Pembunuh Misterius

1622 Kata
Sebagian orang setuju untuk pergi tapi sebagian lain memilih tetap tinggal dan bersembunyi di dalam gerbong. Rascal mengajak untuk meninggalkan mereka tapi Steve ingin mengajak mereka karena gak bisa membiarkan leher mereka ditebas satu persatu. “Gerbong adalah tempat aman,” seru seorang pria. Dia masih kekeh dengan pendiriannya. Steve menunjuk mayat Bu Sofyan dan Pandir yang dibaringkan berjajar. “Apa kalian tidak melihatnya? Siapapun dia. Aku yakin dia cukup kuat melawan kalian semua,” katanya. “Kalo kita pergi. Kita pergi kemana? Hutan bisa membuat tersesat dan kita bisa mati kelaparan kalo gak cepat-cepat ditemukan,” sanggah seorang perempuan. “Aku bisa mencari makanan darurat. Kita gak akan kelaparan. Steve bisa baca kompas dan Rascal hidungnya tajam. Kita bisa keluar dari sini bersama-sama.” Aku berusaha meyakinkan mereka semua. Perempuan itu melipat dua tangannya. “Aku gak percaya. Kalian pikir bisa bertahan hidup lama kalo tersesat di hutan yang gak jelas seperti ini?” Ia masih bertahan dengan pemikirannya. “Sudah. Tinggalkan saja mereka! Kita pergi sekarang!” Rascal sudah memutar badan, ia mau melangkah tapi Steve menahannya. “Apa kamu yakin tetap disini? Seperti yang kamu katakan. Bantuan belum tentu cepat datang. Bisa jadi, kalian sudah mati sewaktu mereka kemari.” Steve menghela napas berat. “Aku tetap disini! Kalian juga sebaiknya disini. Di dalam hutan banyak binatang buas. Aku gak mau mati sia-sia karena ucapan orang asing seperti kalian.” Perempuan itu melangkah, mendekati gerbong. Beberapa orang laki-laki dan wanita, mengikuti perempuan itu. “Kalian ini benar-benar...” “Sudahlah, Hon. Biarkan mereka mengurus diri mereka. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum...” Ucapan Steve berhenti. Perempuan yang sedari tadi bertahan gak mau pergi tiba-tiba roboh. Orang-orang yang sepemikiran dengannya, berlari memasuki gerbong. Suara teriakan dan lenguhan terdengar sangat keras. Membuatku bergidik ngeri saat mendengarnya. “Honey. Ayo!” Steve mengajakku berlari. Semua orang yang setuju pergi meninggalkan tempat ini pun juga berlari sekencang yang mereka bisa. Jalanan terjal, menanjak dan berdebu gak menghalangi kami dalam usaha menyelamatkan diri. Semua orang berlomba-lomba untuk berlari secepat mungkin. Melewati jalan setapak yang meliuk-liuk seperti ular. Kadang naik kadang turun. Sampai akhirnya kami ada di tempat yang sangat lapang. Sesaat kami berhenti, memandang padang rumput yang sangat luas. Aku menarik napas dalam-dalam. Bersiap berlari lebih kencang dari yang tadi. Steve berlari lebih dulu, kemudian aku, orang-orang dan yang terakhir adalah Rascal. Kami melewati padang rumput yang cukup licin karena sudah basah oleh tetesan embun. Dua orang pria dan satu wanita terpeleset sampai jatuh. Mereka berusaha bangun secepat mungkin dan kembali berlari. “Argh...” Seorang pria yang ada di belakangku, berteriak karena terpeleset. Aku menghentikan langkah, menoleh dan menarik tangannya sampai berdiri. Tapi tiba-tiba sebuah bayangan hitam dengan memakai capil pak tani, melayang mendekati pria tadi. Dari kilauan yang dipantulkan cahaya bulan. Aku bisa memastikan benda yang dibawanya adalah sebuah pedang panjang. Aku membuat cakra, tapi sayangnya aku kalah cepat dari tebasan pedang yang sudah menggorok leher pria yang tadi ku bantu berdiri. Setelah ia menggorok leher pria itu, sosok bayangan itu kembali menghilang. Secepat ia datang, secepat itu ia pergi. Dilanda ketakutan yang luar biasa, membuat orang-orang berlari semburat gak tentu arah. Semua ingin menghindar dari tebasan pedang dari bayangan. Secepat yang mereka bisa, demi menyelamatkan diri. Aku juga berlari dengan pikiran kalut, mengikuti kemana pun Steve pergi. Bayangan itu sangat cepat padahal aku termasuk yang bisa membuat cakra dengan cukup cepat. Siapa dia? Kenapa dia membunuh kami? Apa yang ia cari dari kami? “Aarrgghh...” Suara teriakan dan lenguhan panjang terdengar. Membuatku berhenti dan menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Lima orang yang tadi berlari berlawanan arah denganku, tiba-tiba ambruk. Sudah tentu hal itu karena apa yang dilakukan sosok bayangan. Rascal melempar cakranya ke arah bayangan. “Kalian pergi dulu! Aku akan menghadapi dia.” Rascal berlari mendekati sosok bayangan, ia melempar cakra dan mengenai sosok itu. Gak lama kemudian, terjadi baku hantam sengit antara mereka berdua. “Hon. Ayo! Kalian semua, ikut aku!” Steve memerintahkan kami kembali berlari menyelamatkan diri. Kembali masuk ke dalam hutan dengan jalan setapak cadas dan berliku. Suara aliran sungai terdengar keras. Kami mengikuti aliran itu karena cara inilah yang bisa ditempuh jika kita di dalam hutan tanpa ada penunjuk arah. Kita harus mengikuti aliran air sungai jika ingin keluar dari hutan. Seperti ini pula kami melakukannya. Dari kejauhan, kami bisa melihat sebuah gubuk yang berdiri gak jauh dari tepi sungai. Steve membawa kami ke tempat itu. Setelah kami berada di depan teras gubuk. Dengan sangat mudah Steve membuka pintu dan menyuruh kami masuk untuk beristirahat sejenak sambil menunggu Rascal. Gubuk ini sangat sederhana, hanya ada meja dan empat bangku panjang mengelilinginya. Ada sebuah dipan bambu berada di sudut ruangan dan ada lampu petromak yang masih padam, menggantung di tengah ruangan. “Ada yang punya korek?” tanya Steve. Gak beberapa lama, lampu petromak sudah menyala. Memperlihatkan wajah-wajah pucat yang kelelahan. Total ada tujuh orang termasuk aku, Steve dan Herlambang. Herlambang berlari dan memelukku erat. Dua orang perempuan memilih duduk di atas dipan. Sisanya para pria duduk di atas bangku berhadapan denganku. “Kalo aku selamat. Aku janji gak bakal merokok. Napasku mau putus waktu lari tadi.” Seorang pria setengah baya, masih terengah-engah. Suara seperti cicitan tikus keluar di setiap hembusan napasnya. Pria memakai kaos abu-abu yang duduk di sebelah pria memakai kemeja hitam, terkekeh. “Sudah ku katakan. Berhenti merokok! Sekarang baru tahu kegunaannya kan?” Pria memakai kemeja hitam hanya bisa meringis. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong kemejanya, ia meremas dan membuangnya asal. “Kakak. Aku takut....” Herlambang kembali menyembunyikan diri dalam pelukanku. “Jangan takut! Kakak pasti melindungimu.” Aku memeluknya erat. Walau pertemuan kami sangat singkat. Tapi aku sudah merasa sayang sama anak ini. Pintu tiba-tiba terbuka. Rascal yang badannya jauh lebih tinggi dari pintu, harus menunduk untuk masuk ke dalamnya. Ia hanya berdiri di depan pintu, “kita harus melarikan diri! Bayangan itu pasti akan mengejar kita lagi. Steve, Bunga. Persiapkan diri kalian! Dia gak mudah dihadapi.” Rascal kembali keluar. “Kakak....” Herlambang semakin memelukku erat. Ia kembali terisak. “Kamu jangan menangis! Laki-laki gak boleh cengeng. Seharusnya kamu yang melindungi Bunga. Bukan kamu yang mencari perlindungan wanita.” Steve menarik Herlambang dariku. Ia menggendong anak itu. “Turunkan! Aku bisa berlari sendiri.” Sepertinya Steve sudah melukai perasaan Herlambang. “Jangan banyak bicara! Kita lebih cepat kalo kamu ku gendong.” Steve meminta semua orang keluar terlebih dulu. Kami kembali berlari, menceburkan kaki di tepi sungai yang sangat dangkal dengan batu-batu besar yang mempersulit langkah kami. Semakin lama, sungai semakin dalam dengan aliran yang cukup kuat hingga kami sampai pada sebuah titik dimana Rascal meminta kami untuk berhenti. “Sialan!” Sebuah tebing berada di depan kami. Membuat air jatuh menjadi air terjun. Aku melongok ke bawah. Gak ada yang yakin bakal selamat kalo nekat terjun ke bawah. Tapi gak ada pilihan lain selain menuruni tebing ini. “Apa yang harus kita lakukan?” Aku memandang Steve. Ia sedang mencari cara untuk turun. Sementara itu, Rascal berkeliling untuk mencari jalan lain. Aku siaga, memasang mata setajam yang aku bisa. Bersiap melawan sosok bayangan yang bisa datang kapan saja. Rascal kembali dari pencariannya, “gak ada jalan lain. Kita hanya bisa menuruni tebing itu,” katanya. “Gila! Mana bisa kita turun tebing itu. Lebih baik kita kembali!” Seorang wanita protes. Disetujui oleh wanita lainnya. “Kita bisa menuruninya. Tebing ini dikelilingi akar pohon yang cukup kuat untuk menahan beban kita.” Steve memberi kami harapan untuk selamat dari tempat ini. “Tapi tetap saja ini gak masuk akal. Aku takut ketinggian.” Wanita itu lagi-lagi protes. “Kamu mau turun atau kamu mati ditebas pedang setan itu?” Seorang pria membalik badan wanita itu untuk menghadapnya. “Tapi....” Perempuan itu bimbang. Tentu gak mudah melawan perasaan takut, tapi apa lebih takut ketinggian daripada kematian? Aish, gemes aku. “Aku akan turun lebih dulu. Honey. Kamu turun bersama Herlambang. Apa kamu bisa melakukannya?” tanya Steve. “Aku bisa. Tapi biarkan mereka turun terlebih dulu. Aku akan turun sebelum Rascal.” Aku ingin memastikan keselamatan mereka terlebih dahulu. Jika bayangan itu menyerangku, seenggaknya aku masih punya kekuatan dan kemampuan bela diriku cukup bagus untuk menghadapinya. “Tapi Hon....” Steve gak setuju, tapi dia gak meneruskan ucapannya. “Kita demon hunter, Steve. Tugas kita bukan memburu demon tapi menyelamatkan orang-orang kita.” Ada perasaan bangga karena bisa mengatakan hal yang semulia ini. “Baiklah. Rascal. Lindungi istriku!” pesan Steve kepada Rascal. “Tenang saja.” Rascal membalik badan, dari dua tangannya mengeluarkan cambuk berupa cahaya merah yang cukup panjang. “Sekarang turunlah!” Steve mulai turun, diikuti orang-orang satu persatu. Wanita yang takut ketinggian masih bergeming saat tiba gilirannya untuk turun. Membuatku mendecak sebal karena ia terlalu bebal dan gak memikirkan nyawanya. “Ibu turunlah! Hanya jalan ini yang bisa menyelamatkan kita.” Aku terus memaksanya untuk turun, tapi tetap saja dia gak mau dengan berbagai alasan. “Lebih baik aku mati ditebas daripada harus mati karena jatuh dari tebing.” Alamak, aku bisa senewen kalo musuh orang seperti dia. “Baik. Ibu silahkan tetap disini dan tunggu kedatangannya. Aku dan temanku bakal turun dari tempat ini.” Aku malas berdebat panjang dengan orang sekaku dia. “Tapi anda sudah mantap mau mati dibunuh sosok bayangan itu daripada mungkin jatuh dari tebing karena menyelamatkan diri atau justru mungkin selamat dari kematian karena turun dari tebing?” Ini akan menjadi bujukan terakhirku. Beberapa lama, ia terdiam tapi kemudian ia mulai menuruni tebing. Aku tersenyum puas karena akhirnya wanita bebal itu bisa memilih jalan yang baik. “Bunga. Awas!” Aku memutar badan dengan kepala mendongak. Memandang sosok bayangan dengan kilat cahaya berasal dari pedangnya bersiap untuk ... menggorok leherku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN