Jin perempuan Misterius

1655 Kata
Jin perempuan itu berdiri dengan rambut menutupi mukanya. Telunjuknya kembali terangkat kepadaku, aku benar-benar gak ngerti apa yang sebenarnya ia inginkan. Tapi aku malas menanggapinya, aku putuskan untuk melangkah, gak peduli kepadanya. Jin perempuan itu mengikuti langkahku, masih dengan telunjuknya mengarah kepadaku. Aku menghentikan langkah, memutar badan menghadap kepadanya. “Kamu jangan ganggu aku ya,” Aku kembali melangkah, jin sialan itu masih setia mengikutiku. Aku benar-benar gak ngerti sama dia, tadi sewaktu datang dia menunjukku eh sekarang dia melakukannya lagi. Jin itu mengangkat kepalanya, dari sela-sela rambutnya aku bisa melihat kulitnya yang mengelupas, mata putih dan senyumnya yang semakin melebar sampai memenuhi seluruh pipinya. Ia membuka mulut, menunjukkan gigi-giginya yang runcing. Tiba-tiba ia melesat cepat ke arahku, aku spontan menghindar dan memutar badan agar ia ada di depanku. Jin perempuan itu memutar badannya, kami berdiri berhadapan seperti sedia kala. Aku membuat bola cahaya kuning yang kata Steve bernama cakra. Bersiap untuk membuat perhitungan dengannya. Tiba-tiba pintu yang ada di sebelah kanan membuka. Mathew keluar sambil kucek-kucek mata, ia mengangkat kedua alisnya saat melihatku. “What you doing there, Bunga?” Aku bergeming, cakra yang sudah kubuat menghilang bersamaan dengan jin perempuan yang juga menghilang. “Bunga. Apa yang kamu lakukan malam-malam?” tanya Mathew sekali lagi. “Aku mau ke dapur. Mau mengambil minum.” Aku memutar badan, segera melangkahkan kaki. Aku menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar. Hantu-hantu memandangku dengan tatapan yang sulit k****a. Seorang pria memakai baju ala orang Belanda dengan perut buncit dan rambut panjang berwarna putih menatapku, kumisnya bergerak-gerak membuatku menatapnya tajam. “Selamat malam, Nona,” sapanya sambil menaiki anak tangga. Sampai di lantai satu, aku terdiam sejenak. Garuk-garuk kepala setelah sadar aku gak tahu dimana letak dapurnya. Aku memutuskan berjalan ke kanan, melewati lorong dengan pintu-pintu tertutup. Jin berbentuk raksasa berwarna putih berbulu lebat dengan kaki besar, sebesar sepuluh kali kaki gajah, keluar, menembus daun pintu. Ia membungkuk, mukanya dipenuhi bulu, macam seekor monyet, memandangku sambil gigit jari. Aku melewatinya sambil mendongak, ia menggerakkan badan, berdiri tegak hingga separuh badannya menembus lantai dua. Aku kembali melangkahkan kaki tapi segera menghentikan langkah saat tiba-tiba seorang nenek-nenek pake kebaya berwarna jingga dengan jarik selutut berdiri di depanku. Ia terkekeh, menunjukkan gigi-gigi hitam yang dipenuhi air liur berwarna jingga. Ia mengeluarkan susur dari mulutnya, mengusapnya ke seluruh bibir hingga bibirnya berwarna jingga. “Mau kemana, Cu?” “Mau ke dapur, Nek. Dimana dapurnya?” Nenek itu menunjuk ke arah belakang, aku mengikuti arah telunjuknya dengan memutar badan. Letak dapur ternyata berseberangan dengan arahku. Aku memutar badan, mau mengucap terima kasih tapi nenek itu telah menghilang. Tempat ini sungguh sangat aneh, aku kembali melangkah. Menuju arah yang sudah ditunjuk oleh nenek-nenek itu. Jin perempuan kembali muncul, ia melangkahkan kaki beriringan denganku. Aku menghentikan langkah, memutar badan menghadap ke jin gaje yang entah apa maunya. “Kamu ini mau apa?” Aku sudah gak tahan dengannya. “Generasi ke lima Johnson ditemukan.” Ia kembali menunjukku, mengangkat kepala sambil tersenyum lebar dan menunjukkan gigi-gigi hitam runcingnya. “Kamu pergi atau kumusnahkan sekarang juga!” Aku gak bisa tinggal diam, mumpung suasana sepi jadi aku bisa mematahkan kepalanya trus kumasukkan ke dalam botol minyak goreng. Jin itu menghilang, benar-benar sulit dipercaya. Kenapa tempat ini sangat banyak hantunya. Aku tahu kalo tempat ini dijadikan tempat latihan tim beta tapi aku gak menyangka kalo ada puluhan hantu di dalam rumah dan entah berapa banyak lagi ada diluar sana. *** Akhirnya setelah beberapa kali mencari dapur, aku menemukan ruang makan. Di atas meja makan, ada nampan berisi poci dan empat gelas yang terbalik. Aku segera masuk ke dalam ruang makan, tetapi saat mendekati meja, aku melihat empat orang duduk di kursi sambil menunduk. Seorang laki-laki dewasa, seorang wanita dewasa dan dua anak laki-laki, salah satunya adalah anak yang ku lihat tadi sore. Aku gak menggubris mereka, segera mengambil gelas yang ada di atas meja makan. membaliknya dan segera mengisi dengan air dari poci yang terbuat dari porselen. Setelah meminumnya, aku berniat kembali ke kamar. Tapi kehadiran Sonya membuatku terdiam, bocah itu mendekatiku dengan mulut mengunyah seperti kambing yang sedang mengunyah rumput tetangga. “Wow. Kini aku yakin kamu dan Steve sudah...” Sonya menunjuk kemeja yang aku pakai. “Kamu pikir suami istri tidur seranjang, mereka main dakon bersama?” Aku balik bertanya. Sonya tertawa geli, ia membuat darahku naik secara drastis. Aku malas berhubungan dengan cewek model dia, aku berniat melangkahkan kaki tapi Sonya mencekal lenganku. “Lepaskan Steve! Dia tidak seperti yang kamu kira.” Sonya benar-benar keras kepala. “Maksudmu apa? Aku dan Steve sudah menikah jadi hanya Tuhan yang bisa memisahkan kami,” “Steve tidak seperti yang kamu kira. Dia pemimpin tim alpha, calon pemimpin demon hunter. Kamu tidak pantas menjadi pendampingnya,” “Terus kamu mau bilang kalo kamu yang lebih pantas? Apa kita perlu duel lagi?” Aku berani jamin, kali ini dia gak bakal bisa lolos dariku. Sonya terkikik, gak tahu apa yang ada dalam kepalanya. Aku begitu serius eh dia malah ketawa gak jelas. Aku menatapnya tajam, menunggunya berbicara. “Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa memiliki cakra seperti keluarga Johnson. Siapa kamu sebenarnya?” Sonya kembali menatapku tajam, bibirnya sedikit bergetar. Cakra lagi cakra lagi. Aku gak tahu sebenarnya apa istimewanya cakra yang mereka sebutkan. Aku saja gak tahu bagaimana bisa memiliki kekuatan ini kecuali bahwa cakra yang kumiliki hasil meditasi di puncak gunung wilis dan mandi dengan kembang tujuh rupa di tujuh air terjun yang ada di sekitar gunung wilis. “Aku gak ngerti apa maksudmu? Aku gak ada hubungan dengan Johnson selain karena aku istri Steve,” Sonya melepas cekalannya, ia melangkah masuk ke ruang makan. Empat orang yang tadi duduk di tepi meja makan, tiba-tiba menghilang. Sonya mengambil poci, membalik gelas dan mengisinya. “Dari awal, Daddy sudah curiga kamu adalah keturunan Johnson yang menghilang. Itulah kenapa semua keluarga dipaksa datang ke tempat ini untuk melihatmu,” Aku memiringkan kepala, gak mengerti maksud Sonya. Mana mungkin aku keturunan Johnson yang menghilang. Kulitku sawo matang, mataku coklat, tinggiku rata-rata. Terus dari mananya aku terlihat seperti Johnson? Tanpa bisa dicegah, aku tertawa terbahak-bahak. “Apapun itu. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah lepaskan Steve!” Sonya mulai lagi. Aku memutar badan, enggan berbicara lebih lama dengan cewek antik luar biasa satu itu. Tiba-tiba sebuah sinar merah melesat, menabrak dinding di hadapanku hingga membentuk lubang kecil. Aku kembali memutar badan, gak percaya Sonya main kasar denganku. “Aku gak tahu sebenarnya kenapa kamu begitu getol memisahkan aku dari Steve ... atau, kamu jatuh cinta sepihak kepadanya,” tuduhku sambil bersiap dengan kuda-kuda sempurna, kalau-kalau Sonya menyerangku secara tiba-tiba lagi. Sonya terbelalak, ia menoleh ke kanan sebelum kembali menatapku. “Aku memang jatuh cinta kepadanya bahkan sejak kami masih kecil. Seharusnya dia bersamaku tapi keberadaanmu mengubah segalanya.” “Steve bukan anak-anak yang patut diperebutkan seperti ini. Dia waras saat memilihku jadi kekasihnya dan dia gak edan sewaktu menikahiku, jadi siapa yang seharusnya melepasnya?” “Oh berani bicara rupanya. Kamu tidak tahu siapa aku?” “Tentu saja aku tahu siapa kamu. Anak adopsi Uncle Gilbert yang bisa menguasai cakra setelah mempelajarinya. Kamu gak tahu sedang melawan siapa?” Aku bersiap melakukan serangan. “Bunga. Aku tidak akan melepasmu!” Sonya menyerangku dengan cakra besar keluar dari telapak tangannya. Melempar cakranya ke arahku, bola besar itu menyala terang sekali. Aku langsung menghindar, cakra menabrak pintu terbuat dari kaca hingga pecah dan suaranya sangat keras. Ia kembali melayangkan cakra besar, kali ini cakranya mengenai pundakku. Rasanya sakit sekali, baru kali ini aku diserang manusia. Aku mengirimkan tenaga ke telapak tangan, bola cahaya kuning terbentuk seukuran kelereng, membesar hingga sampai sebesar bola ping pong. Gak ada ampun untuk cewek saklek macam Sonya. Aku bersiap melemparnya tapi suara derap langkah membuatku mengurungkan niat. Cakra yang sudah ku buat segera menghilang. “Sonya. Apa yang kamu lakukan?” teriak Uncle Gilbert. Aku merasakan panas di bahu kiri, bau gosong dan asap masih keluar. Tiba-tiba jadi inget Steve yang dulu sering kulempari dengan cakra, pasti rasanya sakit tapi dia diam saja. Gak lama setelah Uncle Gilbert dan Aunty Bella datang, keluarga lain juga ikut datang. Semua memandangku dan Sonya bergantian. Steve datang paling terakhir, ia segera mendekatiku. “Astaga, Honey!” Steve menatap horor bahuku yang terluka. “Aku gak papa Steve.” Aku melotot ke Sonya, gadis itu merasa terpojok hingga akhirnya ia melarikan diri. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Aunty Bella memandangku penuh khawatir. “Gak papa kok, Aunty. Hanya salah paham sedikit.” Aku gak mau masalah ini diketahui oleh yang lain. “Gadis itu harus diberi pelajaran.” Steve merangkul pundakku, membawaku menjauh dari mereka semua. *** Sampai di kamar, Steve membersihkan lukaku dan memberinya salep. Aku mendesis, rasanya lumayan perih. Steve ikutan meringis, seolah-olah ia ikut merasa sakit sepertiku. “Sebenarnya apa yang kalian lakukan?” Steve selesai mengobatiku. Ia meletakkan salep ke atas meja. Aku menghela napas berat, gak tahu apa yang ada dalam pikiran Sonya sampai dia hilang kendali seperti itu. “Aku juga gak ngerti. Steve, apa hubunganmu dengan Sonya?” Kurasa Steve tahu. Steve memandangku beberapa lama sebelum mendongak sambil menghela napas. “Kami pernah pacaran. Tapi sudah sangat lama.” Ucapan Steve membuat mataku melotot. Pantas saja Sonya sampai segitunya, ternyata mereka sudah pernah pacaran sebelumnya. “Apa kalian putus? Apa ... kamu masih punya perasaan kepadanya?” Aku ingin tenggelam ke dasar samudra biar gak mendengar jawabannya. “Aku tentu saja tidak punya perasaan lagi kepadanya kecuali sebagai saudara. Honey, aku berani jujur dan petir pasti datang kalo aku berbohong kepadamu. Aku sudah lama gak cinta kepadanya, dia bukan tipeku dan aku baru tahu setelah kami pacaran.” Steve tanpa sadar mencekal kedua pundakku hingga membuatku meringis kesakitan. Ia meringis sambil mengangkat kedua tangannya dan berkata ‘sorry’ namun tanpa suara. Tiba-tiba suara petir terdengar sangat keras, aku berdiri karena seperti yang Steve katakan, petir akan datang jika ia berbohong kepadaku. Jadi ... kemungkinan Steve berbohong kepadaku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN