Pagi yang cerah walau gak secerah hatiku. Memandang diriku dari kaca lemari, ada bekas-bekas merah hasil perbuatan Steve di leher. Pada akhirnya aku menyerah dengan sikap Steve yang super duper omes sekali. Aku memutar badan, memandang Steve yang masih tertidur pulas. Ia tidur sambil memeluk guling dan menciuminya seperti orang gila.
Ini hari pertama aku lulus sekolah, jika dulu aku ingin kuliah di jurusan sekretaris, sekarang aku rasa aku sudah gak minat lagi. Aku gak yakin setelah lulus kuliah bisa jadi sekretaris beneran. Kalo di tengah jalan aku hamil dan punya anak, aku yakin aku bakal sangat kecewa sekali jadi lebih baik gak usah melanjutkan cita-cita jadi sekretaris saja.
Selain jadi demon hunter dan istri Steve, sudah gak ada lagi yang ingin kulakukan sekarang. Mau bagaimana lagi, semua gak sesuai sama rencana yang sudah kubangun.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, aku keluar kamar menuju ruang makan. Daddy, Mommy dan Mas Martin sedang menikmati sarapan mereka. Aku ikut menikmati sarapan ala orang barat yaitu roti bakar dengan selai kacang dan segelas s**u hangat.
“Apa rencanamu selanjutnya, Bunga? Kalo kamu ingin kuliah sambil jadi demon hunter. Daddy siap menguliahkanmu.” Daddy membuatku tersenyum.
Senang karena diperhatikan sama Daddy tapi gak enak kalo aku harus jadi bebannya. “Bunga ingin fokus jadi demon hunter, Dad. Tapi terima kasih sudah menawari Bunga,”
“Kamu jangan sungkan. Kami ini orangtuamu juga. Mommy pasti senang kalo kamu memilih melanjutkan studymu.” Mommy memandangku dengan wajah sumringah.
“Nanti Bunga pikir-pikir lagi. Bunga hanya takut gak bisa fokus kuliah. Kan sayang kalo kuliah mahal-mahal tapi gak fokus mikir kuliah,”
“Kok bisa Steve punya istri seperti kamu? Lihat bocah itu, aku yakin dia masih molor di kasurnya.” Mas Martin mendengus, aku hanya bisa tersenyum.
“Oh ya Bunga. Kamu harus siap-siap! Ada pertemuan rutin Keluarga besar Johnson di kediaman Gilbert. Adikku, Uncle-mu. Daddy sudah bilang kamu dan Steve akan berangkat nanti sore.” Daddy mengusap bibirnya sebelum meneguk susunya.
“Bunga tidak akan ikut di acara itu.” Tiba-tiba Steve muncul, ia segera duduk di sebelahku.
“Gilbert dan keluarga lainnya ingin bertemu dengan Bunga. Daddy sudah menceritakan tentang kehebatan Bunga,”
“Tetap saja aku tidak mengijinkannya. Bunga aku keluarkan dari tim.” Steve menatap tajam ke Daddy, Daddy menghela napas sebelum kembali menatap Steve.
“Kamu tidak bisa mengeluarkannya dari tim alpha seenakmu. Surat keputusannya sudah turun. Bunga adalah anggota kelima tim alpha,”
“Aku tidak mau Bunga masuk demon hunter. Terlalu berbahaya.” Steve bersikeras, berusaha mengeluarkanku dari timnya.
“Hei, Steve. Kenapa kamu tidak tanya pendapat Bunga?” Mas Martin menengahi.
“Tidak perlu pendapatnya. Dia istriku jadi aku punya hak atas dirinya,” Steve berang.
“Siapa bilang karena kamu suamiku terus kamu bisa seenaknya mengaturku?” Kali ini aku gak bisa tinggal diam.
Steve menoleh, memandangku sengit. “Honey. Please menurut denganku….”
“Steve. Kamu memang suamiku tapi aku masih punya hak atas diriku, aku punya hak mengatur hidupku sendiri jadi kamu jangan merasa semena-mena kepadaku,”
“Tidak seperti itu, Honey.” Steve tampak merasa bersalah dari caranya mengangkat kedua alis dan matanya terlihat lebih jernih dari biasanya.
“Sudah-sudah. Bunga, persiapkan semuanya. Acara akan diadakan selama satu minggu. Kalian berdua bisa sekaligus bulan madu di pulau milik Uncle Gilbert,” ucapan Daddy memberiku angin segar. Aku memandang Steve sambil tersenyum mengejek, Steve masih ingin marah tapi Mommy melotot, Steve langsung mengurungkan niat untuk bicara.
***
Naik kapal boat milik Daddy, aku duduk di dalam kapal sambil menikmati embusan angin yang cukup kencang. Baru kali ini aku naik kapal boat, kalo naik perahu sering banget tapi gak seseru naik kapal boat seperti sekarang.
“Disana, kamu diam saja! Jangan membicarakan tentang hantu, dukun! Apalagi menggunakan cakramu.” Steve masih ngambek, ia sedang mengemudikan kapal.
Aku memandang Steve yang terlihat super kece, memakai kemeja biru dan celana pendek berwarna putih, mata birunya tertutup kacamata hitam, menambah daya tariknya.
“Iya. Iya. Lagipula cakra apa yang mau aku keluarkan? Cakra Khan?” Aku saja gak tahu artinya cakra.
“Bola cahaya kuning yang selalu kamu gunakan untuk melawan para jin. Itulah cakra. Apa kamu tidak diberi tahu Ki Mengkis?”
“Aku ini belajar sendiri, Steve. Ki Mengkis hanya mengajariku cara meditasi dan menguatkan diri biar gak gampang dirasuki roh halus. Kamu pikir Ki Mengkis mau menurunkan semua ilmunya kepadaku? Untuk bisa dapetin bukunya aja aku sambil memohon-mohon,”
Aku bangkit, mendekati Steve, memandang cowok yang masih fokus dengan kemudinya. Steve yang super resek kemarin tiba-tiba hilang setelah aku melayaninya semalam, sekarang Steve yang serius muncul lagi. Aku benar-benar bingung dengan Steve yang gampang sekali berubah, tapi baik Steve yang resek atau Steve yang serius sama-sama suka mengaturku.
“Aku tidak mau keluarga yang lain melihat kehebatanmu,” gumam Steve.
Aku mendesis, si Steve ini aneh-aneh saja. Orang video kehebatanku sudah tersebar kemana-mana kok masih melarangku menunjukkan kehebatan.
“Kamu harus menurut! Aku tidak mau kamu jadi pusat perhatian disana. Mereka sangat suka dengan orang-orang yang memiliki kekuatan sepertimu,”
Aku memicingkan mata, memeluk lengan Steve untuk meredam amarahnya. “Iya-iya. Aku pasti jadi istri yang baik disana. Apa kamu senang?” Aku mengedipkan mata beberapa kali, Steve tertawa terbahak-bahak melihatnya.
“Aku tidak mau sepupu-sepupuku menaruh minat padamu. Kamu ini milikku. Hanya milikku.”
Oalah, ternyata belum-belum Steve sudah takut cemburu. Dasar suami pecemburu.
“Iya aku ini miliknya Steve Johnson. Bunga Lestari Steve Johnson adalah namaku,”
“Honey. Aku sangat mencintaimu. Kumohon jangan mengecewakanku”
“Hei. Apa Steve serius sudah bangun? Mana Steve yang super m***m dan super nyebelin kemarin?” ledekku sambil memonyong-monyongkan bibir.
Steve jadi tertawa, aku ikutan tertawa. Perjalanan ke pulau pribadi Uncle Gilbert menjadi perjalanan yang sangat romantis. Laut biru membentang, awan putih menggumpal menghiasi langit yang biru. Burung-burung camar beterbangan dan beberapa lumba-lumba melompat. Di kapal ini hanya ada aku dan Steve. Cowok edan yang sangat kucintai.
Dari kejauhan, tampak sebuah pulau yang semakin lama semakin membesar karena kapal semakin mendekat. Kapal berhenti di sebuah dermaga, Steve turun dari kapal terlebih dahulu, setelah ia ada di atas dermaga, ia menyerahkan tangannya untuk membantuku turun. Berjalan sambil bergandengan tangan, aku merasa senang karena Steve begitu romantis.
Seorang pria berbadan gemuk dan berperut buncit mendekati, ia bersama seorang wanita berambut pirang yang bergelombang, wanita itu menggelayut di lengan pria itu. “Steve, glad to see you.” Pria itu memeluk Steve.
“Hi Uncle. You look so ... sexy.” Steve dan Uncle tertawa bersama, wanita yang bersama Uncle tersenyum kepadaku.
“Biarkan Aunty menebaknya. Kamu Bunga. Gadis hebat itu.” Wanita yang menyebut dirinya Aunty memelukku.
Aunty melepas pelukannya, ia menggenggam dua tanganku. “Perkenalkan, aku Aunty Bella dan ini suamiku Uncle Gilbert. Kami adalah keluargamu. Bunga, aku sangat senang bisa berkenalan denganmu.” Aunty Bella kembali memelukku.
“Bunga tidak sehebat itu, Aunty. Selama ini akulah yang membantunya.” Aku melirik Steve, enak saja menyebut kalo dia yang membantuku.
“Honey. Kamu pasti lelah. Sebaiknya kita cepat ke kamar untuk beristirahat.” Steve menarik lenganku.
“Bunga. Uncle sudah menantikanmu. Sini-sini Uncle ingin memelukmu.” Uncle menarikku dan memelukku, pria itu mengendus leherku membuatku segera melepaskan pelukannya.
Bersama Uncle dan Aunty, aku dan Steve berjalan melewati jembatan diantara rimbunan hutan mangrove. Suasana sangat hening tapi ada sesuatu yang kurasa mengikuti kami sejak dari dermaga. Aku menghentikan langkah, melihat ke rerimbunan mangrove, aku yakin ada sesuatu disana.
“Ada apa?” Steve berbisik, tangannya menarikku untuk terus berjalan.
“Ada seseorang disana. Kurasa disini ada hantunya, Steve.”
Uncle dan Aunty menghentikan langkah mereka, keduanya membalikkan badan menghadap kami. “Apa kamu bicara soal hantu?” Uncle Gilbert bertanya.
“Bukan. Dia ingin berbulan madu, Uncle,” sahut Steve.
“Apa benar begitu?” Aunty Bella memiringkan kepalanya, kedua matanya bertaut.
“Lagi pula mana ada hantu sore-sore begini?” Steve kembali melangkah mendahului Uncle dan Aunty.
“Sudah kukatakan jangan menyebut hantu di tempat ini.” Mulut Steve menempel di kuping. Membuatku kegelian setengah mati.
Aku meliriknya, Steve tersenyum seperti orang gak berdosa. Aku melepas tangannya, berjalan terlebih dahulu. Steve mempercepat langkahnya, ia merangkul pundakku dengan sangat erat. Aku menoleh, memandang Steve sambil komat-kamit tapi Steve malah mengecup bibirku lalu tertawa macam orang gila. Aku hanya bisa geleng-geleng karenanya.
Tiba-tiba sosok wanita berambut panjang menutupi seluruh mukanya, memakai baju terusan putih yang sangat lusuh menghadang langkah kami. Angin tiba-tiba bertiup, membuat rambutnya beterbangan dan menunjukkan mukanya. Kulitnya pucat dan setengah mengelupas, matanya putih semua, tapi sedang menatapku dengan saksama.
“Pergi kamu!” Steve memandang lekat ke perempuan itu. Perempuan itu mengangkat tangannya, menunjukku dengan telunjuknya yang berkuku panjang dan runcing.
Beberapa lama kami terdiam, tiba-tiba wanita itu bergerak dengan sangat cepat, mendekatiku sambil menjerit keras. Reflek aku menghindar, memutar badan dan melihat wanita itu hilang begitu saja.
“Siapa dia?” Aku memandang Steve, bocah itu masih melihat ke arah hilangnya perempuan itu.
“Uncle. Kenapa kamu tidak membersihkan tempat ini?” tanya Steve.
Uncle tertawa, ia mendekati kami. “Uncle mendapat tugas dari kepala POLIKHUSTRAL untuk mendidik tim beta. Uncle sengaja membiarkan makhluk-makhluk itu berkeliaran.
“Maksud Uncle....” Steve membekap mulutku pake satu tangan. Spontan aku berusaha membuka tangannya dari mulutku.
“Kenapa Uncle mengadakan acara keluarga jika Uncle harus mendidik tim beta?” tanya Steve.
“Tentu saja karena Sonya. Kami tidak akan tenang jika Sonya berkeliaran sementara kami disini bersenang-senang.” Kali ini Aunty Bella membuatku bertanya-tanya.
“Hei Steve. Lama tidak berjumpa.” Suara seorang cewek yang gak bisa kulupa terdengar.
Aku dan Steve memutar badan, memandang Sonya sedang berdiri sambil mengunyah permen karet. Mukanya masih sama menjengkelkan saat kami pertama kali bertemu. Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dua tangannya terlipat, mulutnya membuat gelembung dari permen karet dan meletuskannya sebelum mengunyahnya kembali.
Aku berdiri dengan muka datar, ini benar-benar sebuah kejutan besar. Bisa bertemu dengan seorang cewek yang gak lain cewek yang membuatku marah saat pertama kali datang di kantor demon hunter.