Aku membuka mata, berbaring di kasur yang empuk tapi rasanya badanku seperti berbaring di atas ribuan paku. Sakit luar biasa. Aku berusaha bangkit, memaksa badan yang kaku semua. Steve membuka pintu, satu tangannya membawa nampan berisi makanan. Melihatku bangun, ia berjalan cepat mendekatiku. Meletakkan nampan di atas meja dan segera membantuku untuk bersandar.
Sebuah infus tergantung di dekat ranjang, infus dihubungkan dengan selang dan jarum menempel di punggung tanganku.
“Honey. Are you oke?” Steve terlihat sangat khawatir kepadaku.
“Steve. Badanku sakit banget,” rintihku.
Steve tersenyum, ia mengambil mangkuk yang isinya masih panas, asapnya mengepul dan baunya sangat aku kenal. Ia duduk di hadapanku, aku bisa melihat isi mangkuknya. “Bubur ya?”
“Kemarin kamu demam tinggi. Daddy sudah memberimu obat tapi jika demammu tidak mau turun. Terpaksa harus dirawat di rumah sakit,”
“Berapa lama aku tidur? Kenapa aku kok gak ingat soal obat?”
“Kamu tidur satu hari dua malam. Kamu bangun hanya untuk minum obat. Apa kamu lupa?” Steve menyendok bubur, meniupnya sebelum menyuapkannya kepadaku.
Aku membuka mulut, memakan bubur sum-sum yang masih hangat. Kucecap dan langsung kutelan. “Masa sih? Sejak kapan infus ini dipasang?” Aku mengangkat tangan, menunjukkan infus kepada Steve.
“Kamu pingsan setelah tertangkap ratu zali. Honey, beruntung dia tidak melakukan sesuatu kepadamu. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Steve menyentuh keningku dengan punggung tangannya lalu ia kembali menyuapiku dengan bubur sum-sum.
“Jadi dia ratu zali. Mukanya sebelas dua belas sama kenes. Kemarin kenes menyerangku. Harusnya aku bisa memasukkannya ke botol tapi awan-awan itu datang dan semuanya berubah.” Aku benar-benar kecewa karena gak bisa mengalahkan kenes. “Beruntung sekali si kenes sialan itu,” gumamku.
“Kenes tidak akan mudah dikalahkan. Kamu sudah tahu kan?” Steve kembali menyuapiku makan, aku kembali menikmati bubur yang terasa hambar.
“Aku yakin bisa mengalahkannya. Steve, ku rasa kenes terus mencariku. Aku harus cepat pulih untuk melawannya. Sini, aku makan sendiri buburnya. Kasih aku segelas s**u! Aku pasti cepat sembuh kalo minum susu.” Aku merebut bubur dari tangan Steve, melahapnya dengan cepat hingga tandas.
“Apa kamu benar-benar sakit?” Steve heran, aku meliriknya. Tentu saja aku sakit, tapi kalo ingin cepat sembuh ya harus banyak makan dan minum s**u.
Setelah makan dan minum s**u. Steve memberiku obat, aku langsung menerima dan menelannya. Steve sampai heran melihatku. “Honey. Aku yakin nanti sore kamu sudah bisa berlari dan berenang di kotoran sapi seperti kemarin.” Aku mengerucutkan bibir, Steve masih saja ingat masalah kotoran sapi kemarin.
Ia tertawa, mengacak-acak rambutku dan mengecup bibirku.
Pintu kembali terbuka, Daddy dan Mommy masuk ke dalam kamar. Mommy segera mendekatiku, menyentuh wajah dan meraba semua badanku. “Katakan sama Mommy. Bagian mana yang sakit, Bunga?”
“Saya endak apa-apa, Mom. Kapan Mommy, Daddy kesini?”
Mommy menatapku sambil menghela napas. “Kami datang setelah dikabari masalah pingsanmu. Mommy tidak menyangka, kamu bisa terluka separah ini.”
Aku tersenyum, senang karena Mommy begitu mengkhawatirkanku. Daddy mendekatiku, ia memasukkan termometer ke dalam mulutku. Ia juga membawa alat untuk memeriksa tekanan darah. Daddy gak banyak bicara, ia melakukan pemeriksaan termasuk memeriksa memarku.
“Lain kali, jangan paksakan dirimu! Daddy tahu kamu ingin memberantas hantu tapi harusnya kamu tahu kemampuanmu dan tidak terluka separah ini,” gumam Daddy.
“Maafkan saya, Daddy. Sudah membuat kalian khawatir.” Aku jadi merasa gak enak sama mereka.
“Demammu sudah turun. Kamu hanya perlu istirahat beberapa hari untuk memulihkan kesehatanmu,” kata Daddy.
Setelah memeriksaku, Daddy, Mommy dan Steve meninggalkan kamar dan membiarkanku istirahat. Aku tersenyum, senang karena mendapat keluarga yang sangat menyayangi dan memerhatikanku.
“Saya datang untuk melayani, Nona.” Tiba-tiba hantu wanita yang gak lain roserie muncul. Berdiri dengan kepala tertunduk, rambut menutup seluruh mukanya. Ia memakai jubah putih khas seperti kuntilanak tapi bedanya, punggung roserie gak bolong.
“Jadi apa benar aku generasi kelima keluarga Johnson yang hilang? Apa buktinya?”
Roserie mengangkat kepala, dari sela rambutnya aku melihat mata putih dan kulit mengelupasnya. Ia mengangkat telunjuk dengan kuku runcing hitamnya. “Jangan beri aku penglihatan lagi!” Aku gak mau seharian masuk ke dunia lain seperti kemarin.
“Mr. Peter Johnson mengirim saya untuk melindungi keturunan Mr. Victor. Tapi, Mr. Victor membuang saya ke pulau ini. Mengurung saya di tahanan demon sampai Mr. Gilbert membebaskan saya untuk mencari keberadaan Nona,” kata roserie panjang lebar.
“Saya juga menemui Tuan Rahmadi beberapa waktu lalu. Tapi Tuan Rahmadi malah menceburkan diri ke jurang saat melihat saya. Saya menyesal, Nona.”
Aku melotot, gak percaya kalo kematian orangtuaku ada campur tangan roserie. “Apa kamu sengaja membuat orangtuaku meninggal?”
Roserie menggeleng, “Tuan Rahmadi tidak suka melihat saya. Beliau selalu saja mengusir saya. Tapi saya tidak pernah menyerah. Hingga suatu hari, beliau naik sepeda motor bersama istrinya. Saya datang hanya untuk menyapanya tapi Tuan Rahmadi malah menjerit lalu motornya di gas dan mencebur jurang,”
“Kenapa kamu gak menolong Ayah Ibuku? Katamu kamu ada untuk melindungi keluarga kami tapi kamu malah membuat orangtuaku kecelakaan,”
“Maafkan saya. Bukan maksud saya menakuti Tuan dan Nyonya Rahmadi. Saya hanya ingin mengatakan jika Tuan Rahmadi adalah generasi keempat keluarga Johnson tapi saya belum sempat bicara. Tuan Rahmadi sudah mengusir saya,”
“Tentu saja Ayahku mengusirmu. Kamu pikir kamu itu secantik Madona sampai Ayahku senang melihatmu?” Aku jadi naik pitam, tentu saja aku marah setelah tahu kalo roserielah yang membuat kedua orangtuaku meninggal.
“Perintah Mr. Peter Johnson adalah menunjukkan siapa saya dan mengingatkan mereka bahwa mereka adalah keturunan Johnson. Termasuk Nona,”
Melihat wajah datar roserie dan juga dua tangannya yang bertautan. Aku menghela napas berat, aku mengatur perasaanku sendiri. Dari cara bicaranya, aku sadar kalo roserie gak memiliki maksud jahat. Hanya caranya menampakkan diri benar-benar bisa membuat orang meninggal, seperti Ayah.
“Memang caramu menyapa gimana?” Aku jadi penasaran.
Roserie mengangkat telunjuk, senyum lebar dengan hiasan gigi-gigi runcing dan hitam ia perlihatkan. Aku melongo, jelas saja Ayah terkejut orang mukanya serem banget. Matanya putih, mukanya pucat mengelupas, bibirnya semerah darah, senyumnya terlalu lebar apalagi pake pamer gigi jeleknya. “Generasi keempat keluarga Johnson.” Roserie mengangkat telunjuknya.
Entah untuk ke berapa kalinya, aku menghela napas berat. Sejak dulu Ayah penakut sekali. Berkali-kali beliau ke orang pintar untuk menutup kemampuannya tapi gak lama kemudian, kemampuannya balik lagi. Sejak kecil aku selalu melihat Ayah ketakutan setiap melihat hantu tapi selalu ditahan jika beliau bersamaku.
“Maafkan saya Nona. Saya memang jelek, jadi wajar kalo Tuan Rahmadi tidak menginginkan kehadiran saya,”
“Bukan jeleknya. Tapi caramu mendekati Ayahku yang gak keren. Kamu itu mau melayani Ayah apa mau menakut-nakuti? Dasar hantu gak pinter. Eh iya, lain kali kalo mau menolongku mikir-mikir dulu. Jangan main tarik selendang begitu, kamu ini mau menolongku apa mau membunuhku?” Aku mencibirnya, kepala roserie semakin menunduk.
Roserie diam, ia berdiri gak jauh dari ranjang. Aku memandangnya, entah apa yang ia lakukan disitu tapi keberadaannya cukup mengganggu. “Kamu pergi saja! Lihat tampangmu, badanku sakit semua,”
“Jika Nona perlu bantuan. Panggil nama saya tiga kali. Saya pasti datang,”
“Ehm tentang kemarin. Terima kasih sudah menolongku,”
“Sudah tugas saya menjaga anda Nona,”
“Tapi lain kali jangan asal menolong saja ya. Pikirkan keselamatan nyawaku. Jangan sampai aku mati sewaktu kamu tolong,”
“Baik Nona,”
Roserie keluar kamar menembus pintu. Sesaat aku menatap pintu, walau kaget karena orangtuaku meninggal karenanya tapi aku gak ingin melakukan apapun. Toh melakukan apapun gak akan mengembalikan orangtuaku.
Aku turun dari ranjang, badanku masih gemetar tapi aku sudah merasa lebih baik. Aku mengambil infus dari tiangnya. Berjalan sambil mengangkat infus keluar dari kamar.
***
Keluarga Johnson sedang berkumpul di ruang tengah. Melihat kehadiranku, semua mata terkejut sekali. Mommy segera membantuku, memapahku dan memintaku duduk di sebuah sofa panjang bersama Aunty Dania.
“Bagaimana keadaanmu, Bunga?” tanya Aunty Dania.
“Saya sudah lebih baik, Aunty.” Aku tersenyum.
Aku melihat Uncle Gilbert dan Aunty Bella sedang menatapku dengan tatapan berkaca-kaca. Melihat mereka, membuatku ikut trenyuh meski aku gak tahu alasan kenapa mereka seperti itu.
“Bunga. Sebagai orangtua. Uncle dan Aunty ingin minta maaf atas sikap anak kami.” Uncle Gilbert mengusap wajahnya.
Aku menelengkan kepala, gak ngerti sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Aku memandang Mommy dan Daddy, keduanya tersenyum sambil mengangguk. Steve berdiri sambil melipat kedua tangannya. Keningnya berkerut, mukanya ditekuk, ia sedang sangat marah. Para Uncle, Aunty dan sepupu terdiam termasuk cowok gaje sebesar algojo yang berdiri sambil melipat kedua tangannya seperti yang dilakukan Steve.
“Saya ... endak ngerti,”
Uncle Gilbert menghela napas berat, ia berdiri, mengkode seseorang untuk mendekat. Sonya berjalan pelan dengan kepala tertunduk. Gadis itu berdiri di depanku, ia mengangkat kepala, kami bersitatap.
“Katakan sesuatu padanya! Katakan kesalahanmu dan meminta maaflah!” kata Uncle Gilbert.
“Sebenarnya ... aku yang melepas dewi kenes,” lirih Sonya.
Aku melongo, mulutku terbuka. Gak menyangka Sonya berani melakukan hal semacam itu. Aku memandang Steve, ia menatap tajam Sonya. Aku yakin Steve benar-benar murka. Sejujurnya aku ingin membuat Sonya babak belur sekarang, tapi jelas gak akan ku lakukan karena semua keluarga Johnson ada disini.
“Bunga ... maafkan aku. Aku sudah membuatmu dikejar kenes dan ... dilukai.” Gak ada muka menyesal yang tampak, membuat amarahku benar-benar naik.
Dua hal besar terjadi padaku pada hari yang sama. Setelah tahu pelaku yang membuat orangtuaku meninggal, sekarang aku tahu siapa orang yang sudah melepaskan setan sialan yang nguber Steve, suamiku. Setan yang kini memburuku.
Aku mendesah, membuang muka. Memandang Mommy yang tersenyum getir. Jika roserie bisa ku maafkan karena aku bisa melihat penyesalan dalam dirinya. Enggak dengan Sonya, gadis itu gak menyesal melakukannya. Terlihat sekali dari wajahnya, bahkan sepasang matanya menunjukkan perasaan lega.
“Bunga. Apakah kamu memaafkanku?” Sonya menunggu jawaban, ada senyum tipis tergambar di wajahnya.
Beberapa lama aku memandangnya, aku gak bisa memaafkan tapi gak bisa mengatakannya disini. “Aku maafkan.” Walau terpaksa ku katakan.
Aku memandang Steve, mengangguk, memintanya mendekatiku.
“Honey. Apa kamu baik-baik saja?” Steve sedikit membungkuk, melihatku dengan saksama.
“Bawa aku pergi, Steve...”
Steve gak banyak bicara, ia segera memapahku keluar dari ruang keluarga.
Sonya sialan, aku akan membuat perhitungan sendiri denganm