Kami Sepupu

1622 Kata
Aku duduk di tepi meja makan, di depanku ada zuppa soup buatan Aunty Bella. Baru kali ini aku makan makanan seperti ini. Tapi sekarang, aku ingin makan sampai kenyang buat membuang kekesalan. Aku mengambil sendok, memecahkan roti yang menempel di atas cangkir dan menyendok soup kental berwarna putih dengan kacang kapri (Sebenarnya kacang polong tetapi Bunga terlalu kampungan untuk mengetahuinya) dan potongan wortel. Aku memakan soup itu, tapi rasanya benar-benar aneh di lidah. Asin dan gurihnya keju membuatku mendorong cangkir sup. Akhirnya aku hanya meneguk air sampai beberapa gelas. “Honey. Kalo kamu marah, kamu boleh membalas Sonya. Gadis itu memang seharusnya diberi pelajaran.” Steve memberiku pilihan menarik tapi apa kata keluarganya kalo aku benar-benar melakukannya. Aku menggeleng, aku tetap saja gak boleh melakukannya. “Aku ingin makan enak, Steve. Cariin ikan bakar, ayam bakar, pepes ikan juga boleh ... donat juga pasti enak,” “Honey. Are you serious? Kamu bilang, kamu hanya butuh minum s**u. Tapi kenapa...” “Cariin sekarang!” Aku melotot, gak ngerti ada singa ngamuk ini. Steve menghela napas, ia mengacak-acak rambutku dan meninggalkanku sendiri. Aku terdiam, berusaha melupakan kejadian hari ini meski itu gak mudah. Cowok algojo datang dan duduk di sebelahku, di kursi yang tadi diduduki Steve. Ia memandangku lama, membuatku risih dibuatnya. “Jadi namamu Bunga?” Ia mengangguk, seolah mengerti sesuatu. “Siapa kamu?” Dari kemarin aku bertemu dengannya tapi aku belum tahu siapa dia. Cowok itu mengulurkan tangan, melirik tangannya sendiri untuk memintaku menjabatnya. Aku mengulurkan tangan, menjabat tangannya tapi sewaktu aku menarik tanganku, ia mencekalnya erat. “Namaku Rascal Johnson Rutterwood. Putra Demian Rutterwood dan Dania Johnson,” “Oalah, kamu anaknya Aunty Dania toh.” Aku mengangguk mengerti. Tapi sejurus kemudian, aku kembali menatapnya lekat. “Kenapa kamu kemarin gak membantuku? Seharusnya kita bisa menangkap kenes sialan itu dan membuatnya mati membusuk di botol air bekas pipis sapi.” Nahlo lagi-lagi ingat soal kotoran sapi. Rascal tertawa keras, ia menutup mulutnya dengan tangan terkepal tapi tetap saja ia tertawa terpingkal-pingkal bahkan sambil mendongak. “Kamu lucu sekali, Bunga. Seharusnya aku melihatmu memasukkan dewi kenes ke dalam botol ... air bekas ehm urin sapi,” Aku menyandar di kursi, dua tanganku terlipat. Ingatanku kembali ke Sonya. Gadis itulah yang membawa bencana ini. Seandainya aku bisa membuat gadis itu menyesal, aku pasti lega sekali. “Aku butuh roserie untuk membantuku. Dimana roserie sekarang ya? Lumayan juga punya asisten macam roserie” gumamku. “Ya Nona.” Tiba-tiba roserie berdiri di sebelahku. Aku mendongak, kaget dengan kehadirannya. “Kenapa kamu kesini? Aku gak memanggilmu,” “Tapi anda menyebut nama saya tiga kali, Nona.” Wealah, segampang itu memanggil roserie. Aku jadi senyum-senyum sendiri. “Jadi benar kamu generasi kelima Johnson yang hilang itu. Aku harus memberi tahu seluruh keluarga,” kata Rascal. Aku menoleh kepadanya, cowok itu bangkit. Ia pergi meninggalkan ruangan tanpa permisi, sama seperti sewaktu ia datang. Aku kembali memandang roserie. Berpikir, enaknya menjahili seperti apa biar aku gak ketahuan. “Mungkin memasukkan kodok di dalam lemari bajunya ... engga, sebaiknya aku memasukkan kalajengking di tempat tidurnya. Atau memasukkan ular di sepatunya. Wow jahatnya...” Aku jadi ngomong sendiri sambil membayangkan semua hal itu terjadi kepada Sonya. Tapi aku segera menggeleng, aku gak mau membuat onar disini. Aku meminta roserie pergi. Gak ingin pikiran jahat menggelayuti, jadi lebih baik aku jalan-jalan sambil menunggu Steve membuatkan makanan yang ku inginkan. *** Di halaman belakang, Aunty Bella dan Mommy sedang asyik memanggang ikan. Para sepupu asyik berlatih seni bela diri mereka. Semua memakai jaket karate kecuali Rascal dan Steve. Dua cowok itu kompak memakai kaos putih tanpa lengan dan celana kargo warna coklat. Aku berdiri di depan pintu, memandang semua orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Steve tersenyum, ia mendekatiku dan menggiringku duduk di kursi malas. “Tunggu sebentar ya Honey. Mommy dan Aunty Bella sedang menyiapkan semua makanan yang kamu mau,” Waduh, ternyata Steve meminta Mommy dan Aunty Bella membuatkan makanan yang aku mau. Aku jadi malu banget kalo begini, seharusnya aku ingat kalo Steve itu suami tersontoloyo di muka bumi ini. Tentu saja di pulau ini gak ada warung dan gak mungkin juga Steve masak makanan untukku. “Apa kamu pusing?” Steve memijat kepalaku, membuatku merasa senang karena begitu diperhatikan. “Terusin, Steve. Enaknya...” Steve memijit pundakku. “Oh ya, tolong ambilin kaca dong.” Aku teringat soal muka yang bonyok setelah diserang kenes kemarin. Steve berdiri, ia segera berlari masuk ke dalam rumah. Tetapi langkahnya berhenti saat Sonya keluar dengan muka merah padam. “SIAPA YANG MEMASUKKAN KATAK DI LEMARI, KALAJENGKING DI RANJANG DAN OMG, ADA ULAR DI SEPATUKU,” teriak Sonya. Aku melotot, gak menyangka kalo roserie benar-benar melakukannya. Setan antik itu berdiri diantara para sepupu, ia tersenyum, menunjukkan barisan gigi hitam dan runcingnya. “Setan sialan. Kamu yang melakukannya!” Sonya membuat cakra, ia mau melukai roserie. Aku sontak berdiri, membuat cakra yang sama besar dengan yang dibuat Sonya. Saat Sonya melempar cakranya ke roserie, aku melempar cakra ke arah cakra Sonya. Cakraku meledakkan cakra Sonya. Gadis itu terkejut, ia menoleh menatapku dengan mata bulatnya yang semakin terlihat besar. “Jangan sakiti roserie! Dia gak salah.” Aku mendekati Sonya. Memandang tajam ke gadis itu. “Apakah itu artinya, kamu yang memerintahkannya?” Aku terdiam, malu sekali karena sekarang aku dan Sonya jadi pusat perhatian. Steve datang dengan sebuah cermin di tangan. Ia berdiri diantara aku dan Sonya. Memandangku dan Sonya bergantian. “Aku enggak bermaksud begitu ... hanya saja, aku memang sempat memikirkannya. Roserie gak tahu kalo aku ngomong sendiri. Bukan memintanya untuk melakukan itu padamu,” ungkapku. “Roserie ... maksudmu setan yang berdiri disana.” Steve menunjuk ke arah roserie. “Maafkan aku Steve. Kemarin, roserie memberitahuku soal ... generasi kelima Johnson yang hilang.” Steve sangat terkejut.  “Kami sudah mengetahuinya. Rascal yang menceritakannya kepada kami. Hanya saja, kami ingin membuat kejutan tapi sepertinya sekarang itu sudah tidak perlu.” Aunty Dania dan Uncle Damien keluar rumah. Mereka berdua berdiri di dekat kami. “Lagipula, sudah seharusnya Bunga melakukan hal itu kepadamu Sonya. Perbuatanmu terlalu berat untuk dimaafkan dengan mudah.” Aunty Dania melirik sebal ke Sonya. Sonya mengepalkan dua tangannya, rahangnya mengeras. Ia gak bicara apapun, segera meninggalkan kami begitu saja. Aku jadi benar-benar gak enak, karena aku masalah seperti ini terjadi. “Biarkan saja gadis manja itu. Aku tidak pernah suka dengan perangainya.” Aunty Dania menepuk pundakku. “Welcome home Johnson.” Uncle Damian tersenyum, ia membuka tangan dan memelukku erat. Uncle Damian sangat besar sekali, sama besarnya dengan Rascal. Masuk ke dalam pelukannya, seperti masuk ke dalam selimut yang sangat hangat. Masalah Sonya dan kejahilan gak sengajaku menguap begitu saja. Aunty Dania menggiringku kembali ke kursi malas, ia memintaku duduk bersamanya. Aunty Dania sebenarnya wanita yang baik tapi selalu berubah sinis kalo berhubungan dengan Sonya. Aku gak tahu kenapa tapi yang pasti sejak awal aku sudah mengetahuinya. “Sudah lama kami mencarimu. Kami pikir, kami takkan pernah menemukan keluarga kami. Tapi, semua berubah saat Ki Mengkis memberi tahu kami tentangmu. Sejak awal, kami sudah menduga kamu adalah seorang Johnson.” Aunty Dania tersenyum. Para sepupu ikut bergabung dengan kami. Hanny dan Mathew duduk di sebelahku, mereka sangat bule sementara aku satu-satunya keluarga Johnson yang berkulit sawo matang. Aku memandang tanganku dan tangan Hanny yang bersentuhan. Seperti s**u coklat dan vanilla, hadew. Lukas menahan senyum, ia menunduk dan menutup mulutnya. Aku meliriknya kesal, sepertinya ia tahu aku mempersoalkan warna kulit kami. “Ini hal yang patut untuk dirayakan. Benarkan?” Mommy membawa piring berisi ikan bakar yang sudah matang. “Tentu saja. Kalian siapkan tempatnya! Kami yang menyiapkan makanannya. Kita buat makan malam spesial keluarga.” Aunty Dania memandangku. “Dan kamu, Dear. Sebaiknya istirahat sambil menunggu kami menyiapkan segalanya.” Aku gak bisa menahan senyum, senang karena sudah bertemu dengan keluarga besarku. Gak pernah menyangka kalo aku memiliki keluarga sebesar ini dan lebih gak menyangka lagi kalo mereka orang bule ... Aku adalah keturunan orang bule hahahaha. “Apa yang kamu pikirkan, Bunga?” Rascal merusak lamunan indahku. Ia menunduk, kepalanya sangat dekat dengan kepalaku. Aku mengerucutkan bibir, bocah ini datang-datang sudah membuatku kesal saja. “Rascal. What you doing?” Steve menarik badan Rascal, cowok algojo itu berdiri sambil terkekeh. Steve merangkulku erat, ia menatap tajam Rascal. Bocah yang hobi memakai baju tanpa lengan itu kembali tertawa terbahak-bahak. Aku memandang Steve, cowok yang ku cintai ternyata adalah sepupuku sendiri. Kalo sudah begini, bagaimana nasib pernikahan kami? Kan gak boleh sesama saudara menjadi pasangan suami istri. “Honey. Sebaiknya kamu istirahat di kamar. Aku akan menemanimu.” Steve berdiri, ia segera membopongku. Para sepupu menyoraki kami, Steve melirik sebal kepada saudaranya sementara aku hanya bisa menyembunyikan wajah di sela leher Steve. Malu sekali. Steve terus menggendongku, aku menatapnya lekat. Meski aku sering sebal dengannya tapi aku sangat-sangat mencintai Steve. “Steve, aku mencintaimu.” Tanpa sadar, aku mengungkap perasaan. “I love you more, Honey.” Steve menaiki anak tangga, membawaku ke lantai dua. “ Turunin aku Steve!” Tapi Steve tetap saja membopongku. “Aku tidak pernah menggendongmu seperti ini. Sebaiknya mulai sekarang aku menggendongmu seperti ini setiap hari.” Dasar Steve lebay. Steve membawaku ke kamar, membaringkanku ke atas ranjang. Ia duduk di dekatku, membelai rambut dan mencium keningku. Aku menyentuh wajahnya, menyentuh lengan dan berakhir dengan dua tangan kami saling bertautan. “Steve. Aku generasi kelima keluarga Johnson,” “Iya, Honey. Aku senang mendengarnya. Kamu menemukan kami ... keluargamu,” “Tapi ... artinya kita keluarga Steve. Darah kita sama,” “Darah kita memang sama,” “Aku serius,” “Aku juga serius. Darah kita sama-sama merah,” “Steve. Ku rasa, hubungan kita harus diakhiri. Aku dan kamu ... saudara,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN