Tertangkap Basah

1610 Kata
Memandang ijazah dengan nilai lebih rendah dari Steve membuatku ingin menangis. Steve yang gak mikir, yang jawabannya hasil mencontek dariku malah mendapat nilai lebih baik dariku yang sudah belajar mati-matian. “Ini gak adil.” Duduk di taman, aku meremas ijazah. Tapi secepatnya aku gosok biar rapi kembali. “Ya ampun, Bunga. Itu hanya nilai di atas kertas. Yang penting kita kan lulus.” Steve membuatku melirik tajam kepadanya. “Kamu enak ngomong gitu. Udah gak mikir, main-main tok. Nyontek, eh dapat nilai bagus,” “Apa kita tuker aja. Kamu pake nilaiku. Aku gak keberatan kok,” Sontoloyo dah, emangnya dikira ijazah macam baju bisa main tuker-tukeran? Huft, sebel banget sama Steve, dari kemaren dia suka seenaknya bicara. Aku membuang muka, malas memikirkan Steve. Bisa darah tinggi kalo memikirkan bocah itu. Aku berdiri, memandang sekolah yang telah memberi sejuta kisah. Walau sebagian besar adalah kisah sedih, tapi ada sebuah kisah manis yang selamanya akan ku kenang. Melihat ke arah kelas, Hengky dan Sekar sedang duduk di bangku di sebelah pintu kelas. Sekar sedang berusaha mengambil hati Hengky. Gadis itu akhirnya tahu kalo Hengky adalah cowok yang patut untuk diperjuangkan. Apa yang dilakukan Sekar, gak jauh beda dengan apa yang dilakukan Steve saat merayuku. Aku menoleh, memandang Steve yang asyik dengan handphone-nya. Cowok yang sekarang sudah jadi suamiku adalah hal termanis yang kudapatkan dari sekolah ini. Aku gak pernah menyangka kalo akhirnya aku menemukan orang spesial sepertinya. Bu Yanti dengan penggaris kayu di tangan, sedang berteriak ke murid-murid kelas sepuluh dan sebelas yang ketahuan keluar kelas di saat jam pelajaran. Bu Yanti yang galak seperti ini adalah Bu Yanti asli dan bukan abal-abal. Sari dan jambrong sedang asyik ngobrol di bawah pohon beringin. Keduanya jadi dekat sejak ditangkap Ratu Uswa. Aku mengangkat dua tangan tinggi-tinggi, melemaskan badan yang kaku karena sedari pagi duduk di taman. Aku tersenyum, mengingat bagaimana aku bahagia saat Ibu mendaftarkanku sekolah disini, Ayah setiap hari mengantar dan menjemputku sampai hari naas itu tiba. Aku belum naik ke kelas sebelas saat kejadian itu terjadi. Beberapa lama aku memilih gak sekolah. Aku kebingungan dengan biaya yang harus kutanggung, aku bingung menata masa depan tanpa orangtua di sisiku. Di saat yang benar-benar kritis, aku bertemu dengan salah satu jin peliharaan Ki Mengkis. Jin peliharaan Ki Mengkislah yang mengantarkan Ki Mengkis ke rumah lalu menjemputku. Sejak itu, aku tinggal bersama Ki Mengkis sampai aku menikah dengan Steve. “Kita gak akan pernah tahu misteri masa yang akan datang.” Aku menoleh, memandang Steve yang menatapku dengan dua alis terangkat. “Siapa yang bakal nyangka kalo aku bisa kawin sama bocah kayak kamu.” Aku tertawa terbahak-bahak, Steve tersenyum. “Aku juga tak pernah menyangka. Mengikuti kepindahan Daddy malah membuatku bertemu denganmu.” Steve membelai puncak kepalaku. “Aku jatuh cinta padamu sejak kamu menabrakku. Kamu membuatku tidak dimasuki sari dan itu benar-benar menawan,” “Kalo aku tahu kamu demon hunter, aku gak bakal menolongmu Steve.” Aku mendesis, menatap Steve dengan tatapan merendahkan. “Tentu saja. Bunga, Bungaku yang terindah. Aku mencintaimu. Bunga, ayo nana nina,” Ya ampun, Steve. Kambuh lagi penyakitnya. Aku mencibir, berdiri dan meninggalkan cowok yang membuat perasaanku jadi nano-nano. Steve merangkul pundakku, mencium pipi dan sukses membuatku ketakutan kalo-kalo Bu Yanti melihat ulahnya. Aku gak tahu dihukum apalagi kalo sampai ketahuan olehnya. “Kamu jangan gitu, Steve! Apa kamu lupa gimana kita kena masalah gara-gara kelakuan mesummu?” “Ada masalah? Kita kan suami istri. Honey, ke gudang belakang yuk. Pemanasan aja sambil menunggu pulang.” Aku melotot tapi Steve memaksaku mengikutinya. “Kamu jangan sinting, Steve! Kamu ini kenapa sih?” Steve mencekal tanganku, menarikku dan memaksaku berjalan mengikuti langkah lebarnya. Kami berdua melewati kantin yang cukup ramai dengan murid-murid kelas dua belas dan berakhir masuk ke gudang. Aku dan Steve melongo sewaktu melihat adegan syur yang sedang terjadi di dalam gudang. Aku memandang Steve beberapa lama sebelum kembali melihat pemandangan yang membuatku gerah. Steve berdehem, membuat dua manusia berbeda jenis kelamin kaget dan menghentikan kegiatannya. “Steve ... Bunga!” Hengky mendorong Sekar menjauh. Baik Hengky maupun Sekar mendekati kami sambil menunduk. “Santai saja. Aku dan Bunga juga mau pemanasan disini.” Steve tertawa, membuatku melotot kepadanya. Hengky melotot, tentu saja karena Steve suka bicara semaunya. Aku membuang muka, menahan wajah yang memanas juga karena Steve.                                                                                                                                                                                              “Kak Steve. Aku ingin bicara empat mata denganmu.” Sekar membuatku memicingkan mata. Baru saja cium-ciuman sama Hengky, kenapa dia mengajak Steve untuk bicara empat mata? Sangat mencurigakan sekali. Jangan-jangan Sekar balik menyukai Steve lagi? “Bicara saja disini! Aku dan Bunga tidak main rahasia.” Ucapan Steve membuat senyumku merekah indah. “Oh ... Gak jadi wes.” Sekar menghela napas berat. “Gak papa Steve. Biarkan dia bicara empat mata denganmu. Aku sendiri ingin bicara empat mata dengan Hengky.” Aku berusaha menjadi wanita yang baik dan gak mudah cemburuan meskipun sebenarnya aku gak rela kalo Steve bicara berdua saja dengan Sekar. “Ya sudah,” ucap Steve. Kupikir Steve bakal bertahan gak mau bicara empat mata sama Sekar, eh gak tahunya malah dengan gampangnya mau setelah aku memintanya. Aku menyesal sudah mengatakannya tadi, tapi sudah terlanjur ku katakan jadi aku harus menerima resikonya. Sekar dan Steve keluar gudang, mereka berdua berbicara di depan pintu tapi gak kedengeran apa yang mereka bicarakan. Aku memandang Steve yang sedang berdiri sambil memandang Sekar, dua tangannya masuk ke dalam saku. Sementara Sekar memandang Steve dengan begitu serius, tentu saja karena Steve sangat ganteng sekali jadi siapapun gak bakal bisa melarikan diri dari pesonanya. “Kamu tenang saja! Sekar dan aku pacaran. Dia gak akan merebut Steve darimu.” Hengky berusaha membesarkan hati. “Bunga. Sebentar lagi kita berpisah. Maafkan aku kalo selama ini gak sengaja membuat salah kepadamu.” Hengky membuatku menoleh. Aku tersenyum, mengingat kembali saat aku menjadi penggemar rahasianya selama tiga tahun ini. Menghabiskan waktu dengan memandangnya dari kejauhan adalah hal yang benar-benar sulit untuk dilupakan. “Sama-sama. Aku pasti akan merindukan masa-masa sekolah,” “Seandainya saja aku tahu dari awal. Gak ada salahnya aku mengenalmu. Kamu gak semisterius yang aku kira. Kamu juga gak segila yang aku kira,” Aku melongo, maksudnya apa dia berkata begitu? Kalo menganggap aku misterius, okelah aku terima. Tapi menganggapku edan? Wow, yang benar saja. Tiba-tiba seseorang merangkul pundakku. Mencium bibirku dengan rakus sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak, aku kaget dengan ulahnya yang selalu saja aneh bin ajaib. “Jangan pernah punya pikiran merebut dia dariku. Bunga is mine.” Nahlo Steve kambuh lagi cemburuannya. “Kamu ini apa-apaan sih Steve? Semua orang di sekolah ini juga tahu. Aku dan kamu pacaran. Hadew,” “Kita sudah menikah, Honey. Bahkan aku sudah menanam saham disini.” Steve menyentuh perutku. “Steve. Kalo ngomong di rem kenapa? Gak malu dilihat Hengky dan Sekar?” Aku cemberut, bocah semprul satu ini selalu saja membuatku kehilangan muka di depan Hengky. “Honey. Aku ingin menanam saham lagi. Ayolah-ayolah.” Steve merengek macam bocah. Hengky dan Sekar tertawa, aku menutup muka saking malunya. Steve sedang menggergaji saraf maluku. Tapi belum hilang rasa malu, Steve kembali mencium bibirku, menarik bibir atas dengan mulutnya sampai aku gak bisa lepas. Aku memukul pundaknya beberapa kali tapi Steve bertahan. Ciumannya lama-lama memabukkan, aku yang awalnya malu malah menikmatinya. Mengalungkan kedua tangan di lehernya dan melanjutkan ciuman maut yang sangat memabukkan. “STEVE ... BUNGA. APA YANG KALIAN LAKUKAN?” teriak Bu Yanti. Steve memberiku hadiah super istimewa di hari terakhir sekolah. Bu Yanti marah besar karena menangkap basah kami berdua, anehnya aku gak sadar sejak kapan Hengky dan Sekar meninggalkan kami. Sebagai hukumannya, aku dan Steve kembali dikurung di kamar mandi. Gak boleh keluar sampai kamar mandi bersih dan kinclong. Mana lagi disini ada tiga kamar mandi yang harus dibersihkan. Baunya ampun-ampun dah. “Steve edan. Sialan bener dah. Kenapa kamu ngajak aku gituan di gudang? Kalo sudah gini, aku malu banget. Pasti jadi bahan tertawaan.” Aku melempar sikat WC. Makin jengkel lagi saat melihat Steve asyik merapikan rambutnya dan gak ngapa-ngapain. Steve memutar badan, mendekatiku dengan muka mesumnya. “Honey. Nana nina disini, yuk. Buat kenang-kenangan.” Steve mendorongku masuk ke salah satu kamar mandi. Mengurungku dan bersiap mencium bibirku. Aku mengambil gayung, mengisinya dengan air dari kamar mandi dan mengguyurkannya ke Steve. “Honey!” Steve mengibaskan kemejanya. “Steve. Kamu itu dengerin aku gak sih? Dari kemarin minta nana-nina terus tapi gak mau dengerin aku. Kamu jangan bikin aku sebel kenapa sih.”   Steve mengembuskan napas, ia melepas kemejanya yang basah dan menyampirkannya ke pintu kamar mandi. “Kamu jangan marah-marah terus, Honey. Wajarkan kalo suami minta nana nina,” Pengen jambak rambut kalo mendengar soal nana nina terus. Padahal yang aku mau itu Steve mengerti dengan keinginanku bukan masalah nana nina. Aku pengen teriak buat membuang kekesalan tapi tentu saja aku gak melakukannya, aku sudah terlalu malu dan gak mau membuat ulah baru di hari terakhir sekolah. Aku jongkok, melipat kedua tangan di atas lutut. Aku membenamkan wajah, menarik napas dalam buat menahan emosi yang siap meledak lagi. “Honey. Jangan begini dong ... Honey. Ya sudah aku gak maksa kamu. Aku akan membuatmu ingin nana nina sama aku.” Steve kembali tertawa. Aku menarik napas dalam dari hidung lalu membuangnya dari mulut. “Steve.” Aku memandangnya dengan dua mata siap menumpahkan airmata. “Ehm ... jadi, kamu ingin kita main pelan-pelan?” Steve hendak menyentuh pundakku, tapi aku langsung menepis tangannya. “Apa di otakmu gak ada yang lain selain nana nina?” “Ada...” “Apa?” “Menyentuhmu, menciummu dan ehm...” Aku menundukkan kepala, sumpah kali ini aku ingin menelan cowok di depanku bulat-bulat. Oalah Steve, kenapa kamu jadi super edan seperti ini toh???????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN