Bunga, Sonya dan Dewi Kenes

1663 Kata
Pagi menjelang, para Johnson sudah berkumpul di ruang makan, mereka sibuk membicarakan kemunculan kenes yang menghebohkan semalam. Aku dan Steve yang paling terakhir bergabung di ruangan ini. Semua menatapku dengan senyum di wajah mereka, menanyakan tentang keadaanku pagi ini. Semalam, butuh satu jam untuk membebaskanku dari bau kotoran sapi yang melekat di seluruh badan. Setelah wangi, aku tetap gak bisa tidur karena memikirkan si kenes yang katanya keluar dari tahanan. Setan itu ternyata terobsesi dengan Steve, suamiku sampai bergidik ngeri kalo aku tanya soal kenes. Steve juga gak tidur, ia mengira-ngira siapa yang sudah membuka tahanan itu dan membiarkan setan sok kecakepan kembali kelayapan. Duduk di kursi, di tepi meja makan. Aku memandang para paman dan bibi yang sedang asyik berpikir. Aunty Bella mendekatiku, ia tersenyum sangat menawan. “Apa kamu ingin sarapan dengan menu tertentu, Sayang?” Aku tersenyum, memandang wanita yang sangat cantik dengan baju kebesaran para emak-emak yaitu daster batik Pekalongan, meski begitu, kalo yang memakainya bule seperti Aunty, daster pun terlihat sangat indah, beda banget saat almarhumah Ibu yang dulu sering memakainya. “Saya sarapan yang ada saja, Aunty.” “Kamu pasti kaget dengan kejadian semalam. Maafkan kami tidak bisa menjagamu.” Uncle Gilbert menyendok nasi goreng dan memasukkannya ke dalam mulut. Aku menyendok nasi dengan centong lalu memindahkannya ke dalam piring Steve, baru kemudian aku mengambil untuk diriku sendiri. Steve segera menikmati nasi goreng yang asapnya masih mengepul. Aku juga segera menyantapnya, menikmati rasa nasi goreng yang sangat enak rasanya.  “Masakan Aunty selalu yang terbaik,” puji Steve. Aunty Rachela, istri Uncle Samuel, orangtua Mathew melirik Steve. “Siapapun yang memasak makananmu, pasti kamu sebut masakan terbaik, Steve.” Ucapan Aunty Rachela membuat semua yang ada di ruang makan, tertawa. Sambil menikmati sarapan, aku memerhatikan semua orang disini. Canda tawa menyertai sarapan kami, apalagi Mathew yang sifatnya mirip dengan Steve. Keduanya saling serang kata yang membuat kami sering tertawa mendengarnya. Tetapi, diantara semua keluarga Johnson, hanya satu orang yang gak ikut bergabung bersama kami. “Sonya mana?” tanyaku. Uncle Gilbert menatapku dengan dua mata terbelalak. “Oh, Sonya tentu saja sedang berlatih dengan timnya. Pak Rahman sangat disiplin dan tidak akan membiarkan anak didiknya terpisah walau sebentar,” Aku mengangguk, beruntung sekali si Sonya punya orangtua angkat seperti Uncle Gilbert dan Aunty Bella. Pasti bocah itu dimanja, makanya jadi seperti sekarang. Tapi untung juga dia sedang latihan, jadi dia gak merecokiku dengan sikapnya seperti yang ia lakukan semalam. “Aku yakin kenes sedang pulang kampung sekarang.” Lukas, sepupu Steve yang paling pendiam dan serius, akhirnya membuka suara. Aku memandang Lukas, cowok yang mempunyai sepasang mata agak menjorok ke dalam, tatapannya teduh sekaligus tajam, memandang Steve tanpa berkedip. “Sangat berbahaya jika dia sampai bertemu ratu zali,” “Siapa ratu zali?” kemaren sudah bertemu ratu uswa, sekarang ada ratu lain. Hanny memandangku dengan muka heran, “kamu tidak tahu ratu zali? Kudengar kamu tim alpha tapi kenapa ratu zali saja kamu tidak tahu,” “Dia bukan anggota tim alpha. Aku melarangnya bergabung dengan demon hunter.’ Lagi-lagi Steve membahas masalah ini. “Aku baru gabung. Mana aku tahu ratu zali, jali atau jali-jali itu,” gerutuku. “Ratu zali. Seorang ratu di sebuah kerajaan di laut dekat pulau ini,” jawab Lukas. “Apa ada hubungannya dengan ratu pantai selatan?” tanyaku. Lukas menatapku lekat, kayaknya bocah itu juga merasa aneh dengan pertanyaanku. “Tidak ... mereka tidak berhubungan.” Lukas menggeleng cepat. “Soal penangkapan dewi kenes. Kita bahas nanti saja setelah makan!” Steve memandangku lekat. “Honey, sebaiknya kamu bantu para Aunty di dapur!” Aku meliriknya, Steve sok serius keluar lagi. Aku sudah dijadikan ibu rumah tangga biasa, enak saja. Aku gak bakal mau dikeluarkan dari demon hunter, aku akan mendarma baktikan diriku menjadi penangkap hantu. “Honey….” Aku terbangun dari lamunan. Steve mengangkat dua alisnya, tersenyum sambil memandangku seolah berkata turuti perintahku. “Iya-iya, Ndoro. Saya laksanakan perintah Ndoro putro.” Aku mencibir, Steve kembali tersenyum. “Mulai sekarang. Jaga Bunga dengan baik! Kenes pasti memburu Bunga dan bisa jadi, dia akan mem ... bunuhnya.” Suara Mathew mengecil, sepertinya ia gak ingin aku mendengar soal kenes yang ingin membunuhku. “Sebelum kenes sialan itu membunuhku. Aku yang akan membunuhnya dulu.” Aku keceplosan, sudah berkata kasar di depan keluarga Johnson. Tapi semua yang berhubungan dengan makhluk astral yang menggangguku, aku sulit menjaga nilai kesopanan. Semua keluarga Johnson menatapku dengan tatapan heran, aku tersenyum kecut untuk menahan rasa malu. Aku menunduk, melanjutkan makan tanpa berbicara lagi. Setelah menikmati sarapan pagi, aku membantu Aunty Bella membersihkan meja makan. Aku menumpuk piring-piring kotor lalu membawanya ke belakang. Aku segera mencuci piring dan gelas kotor sambil memandang halaman belakang melalui jendela kaca. Para Aunty sedang asyik memerhatikan Sonya berlatih di halaman berumput bersama anggota tim beta dan Pak Rahman. Albert dan Edbert sedang asyik berenang di kolam renang. Keduanya punya badan sempurna, ciri khas keluarga Johnson. Sonya dengan memakai jaket karate sedang bertanding dengan seorang cowok hitam manis yang merupakan anggota tim beta. Gak butuh waktu lama bagi Sonya mengalahkan teman seperjuangannya. Aku kembali melanjutkan mencuci piring kotor dan kembali melihat Sonya yang kini bertanding dengan anggota tim beta lainnya. Selesai mencuci piring, Sonya juga telah selesai mengalahkan tiga temannya. Aku mencuci tangan, mengelap tangan basah ke paha. Aku keluar dari dapur untuk bergabung dengan para Aunty yang sedang menikmati hari sambil menikmati segelas teh. Aunty Bella, Aunty Rachela, Aunty Dania dan Aunty Rasti, mereka tertawa renyah saat aku bergabung dengan mereka. Sepertinya, mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat menarik. Aunty Rachela adalah istri Uncle Deny, ia wanita yang sangat cantik dan wajahnya mirip dengan Daddy. Aunty Dania adalah istri Uncle Renaldi, wajahnya jutek dan orangnya agak pendiam. Para Aunty menyambut kedatanganku, aku segera duduk di sebelah Aunty Bella dan Aunty Rasti. Aunty Rasti memberiku cangkir dan mengisinya dengan teh yang asapnya masih mengepul. “Ini teh buatan Aunty. Teh chamomile yang sangat enak sekali,” kata Aunty Rasti. Aku mencium aromanya, teh ini memang harum sekali. Aku menyeruputnya sedikit, merasakan pahitnya teh membuatku segera meletakkannya kembali ke meja. Aku lebih suka teh dengan banyak gula, bukan teh tawar seperti ini. “Aku masih heran, bagaimana bisa kenes lepas begitu saja?” Aunty Rachela membuka suara. Aunty Bella memandang adik iparnya. Ia mengambil cangkir lalu menyesap isinya. “Steve marah besar. Ini pertama kalinya aku melihat anak itu semarah ini,” “Tentu saja, Kak. Lelaki mana yang tidak marah, jika ada orang iseng membahayakan nyawa istrinya,” balas Aunty Dania. “Kira-kira siapa yang nekat sekali melepas kenes? Aku yakin, dia sangat dendam dengan Steve sampai tega melakukannya,” kata Aunty Rachela. “Entahlah. Tapi aku tidak yakin keluarga Johnson sendiri yang melakukannya. Anak-anak kita memang sedikit jahil dengan saudaranya tapi mereka tidak akan melakukan hal seperti itu,” jawab Aunty Bella. “Steve dan Gilbert sedang menyelidikinya. Dan satu hal yang pasti. Mulai malam nanti, kita akan mendapat pekerjaan baru,” kata Aunty Dania. “Kita memang harus menjaga Bunga. Dia keluarga Johnson sekarang,” tambah Aunty Rachela. “Maafkan saya, Aunty. Tapi sebaiknya para Aunty gak usah khawatir. Saya ini kuat sekali. Saya yakin, bisa mengatasi kenes dan membuatnya ngenes karena berani menantang saya.” Aku mengangguk, aku yakin sekali bisa mengalahkannya. “Jangan begitu, Sweetheart. Aku tahu kamu gadis kuat, tapi menghadapi kenes tidak akan semudah itu.” Aunty Bella menyentuh punggung tanganku. “Kami pasti menjagamu. Kamu bisa tidur nyenyak seperti tidak terjadi apapun,” sahut Aunty Dania. Aku merasa sangat bahagia, memiliki keluarga baru yang begitu perhatian kepadaku. Aku begitu terharu sampai air mata tanpa terasa jatuh di pipi. “Kenapa Sweetheart?” tanya Aunty Bella. “Saya ... senang bisa mengenal Aunty. Kalian begitu menyenangkan dan sangat perhatian. Saya bersyukur sekali, bisa jadi bagian keluarga ini.” Aku kembali meneteskan air mata. Aunty Bella memelukku, aku memeluknya erat. “Oh Sweetheart. Bagi Aunty, kamu adalah anak Aunty. Sama seperti Sonya, Steve, Mathew dan lainnya,” hibur Aunty Bella. “Aunty Bella. Terima kasih,” lirihku. “He Bunga. Aku menantangmu duel satu lawan satu tanpa cakra!” Kehadiran Sonya yang begitu tiba-tiba, merusak suasana. Aunty Bella melepas pelukannya, ia menatap tajam anak angkatnya. “Jaga sikapmu, Sonya!” Aunty Bella terdengar sangat marah. “Mom. Aku hanya ingin menantang anggota tim alpha, hanya itu. Apakah itu salah?” Sonya mengernyitkan dahi, memandang ibunya seperti ingin meledak. “Bunga disini untuk pertemuan keluarga. Dia sebagai Johnson bukan anggota demon hunter sekarang,” balas Aunty Bella. “Tetap saja dia adalah anggota demon hunter. Dia bahkan tidak melalui pelatihan sepertiku. Dia bukan anggota Johnson sebelum menikah dengan Steve,” kata Sonya. “Lalu siapa kamu sebelum diadopsi Bella?” Aunty Dania berdiri, ia terlihat berang kepada Sonya. “Jangan lupa siapa dirimu, Nona!” tandasnya. Sonya terbelalak, aku gak tahu ada masalah apa antara Sonya dan Aunty Dania. Tapi terlihat sekali kalo keduanya seperti musuh bebuyutan. “Dania. Tolong, jangan!” Aunty Bella memelas, memandang Aunty Dania dengan wajah seperti mau menangis. “Aku hanya ingin duel tanpa taruhan. Walau aku lebih suka kalo Steve menjadi taruhannya,” gumam Sonya tapi terdengar jelas di telingaku. Aku tertawa getir, ini bocah kerasukan setan mana sampai berani merebut Steve secara terang-terangan. “Sonya! Jaga sikapmu!” Aunty Bella meradang, ia mendekati Sonya lalu menamparnya. Aku kaget setengah mati, tapi waktu gak sengaja melihat Aunty Dania. Wanita itu malah tersenyum tipis, memandang Sonya yang sedang menyentuh pipi dan kedua matanya dialiri air mata. “Maafkan ... maafkan Sonya, Mom. Sonya hanya....” Sonya gak melanjutkan ucapannya, ia menangis sesenggukan. Bocah itu memang sangat manja sekali, aku pun gak mengira kalo dia gak punya sikap semanis dan sebaik keluarga Johnson. Aku jadi penasaran, ini anak dulu dilahirkan manusia apa makhluk jadi-jadian. Melihat bocah ini, aku memang ingin sekali membuatnya kapok sudah menantang Bunga Lestari Johnson, istri Steve Johnson. Bocah edan pemimpin tim alpha. “Aku menerima tantanganmu,” Dan kupastikan, kali ini kamu menyesal sudah menantangku Sonya, bocah manja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN