Minggu tenang sebelum UNAS, demon hunter meliburkan aku dan Steve dari tugas agar bisa mempersiapkan diri mengikuti ujian nasional. Seharian aku membaca buku pelajaran tapi otakku kacau karena ulah Steve. Semalaman aku susah tidur karena aku gak mau dia diam-diam menyentuhku. Aku masih marah sama dia. Hanya dengan ini aku bisa membuatnya sadar kalo aku benar-benar sangat marah.
Setengah berbaring di atas ranjang, berhadapan dengan Steve yang sedang membaca komik. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam toples yang diletakkan di sebelahnya untuk mengambil kacang goreng dari dalamnya.
“Kamu ini harusnya belajar. Bukannya malah baca komik kayak sekarang,”
Steve meletakkan komiknya di atas pangkuan, memasukkan segenggam kacang ke dalam mulutnya. “Khan ada khammu. Nannthi chonthekan yya.” Steve bicara sambil mengunyah membuat beberapa remahan kacang muncrat dari mulutnya.
“Steve, menjijikkan.” Aku melotot, satu kakiku menendang kakinya.
“Honey. Gimana kalo kita double date dengan Hengky?” Wah Steve bener-bener stres ini.
“Kita ini mau ujian. Harusnya ini buat persiapan kita bukannya malah main gak jelas.” Aku kembali membaca buku meskipun sulit untuk berkonsentrasi.
“Justru mumpung belum lulus. Kita main-main dulu. Nonton bioskop terus kita check in hotel. Belajar disana.” Steve memainkan dua alis, aku mengambil penghapus dan melemparnya ke kepala Steve.
“Dimana Steve yang serius kemarin?”
“Kan sedang cuti. Jadi sekarang aku adalah Steve asli, bukan abal-abal,”
“Jadi Steve songong, sok ngatur itu Steve abal-abal?”
“Steve, kapten tim alpha yang hebat sedang tidur. Sekarang aku Steve yang tampan dan menyenangkan. Honey, nana nina yuk...” Steve merangkak mendekatiku.
Aku murka dengannya, bagaimana bisa Steve jadi bebal lagi. Huaa, ini bocah bener-bener bisa membuatku gila. Kok bisa dia punya dua sifat aneh tapi sama-sama menyebalkan. “Noh nana nina pake apel dilubangi. Sama aja kan?”
Steve melongo, duduk berhadapan denganku. Ia mengacak-acak rambut sambil tertawa lebar. “Ayo Hon. Pengen nih. Nanti habis nana nina, aku turuti semua maumu. Kamu mau beli rawon setan di Surabaya, hayo. Mau makan ayam bakar di Pasuruan, hayo.”
“Aku gak mau kamu mengatur hidupku. Aku mau tetep jadi demon hunter. Aku mau kamu gak seenakmu sendiri,”
“Itu lain cerita, Hon.” Air muka Steve berubah serius. Selalu seperti itu kalo membahas soal demon hunter.
“Ya sudah. Sana ambil apel di kulkas. Lubangi sedalam ukuranmu!” Aku bangkit, meninggalkan Steve yang kembali membuatku sakit hati.
***
Hari UNAS tiba. Aku mempersiapkan diri untuk berangkat ujian. Memakai seragam bersih, memeriksa kartu ujian dan alat tulis sebelum aku berangkat sekolah. Berbeda dengan Steve yang kebingungan mencari kartu ujiannya. Ia mengorek isi tas untuk mencarinya.
“Kamu taruh dimana sih Steve?” Aku membuka laci meja belajar, ikut membantunya mencari kartu ujian.
“Seingatku, aku simpan di dalam tas. Tapi entah kenapa bisa raib.” Steve menyerah, ia berdiri dengan dua tangan bersandar pada meja.
“Atau jangan-jangan kemarin masuk mesin cuci lagi.” Semoga tebakanku salah.
Steve menatapku horor, sepertinya perkiraanku benar. Steve berlari keluar kamar, meninggalkan tasnya begitu saja. Aku hanya bisa geleng-geleng, memasukkan alat tulis ke dalam ransel Steve dan membawanya keluar.
Steve menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, membuat Mas Martin, Daddy dan Mommy geleng-geleng melihat ulah keluarganya. Aku menuruni anak tangga dengan santai, jam masih menunjuk angka enam pagi jadi masih ada waktu lama buat menikmati sarapan.
“Apa kamu siap, Sayang?” Mommy menyentuh pundakku.
“Siap, Mom. Aku sudah belajar keras selama seminggu ini,”
“Semoga Steve lulus tahun ini. Jika tidak, entah dia mau pindah kemana lagi.” Mas Martin membuatku kaget, jadi Steve pernah gak lulus sekolah. Wow.
Mas Martin berjalan ke ruang makan, aku penasaran dengan ucapannya. “Beneran Steve pernah gak naik kelas?” Aku berjalan beriringan dengan Mas Martin.
“Lebih tepatnya dua kali tidak lulus sekolah.” Mas Martin menarik kursi, duduk di atasnya kemudian mengambil setumpuk roti isi daging.
“Dua tahun gak lulus sekolah. Astaga...”
Tuh bocah parah amat, gak naik kelas sampe dua tahun. Pantas saja dia bertahan di demon hunter, pasti karena dia males sekolah. Ya ampun Steve, gak menyangka banget kalo bule seperti dia juga bisa gak naik kelas.
Steve berjalan dengan lunglai, menarik kursi dan duduk di sebelahku. Aku melihat kartu ujian yang sudah dilaminating begitu lecek. Aku yakin kartu itu sempat terendam di dalam bak cucian.
Mommy masuk ke ruang makan sambil membawa nampan berisi empat gelas s**u. Ia meletakkan nampan itu di atas meja. Daddy datang dengan memakai jaket dokternya, ia duduk di atas kursi miliknya. Memandang Steve dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Makanya Steve, jangan hanya bisa bermain saja! Seharusnya kamu malu sama Bunga,” kata Mommy.
“Itu kalo dia masih punya syaraf malu,” celetuk Mas Martin.
“Aku tidak bisa pintar di segala bidang. Setidaknya, aku pandai bertarung dan pandai b******a,” timpal Steve.
Aku menutup muka, mendengar ucapan Steve membuatku malu sendiri. Punya suami sedeng seperti Steve memang harus punya muka dan kuping tebal, juga harus punya mental baja karena Steve luar biasa.
“Kali ini pastikan kamu lulus atau Daddy tidak akan menyekolahkanmu lagi!” Daddy benar-benar serius saat mengatakannya.
Steve menangkup roti isi dan memakannya, ia gak banyak bicara. Menikmati makanannya dengan tenang dan tanpa dosa.
Amit-amit jabang bayi, jangan sampai aku punya anak macam Steve.
***
Berada di sekolah, hal pertama yang aku dan Steve lakukan adalah bertemu dengan sari serta jambrong. Mereka berdua masih sangat bersedih karena kehilangan rukmini setelah dimusnahkan oleh ratu uswa.
Aku, steve, jambrong dan sari merasa sangat kehilangan rukmini. Meski dia hobi menjahili murid-murid cowok tapi dia teman yang baik bagiku. Aku sering berbicara dengannya saat aku di gudang. Tempat kedua yang ku suka setelah di bawah pohon beringin.
Duduk di bawah pohon beringin, aku duduk berdampingan dengan Steve. memandang jambrong dan sari yang sejak tadi menangis gak berhenti-henti.
“Sudahlah. Kalian menangis terus, rukmini tetap tidak akan kembali,” hibur Steve.
“Meskipun rukmini jeleknya amit-amit. Tetap saja aku gak rela rukmini harus lenyap seperti ini.” Jambrong kembali menangis histeris.
“Meskipun tanpa rukmini, aku jadi demit paling cantik disini. Tapi tetap saja gak enak kalo gak ada rukmini.” Kali ini sari yang menangis keras.
Aku dan Steve bersitatap, cara aneh mengungkapkan kesedihan. Mau bersimpati rasanya susah, mau ikut sedih malah ingin tertawa. Steve berdiri, ia menarik lenganku dan mengajakku pergi meninggalkan duo setan yang masih menangis sambil berpelukan.
***
Aku duduk dengan tenang, mengerjakan soal ujian yang membuatku senang karena bisa mengerjakan banyak soal ujian dengan mudah. Aku membaca soal ujian dengan perlahan sebelum menjawabnya. Setelah tahu jawabannya, aku segera mengisi lembar jawaban dengan hati-hati. Aku kembali membaca soal dengan saksama saat mendengar seseorang berbisik.
“Ssst ... ssst ... Bunga ... Honey....” Aku mendengar bisikan Steve, tapi aku pura-pura gak mendengar. Posisi Steve ada di bangku paling depan di pojok kanan, sementara aku duduk di bangku nomer dua dari pojok kanan dan nomer empat dari depan. Pasti gampang ketahuan oleh guru pengawas.
“Ssst ... Honey. Aku Steve....” Steve sekali lagi berbisik.
Aku menahan napas, Steve benar-benar membuatku sulit. Aku takut guru pengawas melihat kami, membuatku semakin menunduk. Steve menimpuk kepalaku dengan bola-bola kertas. Steve benar-benar membuatku kesal. Aku memandangnya dengan muka marah tapi Steve malah melihatku dengan tampang cengengesan. “Honey. Satu sampai tiga puluh.” Ia berbicara dengan hanya membuka mulut tanpa bersuara, sialnya aku bisa mengerti yang ia ucapkan.
Aku mendelik, satu sampai tiga puluh itu namanya bukan nyontek tapi nyalin jawaban. Aku menggeleng, susah payah aku mengerjakan soal. Gak mungkin aku mau memberikan jawabanku padanya.
Daripada aku senewen dengan Steve, lebih baik aku kembali mengerjakan soal.
“Pak. Saya ijin ke belakang,” seru Steve.
Guru pengawas yang sejak tadi duduk di atas kursi guru memandang Steve. “Silahkan! Tapi jangan lama-lama,” kata guru pengawas.
Steve keluar dengan tergesa-gesa, sekali lagi aku geleng-geleng melihat ulah Steve. Aku kembali mengerjakan soal ujian. Sari tiba-tiba muncul di sebelahku, aku gak peduli dengannya. Aku terus mengerjakan soal sampai akhirnya semua selesai ku kerjakan.
Aku mengencangkan otot-otot yang kaku, sebelum mengumpulkan soal, lebih baik aku periksa sekali lagi. Setelah selesai, aku melihat Steve sedang mengerjakan soalnya. Aku tersenyum, akhirnya Steve bisa mengerjakan soal dengan tenang.
Sari berdiri di sebelahku, beberapa lama kemudian ia berjalan ke arah Steve. Sari menyebut angka dan huruf bergantian, sialnya itu semua adalah jawaban dari setiap soal yang telah ku kerjakan.
STEVE SIALAN, KAMU BENAR-BENAR MENYALIN JAWABANKU
***
Duduk di atas ranjang, aku memandang Steve yang sedang mempersiapkan cat semprot berwarna merah, biru, hijau dan kuning serta spidol besar. Ia memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya.
Besok adalah hari pengumuman kelulusan, sari sudah memberi tahu kami kalo murid sekolahku lulus semua. Steve girang sekali, tentu saja mengingat dia sudah tinggal kelas selama dua tahun berturut-turut.
“Cie-cie yang akhirnya lulus,” ledekku.
Steve tertawa lebar, ia membuka satu cat semprot berwarna merah lalu menyemprotkannya. “Tentu dong. Akhirnya setelah perjuangan panjang. Aku bisa lolos sekolah juga.” Mendengar ucapan Steve, aku tertawa lebar.
Tentu saja dia bisa lulus, orang semua jawabannya sama persis dengan jawabanku. Selama sekolah, aku selalu masuk sepuluh besar jadi bukan hal aneh kalo aku lulus dengan mudah.
***
Memakai seragam putih abu-abu untuk terakhir kali. Aku memandang kerumunan murid sekolah yang sedang membaca hasil UNAS yang dipajang di mading. Semua murid bersorak setelah melihat nilai mereka. Steve pun sudah tertawa sambil menyemprot teman-teman dengan cat semprotnya.
Setelah mading kosong, aku mendekati mading dengan perlahan. Memandang barisan nama-nama untuk mencari namaku. Setelah melihat namaku beserta nilainya, aku mencari nama Steve dan melihat nilainya. Aku kaget setelah melihat nilai Steve lebih baik dariku padahal Steve hanya mencontek jawabanku.
Geram, aku mendekati Steve. Aku gak terima karena aku sudah belajar susah payah tapi nilaiku kalah oleh Steve yang sehari-hari gak pernah belajar.
“Honey. Kita lulus!” Steve tertawa sambil merentangkan kedua tangan, hendak memelukku tapi aku menghindarinya.
“Apa kamu gak senang kita lulus?”
“Aku ... aku senang. Tapi aku gak senang karena nilaimu lebih baik dariku,”
“Nilai gak penting Honey. Yang penting kita lulus,”
“Gak penting gundulmu! Rugi aku begadang setiap malam buat belajar. Kalo tahu nilaiku lebih jelek darimu, mending aku ikut baca komik sama kamu.” Aku jadi histeris dan semakin histeris karena Steve gak peduli, ia malah menyemprotku dengan cat semprot warna-warni.
DASAR STEVE SIALAN. AWAS SAJA KAMU!