatap kami dengan dua mata melotot. Aku dan Steve saling memandang sejenak sebelum kami kembali menatap wanita itu.