Akhir Kisah Dewi Kenes

1622 Kata
Steve terkejut, ia melepas tangannya dariku. Mengusap wajahnya lalu kembali memandangku lekat. “Are you kidding me? Kamu bercanda, Honey.” Steve tertawa getir. Aku duduk di depannya, mencebik, menekuk kaki dan memeluknya erat. “Kita sama-sama keturunan Johnson. Kita saudara, Steve. Aku ... mana bisa menikah sama sesama saudara.” Aku menunduk, jadi baper bukan main. “Kita memang keturunan Peter Johnson tapi kita tidak terikat darah murni. Kamu keturunan Victor Johnson dan aku keturunan River Johnson. Kita kerabat jauh jadi tidak ada masalah jika kita menjadi pasangan.” Wah, Steve tiba-tiba jadi dewasa. Aku tersenyum, senang karena Steve bisa mengatakan sesuatu yang sangat indah dan enak didengar. Dia benar juga, aku dan Steve memang satu keturunan tapi kami dipisahkan oleh kakek yang berbeda. “Lagipula. Siapa yang percaya kita ini saudara ... Nih lihat, beda kan.” Steve menyandingkan lengan putihnya dengan lengan coklatku. Aku jadi super baper karena kenapa aku yang item sementara dia yang putih. Aku keturunan Johnson tapi aku yang paling jelek di keluarga ini. “Honey. Jangan merasa takut karena kita sama-sama keturunan Johnson. Tidak ada larangan bagi kita menikah. Kita kerabat yang sangat jauuuuuh sekali.” Steve menarik daguku, membuat mata kami bersitatap. “Aku tahu. Tapi kamu gak perlu membandingkan kulit kita.” Aku jadi kesal dengan Steve. “Aku memang jelek, item, dekil. Beda banget dengan keluarga Johnson lainnya. Bahkan Aunty Dania masih lebih putih dariku. Aku keluarga Johnson teritem dan terjelek.” cicitku. Steve mengangkat dua alisnya, ia tertawa tapi kemudian memelukku erat. “Justru kulit eksotismu yang membuatku jatuh cinta Honey.” Aku melotot, eksotis-eksotis. Dikira aku ular punya kulit eksotis. Aku kembali mencebik, dua alisku bertaut. Melirik Steve dengan muka garang. Steve tersenyum, ia merangkum wajahku dan menarikku hingga sebuah kecupan manis dihadiahkan kepadaku. “Aku mencintaimu apa adanya, Bungaku.” Lagi-lagi Steve membuatku tersenyum bahagia. *** Malam telah datang, semua keluarga berkumpul di halaman belakang. Halaman yang biasanya gelap menjadi sangat terang karena ada lampu bohlam meneranginya. Para Uncle dan Aunty tersenyum, menyambut kehadiranku. Meja panjang dengan banyak hidangan tradisional Indonesia ada di atasnya. Edbert, Mathew, Roni, Jasmine dan Billy asyik bercerita. Lukas dan Steve berbicara di dekat kolam renang. Albert dan Hanny sedang memanggang sosis. Aku memutuskan ikut bergabung dengan Jasmine, duduk di sebelahnya sambil mendengarkan Billy yang sedang menceritakan kisah serunya. “Menangkap manusia serigala jadi-jadian sangat sulit. Seandainya tidak ada Rascal. Mungkin aku sudah menjadi sepertinya,” kata Billy. Ia menatap Rascal yang baru saja bergabung dengan Steve dan Lukas. “Seharusnya mereka dijadikan satu tim. Benar kan?” Jasmine setengah berbisik. “Satu tim hanya butuh satu pemimpin. Mereka sama-sama pemimpin,” sahut Mathew. Aku mencibir, Steve jadi pemimpin apa? Kemampuannya masih sangat diragukan. Selama ini aku yang lebih banyak melakukan aksi ketimbang dia. Berlebihan banget deh. “Kalian ingat tentang hantu penasaran yang membuat apartemen Singgasana heboh? Jika bukan Steve. Aku yakin, tidak ada yang bisa menangkapnya.” Roni membuatku gak bisa menahan tawa. “Apa kamu tidak percaya, Bunga? Tampilan Steve memang konyol. Tapi, saat bertugas dia bisa menjadi pemimpin yang sangat pintar,” kata Jasmine. Aku mengangguk saja, meski tetap gak percaya dengan kemampuan Steve. “Honey. Apa kamu lapar?” Steve tiba-tiba datang, ia duduk di sebelahku. Aku menatapnya beberapa lama, masih gak menyangka kalo Steve bisa sangat luar biasa ... di mata keluarga. Padahal Steve bocah super konyol yang bisa membuatku kesal kapan saja. “Kenapa? Apa aku setampan itu sampai kamu memandangku seperti ini? Apa kita perlu ke kamar. Biar kamu makin puas memandangku?” Steve kambuh lagi. Semua keluarga bergabung di meja panjang. Duduk berbaris membuat suasana terasa akrab dan menyenangkan. Para Aunty dan Uncle duduk di meja sebelah kanan, sementara aku dan para sepupu duduk di sebelah kiri. Daddy dan Mommy duduk diantara para Uncle dan para sepupu. Daddy berdiri sambil membawa sebuah gelas dan sendok, mendentingkannya sehingga perhatian langsung beralih padanya. Daddy adalah putera tertua dari generasi keempat. Semua keluarga Johnson sangat menyeganinya. “Sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada Robert dan sekeluarga, karena sudah bersedia menyerahkan pulau kesayangan ini untuk pertemuan keluarga kita. Untuk Rascal, putera kesayangan Damian. Selamat datang kembali. Jangan lupa, ikuti peraturan atau aku akan meminta Vladimir membawamu pergi.” Rascal melotot, tapi semua keluarga tertawa terbahak-bahak kecuali aku, yang gak ngerti pembicaraan mereka. “Dan yang paling spesial. Aku merasa sangat bahagia karena sudah menemukanmu, Sweetheart. Menantu idaman dan sekaligus keturunan Johnson yang telah hilang sejak generasi kedua.” Daddy tersenyum kepadaku, membuatku merasa sangat bahagia sekali. “Bunga. Katakan sesuatu kepada kami, Sayang!” Daddy duduk kembali, tapi ia tetap memandangku, memintaku untuk berdiri dan berbicara sesuatu. Semua keluarga juga memandangku, akhirnya aku berdiri. Meski sedikit malu tapi aku memaksakan diri untuk berbicara. “Sejak Ayah Ibu meninggal. Saya, endak punya mimpi apapun apalagi bisa bertemu dengan keluarga yang sudah lama terpisah. Sejak kecil, saya memang bisa melihat hantu atau dedemit atau apalah. Dulu saya sangat benci bisa melihat hantu. Tapi sejak bertemu Ki Mengkis, semuanya berubah. Apalagi saat bertemu Steve dan kalian semua. Aku merasa, endak sendiri. Aku endak aneh. Aku merasa senang sekali. Terima kasih kepada Daddy dan Mommy. Terima kasih Steve.” Aku memandang Steve, ia mengucapkan i love you, membuat senyumku terkembang. “Saya punya cita-cita jadi sekretaris tapi jika dulu sulit saya wujudkan. Sekarang jelas lebih sulit lagi. Tapi satu keinginan lain yang ingin saya lakukan. Saya ingin tetap menjadi seorang demon hunter. Saya menerima takdir saya. Saya merasa keren kalo jadi demon hunter.” Semua keluarga tertawa mendengarku. Kebahagiaan ini benar-benar membuatku sempurna. Berada di tengah-tengah keluarga sendiri, benar-benar gak pernah kusangka. Aku duduk lagi, masih menikmati suasana hangat dari semua keluarga. Kami makan sosis panggang, ayam panggang, ikan bakar dan pepes ikan sambil bersenda gurau. Tapi tiba-tiba suara petir menggelegar, kilat terlihat beberapa kali. Gumpalan awan terlihat karena kilat beberapa kali muncul. Awan itu bergulung-gulung membentuk sebuah lorong dimana pada ujungnya terdapat sebuah sinar yang terang. Aku dan semua orang disini berdiri, mendongak, melihat awan hitam yang diterangi petir. Seseorang keluar dari ujung lorong itu, selendang merah mudanya menari-nari, ia semakin mendekat hingga akhirnya ia melayang di depanku. Tersenyum, dan gak lama kemudian ia menyabet selendangnya ka arahku. Steve mencekal tanganku, menarikku masuk ke dalam rumah. Sementara yang lain berusaha menahan kenes yang aku yakin pasti sedang marah sekarang. “Steve. Aku gak apa-apa. Kita bantu yang lain!” Aku menarik tangan tapi Steve semakin erat mencekal lenganku. Steve membawaku masuk ke dalam rumah, ia mengunci pintu dan kembali menarikku naik ke lantai dua. Ia mengajakku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dan menutup jendela dengan tirai. “Honey. Aku akan melindungimu. Kenes atau siapapun tidak boleh melukaimu.” Steve menatapku serius. “Steve. Aku baik-baik saja. Ayo kita masukkan si kenes ke dalam tahanannya!” Kalo sudah berhadapan dengan hantu, aku merasa sangat sehat sekali. “Kamu belum sembuh! Kita tunggu disini sampai mereka bisa mengatasi kenes. Lukas sudah ku perintahkan menangkap hantu itu.” Steve memaksaku duduk di ranjang. Ia mendekati jendela, mengintip ke arah halaman belakang. “Kamu bersembunyi sementara yang lain sibuk mengatasi kenes. Kamu pengecut,” Steve melotot tapi ia gak menanggapi ucapanku. Sial bener si Steve ini, lagaknya seolah sedang melindungiku padahal sudah jelas ia sedang bersembunyi. Gini kok katanya pemimpin terbaik demon hunter, cuih. Steve mendekatiku, ia berdiri di depanku. Tiba-tiba jendela kamar pecah, tirai menari-nari tertiup angin. Dewi kenes masuk dengan cara yang sangat pelan, masuk ke dalam kamar dengan cara terbang sok jadi seorang putri, dia. Aku berdiri, bersiap membuat cakra tapi Steve sudah menyerang dewi kenes dengan cakranya. Kenes membuat gelembung pertahanan, memantulkan cakra Steve tapi sebelum memantul ke Steve, suamiku kembali membuat cakra dan dilemparkan ke cakranya sendiri. Sebuah ledakan membuat barang-barang di kamar berhamburan. Steve menarik tanganku, mengajakku keluar dari kamar. Kenes mengikutiku, kedua kakinya gak napak lantai tapi ia mendekatiku dengan caranya. Steve mengajakku turun tangga, keluarga yang lain sudah bersiap dengan cakra mereka. secara beruntun mereka melempar cakra tapi kenes kembali membuat gelembung. “Alihkan perhatiannya!” perintah Steve. Uncle Gilbert, Daddy, Aunty Dania, Mathew, Lukas, Hanny, Jasmine, Albert, Edbert, Rony dan Billy menyerang kenes bersama-sama. Kenes membuat gelembung membuat cakra mereka memantul ke diri mereka masing-masing. Sedetik kemudian, Steve membuat cakra yang sangat besar, ia melempar cakranya saat dewi kenes baru saja menghilangkan gelembungnya. Cakra mengenai badan kenes. Rascal menunjukkan handphone-nya. Seketika badan kenes berubah menjadi asap dan masuk ke dalam handphone. Semua selesai berkat kerja sama keluarga Johnson. Aku bangga memiliki mereka sebagai keluarga. Gak akan bosan untuk selalu mengatakannya. Aku mendekati Rascal, menarik handphone dan melihat kenes yang kini terpenjara dalam layar handphone. “Jangan rebut pacarmu, cewek sialan.” Sudah masuk tahanan, masih punya keberanian dia. “Jangan lawan aku, setan sialan,” “Ratu zali tidak akan memaafkan kalian,” “Mau zali, mau Bang jali, aku gak peduli,” “Lepaskan aku. Steve membutuhkanku!” Kenes menggedor-gedor layar. Aku tersenyum, senang melihatnya masuk ke dalam tempat yang paling cocok untuknya. “Damian. Rascal. Sudah hampir jam dua belas. Masuk ke kamar kalian!” Tiba-tiba Aunty Dania menarik tangan suami dan anaknya. Aunty Dania membawa mereka ke sebuah ruangan. Aku heran dengan Aunty Dania yang biasanya kalem jadi super heboh macam ini. Aku dan Steve saling memandang. Ia tersenyum dan merangkulku, membawaku ke kamar kami. Kamarku benar-benar hancur. Pecahan kaca bertebaran di penjuru kamar bercampur dengan barang lainnya. Steve mengajakku pindah ke kamar sebelah. Aku berdiri berhadapan dengan Steve, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Uncle Damian seorang serigala jadi-jadian. Dia berubah menjadi serigala saat jam dua belas malam di setiap bulan purnama. Begitu juga dengan Rascal.” Ucapan Steve membuatku melongo, pantas saja Rascal terlihat aneh dan badannya terlalu besar untuk ukuran manusia biasa, ternyata dia seorang siluman serigala. Wow.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN