Semua Jadi Jelas

1673 Kata
Dua mayat itu menyeretku dan memasukkanku ke dalam sebuah tempat yang sangat gelap. Beberapa lama aku berdiam diri, menyesuaikan penglihatanku sampai bisa melihat sekeliling walau berupa bayangan. Sebuah jendela memberi sedikit cahaya dari sinar bulan purnama, aku mengikuti garis cahaya yang masuk sampai mataku melihat bayangan besi berjajar menutup ruangan ini. “Sial, aku kayak dipenjara ini.” Aku memukul kaki, gigitan nyamuk membuat kakiku gatal setengah mati. Suara langkah kaki terdengar, gak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dan sesuatu jatuh gak jauh dari tempatku duduk. “Sial!” Suara seorang cowok yang sangat ku kenal. Aku bisa melihat bayangannya berdiri dan melangkah mendekati teralis besi. “Steve...” Aku memanggilnya, berdiri lalu mendekatinya. “Bunga!” Steve memutar badan menghadapku. “Jadi kamu ketangkap juga?” Aku berdiri tepat di depannya. “Sudah ku katakan. Tetap di rumah! Kamu melawanku, Bunga.” Nada marah Steve membuatku heran, dia sendirian ketangkap kok masih sok-sokan seperti ini. “Gak usah banyak omong! Kamu sendiri ketangkap kan? Gak usah songong deh,” “Sampai di rumah. Ku hukum kamu sampai minta pengampunanku,” “Halah. Kayak gak tahu hukuman apa yang mau kamu berikan, Steve. Paling banter kamu nyiksa aku di ranjang. Ya toh?” Aku mencibirnya, gak ada respon dari Steve tapi aku yakin dia sedang membelalakkan matanya. “Bunga. Sial! Ku pikir aku bisa tenang tanpamu. Kenapa kamu melawanku, Bunga?” “Siapa yang melawan? Jangan berlebihan deh,” Steve menepuk kedua pundakku. “Bunga. Tugas ini bukan main-main, kamu tahu. Dia terlalu berbahaya untuk kamu hadapi.” Wah, Steve meremehkanku ini, benar-benar dia. Padahal sudah tahu kemampuanku tapi kok ya masih gak percaya. “Aku tahu. Tapi harusnya kamu tahu. Tanpaku, kamu gak akan bisa mengalahkannya,” “Jangan menganggap enteng,” “Jangan ngeremehin aku ya,” “s**t!” Steve meremas rambutnya sendiri. “Heh. Daripada bertengkar, mending kalian cari cara buat lepas dari tempat ini. Aku capek dikurung terus sama dua cewek butek kayak mereka.” Satu suara yang sangat ku kenal mengalihkan perhatianku. “Jambrong?” Aku menoleh ke kanan, ku rasa dari situlah sumber suara berasal. “Iya, siapa lagi kalo bukan jambrong, si pemilik suara paling seksi dan paling disukai cewek-cewek sekolah,” kata jambrong. “Jangan lebay deh. Lagian siapa yang kamu bilang butek? Kamu pikir, kamu seganteng siapa?” Kali ini suara sari yang terdengar. “Jangan banyak bicara atau ratu uswa menghukum kita,” kata Rukmini. “Jangan panggil ratu pada b*****h itu!” Sari mengamuk. “Kita harus menurut padanya kalo mau selamat,” kata rukmini. Sari dan rukmini adu argumen. Rukmini terus menyebut ratu uswa sementara sari terus marah-marah. “Kalian berdua, diam! Ada yang datang.” Steve menarikku ke belakang punggungnya. Aku berusaha lepas dari cekalan tangannya tapi ia terlalu kuat menahanku. Sinar merah perlahan semakin terang. Seorang mayat hidup dengan kaki diseret melangkah masuk sambil membawa lentera merah. Arwah penasaran di dalam raga Bu Yanti berjalan di belakangnya. Mayat hidup itu membuka pintu ruangan dimana aku dan Steve disekap. Bu Yanti masuk ke dalamnya, sementara mayat hidup itu berdiri di dekat pintu. “Sekarang apa alasanmu, Bunga?” Bu Yanti berjalan mendekatiku tapi Steve memutar badannya, menghadap Bu Yanti sementara aku ada di belakangnya. “Ini semua tak ada urusannya dengan Bunga.” Steve berusaha melindungiku, ini benar-benar gak masuk akal. Steve yang biasanya menghilang sewaktu aku melaksanakan tugas menangkap jin botol, sekarang dia seperti seorang pahlawan ... kesiangan. “Tentu saja ini urusan kita, Steve ... dan Bunga. Tentu saja,” kata Bu Yanti. Aku menggeser kaki beberapa langkah tanpa terlepas dari cekalan tangan Steve, memandang Bu Yanti sambil tersenyum mengejek. “Aku gak tahu kenapa harus menyelidikimu, arwah penasaran. Tapi, satu hal yang harus ku lakukan ... meringkusmu,” Bu Yanti tertawa terbahak-bahak, senyum seringai super jahat muncul di sudut bibirnya. “Punya nyali kamu. Kita buktikan saja. Siapa yang meringkus siapa.” Bu Yanti memutar badan. Aku mengumpulkan energi ke tangan kiri, sebuah cahaya kuning terbentuk di dalam telapak tanganku dan langsung ku lempar ke Bu Yanti, mengenai pundaknya. Bu Yanti kembali memutar badan, ia menyapu pundak yang kena lemparanku seolah sedang membersihkan noda. “Rambo. Seret dia!” perintah Bu Yanti tiba-tiba. Mayat hidup yang pipi kanannya bopeng, membusuk dan dihiasi belatung menyeret kaki kanannya. Mendekatiku sementara Steve melangkah mundur dan terus melindungiku. Aku langsung mengeluarkan jurus untuk memusnahkan mayat hidup itu. Sebuah bola cahaya kuning terbentuk dan ku lempar ke arah mayat hidup itu. Badan mayat hidup itu putus jadi dua, meski demikian, mayat itu tetap saja bergerak. Perut bawah dan kakinya melangkah mendekatiku sementara perut ke atas merayap dengan dua tangannya. Steve membuat bola merah dengan tangan kanannya, bola itu ia lempar ke arah kepala mayat hidup itu. Kepala itu hancur, membentuk gumpalan-gumpalan daging yang menyebar ke segala arah. Aku menyembunyikan diri di belakang badan Steve. Takut kena gumpalan daging busuk yang sangat menjijikkan. “Jadi kamu ... demon hunter. Tentu saja.” Bu Yanti terkekeh. “Serahkan dirimu!” ucap Steve. “Tak semudah itu.” Tiba-tiba arwah itu keluar dari raga Bu Yanti, dengan cepat ia mendekatiku dan Steve. Wajahnya jelek sekali, kepalanya gundul, kering dan retak-retak. Mulutnya terbuka lebar dengan gigi-gigi yang sangat runcing. Badannya bongkok dan berbaju compang-camping. Steve mengeluarkan jurusnya. Sebuah gelembung besar terbentuk, menyelubungi kami berdua. Badan arwah penasaran itu tiba-tiba terpental saat menubruk gelembung kemudian dengan kecepatan tinggi ia menghilang. Steve menarikku keluar dari ruangan ini. Kami melintas ke ruangan sebelah dimana sari, rukmini dan jambrong disekap. Melihat apa yang sedang terjadi di dalam, membuatku menutup mulut. Gak menyangka kalo arwah penasaran itu sedang melakukan hal yang paling mengerikan kepada sesama jenisnya. Arwah penasaran itu mencekik leher rukmini. Ia menyerap badan rukmini hingga badan rukmini berubah jadi asap dan dihirup oleh arwah itu. Gak perlu waktu lama, badan rukmini lenyap. Arwah penasaran itu memutar badan menghadap jambrong dan sari yang sedang berpelukan dengan raut ketakutan. Aku langsung menyerbu arwah itu dengan kekuatanku. Aku melempar energi yang ku buat dengan segenap tenaga. Berkali-kali ku lemparkan jurus itu tapi dengan mudah dihalau olehnya. Steve melempar bola cahaya merah. Lemparannya berhasil membuat arwah itu jatuh. Jambrong dan sari terkejut, keduanya berlari keluar dari tempat ini secepat mereka bisa. Arwah itu menjerit sekuat tenaga, suaranya sangat keras dan membuat gendang telingaku rasanya mau pecah. Ia menoleh, memandang kami berdua dengan wajah retak yang berdenyut-denyut. “Kalian...” Arwah itu kembali menjerit keras. Aku menutup kedua mata, mengumpulkan seluruh tenaga dalamku ke kedua tangan. Bersiap menggunakan semua kemampuanku untuk melawannya. Aku harus melenyapkan arwah yang telah menyerap rukmini ke dalam tubuhnya. “Bunga. Apa yang kamu lakukan?” Steve berteriak, aku membuka kedua mata. “Busyet dah!” Waktu membuka mata, aku melihat Steve sedang bertarung dengan genderuwo, kuntilanak dan pocong. Aku menelan ludah susah payah. Gak menyangka kalo arwah itu punya anak buah. “Bunga. apa yang kamu lakukan?” Steve memukul kepala pocong dan menendang lubang di punggung kuntilanak. Aku menyerbu genderuwo yang sedang mengangkat kotak kayu dan akan dilempar ke Steve. memukul dadanya sekuat tenaga sampai ia jatuh terduduk. “Jangan sakiti suamiku!” Aku mengeluarkan jurusku, menembak dadanya dengan bola cahaya kuning tepat ke dadanya sampai berlubang. Beberapa mayat hidup masuk ke dalam ruangan, beberapa genderuwo, pocong dan kuntilanak menyerbu kami berdua. Suasana jadi gak terkendali, aku dan Steve bahu membahu melawan mereka. Saat melakukan serangan-serangan dengan kekuatan yang ku punya, aku terus bertanya-tanya, kenapa situasinya jadi sesulit ini padahal dari kemaren arwah sialan itu gak melakukan apapun dan gak menunjukkan sesuatu yang bisa menimbulkan hal seberat ini. “Bunga...” Aku menoleh, seorang mayat hidup hampir saja menggigitku tapi Steve menarik kepala mayat hidup itu dan menariknya sampai putus. “Jangan melamun! Kamu pikir ini taman bermain? Aku gak akan memaafkanmu karena sudah melawan perintahku.” Steve terus mengomel sambil melakukan perlawanan. Aku dan Steve pada akhirnya terdesak, kami berada di tengah-tengah kerumunan mayat hidup, pocong, genderuwo dan kuntilanak. “Inilah medan perang kita, Bunga. inilah alasan kenapa aku melarangmu ikut campur.” Steve masih mengomel. “Steve. Lebih baik kita berjuang bersama. Aku gak bisa bayangin kalo kamu harus melawan mereka sendirian.” Aku menendang p****t seorang mayat hidup. Steve memukul wajah kuntilanak dengan keras. Punggung Steve menempel di punggungku. “Justru karena ada kamu. Aku menjadi sulit. Aku harus melindungimu, Hon.” Ch, aku memutar dua bola mata. Satu tanganku mencengkeram lengan genderuwo lalu menusuk mata merah selebar lapiknya sampai matanya berlubang. “Siapa yang melindungi siapa? Jangan sok ya. Aku murid...” “Ki Mengkis. Dukun terkenal di kampung ini. Aku tahu. Tapi aku kapten tim alpha. Tim terbaik di demon hunter. Kamu harus mengingatnnya.” Wow, sombong bener si Steve ini. “Tentu saja aku ingat. Kapten tim yang ketangkep saat bertugas. Yang harus dibantu anak buahnya untuk melawan mereka.” Mampus kamu. “Bunga. Aku akan menghajarmu nanti. Akan ku buat kamu minta ampun padaku,” “Gak takut. Mau dimana? Kasur, kamar mandi atau meja makan. Aku yakin kamu yang bakal nyerah nanti,” Aku dan Steve terus adu kekuatan dengan musuh sementara mulut kami adu bicara. Aku benar-benar lupa kalo Steve adalah cowok yang doyan ngomong. Aku terus mengerahkan kekuatan, membuat bola cahaya dan terus adu hantam dengan dedemit gaje itu. Setelah membuat mereka mampus, aku melempar mereka di ujung ruangan. Sama halnya dengan yang dilakukan Steve sampai akhirnya semua cecunguk itu tumbang. Steve berdiri di depanku, memandangku dengan tampang konyolnya. Aku berdiri sambil berkacak pinggang, memandangnya dengan tatapan membunuh. “Kamu belum tahu kekuatanku yang sebenarnya. Jadi jangan asal bicara. Aku, demon hunter paling handal,” “Kamu sudah melihat kemampuanku kan? Murid dukun Ki Mengkis yang tersohor. Kamu beruntung ada aku bersamamu,” “Bunga. Kemampuanmu biasa saja. Jadi jangan sesombong itu,” “Kamu pikir kamu sehebat apa? Melawan arwah penasaran seperti dia saja gak bisa,” “Bunga. Apa kamu benar istriku?” “Lalu siapa kamu? Steve atau...” “Hei kalian berdua.” Suara seseorang. “DIAM!” Aku dan Steve berteriak bersamaan, memandang ke arah sumber suara dengan dua mata melotot.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN