Aku berdiri di tengah halaman belakang rumah Uncle Gilbert yang berumput. Ada sebuah lingkaran yang sengaja dibuat dengan menggunakan kapur halus melingkar dengan diameter yang cukup luas. Para Aunty, Albert dan Gilbert serta para anggota tim beta berdiri mengelilingi arena. Pak Rahman menjadi wasit, ia berdiri diantara aku dan Sonya. Aku memakai kaos oblong dan celana pendek, memandang Sonya yang mengenakan jaket karatenya.
“Peraturannya. Siapapun yang keluar dari garis, maka dinyatakan kalah. Siapapun yang menyatakan diri menyerah sebelum pertandingan selesai, maka dinyatakan kalah. Siapapun yang mengeluarkan cakra, maka dinyatakan kalah. Kalian mengerti?” tanya Pak Rahman.
“YA!” teriak kami berdua.
“Hormat!” Pak Rahman memberi aba-aba, aku membungkuk di depan Sonya, begitupun dengannya.
Sonya membuat kuda-kuda sempurna, ia memandangku dengan tatapan sengit. Aku pun gak mau kalah, kubuka kedua kaki dan mengepalkan tangan, bersiap menerima setiap serangan.
Sonya berteriak lantang, ia mendekatiku dan segera menyerangku dengan pukulan-pukulan beruntun. Cukup cepat, sampai aku sempat kewalahan tapi gak membuatku terkena pukulannya. Aku terus menangkis, berusaha menghabisi setengah tenaganya sebelum melakukan serangan.
Sonya melayangkan tendangan, aku mencekal kakinya dan memutarnya sampai ia terjatuh. Aku berjalan ke depan, Sonya masih dalam kondisi berbaring telungkup saat aku ada di dekat kepalanya. Tiba-tiba Sonya menarik satu kakiku, membuatku terjatuh dengan posisi badan telentang. Sonya naik ke badanku, memukul kepalaku dengan sangat keras sampai aku bisa melihat bintang-bintang di langit yang gelap sebelum penglihatanku kembali.
Pak Rahman meniup peluit, ia menarik Sonya hingga aku bisa bernapas lega. Aku segera bangkit, bersiap menerima serangan. Belum saatnya aku melakukan serangan balik, aku masih harus membuatnya kelelahan.
Sonya kembali menyerang dengan membabi buta, aku terus saja menghindar. Ia melayangkan pukulan yang akan didaratkan ke d**a. Aku segera mencekal lengannya, mendorongnya sampai ia jatuh terduduk.
Sonya kalap, ia bangkit dan kali ini sebuah tendangan hampir mengenai leherku, tapi aku segera menggeser badan ke kanan. Mengangkat tangan dengan telapak terbuka dan memukulkannya tepat di telinga Sonya. Gadis itu memegang telinga yang kena pukulanku, berteriak seolah pukulanku sangat menyakitkan. Ini bocah sangat pandai berpura-pura, pukulan ringan saja sudah membuatnya seperti ini. Gak sama seperti saat kami duel pertama kali sewaktu di kantor demon hunter.
“Sweetheart!” Aunty Bella mendekati anaknya, menarik badan Sonya sambil memerhatikan telinga gadis itu.
Aku kembali mencibir, bocah manja itu benar-benar gak punya malu. Diperlakukan baik sama Mommy angkatnya tapi sikapnya sangat menjengkelkan. Dasar bocah gak tahu terima kasih.
“Sebaiknya kita hentikan! Bunga masuk tim alpha dengan mudah, tentu saja karena ia sangat hebat. Sebaiknya kamu jangan menantangnya!” Aunty Bella memandangku, tatapannya memohon. “Tolong kurangi kekuatanmu! Aku tidak ingin Sonya terluka karenamu,”
“Bella, apa kamu lupa bagaimana Bunga dipukul keras sampai keningnya membiru? Kamu jangan berlebihan.” Aunty Dania mencibir Sonya, merendahkan gadis itu, membuat Sonya memandang Aunty Dania dengan tatapan marah.
“Aku tidak apa-apa, Mom. Ini pasti karena aku terluka sebelumnya. Mommy jangan khawatir,” kata Sonya.
Aunty Bella keberatan, ia masih merangkum wajah anaknya. “Sonya. Mommy tidak ingin kamu terluka,”
Aku berdiri, menyaksikan Aunty Bella dan Sonya seperti menonton film drama di TV. Aku benar-benar iri dengan Sonya. Gadis itu memiliki keluarga yang sangat memerhatikannya.
Aunty Dania mendengus, ia memutar badan dan meninggalkan arena. Edbert dan Albert juga membalik badan, ku rasa duel ini berakhir dengan cara yang sangat mengharukan. Aku mengangkat tangan, enggan melanjutkan pertandingan ini. Aku menyatakan menyerah, duel kali ini berakhir dengan cara yang sangat gak keren.
Aku meninggalkan arena, malas melihat kisah ibu dan anak yang sedang asyik curhat-curhatan. Berjalan sendiri, aku ingin menikmati hari dengan jalan di sekitar hutan bakau. Ingin duduk-duduk di dermaga sambil melihat lautan.
Mendung menutupi sinar matahari, membuat acara jalan-jalan ke ujung dermaga semakin menyenangkan. Hutan bakau didiami monyet-monyet yang asyik bergelantungan, burung-burung bertengger di atas pohon, beberapa ada yang terbang.
Lagi-lagi sosok wanita memakai jubah putih dengan rambut menutupi wajah, muncul di depanku. Aku menghentikan langkah, menatapnya dengan sebal. Baru saja lolos dari Sonya eh hantu ini muncul lagi. “Sebenarnya apa maumu?” Aku harus memusnahkannya sekarang, mumpung sepi. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu apa alasan dia selalu mengikutiku.
Setan wanita itu mengangkat tangan, menunjukku sama seperti yang ia lakukan kemarin. Mata putihnya terlihat dari sela-sela rambutnya yang tertiup angin. Mulutnya berkembang, senyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang runcing mungkin bisa membuat manusia biasa bergidik ngeri. “Generasi kelima Johnson ditemukan.”
“Sebenarnya apa maksudmu? Aku ini bukan keturunan Johnson tahu.” Hampir semua orang disini mengira aku adalah keturunan Johnson yang menghilang. Ckckckck, kenapa mereka gak mikir soal perbedaan warna kulit, warna rambut dan warna mata sih? Aku ini jelas-jelas orang Indonesia asli seratus persen bukan abal-abal.
Tiba-tiba dari ujung kuku runcing setan wanita itu mengeluarkan sinar berwarna merah, sinar itu mengarah ke dahiku. Hantu wanita itu memiringkan kepalanya, pelan-pelan sebuah titik hitam bergerak dari atas mata putihnya dan berakhir tepat di tengah matanya.
Hutan bakau tiba-tiba berubah menjadi sebuah rumah, aku berdiri di sebuah ruangan yang sangat luas dan bergaya Belanda. Seorang pria bule, memakai baju khas Belanda, berwarna putih dan berenda di sekitar lehernya, memakai rompi berwarna biru telur asin senada dengan celananya. Kumisnya lebat, satu matanya tertutup kacamata model tempo dulu.
Pria itu memandang seorang pria yang sedang berlutut di depannya. Pria itu juga memakai baju yang sama dengan pria yang berdiri. Di samping pria bule yang berlutut, ada seorang wanita memakai kebaya coklat dan memakai jarik. Rambutnya digelung sederhana di belakang kepala. Wanita itu juga berlutut, perutnya membuncit, seperti orang hamil.
“Aku sangat kecewa. Tidak seharusnya kamu menikah dengan warga pribumi sepertinya,” kata pria yang berdiri.
“Maafkan saya, Dad. Tapi saya mencintai Lasmi,” kata pria yang berlutut.
“Aku tidak peduli kamu menghamilinya atau tidak. Tapi seharusnya kamu tidak menikahinya,” kata pria yang berdiri.
“Saya mencintainya. Saya tidak akan membuatnya hamil sebelum menikahinya,” jawab pria yang berlutut.
“Bodoh! Jika itu maumu, terserah. Tapi ingat, anak dalam kandungan wanita itu adalah milikku. Anak itu akan meneruskan perjuanganku di demon hunter yang baru saja ku dirikan. Kamu mengerti?” tanya pria yang berdiri.
“Saya ... mengerti,” jawab pria yang berlutut.
Tiba-tiba ruangan berubah menjadi sebuah kamar. Pria yang berdiri tadi juga ikut lenyap. Seorang wanita yang sedang kesakitan berbaring di atas ranjang, melihatnya kurasa orang itu mau melahirkan. Pria yang tadi berlutut, masuk dengan tergopoh-gopoh bersama seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya hijau dan memakai jarik.
Wanita itu berjuang untuk melahirkan, mengejan dengan sekuat tenaga sementara wanita yang ternyata dukun beranak, sedang membantu persalinannya.
Aku memandang kejadian itu tanpa berkedip, melihat bagaimana seorang wanita berjuang dalam melahirkan benar-benar membuatku trenyuh. Setelah berjuang beberapa lama, suara tangis bayi terdengar. Wanita itu berbaring lemah, sementara pria itu memandang bayi yang masih berlumuran darah sambil tertawa bahagia.
“Bayinya laki-laki,” kata dukun beranak.
Ruangan tiba-tiba berubah, kembali ke ruangan dimana laki-laki yang berdiri kembali muncul. Pria itu marah besar, matanya melotot dan kumisnya bergerak-gerak. “Cari Victor sampai dapat!” perintahnya kepada beberapa pria bule yang memanggul senapan model jaman dulu.
Gak lama kemudian, salah satu anak buah pria yang berkumis tadi masuk sambil mendorong pria yang gak lain adalah suami wanita yang melahirkan tadi. Pria itu didorong sampai jatuh berlutut di depan pria yang sedang marah-marah sampai kumisnya bergerak-gerak.
“Dimana anak itu?” tanya pria yang sejak tadi marah-marah melulu.
“Daddy. Saya tidak bisa menyerahkan anak itu untuk menjadi demon hunter. Lasmi tidak ingin anaknya membahayakan nyawanya dengan bertarung dengan para demon,” kata pria yang berlutut yang bernama Victor.
“Kamu sudah janji. Seorang Johnson harus menepati semua janjinya,” kata pria yang berdiri.
“Daddy. Maafkan saya. Tapi saya tidak bisa menepati janji ini. Saya tidak bersedia menyerahkan anak saya menjadi seorang pemburu hantu,” kata Victor.
“Aku sudah menyerahkan separuh kekuatanku kepada anakmu. Cucu pertamaku, karena kamu sudah berjanji menjadikan anak itu sebagai penerusku. Kamu ... tidak pantas menjadi keluarga Johnson,” teriak pria yang sedang berdiri.
“Jika memang harus. Saya rela keluar dari keluarga Johnson,” jawab Victor.
“KURANG AJAR!” Pria yang berdiri tadi marah besar, ia mengambil tongkat dan memukulkannya ke Victor.
Tiba-tiba aku berdiri di sebuah halaman rumah yang sangat besar, rumah itu sama seperti rumah Uncle Gilbert. Victor dan istrinya, berdiri sambil memandang rumah itu. Bayi yang ada di gendongan wanita itu menangis. Perhatian dua orang itu segera berpindah ke bayi itu. Keduanya memutar badan, berjalan menjauhi rumah itu.
Selanjutnya, aku seperti menjadi penonton sebuah kisah panjang. Aku melihat bayi itu tumbuh menjadi anak yang kuat dan memiliki cakra kuning sepertiku. Setelah menjadi dewasa, anak itu menikah dengan orang pribumi. Memiliki anak laki-laki dan anak itu tumbuh besar hingga menikah dan memiliki anak laki-laki yang gak lain ayahku.
Aku jadi tahu, siapa aku sebenarnya. Ternyata aku benar-benar keturunan Johnson yang menghilang. Pernikahan dengan pribumi membuat generasi selanjutnya memiliki ciri fisik seperti orang Indonesia pada umumnya. Aku benar-benar gak menyangka, jadi kekuatanku yang sekarang adalah turunan dari Mr. Johnson, kakek buyutku.
Aku sudah kembali ke dunia sekarang, berdiri di depan hantu wanita yang memberiku penglihatan khusus. Hantu itu kembali tersenyum lebar, ia mengangguk, seolah berkata kalo aku benar-benar keturunan Johnson.
“Jadi apakah kamu mengikutiku. Untuk mengatakan kalo aku adalah keturunan Johnson?”
Hantu itu mengangkat kepala, ia mengangguk beberapa kali. “Generasi kelima keluarga Johnson ditemukan,” katanya.
“Sulit dipercaya.” Aku mengembuskan napas, menggosok rambut sambil tertawa getir.
“Jadi kamukah generasi kelima yang hilang itu?” suara seorang pria membuatku memutar badan.
Pria itu tinggi besar, bahkan jauh lebih tinggi dan besar dari Steve. Kepalanya gundul, mukanya ganteng sekali. Memakai kaos tanpa lengan berwarna putih, menunjukkan otot lengannya yang menggembung.
“Aku tanya. Apakah kamu generasi kelima yang hilang itu?” Ia berdiri di depanku, menungguku menjawab pertanyaannya.
Aku tidak bergeming, tatapanku tertuju pada pria yang baru kali ini kulihat.