Apakah artinya Steve berbohong?
Aku mengerucutkan bibir, mendekap kedua tangan sambil memicingkan mata kepadanya. Steve membelalakkan mata, ia pasti sama kagetnya denganku. “Honey. Ini musim hujan jadi wajar kalo petir tiba-tiba datang.” Steve kebingungan.
Dikira aku takut petir kali. Yaelah, sama hantu aja gak takut kenapa sama suara petir doang takut. Steve, jangan meremehkanku! Tapi tentu saja aku gak akan membahas masalah ini. Ini bukan masalah penting.
“Katakan sejujurnya Steve! Apa kamu masih memendam perasaan kepadanya?” Aku mendekat, membuatnya melangkah mundur sampai ia jatuh terduduk di atas ranjang.
“Honey. Sumpah demi dewi kahyangan. Aku sudah gak punya perasaan sama Sonya. Cintaku hanya kepadamu, Honey.” Steve merayap mundur, aku menjatuhkan diri di atas badan Steve, memelototinya sampai Steve mengkerut.
“Terus kenapa ada suara petir setelah kamu mengatakannya?” Aku semakin mendekatkan wajah kepadanya, hidung kami bahkan saling bersentuhan.
“Honey. Percayalah!”
“Lepaskan pacarku!” Tiba-tiba badanku terlempar sampai menabrak meja rias.
Seorang wanita cantik memakai baju kebaya berwarna merah muda dan jarik dengan selendang panjang berwarna pink melayang-layang di udara. Penampakannya seperti seorang dewi kahyangan, cantik luar biasa. Ia mendekati Steve, menariknya sampai berdiri. Steve membeku, matanya melotot dan mukanya memucat.
“Dewi kenes. Kamu ... bagaimana kamu bisa keluar?” ucap Steve.
“Seseorang melepasku. Katanya ia tidak ingin memisahkan kita,” jawab setan wanita yang disebut sebagai dewi kenes oleh Steve.
Dewi kenes memutar badan, memandangku dengan raut menahan amarah. Mendekatiku dengan kecepatan tinggi lalu mencekik leherku. “Jangan macam-macam dengan pacarku!” Matanya melotot, cekikannya semakin kuat. Aku sampai susah bernapas.
“Lepaskan istriku!” Steve berteriak, melempar cakranya hingga mengenai punggung dewi kenes.
Dewi kenes melepas cekikannya, badanku ambruk seketika, aku bernapas dalam-dalam. Dewi Kenes memutar badannya menghadap Steve. “Honey. Kenapa kamu lakukan ini kepadaku?” ucap Dewi Kenes.
“Jangan sakiti istriku!” Steve kembali membuat cakra.
Dewi kenes menarik tanganku, ia membawaku terbang keluar dari kamar melalui jendela. Steve berlari mengejar tapi dewi kenes sudah membawaku terbang menjauh dari rumah. Aku membuat cakra dan melemparnya ke Dewi Kenes. Cekalan tangannya lepas, membuatku jatuh dan mendarat di tempat yang dingin dan empuk. Badanku hampir tenggelam di sebuah kubangan lembek, basah dan baunya, wow banget.
Aku mencium tangan kananku. “Anjrit. Tletong sapi.” Jambu, kenapa aku mendarat di kotoran sapi.
Aku bangkit, dua kakiku terbenam ke dalam kotoran sapi sampai lutut. Aku mendongak, aku berada di dalam kubangan sedalam dua meter.
“HUAA ... SETAN SIALAN ... SINI KALO BERANI!” Aku berteriak sekuat tenaga.
Dewi Kenes berada di tepi kubangan, menunduk, menatapku dengan senyum sok imut yang membuatku ingin meremas-remas mukanya. Aku membuat cakra yang sangat-sangat-sangat besar lalu kulempar ke arah dewi kenes tapi tuh makhluk menghilang di waktu yang tepat.
Aku keluar dari kubangan, menjauhi tempat paling menjijikkan itu. Bau kotoran bikin perutku mual setengah mati. Isi perut keluar tanpa bisa kucegah. Aku membungkuk, memuntahkan semua yang sudah kumakan tadi siang.
“Hei perempuan bau. Jangan pernah mimpi jadi pasangan Steve. Steve adalah milikku!”
Aku berdiri tegak, memutar badan, melotot ke arah perempuan yang sedang asyik duduk di atas pohon. Badannya bercahaya, selendangnya melayang-layang seolah tertiup angin. “SETAN KAMU! AKU GAK BAKAL MEMAAFKANMU, SIALAN!”
Aku kembali membuat cakra, berlari ke arah dewi kenes dan melemparkannya. Dewi kenes kembali menghilang di saat yang tepat. Napasku memburu, perasaanku mengatakan kalo tuh dewi jadi-jadian ada di belakangku. Aku memutar badan, muka dewi kenes sangat dekat denganku tapi aku bisa melihat senyum sok cantiknya.
Dewi meniup mukaku, bau bangkai membuat perutku kembali mual dan akhirnya kembali muntah-muntah. Muka sama bau jigongnya seperti langit dan bumi. Mukanya secantik dewi kahyangan tapi bau jigongnya seperti iblis neraka ke delapan belas.
Dewi kenes terbang menjauh, aku gak buang waktu lagi. Berlari sekuat tenaga untuk mengikuti arah dewi kenes. Sambil berlari, aku membaca ajian untuk menambah kekuatan.
Ingsun amatak ajiku si saipi angin, lakuku ingiring barat lesung angin poncoworo bayv bojro sindung riwut, sakabehe kekayon kang katrajang podo sol rubuh, sakedep netro lakuku wus kemput ing jagad wetan, kulon, lor, kidul, iyo bayumu si kapi putih titise roh ilapi kang ngliputi jagad kabeh.
Seketika, aku merasa sangat ringan. Aku kembali berlari secepatnya, badanku yang ringan membuatku mudah melompat bahkan bergelantungan seperti monyet. Aku melompat dari satu pohon ke pohon yang lain agar bisa menangkap Dewi Kenes yang melayang terbang seperti bidadari.
“Bidadari bau kentut,” gumamku.
Dewi kenes terus terbang, bahkan setelah aku menggunakan ajian sapu angin yang membuatku punya badan lincah seperti monyet, tetap saja gak bisa mengejarnya. Sampai di dekat pantai, aku berdiri di sebuah dahan pohon, memandang dewi kenes yang semakin jauh ke tengah lautan. Aku kembali membuat cakra, melemparnya sejauh yang aku bisa. Cakra jatuh ke lautan, membentuk gelombang kecil yang bisa kulihat dengan bantuan sinar bulan purnama.
Aku melompat turun dari dahan pohon. Mendekati pantai, aku berjalan di atas pasir yang terasa sangat lembut hingga kedua kakiku basah dijilat air laut. Berjalan semakin ke tengah, hingga aku berhenti saat air laut sudah sepinggangku. Aku jongkok, menenggelamkan diri sambil menggosok badan biar bau kotoran sapi hilang sebelum aku kembali pulang.
Aku memasukkan kepala ke dalam air, menggosok rambut yang sudah gimbal. Setelah kurasa cukup, aku berdiri. Di depanku, hantu cewek dengan rambut panjang menutupi muka, berdiri di depanku. Tangannya terulur, menunjukku seperti yang selalu ia lakukan.
“Sebetulnya apa yang kamu mau? Kamu mau menantangku?” Aku sedang kehilangan kesabaran.
“Generasi kelima Johnson.” Lagi-lagi ia berkata seperti itu.
“Aku memang keluarga Johnson. Memangnya kenapa?” Gak dewi kenes, gak Sonya eh ditambah hantu cewek sialan ini, sudah mengusik kehidupanku yang sangat tenang, damai dan penuh cinta.
Hantu cewek itu mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata putih dan senyum lebar kembali dipamerkan. Ia melangkah mendekat, aku bersiap dengan cakra yang mulai kubentuk. “Maju selangkah lagi. Kuputuskan tanganmu!”
Hantu cewek itu menghentikan langkah, ia memiringkan kepalanya dan tiba-tiba ia melesat mendekatiku. Sontak aku menghindar, badanku terjebur ke laut dan dengan susah payah aku kembali berdiri.
“HONEY. ARE YOU OKEY?” Teriakan Steve membuatku menoleh ke arah sumber suara.
Steve, Uncle Gilbert, Aunty Bella dan keluarga lainnya berlari di dekat pantai. Aku keluar dari laut, mendekati mereka dengan badan basah dan bau kotoran masih belum bisa hilang meski sudah ku gosok dengan air laut.
Steve membuka tangan, ia mau memelukku tapi ia urungkan. Steve malah menutup hidungnya, keluarga yang lain pun beberapa menutup hidung, beberapa lagi membuang muka.
“Hantu sialan itu. Aku gak akan memaafkannya.” Aku benar-benar sangat marah karena si kenes itu sudah membuatku malu di hadapan keluarga Steve.
“Kami akan meringkusnya. Kamu tenang saja, Honey,”
“Dia sudah nyeburin aku di kotoran sapi. Aku akan membuat tangannya putus dan membuatnya menyesal sudah menantangku.” Aku mendengus, mulai melangkah menjauhi bibir pantai.
“Tapi bagaimana bisa dewi kenes keluar dari ... tahanannya?” Aunty Bella menelengkan kepala.
Mathew mendekati Aunty Bella. “Aku rasa, ada yang sengaja mengeluarkannya,”
Sonya berlari mendekati kami, ia berhenti di depan Uncle Gilbert dengan napas terengah-engah. “Ada apa ini?” Sonya memandang kami bergantian.
“Dewi kenes lepas. Aku dan Mathew akan menghadapinya. Siapapun yang melepasnya. Aku tidak akan memaafkan dia.” Steve memandang Sonya dengan tatapan marah.
Semua mata memandang Sonya, gadis itu membalas dengan memandang yang lain bergantian. “Apa kalian pikir orang itu ... aku? Aku tidak melakukannya. Aku bersumpah!” Sonya menunjuk dua jari membentuk huruf V.
“Sebaiknya kita segera pulang. Bunga pasti kedinginan dan dia butuh mandi.” Aunty Bella memandangku dengan tatapan sedih dan penuh penyesalan.
Semua keluarga menjauhi laut, berjalan masuk ke dalam hutan melalui jalan setapak. Aku dan Steve ada di barisan terakhir. Aku berjalan sangat pelan, tenagaku banyak terkuras setelah menggunakan ajian sapu angin. Baru beberapa meter, aku ambruk. Untuk berdiri saja rasanya gak mampu. “Steve ... kita istrahat dulu. Aku capek,”
Steve menghentikan langkah, ia berjarak sekitar dua meter dariku. Berdiri di dekat pohon tanpa punya niat mendekatiku. “Kita istirahat sebentar.” Steve duduk di sebuah akar pohon yang sangat besar.
Aku duduk bersandar pada pohon yang lain. Mataku mengantuk berat, gak menyangka menggunakan ajian tadi menguras hampir seluruh tenagaku. Perlahan, aku menutup mata dan kuharap Steve akan menggendongku dan membawaku pulang.
***
Aku terbangun dengan badan seperti habis dilindas truk, sakitnya bukan main. Aku menggerakkan bola mata ke kanan dan ke kiri. Kupikir aku sudah di rumah tapi ternyata aku masih ada di bawah pohon yang besar sementara Steve malah tidur di atas akar pohon besar tadi.
Aku bangkit, mendekati Steve dengan perasaan sebal karena Steve seharusnya membawaku pulang dengan cara yang sangat romantis. Aku mendorong badannya sampai ia terjatuh, melipat kedua tangan, aku mengerucutkan bibir untuk menahan kesal. “Harusnya kamu menggendongku pulang, Steve. Aku capek sekali setelah menggunakan ajian sapu angin, tahu.”
Steve bangkit, ia menepuk p****t sambil memandangku. “Honey. Sebenarnya aku juga kasihan denganmu, tapi ... baumu bau kotoran sapi. Aku takut jatuh pingsan kalo dekat-dekat kamu. Jadi daripada aku pingsan, lebih baik aku menjagamu tidur disini sebelum pulang,”
Aku melongo, “siapa yang sering bilang cinta aku dengan keadaan apapun? Baru bau kotoran sapi aja udah gak mau dekat-dekat,” keluhku dengan suara naik satu oktaf.
“Aku cinta kamu dengan keadaan apapun kecuali ... bau kotoran sapi.”
“Ck. Kamu gak romantis, Steve. ku pikir, kamu menerimaku apa adanya.”
“Gak ada hubungannya, menerimamu apa adanya dengan kamu berbau kotoran sapi.”
“Idih, dasar cowok. Mau produk dalam negeri atau luar negeri sama aja. Maunya cewek yang wangi dan badannya seksi.”
“Aku gak sama, Honey. Trust me!”
“Pret....”
“Serius!”
“Gak percaya!”
“Ayo pulang! Nanti kubantu mandiin kamu,” ujarnya sambil memainkan kedua alisnya.
“Gendong....”
“Kita jalan pelan-pelan. Aku akan menjagamu.”
“Gendong.”
“Ayo Honey....”
“Gendong....”
Steve gak peduli, ia memutar badan dan segera mengayunkan kaki. Aku tersenyum, gak jadi marah karena siapa juga yang mau menggendong orang berbau kotoran sapi. Aku gak menyangka, dengan bauku yang seperti ini, aku bisa tidur beberapa saat.
Aku mulai melangkah, ingin menjahili Steve sehingga aku mengejarnya dengan setengah berlari.
“No Honey....”
Steve berlari, ia gak mau kudekati. Aku mengejarnya dengan penuh semangat, beberapa kali aku hampir terjatuh karena tersandung akar pohon dan juga kerikil-kerikil yang berserakan. Aku tetap mengejar Steve dengan penuh semangat hingga tiba-tiba badanku terjun bebas ke sebuah lubang. Mendarat dengan badan telungkup di sebuah tempat yang empuk, lembab, basah dan baunya sangat khas sekali.
“JAMBU. TLETONG SAPI. HUAA....”