Jarum apa ‘Jarum’

1611 Kata
Aku dan tim alpha lainnya pergi ke ruang kesehatan. Seorang perawat mempersilahkan kami masuk ke dalam. Seorang dokter laki-laki seumuran Daddy tersenyum, menyambut kedatangan kami. Orang yang sangat manis dan penuh karismatik, membuatku tahan berlama-lama melihatnya. “Jadi kalian dikirim ke Desa Geluran?” tanya dokter kepada Steve. “Beri kami vaksin AS-G9! Kita tidak tahu setan golongan berapa yang ada disana.” Steve duduk di tepi ranjang periksa. “Aku dokternya, Steve.” Dokter tersenyum, ia mengambil sebuah suntikan, memasang jarum lalu mengambil sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah.            Restu, Ilham dan Slamet duduk di kursi panjang berwarna hitam. Aku mau duduk di sebelah Restu tapi Steve memintaku mendekatinya. Aku gak jadi menjatuhkan p****t, gak pake ngomong langsung mendekati Steve.            “Dia anggota barumu?” Dokter memberiku sebuah senyuman yang sangat indah. “Dia istriku dan ... ya, anggota baruku.” Steve menarik pinggangku sampai badan kami saling menempel. Dokter memutar bola mata, aku menunduk malu. Mau Steve yang serius atau Steve sontoloyo tetap saja dia suka sekali menyebutku sebagai istrinya. “Dasar Johnson,” gumam dokter.  Perawat memberi sebuah wadah berisi kapas bulat yang basah. Dokter mengambil sebuah kapas basah lalu mengusapnya di lengan Steve. Aku menelan ludah susah payah, membuang muka biar gak melihat Steve yang sedang disuntik. “Siapa namamu, Nona?” tanya dokter kepadaku. “Saya Bunga, dok. Bunga Lestari,” “Oke. Geser Steve, biar aku bisa mem-vaksinnya.” Steve berdiri, aku menatapnya beberapa lama. “Biar Restu, Ilham dan Slamet duluan.” Aku entar saja belakangan. Steve mengangkat dua alisnya, ia tertawa terbahak-bahak membuatku mengerucutkan bibir. “Honey, aku baru tahu kamu takut jarum suntik,” “Aku gak takut. Cuma ... ingin jadi yang terakhir aja,” “Kemarin kamu diinfus kan? Jadi kenapa sekarang kamu takut?” “Kemarin aku pingsan waktu dipasang infus.” Aku menautkan dua alis. “Ada aku. Nanti aku peluk saat kamu divaksin,” “Gak usah!” “Sungguh?” Steve gak percaya padaku. Aku mencebik, tapi suntik memang sangat menakutkan sekali. Meski sudah lama, tapi aku masih ingat sewaktu sakit dan berobat ke Pak Mantri. Pak Mantri memaksaku untuk suntik karena sakitku sedikit parah. Ia menyuntik pantatku dan rasanya masih membuatku otomatis mengusap p****t setiap mengingatnya. Aku mundur beberapa langkah, memberi ruangan kepada Restu yang bersiap disuntik. “Suntiknya di lengan, Honey. Atau kamu butuh pelukanku selama disuntik?” Steve menggodaku. Sementara Restu, Ilham dan Slamet mulai disuntik satu-persatu. Mereka bertiga berusaha untuk gak menertawakanku. “Ini tidak sakit, Bunga. Hanya seperti digigit nyamuk,” hibur dokter. “Saya tahu dokter. saya cuma gugup saja,” “Ayo sini! Disuntik jarum besar berani, masa disuntik jarum kecil begini takut,” goda dokter. Aku membelalakkan mata, kaget dengan ucapan dokter yang sangat memalukan. Perlahan aku mendekatinya, membuang muka sewaktu dokter mulai memasukkan cairan ke dalam alat suntiknya. Dokter mengusap lenganku dengan kapas basah yang dingin, sontak aku memejamkan mata, tanganku terkepal erat. Tapi beberapa lama menunggu, rasa sakit itu gak datang-datang, ku pikir dokter satu ini memang menyuntik tanpa rasa sakit. Jadi aku memutuskan membuka mata dan melihat wajah dokter. “Kok gak sakit dok? Aaarrgghh....” Aku kaget setengah mati saat tiba-tiba lenganku sakit karena jarum suntik masuk ke dalamnya. Aku menangis seperti bocah, dokter benar-benar jahil sekali. Ku pikir tadi sudah selesai disuntik tapi ternyata dia menyuntikku setelah aku membuka mata. Karena ulah dokter, tiga sekawan bahkan Steve tertawa terbahak-bahak. Perawat yang memakai lipstik semerah darah, juga menahan tawanya. Aku menutup muka dengan lengan, menahan tangis sekuat tenaga. “Masih sakit disuntik Steve pertama kali kan, Bunga...” Dokter makin meledek, aku semakin malu setengah mati. Steve menarik kepalaku masuk ke dalam pelukannya, mengusap kepalaku untuk meredam tangis. “Sudah Honey. Apa kamu butuh suntikanku?” Huaa keedanan Steve kambuh lagi. “Wow. Kapten Steve...” Aku melirik Restu, Ilham dan Slamet dari balik ketiak Steve. Ketiganya melongo mendengar ucapan Steve. “Tidak perlu heran ... Steve memiliki....” “Dokter atau lebih suka ku panggil Pak Timbang?” Steve memotong ucapan dokter. “Namaku Herlambang, Steve,” sahut dokter. “Iya. Dokter Nyoto Sutimbang ehm maksudku Herlambang,” kata Steve. “Steve ... sialan kamu.” Dokter menutup mulutnya karena sudah mengumpat Steve. Tiga sekawan terkikik, Steve tertawa terbahak-bahak. Seluruh isi ruangan jadi ramai dengan tawa kami. *** Mobil yang dikemudikan Steve memasuki halaman sebuah balai desa lalu berhenti di depannya. Aku segera turun dari mobil, berbarengan dengan Steve dan anggota tim alpha lainnya. Aku berdiri di dekat mobil, memandang gedung balai desa yang sangat lengang. Seorang pria setengah baya berlari teropoh-gopoh masuk ke dalam gedung. Gak lama kemudian, pria itu sudah keluar lagi sambil menarik tangan salah satu staf desa jika dilihat dari seragamnya. Pria berpostur tinggi dan kurus, memakai seragam berwarna coklat itu hanya menatap kami tapi kedua kakinya mengikuti langkah pria yang menariknya, hingga keduanya gak terlihat setelah berbelok ke tikungan. Aku dan Steve saling berpandangan sebelum kami melangkah masuk ke dalam balai desa. Di dalam ruangan yang seukuran tiga kali tiga meter persegi. Hanya ada dua orang memakai seragam coklat yang sibuk menelpon. Seorang wanita memakai hijab sedang marah-marah dengan seseorang di teleponnya. “Pak. Kami perlu bantuan segera! Ini emergency. Jika terlalu dibiarkan, warga desa habis kena penyakit ini....” Wanita itu masih terus bicara sambil berteriak keras. “Halo ... halo ... halo...” Wanita itu memandang handphone-nya. “Kenapa jaringan telepon jadi jelek seperti ini?” keluhnya. Seorang pria dengan kepala setengah botak, duduk di tepi meja dengan kepala disandarkan ke tembok. Ia tampak sedang sangat kelelahan dan raut wajahnya terlihat sangat sedih. Wanita yang tadi menelpon, menghela napas berat. Ia beralih menatap kami berlima. “Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya. Steve mendekati wanita itu, ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. “Kami relawan dari kampus Bimasakti. Saya Steve, ini Bunga, Restu, Ilham dan Slamet.” Steve memperkenalkan kami semua. “Relawan ya ... monggo silahkan duduk!” Wanita itu mempersilahkan kami duduk di kursi tunggu yang ada di sudut kanan ruangan. “Saya, Romlah. Saya staf kelurahan ini. Entah apa yang kalian dengar tentang kondisi desa kami tapi sejak minggu kemarin mendadak satu-persatu warga kami diserang penyakit yang menular. Dokter mengatakan ini seperti penyakit muntaber tapi ada yang bilang ini disentri bahkan ada yang menyebut difteri. Satu hal yang pasti, penyebarannya terlalu cepat sehingga kami kesulitan menanganinya. Beberapa warga, kami rujuk ke PUSKESMAS tapi ... semua yang kami rujuk meninggal dunia di tengah perjalanan. Kami benar-benar dalam kondisi gawat darurat.” Wajah Bu Romlah memerah, air mata merebak lalu menetes tapi cepat-cepat ia hapus. “Sebagai kepala desa, saya tidak bisa menangani masalah ini. Saya merasa gagal.” Pria yang duduk di kursinya, angkat bicara. “Kampung dimana PUSKESMAS berada, sudah di evakuasi ke tempat aman biar tidak ikut terjangkit penyakit yang sama. Hanya ada beberapa dokter dan suster yang bersedia membantu kami,” kata Bu Romlah. “Semua obat di PUSKESMAS sudah hampir habis dan menunggu pasokan datang tapi kami tidak bisa menunggu. Para dokter dari PUSKESMAS sudah berusaha keras tapi pasien tidak berkurang justru semakin banyak saja. Kas desa sudah habis, uang pribadi juga sudah kami gunakan untuk membeli obat tapi ... pemuda yang kami kirim justru mengalami kecelakaan sehingga obat tidak pernah datang.” Bu Romlah kembali menangis. “Selalu seperti itu setiap ada yang kami kirim membeli obat. Dokter dan perawat sudah mulai kelelahan dan beberapa dari mereka malah terjangkit penyakit. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.” Pak Kepala desa menghela napas berat. Aku dan Steve saling memandang, masalah ini sangat berat dan sangat menakutkan sekali. Aku kembali memandang Bu Romlah, ia masih sibuk dengan kesedihannya. “Lalu dimana semua warga yang kena penyakit ini?” tanya Steve. “Dokter memutuskan memisahkan para pasien dari warga yang belum terjangkit. Mereka ditempatkan di rumah Pak Kades.” Bu Romlah sudah mulai tenang, ia menatap kami bergantian. “Saya bersyukur sekali ada sukarelawan datang. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana adek-adek ini bisa tahu tentang desa kami?” Bu Romlah menunggu jawaban kami. “Kebetulan, seorang teman saya tinggal di desa sebelah dan mengetahui kondisi desa ini sehingga kami menggalang bantuan untuk membantu desa ini.” Steve menjawab dengan sangat dewasa, aku heran dengan gaya Steve sekarang. Dia jadi benar-benar seperti bukan Steve. “Oh syukurlah. Tetapi, saya khawatir adek-adek justru tertular. Menurut saya, kalian cukup memberi bantuan obat-obatan daripada tenaga. Lebih baik, kita menunggu dokter bantuan datang,” kata Bu Romlah. “Itu jika memang ada Romlah. Tapi kenyataannya ... sampai seminggu ini belum ada siapapun yang datang kan,” kata Pak Kades. “Sebetulnya, kami sudah mengantongi ijin dari pemerintah daaerah untuk terlibat dalam penanganan kasus di desa ini. Jika Ibu tidak percaya ... saya membawa suratnya.” Steve mengeluarkan sebuah surat dari dalam ranselnya. Bu Romlah mengangkat dua tangannya. “Tidak perlu. Jika memang demikian ... sebaiknya kalian lihat sendiri kondisinya!” Kami bergegas menuju rumah Pak Kades bersama Bu Romlah, sementara Pak Kades tetap di kantornya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Pak Kades, kondisi desa sangat mengerikan. Kami melewati sebuah rumah dengan dua dipan yang terbuat dari bambu dan di atasnya terdapat empat mayat yang ditutup jarik. Seorang ibu menangis histeris, memeluk mayat sebelah kanan, seorang pemuda berusaha menarik badan ibunya. Di sisi lain, ada seorang pria setengah baya berwajah pucat, membungkuk sambil terbatuk-batuk. Ia memuntahkan isi perutnya berupa cairan berwarna putih s**u bercampur warna merah darah. Bapak-bapak itu terus memuntahkan isi perutnya hingga kemudian ia kejang-kejang. Dua orang pria mendekatinya, mereka segera mengangkat badan pria itu tapi gak lama kemudian, dua orang pria itu juga terbatuk-batuk. Mereka pun akhirnya meninggalkannya begitu saja. Suasana benar-benar sangat mengerikan. Suara jerit tangis membuatku menutup mulut dan meneteskan air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN