Cowok di depanku memang terlihat keren walau badannya kaya algojo. Ia memandangku lekat, menungguku menjawab pertanyaannya. Tapi masalahnya, aku sendiri saja belum yakin soal itu. Lebih baik aku bertanya dulu sama jin perempuan itu.
Aku memutar badan ke kanan, berniat untuk menanyakannya ke jin perempuan yang entah siapa namanya. Tapi tuh hantu sudah gak ada, aku hanya bisa menghela napas. Lain kali aku akan menanyakannya, mencari bukti yang bisa memastikan kalo aku benar-benar keturunan Johnson.
Aku melangkahkan kaki, melewati monyet-monyet yang asyik nongkrong di atas dahan pohon bakau. Sambil berjalan, aku memandang kulit lenganku. “Mana ada keturunan bule tapi seitem aku. Jin itu pasti ngasal,” gumamku.
“Tunggu dulu. Aku butuh jawabannya.” Seseorang menghentikan langkahku dengan satu tangan berada di atas pundak kananku.
Aku memutar badan, mendongak untuk melihat wajahnya. Kami bersitatap, sepasang matanya kosong gak bercahaya. Aku rasa, ia makhluk jadi-jadian tapi aku gak yakin soal itu.
“Nona. Katakan! Apa benar kamu generasi kelima keluarga Johnson?” Cowok itu kembali bertanya tapi nada bicaranya seperti orang menagih hutang.
Aku menatapnya tajam, malas menjawab pertanyaan dari orang seperti dia. Aku memandang tangannya, menepis kasar dan memutar badan. Cowok itu mengikutiku, masih menunggu jawaban.
Mendung semakin menggelap, ku rasa hujan akan segera datang. Aku mempercepat langkah, takut kalo kehujanan sebelum sampai rumah. Tapi mendung gak mungkin bisa segelap ini?
Aku memandang sekeliling lalu melotot, ku rasa ini bukan mendung tapi. “Apa sekarang sudah surup?”
“Surup?” Cowok di sebelahku bertanya balik.
“Senja...”
“Tentu saja sudah senja, Nona. Aku menemanimu selama kamu berinteraksi dengan roserie,”
Aku menoleh, menatap cowok itu dengan tatapan bertanya. “Apa jin perempuan itu bernama roserie?”
“Dia peliharaan keluarga Johnson. Tunggu, jika kamu bukan keturunan Johnson. Siapa kamu?” Cowok itu melipat kedua tangan, lengannya semakin menggembung dan terlihat semakin besar saja.
“Aku Bunga Lestari, istri Steve Johnson.”
Cowok itu mengangkat satu alisnya, ia tersenyum geli. Kurasa ia gak percaya kalo aku adalah istri Steve. Aku melotot. Dua tanganku berkacak pinggang. “Memangnya salah kalo aku istri Steve?”
Cowok itu mengangkat dua tangan, tapi senyum masih menghiasi wajahnya. “Aku percaya-aku percaya. Tapi apa benar kamu istri ... Steve?”
Katanya percaya, tapi bertanya lagi. Maksudnya apa?
Aku memutar kedua bola mata, malas melanjutkan pembicaraan sama cowok super gaje macam dia. Aku kembali berjalan, melewati jembatan kayu bercat putih yang meliuk-liuk seperti ular. Cowok itu masih setia berjalan di sebelahku. Sesekali pandangan kami beradu. Kalo sudah begitu, aku membuang muka.
Langkahku terhenti saat dewi kenes tiba-tiba muncul di depanku. Sempat kaget, tapi aku siap bertempur dengannya.
“Lepaskan Steve! Akan kubiarkan kamu hidup,” kata dewi kenes.
“Pergilah! Atau kamu akan menyesal sudah menggangguku.” Dikiranya cuma dia yang bisa mengancamku.
“Kamu belum kapok juga rupanya.” Dewi kenes menyabetku dengan selendang pinknya. Karena begitu tiba-tiba, aku gak sempat menghindar.
Pipiku terasa perih, aku menyentuhnya, ada darah menempel di telapak tanganku. Aku memandang kenes dengan tatapan marah, setan sialan itu gak bisa diampuni. Apalagi melihat senyum sok kecakepannya yang membuatku muak. Gak banyak ngomong, aku menyerang kenes dengan sebuah pukulan tapi kenes menangkap tanganku, memutarnya jadi aku ikut berputar sambil menarik tanganku darinya.
Kami terlibat baku hantam, kenes menggunakan selendang merah muda sebagai senjata. Menyabetku dengan selendangnya tapi kali ini aku bisa menangkap selendang itu. Aku menariknya sekuat tenaga, membuat setan itu semakin mendekat sampai akhirnya satu pukulan kuat mengenai mukanya hingga membiru pada bagian ujung bibir.
“Sialan kamu!” kenes menarik selendangnya, melompat mundur dengan gerakan yang sangat mulus seperti seorang penari.
Aku membuat cakra, melempar cakra ke arah kenes tapi setan itu bisa berkelit dan malah melempar selendang yang tiba-tiba menjadi kaku seperti sebuah tombak. Aku menghindar sambil mencekal selendang itu. Selendang yang kaku langsung lemas, menjadi kain seperti yang seharusnya.
Kenes melempar selendang dari sisi lainnya, aku menghindar, melompat dengan menggunakan pagar kayu bercat putih sebagai pijakan. Aku melompat tinggi, setinggi kenes yang sedang terbang. Membuat cakra dan menghantamkannya ke badan kenes.
Kenes terjatuh dengan keras, setan itu terbaring dengan posisi miring. Ia meringis kesakitan, memandangku dengan tatapan marah.
Aku mendarat dengan mulus, berdiri gak jauh dari kenes. Aku bersiap dengan kuda-kuda sempurna. Aku gak akan membiarkan setan seperti kenes, berkeliaran bebas dan membuat Steve ketakutan seperti semalam.
“Aku gak akan mengampunimu, kenes sialan!” Aku membuat cakra lagi, melempar sekuat tenaga ke arah kenes tapi tiba-tiba sebuah gelembung besar mengelilingi kenes. Cakra yang sudah ku lempar malah memantul ke arahku, membuatku terkena cakraku sendiri, bahkan sampai terlempar dan mendarat keras sampai pantatku terasa panas tapi gak sepanas rasa terbakar yang ku rasakan di dadaku.
Kenes berdiri, gelembung yang tadi melindunginya, menghilang begitu saja. Ia berjalan pelan ke arahku, senyum sinisnya terkembang. Membuatku semakin jijik melihatnya.
“Boleh juga,” katanya.
Aku mau berdiri tapi luka karena cakraku sendiri membuatku lemas dan kehilangan tenaga. Aku gak pernah menyangka kalo cakra yang ku buat bisa menyakitkan seperti ini.
Sepasang kaki dengan sepatu kets dekil berwarna putih ada di sebelahku. Aku mendongak, cowok algojo berdiri tepat di sebelahku. Dia terpaku denagn pandangan ke dewi kenes, ku rasa cowok ini terpesona dengan kecantikan kenes.
Tapi apa dia bisa melihat kenes?
“He kamu. Apa kamu bisa melihatnya?” Aku sangat penasaran sekali.
“What?” Cowok itu menunduk, melihatku dengan tatapan bertanya.
Aku menunjuk kenes, “kamu bisa melihat setan itu kan?”
Mata kenes membelalak, menggigit bibir merah darah tapi tatapannya tajam ke arahku. “Kamu bilang apa?” Kenes kembali melangkah, dua tangannya menggenggam selendang merah mudanya.
Aku berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ku punya. Meski badan gemetar, tapi akhirnya aku bisa berdiri dan bersiap kembali bertarung.
“JANGAN PERNAH SEBUT AKU SETAN!” Kenes kembali menyerangku dengan selendangnya.
Aku melompat untuk menghindari serangannya. Mendarat ke atas selendang, aku berlari mendekati kenes dan menendang mukanya dengan sekuat tenaga sebelum aku melompat di belakangnya.
Aku memutar badan, siap meninju hidung mancungnya biar bengkok seperti nenek sihir barat yang pernah kutonton di TV. Tapi sayang, pukulanku meleset. Kenes menangkap lenganku, menarik dan memutarnya membuat badanku ikut berputar. Aku menarik lengan, walau sakitnya membuat kepalaku nyut-nyutan, tapi cara ini membuatku bisa lepas dari cekalannya. Aku memutar badan sambil melayangkan tendangan, kenes menangkis tendanganku. Aku kembali memukul tapi kenes kembali menangkisnya.
Aku membuat cakra, hendak memukulkannya tapi tiba-tiba gelembung kembali terbentuk. Daripada aku kena cakraku lagi, aku pun mengurungkan niat. Sebagai gantinya, aku melayangkan pukulan kuat ke arahnya.
“Tidak semudah itu.” Kenes melayangkan sebuah pukulan keras, tepat mengenai mukaku. Aku segera membalasnya, dengan kekuatan penuh ku layangkan pukulan bersama cakra yang kubuat.
Aku tertawa senang karena pukulanku kali ini mengenainya. Tapi apa yang kulakukan membuat kenes meradang, ia menggunakan selendang untuk menjerat leherku dengan erat. Kenes terbang, membuatku ikut melayang dengan leher yang semakin tercekat. Aku memegang selendang yang menjeratku, aku meronta, berharap dengan cara ini aku bisa lepas dari selendang. Sesak napas membuatku melemah, begitu sulit bernapas sampai gak bisa melawannya.
Disaat yang sangat genting, roserie datang dengan cara melayang mendekati kenes. Jin perempuan itu menarik selendang yang menjeratku, membuatku semakin mendekatinya sekaligus membuatku semakin tercekik.
Roserie sialan! Jin ini ternyata gak cuma jelek, tapi juga bodoh.
Roserie menggunakan gigi-gigi runcing dan tajamnya, menggigit selendang hingga putus yang membuatku terjun bebas ke bawah. Roserie dan kenes terlihat semakin menjauh sebelum aku benar-benar mendarat sempurna dalam tangkapan cowok yang sedari tadi gak membantuku.
“Hampir saja,” kata cowok itu.
Aku segera melepaskan diri dari cowok itu, mencibirnya sebelum mendongak, melihat kenes dan roserie bertarung. Roserie ternyata petarung yang sangat hebat. Ia melakukan pukulan beruntun yang membuat kenes kesulitan. Kenes membuat gelembung seperti gelembung air, tiba-tiba roserie terlempar setelah badannya ditabrak gelembung itu.
Kenes menunduk, ia segera menukik mendekatiku, menggunakan selendang untuk menyerangku. Aku menghindar ke kanan dan kembali melompat ke kiri saat selendang kenes menyerangku. Aku melakukan salto untuk menghindari serangan kenes dan berakhir dengan membuat lompatan besar sambil menangkap selendang dan menariknya sekuat tenaga lalu membantingnya dengan keras. Kenes jatuh terjerembab, kayu dimana ia mendarat patah dan mencuat.
Aku kembali membuat cakra, akan melemparnya tapi gak jadi karena aku melihat awan hitam bergumpal datang dari belakang kenes. Semakin besar dan juga semakin dekat. Tanganku dicekal sama cowok algojo. Ia menarikku, menjauhi kenes yang kini badannya berada di atas gumpalan hitam itu.
“Lepaskan aku! Aku harus melenyapkan kenes.” Tapi toh ucapanku gak digubris. Cowok itu terus menarikku menjauhi laut.
Aku menarik tangan, tapi cowok itu cukup kuat. Aku kembali menoleh, memandang awan bergumpal yang mengejar kami. Sebagian awan menjauh dengan membawa kenes. Sebagian lagi mengejarku, awan itu berbentuk kepala gundul dengan mulut bergerigi sedang membuka lebar.
“HONEY!!!” teraik Steve.
Rentetan sinar bola cahaya merah meluncur ke arah awan-awan itu tapi awan-awan itu masih tetap mengejar. Cowok yang tadi mengajakku berlari akhirnya berhenti. Ia juga membuat cakra berwarna merah yang sangat besar sekali.
Serangan cakra dari keluarga Johnson membuat awan bergerak mundur. Aku melangkah ke depan, membuat cakra berwarna kuning untuk menyerang awan-awan itu. Sebuah selendang berwarna merah tiba-tiba keluar dari gulungan awan, membelit badanku dan menarikku ke arah awan.
“BUNGA!!!” Keluarga Johnson berteriak, Steve berlari mendekatiku tapi selendang menarikku dengan cepat sampai akhirnya aku masuk ke dalam gulungan awan.
Aku berdiri di sebuah tempat yang hanya dikelilingi kabut pekat. Setan-setan berbentuk manusia yang terbuat dari gumpalan awan berdiri, mereka membuka mulut, seolah-olah mau memakanku.
Seorang wanita memakai kemben merah, wajahnya cantik sekali, gak jauh beda dengan kenes. Memandangku dengan tatapan marah. Sebelum dia melakukan sesuatu, aku mengumpulkan semua tenaga ke tangan kanan. Sebuah cakra yang paling besar yang pernah ku buat, terbentuk. Aku melempar cakra ke arah perempuan itu.
Perempuan itu tersenyum, cakraku terserap begitu saja. Perempuan itu mendekatiku, mencekik leherku dengan kecepatan penuh. Tatapannya memaku tatapanku, membuatku gak bisa bergerak sama sekali. Ia membuka mulut, ia akan menghisap tenagaku tapi tiba-tiba seseoarang menarik badanku, menyeretku keluar dari kumpulan awan.
Steve merenggut badanku, baru aku tahu kalo cowok algojo yang tadi menolongku. Aku gak menyangka kalo ada setan yang bisa membuatku gak berkutik sama sekali.