Akhirnya acara keluarga besar Johnson selesai sudah. Kami sudah kembali ke rumah dengan selamat bersama Rascal, putra Uncle Damian dan Aunty Bella Johnson. Cowok satu itu akan tinggal di rumah Daddy. Ia seorang demon hunter tapi dia gak bergabung dengan tim manapun. Sebelumnya, ia tinggal di Kanada, tapi akhirnya ia kembali kesini karena katanya ingin dekat dengan keluarga.
Rascal bekerja sendiri. Kata Daddy, sebagai seorang serigala jadi-jadian dan keturunan Johnson membuat Rascal sangat kuat tetapi ia terlalu pemaksa sehingga gak ada satu tim pun yang mau bekerja sama dengannya. Pernah satu tim dengan Steve tapi keduanya sering duel sehingga Pak Subagyo mengirim Rascal sebagai pelatih bagi anggota polisi khusus makhluk astral disana.
Satu hal baru yang aku ketahui, ternyata hampir di setiap negara memiliki polisi khusus makhluk astral seperti di Indonesia. Aku makin bangga menjadi anggota demon hunter alias POLIKHUSTRAL. Makin kenceng untuk beraksi bersama tim alpha.
Steve kembali marah-marah soal aku yang masih tetep kekeh masuk ke dalam demon hunter. Di ruang makan, bersama Mommy, Daddy dan Rascal. Steve gak bisa menahan kekesalannya. Ia menjambak rambutnya karena kesal tapi aku gak peduli. Aku tetap ingin menjadi seorang demon hunter atau....
“Tetap menjadi asisten Ki Mengkis.” Hanya itu pilihan lainnya.
Tapi aku sudah terlanjur ingin melanjutkan misi keluarga Jhonson untuk membasmi hantu-hantu yang mengganggu manusia. Sambil sekaligus memasukkan jin-jin botol yang tanpa sengaja kukeluarkan waktu itu.
Steve melotot, pipinya menggembung dan mengeluarkan udara dari dalam mulutnya. “Kamu keras kepala sekali, Bunga.”
Aku melihat kekesalan itu, tapi ini hidupku dan bekerja sebagai demon hunter bukan hanya karena keturunan tapi juga … katakanlah ini panggilan hati.
“Ciri khas Johnson,” timpal Rascal. Dengan satu sudut bibir terangkat dan tanpa mengalihkan pandangan membuatnya terlihat cool banget.
Steve melirik Rascal. “Jangan ikut campur!” Rascal tersenyum tipis, aku yakin dia geli melihat Steve yang uring-uringan macam cewek sedang PMS.
Aku menepuk jidat sendiri. Steve sok over protektif padahal ia tahu kalau aku bukan orang yang lemah. Setidaknya kalau diadu sama hantu-hantu receh seperti yang kuhadapi, itu bukan masalah sulit.
“Aku tidak akan mengijinkanmu menjadi demon hunter! Aku ke kantor sekarang.” Steve berdiri, ia meninggalkan ruangan dengan langkah lebar.
Aura merah tubuhnya menyala seperti kobaran api. Meskipun begitu aku tetap pada pendirianku. Aku memang istrinya, tapi bukan berarti ia bisa mengatur hidupku.
Aku dan Rascal bersitatap kemudian aku melihat badan Steve menghilang di balik pintu. “Anak itu masih saja kekanak-kanakan,” gumam Rascal setelah itu ia memasukkan sepotong tahu goreng ke mulutnya.
Aku melotot, enak saja menghina Steve apalagi di hadapanku. Bahkan meskipun benar, tetap saja gak enak mendengarkan orang lain menghina suami. Biar kata Steve kekanak-kanakan, hanya aku yang boleh mengatakannya.
“Itu memang benar kan? Aku heran kenapa kamu mau menjadi istrinya.” Rascal semakin membuat mataku melotot.
“Sudah-sudah. Aunty tidak suka kamu mengatakan hal buruk tentang anak Aunty.” Aku tersenyum, Mommy juga sebal dengan Rascal.
“That’s true,” kata Rascal.
“Dia hanya sedang marah. Aku tahu dia hanya ingin Bunga aman disini. Bukan ikut mengadu nyawa dengan para demon,” sembur Mommy.
Rascal memutar bola matanya, ia menyantap roti isi daging dan gak menggubris Mommy yang masih kesal dengannya.
Daddy menghela napas berat, ia memandangku lekat. Dua sikunya bertumpu pada meja makan. Ekspresinya tampak tenang tapi aku tahu ada kekhawatiran di pikirannya.
“Jangan dipikirkan! Steve hanya terlalu khawatir dengan keselamatanmu. Daddy yakin, kamu cukup pandai untuk tidak memaksakan diri. Sudah, kamu tidak perlu memikirkannya! Steve mungkin akan mudah marah tapi dia tidak benar-benar marah. Kamu mengerti!” ujarnya sambil menghela napas berat.
Aku mengangguk, cukup mengerti dengan sikap Steve yang mudah berubah. Umur aja udah makin tua tapi sikapnya kadang masih kekanak-kanakan sekali.
“Bunga. sebaiknya kamu cepat berangkat ke kantor bersama Rascal!” Daddy bangkit, ia mengambil jaket dokter. Mommy ikut berdiri, mereka berdua melangkah keluar dari ruang makan.
“Ayo!” Rascal berdiri, ia melangkah keluar.
Aku pun segera berdiri dan berjalan di belakangnya.
***
Aku berangkat ke kantor, naik mobil bersama Rascal. Jalanan macet membuat perjalanan cukup lama. Aku menyalakan radio, mencari lagu dangdut yang bisa membuat suasana menjadi menyenangkan.
Lagu Cak Nan yang berjudul mendung tanpo udan mengiringi perjalanan kami. Lagunya mellow karena mengisahkan tentang orang yang sedang patah hati. Meskipun nggak sama seperti yang kurasakan, tapi aku merasa memahami apa yang diceritakan tentang lagu itu. Lagipula aku suka lagunya dan hapal semua liriknya.
Aku ikut bersenandung dengan suara pas-pasan. Lagu dangdut selalu membuatku ingin ikut menyanyi sambil joget. Tapi jelas, aku gak joget di depan Rascal.
“Jika Steve masih melarangmu. Kamu bisa menjadi timku.” Rascal membuatku menoleh kepadanya.
Mobil Rascal adalah mobil paling besar yang aku tahu tapi kepalanya hampir menyentuh atap mobil. Uncle Damian dan Rascal memiliki postur badan paling besar di keluarga Johnson, badan mereka seperti algojo dan tetap terlihat meski ditutup kemeja berlengan panjang yang lengannya digulung sampe siku.
Baru kali ini aku melihat serigala jadi-jadian, kupikir makhluk ini hanya ada di film-film saja.
Aku mencondongkan badan untuk melihat lengannya lebih dekat. Aku penasaran dengan bulu serigala, mungkin saja bulunya terlihat dari pori-pori kulitnya. Lengan Rascal mempunyai pori-pori cukup besar, dipenuhi bulu halus berwarna coklat keemasan. Aku menyentuh bulu-bulunya, halus dan lembut seperti bulu kucing.
“Apa yang kamu lakukan, Bunga?” Rascal membuatku kembali duduk tegak, aku nyengir kuda. Malu karena sudah memandangi lengannya hanya karena penasaran.
“Aku tetap menjadi anggota tim alpha. Meskipun Steve melarangku.” Aku berusaha kembali ke topik utama.
Rascal melirikku, ia menghela napas berat lalu kembali melihat jalanan. Meskipun aku tahu menjadi anak buah Steve berarti harus mendengar omelannya tapi aku masih tetap ingin bersama suamiku tercinta.
***
Aku masuk ke kantor bersama Rascal, disambut dengan mata melotot dan dua tangan berkacak pinggang dari Steve. Tim alpha sedang berkumpul, Restu, Slamet dan Ilham berdiri di depan Steve. Ketiganya berusaha untuk gak tersenyum saat melihatku mendekati mereka.
“Kenapa kamu kemari?” Steve berbisik, ia merenggut lengan dan menarikku masuk ke ruangan tim alpha.
“Aku kan sudah bilang, aku tim alpha demon hunter. Jadi sudah seharusnya aku ada di kantor kan?” Steve melotot, rahangnya mengeras.
Meskipun tampak kesal tapi ia bangkit untuk menyambutku bahkan menarik kursi agar aku bisa duduk dengan nyaman.
“Honey. Sudah kukatakan ini sangat berbahaya,” ujarnya sambil duduk di sampingku, memandangku dengan tatapan serius bahkan alisnya bertautan.
Aku ikutan melotot, dari kemarin pembahasannya ini-ini saja. Semua orang menerimaku kecuali Steve dan ini benar-benar membuatku sebal setengah mati.
“Cara apa yang bisa membuatmu menerimaku Steve? Apa dengan cara duel? Ato kita bercerai?” Aku tahu ini sudah keterlaluan, tapi aku kan jadi emosi kalau Steve masih saja sulit ditaklukkan.
“Ngawur!” Steve mengacak-acak rambutku lalu ia mendongak sambil menghela napas.
“Sebesar itukah keinginanmu menjadi demon hunter?” Steve melirikku, aku menatapnya lekat, menunjukkan keseriusanku.
“Sangat-sangat besar. Ayolah Steve, selain ini aku gak punya keinginan lain. Kamu ingat kan. Aku gak bisa jadi sekretaris.” Aku menangkupkan kedua tangan sebagai tanda memohon. Gak lupa memasang mata kucing kecebur got yang aku yakin bikin dia kasihan sama aku. Seperti kasihan sama kucing kecebur got.
“Ya-ya, aku ingat ... Honey, aku menyerah. Kamu bisa menjadi anggotaku. Tapi ingat, jangan dekat-dekat cowok lain selain aku. Dan lain kali jangan pernah pergi berdua dengan Rascal. Meski dia sepupu kita tapi aku tidak suka kamu bersama cowok lain!”
Padahal beberapa saat tadi aku sempat pesimis karena sedari kemarin Steve gak menunjukkan perubahan keputusan. Gak tahunya sekarang ia takluk juga.
Aku menghormat ala tentara, tertawa senang karena akhirnya Steve menyerah. “Beres, Bos.” Steve tersenyum, ia mendekatiku dan memelukku erat.
“Kami mencintaimu, Bunga. Sangat mencintaimu.” Aku mendongak, memandang Steve sesaat. Kayaknya Steve mengatakan kami, tapi mungkin aku salah mendengar.
“Aku mencintaimu Steve. Terima kasih sudah mengijinkanku jadi anggota tim alpha.” Aku merenggangkan kedua tangan, gak peduli di ruangan ini ada banyak orang.
Steve tersenyum, ia kembali memelukku erat. Aku sangat menyukai ada dalam pelukan Steve. Pokoknya Steve foreverlah.
Pintu tiba-tiba terbuka, Rascal masuk, ia berdiri dengan dua tangan terlipat. Memandang adegan mesra-mesraan kami berdua. “Bos memanggilmu, Steve.” Ia menunjuk luar pintu dengan gerakan kepala.
Steve mengecup keningku. “Kamu tunggu disini! Jangan kemana-mana!” Ia segera melepasku.
Aku kok senang ya lihat Steve seperti sekarang. Dia dengan model serius seperti ini menambah nilai kemachoannya. Padahal dulu kupikir mustahil bisa cinta sama dia. Ternyata Steve memiliki satu sisi yang gak lain tipe ideal pasanganku banget.
Steve hendak keluar ruangan tapi ia menghentikan langkah di depan Rascal. “Jangan dekati istriku!” Ya ampun, bahkan terhadap Rascal, Steve mengeluarkan tanduknya.
Rascal tersenyum mengejek, memberi jalan Steve untuk keluar dengan lebih leluasa. Ia segera duduk di kursi, pandangannya tertuju kepadaku. “Ku rasa, ruangan ini menjadi ruangan panas jika hanya ada kalian berdua,” sindirnya.
“Memangnya kenapa? Kami pasangan sah, you know.” Aku sedikit mengangkat kepala hanya untuk membuatku tampak sangat congkak.
Tingkahku membuat Rascal terkekeh, tentu saja bergaul dengan para bule membuatku mulai pandai ngomong bahasa inggris. Diawali dengan kalimat you know, you know.
Aku duduk di depan Rascal, dua tanganku terlipat di atas meja. Ia duduk dengan jari telunjuk mengetuk meja, alisnya terangkat, tatapannya fokus kepadaku. Aku membuang muka, malas memandangnya tapi aku harus tetap berada disini.
Restu, Slamet dan Ilham masuk bersama-sama. Ketiganya berdiri, memandang Rascal dengan takut-takut. Restu memandangku, membisikkan sesuatu tapi aku gak mengerti. “Kamu bilang apa toh Restu?” ucapku.
Restu semakin menunduk, sementara Ilham dan Slamet melotot. Aku heran dengan sikap mereka yang jadi sangat aneh sekali. Bibir Rascal sedikit tersenyum, ia menggebrak meja, membuat tiga sekawan kaget sampai badan mereka terlonjak. Rascal berdiri, ia memandangku beberapa lama sebelum mengatakan. “Ku harap kamu satu tim denganku.” Rascal pergi setelah mengatakannya.
Restu, Ilham dan Slamet mendekatiku. Ketiganya menatapku masih dengan cara horor. Restu dan Ilham mendekatiku sementara Slamet memilih duduk di depanku.
“Kenapa Rascal kembali kesini?” tanya Restu.
Aku mengedikkan bahu, gak mengerti masalahnya.
“Aku yakin dia kembali karena sudah bosan di Kanada. Ku dengar, ia menangkap beberapa werewolf yang sudah membuat warga disana ketakutan.” Ilham menyondongkan badannya, gayanya begitu serius.
“Werewolf itu apa?” Pertanyaanku disambut tatapan aneh oleh tiga sekawan. Aku masih menunggu jawaban mereka.
“Apa ... kamu benar-benar tidak tahu apa itu werewolf?” tanya Slamet, ku jawab dengan anggukan kepala.
“Werewolf itu nama lain dari serigala jadi-jadian. Kamu benar-benar istri Kapten Steve?” Slamet mempertanyakan statusku.
Aku meliriknya, enak saja dia mempertanyakan soal yang sangat sensitif seperti ini. “Kamu gak percaya? Apa perlu bukti?”
“Aku pikir, gak ada cewek yang bisa membuat Kapten Steve klepek-klepek eh ternyata...” Slamet memainkan dua alisnya, menatapku dengan senyum merekah di wajahnya.
“Aku yakin Kapten Steve cinta mati sama kamu sampai bisa...” Restu memainkan jari-jari yang mengerucut dan diadu dengan jari-jari dari tangan satunya, artinya aku dan Steve ciuman.
Aku tersenyum gaje, malu karena sudah ketangkap basah ciuman sewaktu menjaga raga Bu Yanti. Aku gak berpikir, mereka bisa datang secepat itu. Aku menunduk, tiga sekawan tertawa terbahak-bahak.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN!” Teriakan Steve membuat kami terkejut.
Tiga sekawan sontak berdiri tegap, sementara aku masih duduk di tempatku. Aku berdiri, tapi Steve memintaku tetap duduk. Steve meletakkan sebuah berkas, ia meminta tiga sekawan mengambil kursi dan duduk di sekitar meja.
“Pak Bagyo sudah memberi kita tugas. Besok kita berangkat tapi sebelum itu, kita harus imunisasi,” kata Steve.
“Imunisasi? Emangnya kita balita harus imunisasi?” Pertanyaanku dihadiahi pelototan mata sama Steve.
“Kita harus menyelidiki desa yang diserang penyakit disentri,” kata Steve.
“Bukankah itu harusnya tugas dokter, Kapten?” tanya Slamet.
“Aku tahu. Tapi kita ditugaskan ke tempat itu untuk menyelidiki kasus ini. Kita persiapkan semuanya. Besok pagi, kita berangkat.” Keputusan Steve disetujui oleh semua anggota. Gak lama kemudian rekan-rekan kerjaku berdiri untuk meninggalkan ruangan.
Aku merasa sangat bangga bisa masuk secara resmi di tim alpha. Diterima dengan baik pula. Walaupun aku tahu tugas-tugasnya pasti gak semua mudah, tapi aku yakin kalau aku bisa melakukan semua tugas dengan baik.
Aku tersenyum, senang karena akhirnya kembali bekerja tapi senyumku langsung menghilang sewaktu Steve menatapku dengan mata elangnya.
Duh Steve, jangan galak-galak sama aku. Aku kan jadi semakin cinta.