Aku memandang Sonya dengan wajah datar, tapi hatiku benar-benar seperti dibakar api cemburu. Gak usah pinter kalo hanya untuk bisa melihat ketertarikan khusus dari cewek satu ini kepada Steve. Dari awal, aku tahu kalo Sonya suka sama Steve. Aku harus ekstra hati-hati kalo gak mau kehilangan Steve.
“Bunga. Kenalkan, ini Sonya anak kami.” Aunty Bella merangkul pundak Sonya sambil tertawa bahagia.
Aku membelalakkan mata, gak percaya sama yang dikatakan oleh Aunty Bella. Kok bisa dua bule punya anak pribumi macam Sonya? Jangan-jangan anak mereka tertukar lagi. Tapi harusnya mereka bisa tahu kalo anaknya tertukar dong? Atau mereka sama sablengnya dengan Steve?
“Uncle yakin kamu bingung dengan kami. Sonya telah kami adopsi sejak dia lahir.” Penjelasan dari Uncle sudah cukup membuatku mengerti.
Bocah adopsi aja modelnya kayak anak raja, hadew. Pliss deh ya, gak usah sok kalo cuma jadi anak angkatnya orang kaya. Ini nih, Bunga. Istri dari cowok bule paling keren di kampung, mengalahkan Mas Martin yang kerennya kayak artis Amerika aja biasa-biasa saja. Gak sombong dan sok macam bocah pake anting-anting salah tempat. Hidung pesek dipasangi anting-anting, alis dan bibir juga dipasangi anting-anting. Kenapa gak semua badannya dipasang anting-anting terus keliling kampung buat jualan anting-anting.
“Honey. Ayo kita jalan!” Steve menarikku, mengajakku melangkah melewati Sonya, cewek paling jelek di seluruh dunia.
Aku menggelayut di lengan Steve, memeluk lengannya dengan sangat erat. Steve tersenyum, ia mengacak-acak rambutku dan mencium pipiku. Aku menoleh, menahan senyum kemenangan di depan mata Sonya.
Sebuah rumah sangat besar, seperti sebuah villa mewah ada di depan mata. Bangunan berlantai dua dengan beberapa jendela, membuatku seperti sedang melihat rumah di salah satu film barat yang pernah tayang di televisi. Halamannya sangat luas, ditumbuhi rumput teki seperti lapangan bola. Ada empat mobil jip terparkir di sebelah kanan rumah.
Empat orang dari tim beta berdiri tegak di depan seorang pria memakai seragam demon hunter. Mereka berempat melihat kedatangan kami dengan wajah datarnya. Sonya ikut bergabung dengan timnya, sekali lagi aku menatap Sonya dengan menahan senyum kemenangan sekuat tenaga.
Steve mengajakku masuk ke dalam rumah. Sewaktu pintu dibuka, aku melihat begitu banyak orang di dalamnya. Rumah hampir penuh sama orang-orang bule dan ada beberapa orang pribumi sepertiku.
“Welcome, Steve.” Seorang cowok berambut gondrong berwarna coklat terang memeluk Steve.
Semua mata memandang kehadiran kami, aku benar-benar merasa ada di negara asing kalo begini.
“Wow, kamu jauh lebih cantik aslinya daripada saat....” Cowok yang memeluk Steve mendecak, menatapku dengan tatapan cerianya.
“Bunga ini Mathew. Mathew, ini Bunga.” Steve memperkenalkanku pada cowok yang tingginya hampir dua meteran. Cowok itu langsung memelukku, membuatku merasa sangat aneh karenanya.
“Hei. Lepaskan istriku!” Steve memisahkan Mathew dariku, ia langsung merangkulku erat.
Mathew tertawa terbahak-bahak. Ia membalik badan, melihat orang-orang di sekelilingnya. “Another Johnson in action,” teriaknya. Membuat orang-orang disini tertawa terbahak-bahak.
Steve mengenalkan keluarga yang lainnya. Keluarga Johnson sangat besar. Aku sampe gak hafal nama-nama mereka karena begitu banyaknya. Sepupu-sepupu Steve menarik tanganku, memisahkan aku dari Steve, membawaku ke sebuah ruangan yang sama besarnya, dengan TV layar datar yang sangat besar juga.
Sepupu-sepupu Steve ada delapan orang. Mathew, Jasmine, si kembar Edbert dan Albert, Roni, Billy, Hanny dan Lucas. Mereka mendudukkanku di sebuah kursi dan mengelilingiku, memandangku seolah-olah aku alien yang baru saja turun dari planet anta berantah.
“Ceritakan pada kami. Bagaimana kamu bisa kenal Steve, jadian dan menikah dengannya!” Jasmine berlutut di depanku, menatapku dengan wajah seperti bocah meminta permen dari ibunya.
“Kami kenalan di sekolah. Steve menembakku terus....” Ketangkap Bu Yanti sedang ciuman lalu dikawinin. Aku gak berani bercerita alasan kenapa aku dan Steve bisa sampai menikah.
“Terus apa?” desak Hanny.
Aku membuang muka ke arah jendela, melihat seorang anak kecil memakai kemeja putih dan celana garis-garis berwarna biru. Anak itu memandangku dengan senyum aneh sebelum ia menghilang begitu saja.
“Kamu melihat apa?” Mathew melongok jendela, aku memutar kepala, menatap Mathew sambil geleng-geleng.
“Kudengar. Kamu memiliki cakra yang sama dengan yang dimiliki keluarga Johnson. Apakah kamu keturunan buyut Johnson yang hilang?” Pertanyaan Billy membuatku melongo, lah aku ini orang Indonesia asli kok malah dikira keturunan buyut Johnson yang hilang.
Aku tertawa, ya ampun masa aku dipikir masih ada hubungan darah dengan mereka. “Aku ini Bunga. Murid dukun Ki Mengkis. Anak Rahmadi dan Safitri. Orang Indonesia asli. Nih lihat, mataku coklat bukan biru.” Bukti kalo aku asli orang Indonesia.
“Kata Mommy. Buyut Johnson yang hilang menikah dengan orang pribumi lalu punya anak. Anaknya menikah dengan orang pribumi dan seterusnya. Mereka menolak mengirim anak mereka jadi demon hunter makanya mereka melarikan diri. Jadi bisa saja kamu adalah salah satu keturunan mereka.” Edbert membuatku berkedip beberapa kali.
“Bunga mempelajari ilmunya dari Ki Mengkis. Cakra itu bukan didapat karena keturunan tapi ia mempelajarinya seperti Sonya yang mempelajari cakra keluarga kita.” Steve mendekat, ia duduk di kursi panjang bersebelahan dengan Billy.
Semua mata beralih kepada Steve. Tatapan mereka penuh selidik. Steve menghela napas, ia berdiri lalu menarik tanganku sampai aku berdiri. Steve menarikku mengikutinya, sepupu-sepupu Steve mengikutiku tapi saat aku keluar dari ruangan, Steve segera menutup pintu dan menguncinya.
Steve membawaku ke lantai dua, pintu-pintu tertutup berjajar. Steve mengajakku melangkah ke ujung ruangan dekat dengan jendela. Ia membuka pintu dan mengajakku masuk.
Sebuah kamar yang sangat luas, tapi sangat sederhana. Hanya ada ranjang dengan kasur tebal dan terlihat sangat empuk, sebuah meja dan kursi ada di depan jendela, sebuah lemari besar ada di dekat pintu lainnya dan sebuah meja rias ada di dekat lemari.
“Jangan pernah menceritakan soal kemampuanmu kepada mereka atau mereka akan menantangmu!” Steve melepas kemejanya, melempar kemeja ke atas meja dan segera menjatuhkan badannya di atas kasur.
“Kamu ini kenapa sih, Steve? Sejak nana nina kemarin, kamu jadi aneh.” Aku ikut berbaring di atas kasur yang ternyata benar-benar empuk.
Steve menekuk lengannya di belakang kepala, menoleh kepadaku dan menatapku beberapa lama. “Kamu sangat cantik. Aku tidak mau mereka terpesona kepadamu dan berusaha merebutmu dariku.”
Aku memutar bola mata, males mendengar kecemburuan Steve yang selalu gak beralasan. Aku duduk, melepas kaos dan melemparnya sembarangan.
“Lepaskan tank topmu juga, Honey!” Steve membuatku menoleh kepadanya.
“Ogah! Jangan ganggu aku! Aku mau tidur.” Aku kembali berbaring, menatap langit-langit kamar.
Sebuah wajah yang sangat besar dan transparan muncul, mukanya seperti orang barat, sedang tersenyum gaje membuatku melotot kepadanya. “Apa kamu liat-liat? Gak pernah liat suami istri kelonan ta?”
Steve terpingkal-pingkal. Wajah itu tiba-tiba menghilang. “Honey, kamu membuatku ingin ... kelonan.” Steve kembali tertawa.
Tempat ini banyak sekali hantunya, aku gak terganggu selama mereka gak masuk ke kamarku. Tapi kalo mereka menggangguku, awas saja ya. Bakal kumasukkan ke dalam botol bekas wadah pipis cowok yang gak tahan buang hajat. Kalo mereka berani.
“Katanya ini pertemuan keluargamu yang jadi demon hunter. Tapi kenapa hantu banyak berkeliaran disini sih? Mengganggu aja,”
“Uncle Gilbert sudah bilang kan. Tim beta sedang berlatih jadi mereka membiarkan hantu bebas berkeliaran disini,”
Oh iya, aku lupa soal ini. “Apa semua anggota baru demon hunter harus dilatih? Kenapa aku engga ya?” gumamku.
“Karena kamu tim khusus yang sengaja dicari. Awalnya aku senang karena kamu memiliki kekuatan seperti seorang keturunan Johnson tapi sejak menikah denganmu. Aku sadar, aku tak ingin membahayakanmu dengan membiarkanmu menjadi demon hunter,”
Aku menoleh, memandang Steve yang amboi keren banget kalo telanjang d**a seperti sekarang. Aku menelan ludah, jadi ingin nana nina dengannya. Tapi aku gak mau membuatnya senang, aku harus tahan diri buat gak nana nina karena semalam sudah melakukannya.
“Honey. Nana nina yuk,”
Steve menggeser badannya, menempel dengan badanku. Baunya membuatku sulit menahan diri, tapi kalo nana nina sama Steve sekarang bisa gak makan malam nanti karena kami adalah sepasang pengantin baru yang hobi nana nina. #plak.
Steve membalik badan, telungkup sambil memandangku. Mata kami bersitatap, aku semakin gak tahan sama godaannya. Steve merayap naik, wajah kami sangat-sangat dekat. Aku membuang muka, takut kalo nana nina sampai lupa waktu dan bisa malu aku kalo gak bantu-bantu menyiapkan makan malam.
“Aku mau bantu Aunty Bella masak.” Aku mau bangkit tapi Steve menahanku, aku kembali berbaring di sebelahnya.
“Disini banyak asisten. Kita bisa nana nina sepuasnya dan bangun besok pagi.” Steve membuatku semakin tergoda.
“Aduh Steve. Kamu jangan menggodaku. Aku kan sedang ada misi penting,”
“Misi apa? Kamu butuh aku untuk misi punya anak, Honey.” Steve mulai edan.
“Aku mau jadi demon hunter. Mau memanfaatkan ilmu yang sudah kudapat dari Ki Mengkis,”
“Berapa kali pun jawabannya sama, Honey. Lebih baik lanjutkan misi membuat anak saja,”
“Ya ampun, Steve. Kalo aku jadi demon hunter. Aku dan kamu bisa ketemu dua puluh empat jam, bisa nana nina sewaktu-waktu. Dimana pun tempatnya.” Aku jadi ketularan Steve sekarang.
“Tawaran menarik. Tapi saat bertugas, aku gak punya keinginan untuk nana nina,”
Aku mengetuk kepala Steve dengan jari telunjuk. “Pantas saja. Kepalamu keras kaya batu, Steve.”
“Honey. Aku terlalu mencintaimu untuk membiarkanmu membahayakan diri. Kamu adalah permata yang sangat berharga. Aku tak sanggup melihat kulit mulusmu lecet saat bertugas. Aku tak sanggup membiarkanmu adu hantam dengan para demon. Honey, aku ingin kamu selalu ada dalam tempat yang sangat nyaman bersama anak-anak kita. Biarkan aku yang membahayakan diri asal kamu dan anak-anak kita selalu dalam tempat yang aman. Honey, i love you.”
Aku klepek-klepek mendengar ucapan Steve. Gak pake menunggu, aku langsung menyerang bibir Steve dengan ciuman super duper maut sampai kami nana nina sepuasnya.
Aku terbangun dengan badan seperti habis mencangkul sawah sehektar. Lengan Steve melingkar di perutku, dengan perlahan aku memindahkannya. Rasa haus membuatku bangkit dari ranjang. Aku mengambil celana dan memakainya, memakai bra tapi saat mencari bajuku, aku gak menemukannya. Akhirnya aku memakai kemeja Steve yang kedodoran di badanku. Tapi toh aku hanya ingin ke dapur buat mengambil minum lalu balik ke kamar jadi aku tidak apa-apa.
Aku keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar Steve gak terbangun. Hantu-hantu berkeliaran, tempat ini jadi sangat rame karena kehadiran mereka. Tempat ini hanya diterangi lampu remang-remang yang berjajar. Seorang hantu perempuan yang kutemui di dermaga menghadang langkahku. Ia menatapku dengan senyum tersungging di bibirnya.
Aku gak tahu apa yang diinginkannya, telunjuknya kembali terangkat. Aku gak tahu apa maksudnya tapi aku yakin dia ingin menunjuk sesuatu. Tapi apa???