Ratu Uswa

1586 Kata
Aku memandang lekat ke arwah penasaran yang sudah membuatku berada dalam situasi yang benar-benar gak menyenangkan. Arwah penasaran itu mendekat dengan langkah sangat pelan, gayanya seperti orang yang ambruk kalo tertiup angin. Kulit retak-retaknya berdenyut-denyut, bikin tangan gatal ingin membuka retakan itu seperti membuka kulit buah durian. “Dua demon hunter. Sangat mengejutkan,” kata arwah yang gak lain bernama ratu uswa. Aku berdiri tegak, bersiap melempar jurus yang bisa membuatnya gak berdaya. Tiba-tiba ratu uswa membuka mulut, menunjukkan serangkaian gigi runcing dan aku yakin pasti mengeluarkan bau yang sangat menjijikkan. Suara teriakan yang sangat melengking terdengar keras, membuat kepalaku pusing sekali. Tanpa buang waktu, aku melempar cahaya bola kuning tepat mengenai dadanya. badannya mundur beberapa langkah sebelum ia kembali mengeluarkan suara tawa jeleknya. “Semuanya serang mereka!” Lagi-lagi arwah itu memanggil anak buahnya. Puluhan hantu datang tiba-tiba. Kembali aku dan Steve harus bahu-membahu mengeluarkan seluruh kemampuan kami untuk melawan demit, setan, pocong, genderuwo, kuntilanak, vampire, zombie dan sebagainya. Segala jenis hantu ada disini, sampai aku gak tahu jenis-jenisnya. Di saat Steve sibuk melawan mereka, perlahan aku mundur untuk keluar dari ruangan ini sambil menangkis serangan yang ada. Seorang kuntilanak terbang mendekat, Steve menjinjit dan menarik rambutnya. Kuntilanak itu jatuh terjerembab, Steve melempar bola cahaya merah ke arah kuntilanak itu. d**a kuntilanak itu berlubang dan mengeluarkan belatung yang berasal dari lubang punggungnya. Seseorang tiba-tiba menjambak rambutku. Mayat hidup cewek bermuka pucat dengan luka bernanah menghiasi dahinya menatapku sambil menunjukkan barisan giginya yang sudah membusuk. Aku mengeluarkan jurus qulhu geni, memukul d**a jeleknya dan membuat tangan kirinya putus. “Bunga. Putus kepalanya! Itu cara membunuh zombie,” teriak Steve. Aku menjambak rambutnya yang lepek, menariknya sekuat tenaga. Aku membaca ajian untuk memberiku kekuatan fisik luar biasa. Setelah itu, aku berputar dengan dua tangan masih menjambak mayat hidup yang kata Steve bernama zombie. Badan zombie berputar searah dengan arah putaranku, kedua kakinya jadi senjata dan menjatuhkan beberapa zombie lainnya. Setelah memastikan jalan yang mau ku lewati aman, aku segera berlari keluar. Mencari keberadaan arwah penasaran yang sudah membuat masalah besar. Aku menoleh, aku yakin Steve masih berusaha meloloskan diri dari serangan mereka tapi aku yakin dia bisa mengatasinya. Aku melanjutkan langkah untuk mencari keberadaan uswa. Sampai di depan rumah, aku melihat uswa kembali menyerap hantu. Setelah hantu itu menghilang, kepala gundulnya tiba-tiba ditumbuhi rambut. Uswa memandang ke arah kanan, membuatku mengikuti arah pandangannya. Di sebelah kanan ternyata ada beberapa hantu yang dirantai dan dijaga oleh para zombie. Uswa menggerakkan jarinya, satu zombie menarik genderuwo ke uswa. Uswa mencekal leher genderuwo, kemudian ia menyerap genderuwo sampai lenyap. Setelah genderuwo menghilang, kali ini kulit retak-retaknya menghilang tapi kerutan tampak sangat jelas. “Kita serbu dia sebelum benar-benar menjadi seperti semula.” Steve berdiri di sampingku. Steve menatapku sambil tersenyum. “Maafkan aku karena membuatmu merasa diremehkan. Itu semua karena ... aku mencintaimu. Aku tak mau kamu terluka,” Aku tersenyum, senang karena Steve mengkhawatirkanku. “Ku pastikan ini misi pertama dan terakhirmu. Lebih baik kamu di rumah dan punya anak dariku.” Steve berlari mendekati uswa, dari telapak tangan kanannya muncul bola cahaya merah. Ia melempar cahaya itu ke arah uswa. Uswa terkejut, ia kembali memerintahkan anak buahnya melawan Steve. Aku sebal setengah mati, gak hanya ke uswa tapi juga ke Steve yang seenaknya mengaturku. Aku berlari mendekati Steve yang kini sedang melawan beberapa mayat hidup seorang diri. Tapi baru setengah jalan, aku menghentikan langkah. Lebih baik aku mengejar uswa daripada membantu Steve, suami super songong yang aku yakin bisa mengatasi mereka. Uswa menggunakan kekuatannya untuk menarik arwah seorang wanita yang memakai baju berwarna putih. Badan wanita itu seperti dililit asap, uswa menarik tali yang terbuat dari asap, sementara wanita itu berusaha melepaskan dirinya walau sebenarnya sia-sia. Aku melemparkan ajian, asap yang dibuat uswa menghilang. Badan wanita itu terjatuh setelah lilitan tali buatan uswa menghilang. Uswa memutar badan, memandangku sebelum kembali berteriak sekuat tenaga. Uswa tiba-tiba bergerak secepat angin, tahu-tahu leherku tercekik dan baru ku sadari uswa sudah berdiri di depanku sambil mencekik leherku. Kedua matanya melotot, otot-otot semerah darah mengelilingi matanya. “Kamu merusak segalanya.” Uswa mencekikku semakin kuat. Badanku terdorong ke belakang beberapa langkah sebelum menubruk tembok. Aku mengeluarkan ajian, membentuk cahaya bola kuning dan melepaskannya tepat di depan wajah uswa. Uswa melepas cekikannya, memegang muka jeleknya yang pasti sakit kena ajianku. Aku meraih pundaknya, mengangkat badannya dan menendang perutnya. Uswa kembali menjerit, aku menutup telinga karena capek mendengar jeritannya. “Mulut bau, suara cempreng. Jangan belagak ya!” Aku kembali melakukan serangan, tapi kali ini uswa melawanku. Tenaganya ternyata cukup kuat sampai membuatku kewalahan. Uswa terus melakukan serangan secara cepat. Ia memukul secara brutal, membuatku sulit menghindar dan akhirnya mukaku kena satu pukulan. Sudut bibirku perih dan ada rasa asin terasa di lidah. Aku menyentuh sudut bibir, aku melempar cahaya bola kuning secara bertubi-tubi tapi uswa begitu pandai menghindar. Tiba-tiba uswa menghilang, aku memutar badan tapi uswa gak ada. Seseorang memukul kepalaku dengan keras tapi tetap saja aku gak tahu siapa pelakunya. Beberapa kali kepalaku dipukul oleh orang misterius, aku yakin orang itu gak lain adalah uswa. Tapi tetap saja mataku gak dapat menangkap wujudnya. Dia terlalu cepat. Sial! Steve mendekatiku dengan tangan kanan membentuk cahaya bola merah yang semakin lama semakin besar. Ia melempar bola cahaya itu ke arah belakangku, membuat rambutku tertiup angin yang berasal dari cahaya itu. Bola mendarat tepat di belakangku, menjatuhkan uswa ke tanah. Uswa berusaha bangun tapi aku langsung menyerangnya dengan cahaya bola kuning. Ia kembali terjerembab, aku terus menyerangnya secara brutal. Aku belum selesai membuatnya jera tapi tiba-tiba badan uswa berubah jadi asap dan masuk ke dalam handphone Steve. Handphone Steve berisi video dimana uswa terkurung di dalam sebuah ruangan berteralis besi. Ratu uswa menjerit sambil menggedor-gedor teralis. Steve mematikan handphone-nya, memasukkannya ke dalam saku celana lalu ia menghembuskan napas ke udara. “Cuma gini tok?” Aku pikir bakal ada perlawanan yang berarti dari uswa, gak tahunya Cuma begini saja. Bak seru banget... “Jangan meremehkan! Urusan kita belum selesai. Sekarang, kita urus raga Bu Yanti!” Steve memutar badan, ia melangkah masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti langkah Steve, kami kembali ke ruangan di belakang rumah dimana ruangan semacam penjara berada. Badan Bu Yanti terbaring telungkup di atas tanah. Steve membalik badan Bu Yanti. “Kita pindahkan dia di kamar!” Aku memandang badan Bu Yanti, badan Bu Yanti sangat gendut. Gak yakin aku bisa mengangkat badannya walau hanya berdua sama Steve. Aku memandang Steve, tapi melihat keseriusannya aku kembali memandang badan Bu Yanti. “Gunakan kekuatanmu!” Steve memaksa, meski mencibir tapi aku menurutinya. Setelah membaca mantra, aku menggerutuk ke sepuluh jariku. Aku menyelipkan satu lengan di punggung dan satu lengan di bagian kaki. Steve mengangkat kepala dan badan, dengan susah payah kami berdua memindahkan badan Bu Yanti ke kamar. Setelah meletakkan badan Bu Yanti di atas kasur, Steve membuat sebuah gelembung besar yang katanya untuk melindungi raga Bu Yanti selama menunggu disatukan dengan jiwanya. Agar raga itu gak disusupi oleh arwah lainnya. Steve diam, ia berdiri di dekat meja sementara aku duduk di kursi yang ada di tepi ranjang. Ia menatapku intens, membuatku ikut memandangnya intens. Aku gak tahu apa yang ada di kepalanya tapi yang jelas aku gak akan segampang itu menurut kepadanya. Sambil menunggu, aku bermain handphone baru, mengutak-atiknya sampai tulisan yang tadinya berbahasa Indonesia tiba-tiba berubah menjadi bahasa mandarin. “Loh Steve. Ini gimana?” Aku panik. Steve merebut handphone-ku dan memasukkannya ke dalam saku celana. Aku berdiri, merengut sambil melipat kedua tangan. “Kembalikan HP-ku!” “Besok ku belikan yang bagus.” Steve mengeluarkan handphone miliknya, ia mengulurkannya kepadaku. “Pakai punyaku! Punyamu ku sita. Besok ku kembalikan ke kantor. Kamu dipecat!” Aku melongo, seenaknya Steve main pecat aku. Dikira aku takut sama dia. Aku berkacak pinggang, maju selangkah untuk memperpendek jarak kami. Badan kami hampir bersentuhan, aku mendongak, memandang Steve yang kini memandangku dengan wajah datarnya. “Yang bisa pecat aku bukan kamu. Jangan seenaknya ya...” “Aku tak suka kamu dalam bahaya terus. Bisa gagal jantung jika harus menjadi demon hunter bersamamu,” “Kalo gagal jantung ya sudah. Tinggal kirim ke rumah sakit, susah amat. Keluargamu kan punya rumah sakit,” “Harusnya kamu tahu, aku khawatir padamu. Aku tak bisa membiarkan orang yang ku cintai ada dalam bahaya terus menerus,” “Salah siapa cinta aku? Kamu kan yang maksa aku kawin sama kamu. Harusnya aku bisa mengejar mimpi jadi sekretaris tapi gak tahunya aku merid sama orang yang ku pikir calon dokter.” Aku melipat kedua tangan. “Jadi kamu mau menikah denganku karena berpikir aku calon dokter?” Steve menghela napas, ia berkacak pinggang sambil mendongak. Aku membuang muka, sejujurnya aku menikah tanpa banyak pertimbangan jadi salah kalo aku menikah karena menganggap Steve seorang calon dokter. Sejujurnya aku pikir bisa jadi sekretaris direktur rumah sakit. “Kalo iya kenapa? Yang pasti aku gak mikir mau merid sama pengejar hantu sepertimu. Seandainya aku tahu kamu demon hunter. Aku mikir-mikir lagi kalo mau kawin sama kamu,” “Are you serious?” Steve memicingkan mata. Aku terdiam, menunduk dalam-dalam. Mulutku benar-benar sulit dikendalikan sekarang. “Bunga. Jika kamu tahu aku seorang demon hunter. Kamu takkan mau ku nikahi?” Steve membuatku terdesak. “Aku benci sama kamu Steve. Kamu sudah merusak hari-hariku. Kamu sudah....” Tiba-tiba Steve memeluk dan menciumku, awalnya aku meronta tapi pesona Steve tiada duanya. Aku mengalungkan kedua tangan, kedua kakiku menjinjit agar bisa ciuman lebih dalam. Ini yang gak ku suka dari Steve, selalu pintar membuat hatiku luluh hanya karena kena ciuman mautnya. “Steve, Bunga. Wow,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN