Hilangnya dedemit

1758 Kata
Untuk apa demon hunter mencari tahu alasan arwah penasaran masuk ke raga manusia? Sudah jelas, mereka ingin melakukan hal yang merugikan kaum manusia. Kalo engga, kenapa mereka membiarkan saja para manusia bertindak semaunya? Jika memang mereka pernah jadi manusia, seharusnya mereka juga masih punya rasa kemanusiaan. Atau mereka seperti kacang lupa kulitnya. Mentang-mentang sudah jadi hantu jadi gak mau tahu urusan manusia dan gak mau mengingatkan manusia yang melakukan kesalahan. Aku duduk di bangku, di dalam gudang yang sepi karena penunggunya pergi entah kemana. Bahkan sari juga gak keliatan batang hidungnya, jambrong juga ngilang sejak Bu Yanti menemuiku di bawah pohon beringin. “Atau aku kehilangan indra ke enamku?” gumamku. Steve berdiri di depanku, setengah badannya bersandar pada meja yang berdebu. “Kamu jangan gegabah! Kita belum tahu tujuan arwah penasaran itu.” Untuk ke sekian kalinya, Steve mengingatkan. Aku berdiri, memandang Steve dengan wajah memanas karena emosi. “Lalu apa kalo bukan untuk merusak mental murid-murid disini? Kamu kan lihat sendiri bagaimana arwah itu dengan hati sok sucinya ngebiarin anak-anak berulah sesukanya.” Aku semakin gemas dengan yang namanya Bu Yanti abal-abal itu. “Bisa jadi dia punya alasan sendiri atau dia memang fokus dengan masalahnya,” “Atau dia memang gak peduli karena sudah jelas dia gak peduli.” Aku menjatuhkan diri dengan keras di atas bangku. Kembali melipat kedua tangan dan memajukan bibir hingga beberapa senti. Steve menepuk kedua pundakku, ia duduk di sebelahku dan merangkul pundakku. “Jangan emosi, Honey! Kita masih menyelidiki semuanya,” “Sudah ku bilang gak usah selidik-selidikan. Kita bukan polisi kriminal. Kita penangkap hantu. Tugas kita menangkap bukan menyelidiki,” “Hei. Be positive thinking! Bunga yang ku cinta adalah Bunga yang tidak mudah terbawa emosi seperti ini.” Steve mengguncang bahuku. “Terserah deh. Aku males berurusan dengan hantu, arwah atau semacamnya.” Aku bangkit, memandang Steve beberapa saat sebelum melangkahkan kaki keluar gudang. Di luar gudang, Bu Yanti berdiri di depan pintu. Ia memandangku dengan senyumnya yang sok ramah, aku memandangnya tanpa ekspresi. Steve berdiri di sebelahku, ia ikut memandang Bu Yanti dengan tatapan kaget. “Apa yang kalian lakukan disini? Seharusnya kalian sudah masuk kelas,” tanya Bu Yanti. Steve tersenyum, ia menggaruk kepala belakangnya. “Maaf Bu. Kami hanya...” “Sudah telat. Kami permisi, Bu.” Aku mencekal tangan Steve, pandanganku masih tertuju ke Bu Yanti. “Bunga. Apa kamu ada masalah?” Bu Yanti menunggu jawabanku. Aku menatapnya tajam, bagaimana bisa arwah ini menanyakan sesuatu yang sudah jelas. Aku ingin meluncurkan emosiku tapi Steve mencekal erat tanganku, membuatku menoleh kepadanya. “Maafkan Bunga, Bu. Saya rasa dia sedang PMS atau malah sedang hamil.” Steve terkekeh. Steve menarikku, membuatku melangkah menjauh dari Bu Yanti. “Jangan ganggu aku atau kalian akan menyesal.” Bu Yanti menghentikan langkah kami. Aku menoleh, Bu Yanti memutar badannya. Ia kembali tersenyum tapi jenis senyumnya kembali menakutkan. “Jaga diri kalian anak-anak! Belajarlah yang giat! UNAS tinggal beberapa hari lagi,” Apa maksudnya, jangan ganggu urusanku! Ch, sulit dipercaya dia mengancamku dengan alasan UNAS. Aku mengepalkan kedua tangan, bersiap melayangkan salah satu jurus. Bu Yanti melihat kepalan tanganku, membuatku ingin segera melenyapkannya. Tapi Steve menahanku, ia mencubit lengan membuat konsentrasiku buyar. “Terima kasih sudah diingatkan, Bu. Kami permisi.” Steve menarikku menjauhi Bu Yanti. *** Di kantor demon hunter, banyak laporan dari petugas tentang hilangnya arwah penasaran dan setan, baik yang merupakan buronan demon hunter maupun setan biasa saja. Aku pun menambahkan sari, rukmini dan jambrong yang tiba-tiba menghilang ke dalam laporan itu. (Walau sebenarnya gak benar-benar aku laporkan). Duduk di kursi tunggu yang terletak di pojok kantor demon hunter. Aku mendengarkan beberapa petugas demon hunter yang masih keheranan dengan fenomena ini. Seorang petugas yang memakai baju PNS sedang berbicara dengan seorang petugas yang memakai seragam guru. “Seluruh dedemit di desa Tanjungsari, lenyap. Ini aneh sekali.” Mereka sedang membicarakan kampungku. “Ku rasa ada masalah sangat serius. Tim mana yang dikirim?” tanya guru yang berperawakan jangkung. “Tim alpha. Aku yakin, masalah ini bukan masalah kecil sampai komandan mengirim tim alpha,” kata pria yang memakai seragam PNS. Aku terus mendengarkan pembicaraan mereka, dengan pikiran ruwet karena cerita mereka benar-benar sulit ku pahami. Steve berjalan sambil tersenyum, mendekati dua orang itu dan menyapa mereka. “Halo, Bos,” sapa Steve ke dua orang itu. “Wow, Kapten Steve. Makin ganteng aja,” seru pria memakai seragam PNS. Steve tersenyum, ia memandang dua pria itu bergantian. “Bisa saja kalian.” Mereka terlibat pembicaraan ringan beberapa saat sebelum Steve mendekatiku sementara dua orang itu pergi menjauh. Aku berdiri, memandang Steve dengan tatapan penuh tanda tanya. “Jadi kasus Bu Yanti bukan Cuma soal menangkap arwah penasaran kan?” Aku memandang Steve dengan tatapan menunggu. “Ehm. Honey! Nanti malam aku gak pulang. Aku harus mencari sesuatu.” Steve menggandeng tanganku. Membawaku masuk ke dalam ruang meeting. Steve memerangkapku dalam pelukannya, erat sekali. Membuatku sulit bernapas, pikiranku jadi kosong kecuali diisi Steve, kehangatan badan dan aromanya. Kami bersitatap, ia tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Aku menangkap bibirnya ke dalam mulutku, menikmati suasana yang sedang mendukung kami untuk terlibat ciuman yang sangat enak sekali. Steve melepas ciumannya, ia mengendurkan pelukannya tapi gak melepasku. “I love you. Bunga,” “Aku juga mencintaimu, Steve.” “Bunga. Aku akan menyelidiki Bu Yanti malam ini. Terlalu berbahaya jadi lebih baik kamu di rumah saja,” Aku melotot, kok bisa Steve gak melibatkanku dalam misi kami. Aku ini jelas-jelas anggota tim alpha. “Kenapa kamu melarangku ikut?” “Aku yakin kamu sudah mendengar alasannya dari Broto dan Seno tadi.” Yang dimaksud Steve adalah dua orang tadi. “Tapi tetap saja, gak bisa diterima. Aku ini hebat. Muridnya Ki Mengkis. Kamu sendiri sudah tahu kemampuanku kan?” Aku bersikeras. “Tidak diragukan lagi. Tapi...” “Aku harus ikut!” Aku melepas pelukan Steve, menarik kursi dan duduk diatasnya. “Tidak! Ini berbahaya sekali. Arwah itu sudah tahu kamu sedang melawannya. Dia tak akan segan-segan terhadapmu,” “Lalu bagaimana denganmu? Kamu suamiku. Jelas kamu juga mencurigakan....” “Tak ada siapapun yang tahu tentangku. Aku hanya murid biasa. sementara kamu, di kampung kita, siapapun tahu siapa Bunga Lestari.” Steve membungkuk, dua tangannya di atas meja. “Kamu meremahkan aku?” Aku memicingkan mata. “Bunga. Sebagai Kapten, aku memerintahkanmu tetap di rumah! Atau kamu ingin ku keluarkan dari tim?” Steve mulai sombong ini. Aku berdiri, memandang Steve yang jadi sok berkuasa. Aku mencebik, memandang Steve dengan tatapan membunuh. Steve merenggut dua tanganku, menariknya ke mulut lalu mengecupnya. “Aku tidak mau menempatkanmu dalam bahaya yang belum bisa diprediksi,” “Aku gak suka sama kamu, Steve. Sudah sok bule, songong lagi.” Aku berdiri, melotot ke Steve sebelum melangkahkan kaki. Aku memegang kenop pintu, membukanya tapi suara Steve menghentikan langkahku. “Aku melakukan ini semua untuk melindungimu ... dan aku ingatkan, aku memang bule,” Aku menoleh, memandang cowok bule super ganteng tapi songong minta ampun. Aku mencibirnya, sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu dan kantor demon hunter ini. *** Malam ini, demi melawan rasa penasaran, aku ke rumah Bu Yanti untuk menyelidiki apa sebenarnya yang ia inginkan. Aku berjalan dalam kegelapan dan dalam kesunyian. Gak ada manusia di jam satu malam adalah hal yang wajar. Tapi gak ada hantu sama sekali, ini jelas gak masuk akal. Beberapa hari ini aku gak mengamatinya tapi sekarang entah kenapa, tiba-tiba aku yakin ini semua ada hubungannya dengan arwah yang masuk ke raga Bu Yanti. Aku terus melangkah, melewati beberapa rumah yang penerangannya sudah padam. Suara gemerisik berasal dari gesekan dedaunan tertiup angin, terdengar keras. Suara nyanyian katak di tepi sungai terdengar bersahutan dengan gemerisik daun. Gak ada suara siapapun yang ku dengar selain dua hal itu. Sampai di depan rumah Bu Yanti. Rumah itu pun gelap, sama seperti waktu aku dan Steve datang ke tempat ini beberapa malam lalu. Aku memutuskan masuk ke dalam dengan melompati pagar setinggi dua meter. Sampai di dalam pagar, aku mengamati halaman rumah Bu Yanti. Gak ada siapapun disini, benar-benar sulit dipercaya. “Apa yang kamu lakukan disini?” Sebuah pertanyaan membuatku terkejut. Aku memutar badan. Bu Yanti berdiri di hadapanku dengan senyum seringai yang menakutkan. “Bu Yanti...” lirihku. “Bunga. Sudah ku peringatkan padamu untuk tidak berurusan denganku,” “Jadi maksudmu, aku gak boleh mencari keberadaan Bu Yanti?” Aku bertanya balik. “Aku Bu Yanti. Sudah sangat jelas bukan?” Ia merenggangkan kedua tangannya. “Kamu bukan Bu Yanti. Kamu....” “Lalu siapa aku?” Bu Yanti abal-abal memotong ucapanku. “Kamu siapa kalo bukan arwah penasaran yang masuk ke dalam raga Bu Yanti?” Aku sudah males banyak bicara sama arwah gaje ini. “Arwah penasaran? Hahahahahaha.” Bu Yanti tertawa keras, suaranya memecah keheningan malam. “Jadi itukah alasan kenapa kamu dan suamimu datang malam itu ke tempat ini?” Bu Yanti kembali menyeringai. “Tentu saja. Kamu pikir kamu bisa menipu kami?” “Anak-anak. Serang dia!” Tiba-tiba dua orang mencekal kedua lenganku, aku kaget dengan kejadian itu. Aku memandang dua orang yang ternyata adalah dua mayat hidup dengan pakaian compang-camping dan wajah sangat pucat. Bu Yanti mendekatiku dengan langkah yang sangat pelan. Ia kembali memasang senyum yang sarat kebencian. “Sudah ku katakan, kamu akan menyesal sudah mengusikku. Tapi kamu benar-benar bandel,” “Jadi kamu sudah melepas topengmu? Arwah penasaran....” dua mayat hidup itu menjungkalkan badanku hingga aku berdiri dengan lutut. Aku mendongak, menatap wajah arwah penasaran yang sedang menunduk untuk melihatku. Ia meraih daguku dan meremasnya. Aku membuang muka dengan kasar tapi ia kembali menarik daguku hingga pandangan kami kembali beradu. “Aku sudah mengawasimu beberapa lama. Kamu penangkap bangsa kami yang harus dimusnahkan.” Ia berdiri tegak, melipat kedua tangan dan mengkode anak buahnya dengan gerakan kepala sebelum meninggalkanku dengan dua mayat hidup itu. Dua mayat hidup itu menarikku dengan sangat kasar. Dua kakiku menggesek tanah hingga terasa sangat panas. Aku berusaha melepaskan diri dari keduanya tapi tenagaku kalah besar. Mereka membawaku masuk ke dalam rumah Bu Yanti yang sangat gelap. Perasaanku mengatakan kalo tempat ini banyak orang tapi aku gak tahu apakah mereka manusia atau malah hantu penasaran. “Bawa dia ke gudang!” Perintah seseorang membuat badanku kembali diseret. Dua mayat itu menyeretku dalam kegelapan, aroma kuat tercium, aroma khas dari setan yang campur aduk, pertanda banyak sekali jenis setan disini. Setelah merasakan rasa panas di badan akibat bergesekan dengan tanah. Akhirnya mereka melemparku ke sebuah tempat. Aku duduk dengan perasaan campur aduk tapi satu hal yang pasti, aku membutuhkan Steve sekarang. Steve, aku membutuhkanmu,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN