Steve dengan mudahnya mengatakan ke Daddy kalo aku sebaiknya gak bergabung dengan demon hunter. Dia bahkan memaksaku tetap di rumah dan menjadi ibu rumah tangga biasa. aku benar-benar kesal dengannya, sudah seenaknya mengatur hidupku.
Di dalam kamar, aku menahan diri agar gak meledak. Steve baru saja keluar dari kamar mandi, ia menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.
“Kenapa kamu lakukan itu padaku, Steve?” Aku duduk di atas kursi di depan meja rias.
“Sudah jelas kan?” Steve melempar handuk basah ke ember khusus baju kotor yang ada di belakang pintu.
“Jangan atur hidupku seenak perutmu. Aku gak suka,”
“Kamu istriku, jadi kamu harus patuh padaku.” Steve menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Aku memandangnya lekat. “Setelah kamu kawinin aku. Kamu sudah menghancurkan mimpiku dan sekarang kamu mengatur hidupku? Kamu jahat sekali Steve,”
Steve memandangku lekat. “Apa lelaki yang melindungi istrinya itu jahat? Kamu jangan begitu, Hon. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu,”
“Kalo mencintaiku ya seharusnya kamu membiarkan aku melakukan apapun yang aku mau.”
“Menjadi demon hunter bukan hal mudah. Kalo kamu mau, kamu boleh jadi polisi ... lalu lintas,”
Aku mendelik, enak saja aku disuruh jadi polisi lalu lintas. Aku gak mau disuruh mengatur jalan di siang yang sangat panas. Kulitku bisa benar-benar kayak ular anaconda kalo aku mau melakukannya.
Steve bangkit, ia mendekatiku dengan langkah lebar. Mengurungku antara dirinya dan meja rias. “Kamu bisa kuliah kalo kamu mau. Aku akan membiayaimu,”
Aku memandang Steve, kami bersitatap. Kalo aku kuliah, aku masih bisa mengejar mimpiku yang terhalang. Tapi untuk jadi sekretaris, katanya gak boleh berstatus menikah. Kalo itu benar, berarti aku tetap saja gak bisa meraih mimpiku. Steve sudah mengandaskannya.
“Kamu bisa kuliah kedokteran, keperawatan atau kebidanan. Setelah itu, kamu bisa bekerja di rumah sakit milik Daddy.” Steve membuatku melotot.
“Aku ini ingin jadi sekretaris. Bukan dokter, bidan atau perawat. Kalo memang menyuruhku kuliah. Harusnya kamu biarkan aku memilih jurusan yang ku mau,”
“Sekretaris bukan pekerjaan yang bagus. Aku tidak mau kamu bekerja di bawah bos laki-laki hidung belang lalu bisa saja jadi simpanan mereka,”
Aku berdiri, kaget mendengar alasan dari Steve. “Kamu ini jangan keterlaluan. Gak semua bos hidung belang dan gak semua bos itu laki-laki,”
Steve ikut berdiri, ia meletakkan dua tangannya di pundakku. “Tapi kamu tidak akan bisa tahu kecuali kamu sudah menjadi sekretaris mereka,”
“Atau kamu saja yang mengurus rumah sakit Daddy? Aku bisa jadi sekretarismu.” Aku tersenyum, bagiku ini adalah gagasan yang paling menarik.
“Tidak bisa. Keluarga Johnson harus ada yang mengurus demon hunter. Itu sudah menjadi wasiat. Martin yang akan melanjutkan usaha Daddy. Patty sudah jelas dia terlalu lemah untuk menjadi demon hunter.”
“Kalo gitu biarkan aku membantumu. Aku sangat hebat, kamu sudah tahu kan,”
Bibir Steve mengkerut, ia semakin mendekatkan wajahnya kepadaku, sangat dekat sampai aku gak bisa melihatnya dengan jelas. “Tawaran bagus. Jika bukan dari kamu.” Steve menjauh, ia kembali ke ranjang dan membaringkan badannya.
“Oh, kalo tawaran itu dari Sonya. Kamu pasti mau iyakan?” Aku memandang Steve sambil melipat dua tangan.
“Sonya? Anak tim beta itu. Sayangnya dia bukan tipeku,”
“Apa maksudmu kalo dia tipemu, kamu bakal gebet dia?”
Steve membelalakkan mata, ia tersenyum gak jelas. “Kamu cemburu?”
Aku melongo, enak saja aku dibilang cemburu. Aku bukan seperti dia yang gampang banget cemburuan sampe-sampe aku dilarang ngobrol dengan tiga anggota tim alpha lainnya. “Kamu memang ganteng. Tapi kamu sangat menyebalkan. Seandainya aku tahu kamu seperti itu. Aku males sama kamu,”
“Males apa males? Sini-sini, aku peluk. Ehm, mau ku pijat plus-plus?” Steve membuka kedua tangannya, wajahnya sangat riang.
“Selama kamu ngatur-ngatur hidupku. Jangan harap aku mau kamu kelonin.” Aku memutar badan, mendekati pintu aku langsung keluar kamar.
Aku berjalan ke kamar Patty, untung saja kamar itu kosong karena Patty sudah balik ke Kanada. Aku bisa tidur di kamarnya daripada aku pusing tidur sama Steve. Aku berbaring di atas ranjang kecil dengan sprei berwarna putih. Di atas nakas, ada sebuah bingkai berisi foto keluarga dimana aku pun masuk di dalamnya. Aku mengambil bingkai itu, memandang foto dimana Steve merangkulku dengan senyum sumringah.
Aku menyentuhnya, Steve itu ganteng sekali. Dia kocak dan konyol, itu yang aku suka darinya. Tapi semenjak aku tahu dia kapten tim alpha di demon hunter. Dia berubah jadi sok. Aku rindu Steve yang dulu. Aku mengecup foto Steve, bersamaan dengan pintu terbuka dan Steve masuk ke dalam.
Steve mendekatiku, aku mengembalikan bingkai foto ke tempatnya. “Daripada mencium foto. Ini cium orangnya.” Steve mengerucutkan bibir, bersiap nyosor bibirku.
Aku menguncit bibirnya, Steve tertawa terbahak-bahak. Melihatnya, membuatku senang tapi kalo ingat dengan apa yang tadi dia katakan. Aku jadi sebal lagi. “Ngapain kesini?” Aku melipat dua tangan.
“Kelon...” Steve memeluk badanku, aku berusaha menepisnya.
“Sana minta kelon Mommy. Enak saja sudah mengaturku sekarang minta tidur sama aku,”
“Suami istri gak boleh pisah ranjang. Bunga, aku mencintaimu,”
“Cinta apaan? Kalo cinta jangan atur-atur dong. Kalo suka atur-atur itu namanya bukan cinta,”
“Karena aku mencintaimu, makanya aku mengaturmu,”
“Oh, apa peternak bebek cinta bebeknya, makanya suka atur-atur? Peternak sapi cinta sapinya makanya suka atur-atur?” Aku menggeser tempat, Steve langsung berbaring di sebelahku.
“Bunga. Kalo marah makin cantik. Jadi pengen cium.” Sekali lagi Steve mengerucutkan bibir, aku mengambil guling dan menutup mukanya dengan guling.
“Cium dan kelonin tuh guling!” Aku bangkit, melangkah keluar kamar dengan setengah berlari.
“Bunga. Awas kamu!” Steve bangkit dari ranjang, ia berlari mengejarku.
Aku berlari menuruni anak tangga sementara Steve masih berusaha meraihku. Aku mendekati Mommy dan Daddy. Keduanya baru saja pulang dari rumah sakit. Aku bersembunyi di belakang Mommy. Steve menarik tanganku tapi aku menyembunyikannya dan berpindah ke belakang Daddy.
“Kalian ini ngapain?” Mommy keheranan.
“Dia sedang marah dan tidak mau tidur seranjang dengangku.” Steve membuat Mommy memutar badan.
“Benarkah itu Bunga?” Mommy menatapku lekat.
Gara-gara Steve, aku diceramahi sama Mommy. Katanya sekalipun seorang istri kesal dengan suami tapi istri gak boleh membiarkan suaminya tidur sendiri. Semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan dengan baik tanpa harus pisah ranjang segala.
***
Berbaring di atas ranjang, aku memandang Steve yang sudah berbaring di sebelahku. “Sudah suka mengatur. Suka mengadu pula. Dasar!” gerutuku.
“Ternyata kamu takut Daddy dan Mommy. Sebaiknya selamanya kita hidup dengan mereka.” Steve tidur miring menghadapku. Menatapku dengan senyum yang dari tadi gak hilang-hilang.
“Tentu saja. Gaji demon hunter gak bakal bisa membuatmu kaya dan bisa membangun rumah sebesar ini kan?” sindirku.
“Menjadi petugas pemerintah adalah bentuk pengabdian. Kita tidak bisa mengukurnya dengan besaran gaji yang diterima,”
“Gitu nyuruh aku kuliah. Kalo aku beneran kuliah terus uangnya dari mana?” Aku berbaring menghadap Steve.
“Aku bisa ambil hutang di koperasi. Atau minta Daddy biayain kuliahmu,”
Aku mendelik, gak menyangka ternyata bule gaje satu ini punya otak kampungan sepertiku. “Ya ampun Steve. Kamu ini beneran produk luar negeri apa produk dalam negeri yang disepuh?” Aku geleng-geleng.
Steve tertawa terbahak-bahak. “Aku bule dari luar tapi di dalam sini, aku orang Indonesia asli.” Steve menunjuk dadanya.
“Jangan bangga jadi orang Indonesia macam kamu. Suka hutang bukan karena kamu orang Indonesia tapi otakmu miring. Ya ampun, parah bener kamu ini ya.” Aku meniup udara untuk membuang kesal.
“Kalo otakku tidak miring. Mana bisa aku mencintai cewek sepertimu,”
Steve membuatku melotot, apa maksudnya karena otaknya miring makanya dia bisa mencintaiku. Kalo gak miring, dia gak bakal mencintaiku. Aku tertawa miris mendengar ucapannya.
Aku memutar badan, memunggungi Steve dan memeluk guling. Steve berusaha memelukku tapi aku menyikut dadanya. “Jangan sentuh aku!” Aku menoleh, memandangnya tajam.
Aku menyembunyikan wajah di bantal, menahan kesal karena ulah Steve.
“Apa aku membuat salah?”
“Enggak,”
“Kalo begitu kenapa kamu seperti ini? Honey, ayo kita nana nina. Pingin nih.”
“Nana nina sama guling tuh. Otakmu kan miring, sama guling apa bantal gak ada bedanya sama aku,”
“Kamu marah ya. Maaf ya Hon.” Steve kembali berusaha memelukku tapi aku menggeser badan sampai di tepi ranjang.
Aku memutar badan, menendang badan Steve sampai ia menggeser badannya di tepi ranjang yang lain. Aku meletakkan guling di tengah-tengah kami. Aku gak mau bersentuhan dengan Steve. “Jangan sentuh aku! Kita tidur seranjang tapi guling ini pembatas kita,”
“What?” Steve duduk, ia memandangku dengan mulut terbuka.
Aku ikut duduk, memandangnya tajam. “Aku gak mau tidur sama cowok berotak miring kayak kamu. Aku gak mau ketularan berotak miring kayak kamu,”
“Hei. Aku kan sudah minta maaf,”
“Makan tuh maaf. Enak saja habis bikin kesal main minta maaf. Noh penjara pasti kosong kalo orang buat salah sudah dimaafin,”
“Kamu bicara apa?”
“Aku bilang aku gak bisa maafin kamu. Aku gak mau dicintai cowok yang berotak miring. Paham?”
“Aku tadi tidak bermaksud begitu. Honey, kita nana nina saja buat meredam kemarahan.” Steve berusaha memelukku lagi, aku jadi senewen dengannya.
“Steve. Kamu ini denger aku gak sih? Aku bilang aku marah. Jangan seenaknya ngajak orang marah buat nana nina ya,”
“Honey. Marah-marah bisa membuat kulitmu berkeriput,”
“Kalo gak mau aku berkeriput ya jangan membuatku kesal. Atau kamu sengaja biar aku kesal. Berkeriput terus kamu melirik cewek lain?”
“Tidak akan ada perempuan lain selain dirimu, Hon. Sekalipun Dewi Aphrodite turun ke bumi, sekalipun Dewi Sri mendekatiku. Aku tetap akan mencintaimu. Sekarang dan selamanya,”
“Gombal,”
“Serius! Biar pun badanmu nanti melar karena melahirkan anak-anak kita. Biar pun mukamu jerawatan dan penuh flek-flek hitam karena efek KB. Aku tetap akan mencintaimu,”
“Kamu doain aku biar badanku nanti melar? Kamu doain aku biar mukaku jerawatan dan banyak flek-flek hitam? Steve. Kamu jahat sekali.” Aku menangis, gak percaya Steve sudah merusak hidupku.
Aku menyesal menikahi Steve si kutu kupret, bule gaje yang bikin aku senewen setengah mati. Ki Mengkis, tolong aku!!!